Edu bergeming mendengar tuduhan Thalia yang menatapnya aneh dengan mata menusuk tajam seperti menciduk seorang maling. Tampak Edu menarik nafas dan menatap bayi dalam gendongannya yang menggeliat.
"Edu gak nyolong, Ma. Edu nemu!" sahutnya datar yang sulit membuat Thalia percaya.
"Gigimu nemu! Mana ada nemu bayi cantik begitu kalau gak nyolong? Mana ada orang buang bayi cantik dan terawat begitu, begok!" oceh Thalia mencak-mencak sambil melirik bayi itu yang menggeliat karena suara kerasnya.
"Mama tuduh Edu maling? Emang ada maling seganteng aku, Ma?" balas Edu cepat.
"Ya adalah. Kamu maling bayi!" timpal Thalia.
"Astagaaaa Marimar …," keluh Edu menghela nafas lelah karena sudah dituduh tak baik oleh ibunya sendiri.
"Jangan panggil Mama dengan sebutan Marimar, bagong!" oceh Thalia melotot karena tak suka panggilan Edu yang terus berulang.
"Lah, suka-suka Edu, Ma. Lagian aktris yang jadi Marimar memang namanya Thalia, kok!" balas Edu tak mau kalah.
Terlihat Thalia yang jengkel langsung menjitak kepalanya cukup keras, tapi hanya dibalas kekehan.
"Dasar anak songong!" ucap Thalia gemas.
"Hehehe … sudahlah, Ma. Pokoknya Edu nemu ini bayi dalam kardus yang diletakkan di depan pintu mobil. Dia oek oek sendirian entah siapa yang buang. Ya sudah, Edu bawa pulang, lumayan dapat gratis tak usah nikah!" terang Edu memberi penjelasan pada Thalia yang menyimak.
"Mulutmu kalau bicara dijaga. Kamu pikir Mama percaya begitu saja dengan ucapanmu, huh?" sanggah Thalia menyilangkan kedua tangan ke depan dadanya.
"Maksud Mama?" sahut Edu yang kebingungan.
"Perempuan mana yang sudah kamu hamili?" tuduh Thalia seenak jidatnya.
Edu berkerut kening. Sikapnya terlihat tenang dan tak ada gurat kesal akan ucapan Thalia barusan. Terlihat dia membuang pandanga pada bayi lucu yang terdengar mendengkur halus.
"Kamu anak Papa dan Oma kamu sedang unjuk taring malam-malam. Kita tinggal bobo saja, ya!" oceh Edu seolah bayi itu mendengarnya. Alis Thalia mengkerut mendengar gumaman Edu yang mengabaikannya.
"Ributnya lanjut besok saja, ya, Ma. Sudah malam, nanti setan pada bangun dengar suara Mama teriak-teriak!" cicit Edu yang langsung melangkahkan kaki menaiki tangga meninggalkan Thalia yang mematung.
"Ini anak kalau diajak omong orang tua main pergi saja!" gerutu Thalia sambil berkacah pinggang.
Edu tetap saja melangkahkan kaki menaiki anak tangga menuju kamarnya, hingga beberapa saat menoleh pada Thalia yang menatap kesal.
"Oya, Ma. Bawain s**u bayi ke kamar Edu. Takut anak Edu haus pengen nenen!" katanya santai diiringi senyum jahil menatap Thalia yang melotot.
Helaan nafas kembali terdengar. Thalia masih berdiri di depan tangga sampai Edu hilang dari pandangannya. Otaknya terus berpikir keras menerka berbagai kemungkinan tentang asal usul bayi cantik yang Edu bawa pulang.
"Kalau bayi itu anak Edu hasil crot liar dengan perempuan bayaran, artinya aku punya cucu dong. Kalau bayi boleh nemu, siapa yang tega buang bayi cantik begitu? Harus cepat-cepat lapor Papa, nih!" gumam Thalia dan melangkahkan kaki menuju kamarnya.
****
Di tempat lain, seorang pria sedang duduk bersama wanita seksi di sampingnya. Wanita itu bergelayut manja dan sesekali mendaratkan kecupan di pipi pria dengan bulu tipis di rahangnya. Biasanya dia sangat rajin mencukur, tapi tidak kali ini karena wanita di sampingnya tak suka dengan pria tanpa bulu.
"Bagaimana perasaanmu setelah buang bayi itu?" tanya sang wanita dengan tangan mengelus lengan berotot si pria serta mata menatap tajam padanya yang tengah memainkan benda pipih di tangan.
"Lega karena tugasku sudah dijalankan dengan sempurna. Bos juga sudah kukabari dan merasa senang," sahut pria itu melirik dengan seringaian di bibirnya.
"Kenapa harus dibuang coba. Padahal aku juga mau kalau dikasih bayi itu!" rajuk wanita itu.
Pria itu tersenyum. Dia bangun dari duduk bersandarnya dan memegang kedua bahu wanita yang nampak memasang raut sedih serta mata yang nampak berkabut.
"Kalau kita yang rawat bayi itu, Bos mana izinkan. Dia maunya anak itu dibuang," kata pria itu.
"Aku ingin punya anak, Sayang. Rumah ini pasti akan ramai jika ada suara bayi. Aku juga tak akan kesepian di rumah sendirian!" oceh wanita itu yang telah dua tahun menunggu buah hati, tapi tak kunjung hadir.
"Kamu ada-ada saja. Kita nikah saja belum, masa sudah pengin punya bayi, sih!" timpal pria itu datar.
"Kita memang belum nikah, tapi kita sudah dua tahun crot bareng. Aku capeklah kerja bagai kuda, seminggu tujuh hari kautunggangi, tapi tak ada hasil!" timpal wanita itu yang bersilang tangan di depan dadanya.
Pria itu terhenyak mendengar ucapan wanita itu yang tak biasa. Dia menelisik wajah wanita di hadapannya dari atas sampai bawah untuk beberapa saat.
"Apa layak wanita ini jadi ibu dari anak-anakku?" pikir pria itu ragu.
"Kamu yakin pengin punya anak? Bunting itu repot. Belum lagi saat ngidam, nanti kamu mual, dan gak nafsu makan. Badan seksi kamu nanti gembrot. Bleweran ke mana-mana lemakmu nanti!" terang pria itu seolah menakut-nakuti.
Wanita itu terdiam mencerna semua kalimat laki-laki di hadapannya kini yang tengah menatap ragu. Dia menunduk untuk menelisik tubuhnya yang terawat selama ini tanpa timbunan lemak. Kepalanya mendongak dan menatap lembut pria yang memperhatikannya sejak tadi.
"Tak apa. Bisa sedot lemak nanti!" jawab wanita itu tersenyum karena yakin akan keinginannya.
Pria itu menghembuskan nafas beratnya. Dia tak ingin berkata lagi atau menakut-nakuti wanita yang sedang ingin segera punya anak di hadapannya kini.
"Yakin pengin bunting?" tanya pria itu memastikan.
"Yakin. Jadi, tolong hamili aku!" rengek wanita itu cepat dan memamerkan deretan gigi putihnya.
"Ya sudahlah. Ayo!" kata pria itu yang langsung bangun dari duduknya. Wanita itu menatap bingung si pria yang sudah berdiri kini.
"Mau ke mana?" tanya wanita itu pelan.
"Nge-crot. Katanya mau anak. Ayo kita bikin!" seru pria itu memasang wajah jengkel karena otak wanitanya mendadak lemot.
Senyum wanita itu terbit karena senang dan sebentar lagi apa yang diinginkannya akan tercapai. Keduanya berjalan memasuki kamar yang berukuran luas di mana sebuah ranjang besar sudah menunggu dan sebentar lagi akan berantakan. Tanpa ragu tangan pria itu menarik tengkuk sang wanita dan menyatukan bibir serta saling memanggut satu sama lain.
"Intronya jangan lama-lama," kata si wanita ketika pagutan mereka terlepas.
"Ngebet banget kamu. Kalau langsung nanti kamu kesakitan!" ucap si pria sambil melepas pakaian wanitanya hingga polos dan disusul olehnya.
Wanita itu tersenyum. Keinginannya memiliki anak terlalu besar, meskipun mereka belum resmi menikah. Pria itu melakukan tugasnya dengan trampil menyusuri tubuh wanita di bawahnya kini yang sejak tadi mengeluarkan suara bagai nyanyian tengah malam.
"Ouuughh …," desah wanita itu merasakan sentuhan si pria. Suaranya semakin menjadi ketika keduanya telah menyatu dan membuat pria itu menghentikan gerakannya.
"Kamu kebiasaan!" kata si pria menatap wanita itu jengkel.
"Ah, kenapa berhenti? Terusin, Sayang! Kenyot lagi kayak tadi!" pintanya merajuk dengan wajah memerah karena gairah.
"Sumpah, kamu berisik banget kalau diajak goyang. Aku jadi gak fokus karena suaramu macam bintang film si Nengsih!"