Di sebuah rumah sakit yang terletak di kawasan Jakarta Selatan, seorang wanita muda terbaring di sebuah ruangan dan belum sadar sejak sepuluh bulan yang lalu setelah mengalami pendarahan ketika melahirkan. Wajahnya terlihat sedang tidur dan memperlihatkan bahwa seolah tak terjadi apa-apa. Tak berapa lama, pintu ruangan dibuka oleh seseorang dari luar dan muncullah seorang wanita paruh baya sambil membawa sebuah tas berwarna hitam dan perlahan mendekat ke ranjang. Wanita itu meletakkan tas miliknya ke nakas dan menarik kursi serta menatap sendu pada wanita muda itu.
"Apa kabarmu, Nak? Hari ini ibu datang mengunjungimu. Apakah kau tak ingin membuka matamu? Lihatlah, hari ini begitu cerah di luar dan angin juga terasa sangat sejuk. Bukankah kau sangat suka berjalan-jalan di taman saat pagi hari seperti ini?" seru wanita itu dengan suara pelannya serta senyum tipis yang terukir di bibir.
Tak ada jawaban, tepatnya sejak sepuluh bulan yang lalu, wanita paruh baya itu tak pernah lagi mendengar jawaban keluar dari mulut wanita muda yang terbaring di depannya kini. Matanya beralih menatap wajah wanita itu yang tetap bergeming dengan mata tertutup rapat. Perlahan dia menatap bagian d**a wanita itu yang terlihat masih bernafas dengan normal seperti manusia pada umumnya yang tersadar. Dia meraih tangan kanan wanita itu dan menggenggamnya erat. Tangan wanita itu terasa begitu hangat, bahkan tak ada dingin sama sekali.
"Bangunlah, Nak. Sudah cukup lama kautertidur. Apakah kau terlalu lelah menghadapi penderitaan yang selama ini kaualami, hingga kau tak ingin membuka matamu lagi?" cicit wanita itu dengan suara mulai terdengar parau.
"Maafkan Ibu karena tak bisa menjaga bayimu dengan baik, hingga ada orang yang menculiknya. Ibu sudah mencari ke mana-mana, tapi masih belum menemukannya. Apa kaumarah pada Ibu hingga kau tak mau bangun, Nak?" cicit wanita itu dengan isak yang mulai terdengar dari bibirnya yang bergetar.
Bu Yayuk, seorang wanita paruh baya yang merupakan sahabat dari ibunda wanita yang tengah terbaring tersebut dan tak lain adalah Elif Aydin. Elif adalah gadis muda berusia 25 tahun serta yatim piatu yang tinggal di sebuah rumah peninggalan orang tuanya. Dia bekerja di sebuah perusahaan garmen yang ada di Jakarta. Sepuluh bulan yang lalu, Yayuk membantu Elif untuk mengantarkannya ke rumah sakit karena akan melahirkan, tapi malang dialami oleh Elif yang mengalami pendarahan, serta tak sadarkan diri sampai saat ini. Kondisi Elif yang demikian membuat Yayuk terpukul dan sedih. Dia merawat penuh sayang bayi yang baru dilahirkan oleh Elif yang dipanggilnya dengan sebutan Zizi serta menganggapnya seperti cucu sendiri. Adapun biaya perawatan Elif tentu ditanggung olehnya kerena Yayuk berasal dari keluarga berada.
Satu jam sudah berlalu, Yayuk pun akhirnya meninggalkan Elif kembali sendiri di rumah sakit karena harus segera pulang. Setelah mencium kening Elif, Yayuk meninggalkan ruangan tersebut yang kembali hening. Namun, ketika tangan Yayuk menyentuh gagang pintu, dia menoleh ke arah ranjang di mana Elif tengah terbaring dan tak bergerak. Air mata pun menetes di pelupuk matanya dan menutup mulut dengan tangan agar suara tak keluar, lalu menutup pintu. Di depan pintu, dia bersandar dan menangis tersedu melihat kondisi Elif yang tak kunjung sadarkan diri. Apalagi hilangnya bayi Elif hingga kini membuat perasaannya semakin campur aduk dan merasa bersalah karena begitu teledor hingga bayi tersebut dicuri oleh orang ketika sedang mengajaknya jalan-jalan di taman.
"Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu, hiks ... hiks ...," gumam Yayuk di sela isak tangisnya.
Beberapa perawat serta pengunjung yang tengah berlalu-lalang melihat ke arahnya tentu tak dihiraukan oleh Yayuk dan tetap tergugu di depan pintu, hingga sepuluh menit kemudian, dia beranjak pergi meninggalkan rumah sakit untuk menuju rumahnya yang terletak tak jauh dari sana.
****
Di sebuah rumah mewah lainnya, terlihat seorang wanita cantik dan seksi sedang duduk santai di teras belakang rumah. Tubuhnya masih basah karena baru saja berenang dan di tangan kanannya memegang segelas minuman dingin sebagai penghilang dahaga di siang hari. Tak jauh dari posisinya, ada seorang pria tampan dengan tubuh tinggi serta kekar tengah duduk sambil memainkan handphone di tangannya yang juga hanya memakai celana pendek berwarna hitam. Tubuhnya terlihat kering karena memang belum berenang sejak tadi karena disibukkan dengan beberapa pesan dan email yang masuk ke handphonenya dan harus segera dia balas. Wanita itu melirik pada pria tersebut dengan tatapan sinis. Terlihat dia berdecih seolah meremehkan apa yang tengah dilakukan pria itu. Mendengar decihan tersebut dan menoleh sekilas, pria itu kembali fokus dengan kegiatannya tanpa menimpali dengan sepatah kata pun, hingga tak berapa lama pria itu meletakkan benda pipih tersebut ke meja dan bangun dari posisinya setelah meneguk minuman dingin. Langkahnya tertuju pada kolam renang, tapi secepat kilat tangan pria itu ditarik oleh wanita tersebut dan membawanya ke kursi panjang di mana dia berada tadi.
"Eh, apa-apaan, nih?" seru pria itu kaget.
"Sini, ih! sini dulu!" seru wanita itu genit.
Pria itu pun tak melawan dan mengikuti apa yang tengah dilakukan wanita itu hingga tumbuhnya duduk di sebuah kursi panjang. Tanpa ragu, wanita itu langsung duduk di atas pangkuan pria tersebut yang hanya menatapnya datar.
"Mau apa, huh? Aku mau renang dulu. Badanku sudah kering. Sana minggir! Apa mau nyemplung barang, huh?" kata pria itu dengan suara terdengar santai dan melirik ke arah lain di mana tak ada orang lain kecuali mereka berdua.
Wanita itu mengukir senyum nakal dengan kedua tangannya yang meraba d**a bidang pria tersebut yang ditumbuhi bulu dan sesekali dijilatnya untuk menggoda.
"Aku memang sudah basah dan nyemplung tadi. Sekarang aku ingin kamu yang nyemplung ke kolamku. Gimana?" kata wanita itu dengan suara menggoda serta tangannya yang kini meraba rahang pria tersebut yang ditumbuhi bulu-bulu tipis.
Senyum lebar pun terbit di bibir pria itu. Meskipun baru berhubungan dengan wanita itu tiga bulan, tapi dia sudah hafal dengan kebiasaan wanitanya yang sangat suka berhubungan intim. Pria itu tanpa basa-basi menarik tengkuk wanita itu dan dibalas olehnya cepat. Keduanya saling membelit hingga terdengar desahan keluar dari mulut mereka serta membuat keduanya kian menggebu. Tanpa ragu, pria itu menarik penutup d**a wanitanya dan memainkan kedua piramida kembar sambil sesekali mendaratkan bibir di sana layaknya bayi. Kegiatan itu membuat wanita itu melenguh tak karuan dan tak sadar jika dua orang pekerja di rumah itu yang akan mengantarkan minuman menghentikan langkah dan tak jadi menghampiri.
"Lagi shooting. Posisinya lagi enak kayaknya. Mending kita balik ke dapur saja dan tunggu dipanggil ulang daripada kita ikut linu melihatnya!" seru seorang wanita dengan tubuh sedikit berisi dan rambut kriting.
"Hahaha … linu atau pengin?"