Malam pun berganti pagi. Terdengar samar-samar suara tangisan bayi dari kamar Eduro ke telinga Thalia yang sedang mengenakan pakaiannya karena baru saja selesai mandi. Keningnya berkerut karena merasa aneh dan sejak kapan ada suara bayi di rumahnya pagi-pagi buta. Dia menajamknan pendengaran untuk meyakinkan juka suara itu adalah tangisan bayi atau setan. Merasa yakin tak salah dengar, Thalia bergegas menghampiri ranjang di mana Adam masih terbaring dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
“Pa, bangun! Ada suara bayi di rumah kita. Pa!” panggil Thalia dengan menggoyangkan lengan Adam yang membalas dengan gumaman tak jelas.
“Pa, bangun cepetan!” ucapnya lagi sambil memencet hidung mancung Adam hingga membuatnya terbelalak dan bangun.
“Apaan, sih, Ma? Papa masih ngantuk!” jawabnya malas sambil mengucek kedua matanya yang masih kantuk.
“Itu ada suara bayi nangis. Mama serem dan sejak kapan rumah kita ada suara bayi? Pasti hantu baru datang, Pa! Cepat usir!” seru Thalia merengek dan menunjukkan wajah takut yang justru dibalas tatapan aneh oleh Adam setelah beberapa saat menajamkan pendegarannya.
“Ish, kok lihat Mama macam gitu, sih!”
“Itu suara bayi yang dibawa Edu semalam, Ma. Lagian mana ada setan yang berani mamapir ke rumah ini karena sudah ada ratu setan galak yang menjadi penghuni tetap di sini!” ucap Adam santai dan jelas yang memebuat Thalia terperangah.
“Jadi maksud Papa, Mama itu ratu setan, gitu?”
“Lebih tepatnya ratu di hatiku, Ma, eaaaakkk ...,” ledek Adam yang justru membuat Thalia kembali memukul lengan adam dengan bantal yang terbahak.
Thalia yang sudah sadar kalau ada bayi di rumah, secepat kilat merapikan pakaiannya dan menuju pintu keluar untuk menuju kamar Eduro. Adam yang masih di tempat tidur hanya menatap kepergian Thalia yang membanting pintu cukup keras pertanda ratu setan di rumahnya tengah marah. Dia hanya mengulum sneyum melihat Thalia yang selalu dia ganggu seperti dulu tak perduli usia mereka tak muda lagi.
“Untuk aku cinta sama kamu, Marimar. Mau ganti istri yang kaleman sedikit gak dapat izin terus dari dulu. Nasib ... nasib! Mandilah sebelum lihat cucu baru!”
Adam pun bangun dari posisinya dan menuju kamar mandi karena waktu sudah menunjukkan jam 5 pagi. Ya, keluarga Iskander memang terbiasa bangun pagi dan akan berlari kecil di halaman sebelum melakukan rutinitas di kantor yang begitu sibuk. Di kamar Eduro, dia tampak sedang sibnk menggendong Ziya sambil memukul pantatnya pelan dan bersenandung. Setibanya Thalia di sana, Ziya sudah berhenti menangis dan membuatnya sedikit memicing melihat Ziya yang begitu nyaman di gendongan Eduro. Dia berjalan perlahan dan dilirik oleh Eduro yang memamerkan senyum indah di pagi hari seperti biasa.
“Kenapa nangis? Ngompol?” tanya Thalia menghampiri.
“Iya. Tadi poop dan sudah Edu ganti popoknya.”
“Sudah minum s**u?”
“Sudah, Ma. Ziya lagi ganjen saja minta digendong sama Edu, hehehe ...,” sahut Eduro sambil terkekeh menyebalkan.
Thalia mengangguk dan melihat ranjang di mana ada botol s**u yang sudah kosong. Dia mendekati ranjang dan merapikan semuanya, termasuk membuang popok Ziya. Setelah Ziya tertidur, Eduro meletakkan kembali Ziya ke ranjang dan menyelimutinya penuh sayang. Melihat sikap Eduro seperti itu, senyum Thalia pun terukir karena Eduro tampak begitu telaten dan sayang pada bayi asing itu. Begitu banyak pertanyaan yang ada di otak Thalia kini dan ikut duduk di tepi ranjang.
“Lebih baik kamu mandi dulu biar Mama yang jaga!” ucap Thalia pelan dan langsung diangguki Eduro.
Secepat kilat dia bangkit dari duduknya setelah mencium kening Ziya. Thalia menatap Eduro penuh tanda tanya hingga dia masuk ke kamar mandi dan terdengar bunyi shower. Mata Thalia menatap Ziya yang tengah terlelap sambil mengulum jempol kanannya. Tangan Thalia terangkat dan mendarat di kepala Ziya serta mengelusnya lembut. Dia memebelai kepala dan pipi Ziya begitu lembut dengan senyum yang terukir.
“Siapa kamu sebenarnya, Sayang? Dari mana asalmu?” gumam Thalia sendiri dan sesekali mencium pipi Ziya yang tembem dan kemerahan.
Mata Thalia menatap kamar mandi di mana Eduro berada dan beralih pada Ziya. Tak bisa dia pungkiri, kalau hatinya tak percaya jika Ziya adalah bayi yang ditemukan oleh Eduro bukanlah anaknya, meskipun sejak semalam dia sudah bersumpah bahwa tak kenal bayi tersebut. Namun, hati Thalia ragu akan pengakuan Eduro yang bersikeras mengatakan jika Ziya bukan bayinya. Di saat pikiran dia sedang mengembara ke mana-mana, tiba-tiba pintu dibuka dari luar oleh seseorang yang tak lain adalah Adam. Penampilannya lebih segar dengan celana pendek dan kaos. Dia berjalan mendekat dan menoleh ke kamar mandi karena tahu Eduro berada di sana.
“Ada apa, Ma?” tanya Adam yang sudah berdiri di samping ranjang.
“Tadi ngompol dan sudah tidur lagi, nih!”
Adam pun mengangguk dan mendekat serta duduk di tepi ranjang berhadapan dengan Thalia. Mata Adam memeperhatiakan Ziya dengan saksama, hingga tak berapa lama matanya mem icing dan beralih pada Thalia.
“Hati Papa mengatakan kalau ini cucu kita, Ma!” ucap Adam yang sontak membuat maat Thalia melotot.
“Kenapa Papa bisa bicara begitu?”
“Wajahnya sedikit mirip dengan almarhum nenek di Italia. Lihat saja kalau sudah besar, pasti bagai pinang dibelah dua!” timpalnya lagi begitu yakin dan membuat Thalia semakin menegang.
Keduanya beralih menatap saksama pada Ziya yang begitu nyenyak. Bahkan, tangan Adam mendarat di kepala Ziya dan membelainya lembut sambil tersenyum. Thalia ikut tersneyum ketika matanya menangkap senyum itu di bibir Adam dan bertemu pandang.
“Papa yakin kalau Edu nakal di luar tanpa kita ketahui. Biar bagaimana pun, dia pria dewasa dan butuh menyalurkan hasratnya. Kita tak mungkin mengontrolnya untuk hal pribadi seperti itu. Mungkin saja telah terjadi cinta satu malam antara dia dengan seorang wanita. Iyakan?” terang Adam dengan suara pelan diringi suara shower yang terdengar sayup-sayup.
“Papa benar. Mama tak marah kalau benar ini cucu kita dan justru sangat senang, tapi siapa wanita itu jika benar ini anak Edu, Pa?”
“Akan kita selidiki dan hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengecek kebenaran dugaan kita bahwa bayi ini adalah anak Edu!”
Thalia mengangguk dan menatap kembali pada Ziya yang terlihat mengulet lucu dan ditepuk pelan pahanya oleh Thalia. Hal itu membuatnya kembali tenang dan tidur begitu nyenyak. Tak berapa lama, keluarlah Eduro dari dalam kamar mandi dan melihat jika kedua orang tuanya tengah berada di sisi Ziya.
“Weh, pada kumpul, nih!” seru Eduro sambil berjalan mendekat dengan tangan menggosok kepalanya yang basah dengan handuk kecil. Keduanya menoleh dan Thalia langsung menggeleng, lalu berujar.
“Handuk melorot belutmu ngampar anak bodoh!”