Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi dan Eduro sudah tiba di kantornya serta tengah duduk di kursi kebesarannya. Tak berapa lama, sekretarisnya datang menghampiri sambil membawa berkas yang langsung dia letakkan ke atas meja. Carlos Janik, pria tampan dengan tubuh kekar berusia 30 tahun adalah sekretaris yang sudah ikut bersamanya sejak 5 tahun lalu dan masih kerabat jauh Thalia. Carlos memicing ketika melihat Eduro yang sedang tersenyum sendirian dan tidak menganggap kehadirannya. Dia menarik kursi hingga berdenyit dan membuat tatapan Eduro akhirnya teralihkan.
"Senyum-senyum terus, nih! Habis ngocok tadi pagi, ya? Sampai girang begitu mukanya kayak habis lihat semvak dijemuran tetangga!" leceh Carlos santai dan duduk di hadapannya sambil bersilang kaki.
"Hahaha …." Eduro terbahak akan ocehan Carlos yang sering membuatnya geli karena gemar melecehkannya setiap hari. Dia mengusap wajahnya demi mengurai tawa yang sulit berhenti, hingga Carlos memutar matanya malas karena Eduro yang terus tertawa, sedangkan dia sudah penasaran ingin tahu apa yang terjadi padanya.
"Lo kalau bicara suka ngaco, Los. Macam resleting celana lo yang suka los kalau lihat cewek pakai baju petetengan kayak lepet. Aneh-aneh saja ucapan lo! Mana ada gue ngocok. Tanpa ngocok pun alam sudah kasih gue bahagia tiada tara!" cicit Eduro dengan wajah sumringah dan yakin.
Carlos yang mendapat jawaban begitu kian memicing. Bahkan, tampak jelas alis tebal kirinya terangkat dengan mata menatap ke atas dan ke bawah pada diri Eduro yang sontak cemberut.
"Jangan m***m begitu lihat gue, k****t! Gue gak doyan sama lo. Mata lo minta dicolok banget lihatnya!" seru Eduro yang paling tak suka jika ditatap tajam tanpa berkedip oleh seseorang. Carlos mengulum senyum. Tentu dia tahu dan sengaja melakukan hal itu agar wajah sumringah Eduro berubah dan segera menjawab pertanyaan yang dia lontarkan.
"Terus kenapa lo mesam-m***m begitu, huh? Dapat tender baru atau apa? Gue kepo, nih!"
"Ini lebih dari tender, Los. Ini anugrah terindah yang Tuhan kasih ke gue selama hidup 30 tahun jadi orang!" jawab Eduro masih mengambang.
Mendapat jawaban yang masih tak jelas dari Eduro, Carlos menarik nafas panjang dan bahunya luluh karena rasa penasarannya sudah tak terbendung, tapi masih dijawab setengah-setengah.
"Bicara yang jelas. Jangan bikin gue penasaran. Nanti gue bisa mati cepat!" gerutu Carlos lagi dengan mata terus menatap Eduro yang masih senyum-senyum.
Eduro menghentikan kegiatannya setelah menandatangani berkas yang diserahkan oleh Carlos. Dia letakkan pulpen ke tempatnya dan menatap Carlos yang masih menunggu dengan raut penasaran.
"Gue lagi bahagia, Los, karena sekarang gue jadi Daddy dan itu sangat membahagian bagi gue. Ah, bahagianya lebih dari dapat tender atau mobil baru!" ujar Eduro dengan suara tegas diiringi senyum dan alis turun naik.
Carlos memicing. Alisnya berkerut dan hampir menyatu. Dipandangi aneh oleh Carlos tak membuat Eduro risih dan justru memasang senyum lebar.
"Daddy apaan maksud lo?" tanya Carlos akhirnya.
"Gue punya anak sekarang. Gue senang banget tidur berdua sama anak gue yang cantik nan montok!" jawab Eduro cepat.
"Hah?" Carlos ternganga akan ucapan Eduro yang dia anggap tak jelas.
"Lo main cewek sekarang? Sejak kapan lo doyan cewek? Dapat dari mana cewek itu? Kok bisa buat lo klepek-klepek dan senyum-senyum tak jelas macam orang gila begini? Masang pelet di mana lo? Ajak gue dong!" cerocos Carlos tanpa koma yang membuat senyum Eduro lenyap akan tuduhan tak jelasnya yang seperti meremehkan.
"Sialan banget, sih, bacot lo kalau hina gue macam dosa gak putus-putus. Gue gak main cewek, apalagi main pelet. Ngapain juga ke dukun kalau tutorial pelet sudah tersedia di playstore. Cukup baca saja langsung punya pelet gue!" jawab Eduro yang membuat Carlos tertawa kini karena sadar cicitannya barusan memang terdengar aneh.
"Haha … terus anak yang lo maksud itu apaan, kutil?"
"Semalam pulang minum jamu di warung langganan, gue nemu bayi dalam kardus mie, Los. Bayi perempuan dan cantik banget bikin gue langsung jatuh hati!" cerita Eduro santai dan disimak dalam diam oleh Carlos.
"Buset! Lo serius, Ed?"
"Seriuslah! Gue bawa pulang dan tidur sama gue. Bayi itu resmi jadi anak gue dan sudah punya nama, Ziya Iskander. Kerenkan?" terang Eduro diakhiri raut bahagia yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Lo jangan main aku tuh bayi, siapa tahu orang tuanya lagi cariin dia. Lo gak lapor polisi emang?" kata Carlos yang masih berpikiran waras dibandingkan Eduro.
Eduro terdiam dan menyandarkan punggungnya ke kursi. Tangan kirinya menyentuh rahang dengan bulu halus yang mulai tumbuh. Matanya menatap ke arah lain seolah sedang menimbang atas ucapan Carlos yang seharusnya dia lakukan.
"Bayi itu milik gue, Los. Gue yakin orang tuanya sengaja lakukan itu. Yah, gue mah dengan senang hati terima bayi itu. Jadi, gue gak mesti berhubungan dengan wanita manapun demi dapat anak karena Tuhan sudah kasih gue anak, iyakan?" cerocos Eduro dan membuat Carlos tercengang akan ucapan yang dia rasa aneh.
"Gila lo, Ed! Bikin anak enak loh! Lo bilang gitu karena terlalu anti berhubungan dengan wanita dan belum rasain. Kalau udah pernah sekali saja lo rasain enaknya ngecor, beuuuuuh … ketagihan lo kayak gue!" Eduro hanya cengengesan mendengar cicitan Carlos dan diakhiri gelengan pelan.
"Kagak minat ngecor cewek gue. Ada juga cewek yang minat dengan gue, haha …." Eduro terbahak akan ucapannya sendiri dan membuat Carlos menarik nafas lelah.
Tak berapa lama, Eduro pun bersiap untuk melakukan meeting yang tentu saja ditemani oleh Carlos. Mereka berdua meninggalkan ruangan setelah seorang wanita mengatakan jika tamu yang ditunggu sudah datang. Carlos melangkah beriringan dengan Eduro menuju ruangan dan setelah dua jam berlangsung, meeting pun selesai. Keduanya kembali ke ruangan Eduro dan membahas sebentar hasil meeting tadi yang membahas pendirian hotel baru di Lombok.
"Berhubung sekarang gue punya anak, lo saja yang lihat lokasi di Lombok, Los. Gue kasih izin sekalian lo jalan-jalan daripada manyun di sini. Siapa tahu di sana lo dapat cewek yang bisa buat muka asem lo sedikit lebih manis!" tutur Eduro dengan suara datar tanpa melihat wajah Carlos yang tercengang.
"Setan lo, Ed! Gue gak kekurangan cewek. Yang antri banyak dan siap ngangkang gratis buat gue, kamvret!" jawab Carlos cepat sambil melempar tissue bekas ke wajah Eduro yang terbahak.
Di tengah tawa Eduro yang dirasa sebuah lecehan oleh Carlos yang suka bergonta ganti pasangan, tiba-tiba terdengar dering handphone dari milik Carlos yang dia simpan di saku celana. Secepat kilat dia meraihnya dan tersenyum ketika membaca nama yang tertera di layar.
"Gue terima, Ed. Gue cabut lusa sama Titin, ya!"