Cerita ini menceritakan tentang seorang gadis yang terpaksa mengajar di akademi yang semua murid dan guru adalah pria. Sang guru besar yang sebenarnya perempuan tersebut berbagi kamar dengan guru pengganti—putra seorang jenderal—alumni akademi tersebut. Ketegangan dan romansa kisah Nona Shuwan sebagai Guru Qian pastinya akan sangat menarik.
“Nona, tuan muda dan keluarganya sudah datang,” ujar seorang pelayan wanita kepada sang nona muda—Wang Shuwan.
Wang Shuwan adalah putri tunggal dari cendikiawan senior di negeri Zhou. Ia dilahirkan saat usia orang tuanya sudah sangat tua dan memasuki masa pensiun. Kendati demikian, nama keluarga Wang masih sangat dihormati dan bahkan setara dengan bangsawan terhormat di negeri tersebut.
Hari ini, putra bungsu bangsawan bermarga Qian datang untuk melamar Nona Shuwan. Kekasihnya itu menepati janji, yaitu datang melamar sebelum menjalankan tugas untuk menjadi guru besar yang mengajar di negeri Yun, kemudian menikah setelah masa tugasnya berakhir. Qian muda sangat berdedikasi pada pendidikan. Itu sebabnya, meskipun anak seorang bangsawan, Qian muda tidak berminat untuk menjadi pejabat seperti ayah dan kedua kakak lelakinya.
“Kakak, terima kasih telah menepati janji,” gumam Nona Shuwan dengan wajah merona. Ia tidak sanggup menutupi perasaan bahagia itu.
Kedua keluarga besar telah berkumpul. Acara lamaran yang awalnya akan digelar tertutup pada akhirnya menjadi begitu meriah. Kebaikan hati sang cendikiawan pada warga sekitar tampaknya yang membuat mereka turut merasakan kebahagian dikala sang putri satu-satunya akan mengakhiri masa lajang.
“Kami begitu beruntung, Nona muda dari keluarga Wang bersedia menerima lamaran putra bungsu kami,” ujar Tuan Qian—Ayah Qian Chen Gui.
“Tuan, tolong jangan sungkan. Kami merasa sangat terhormat dengan kedatangan Tuan Muda Qian ke kediaman kami,” jawab sang cendikiawan.
Usai lamaran, Qian Chen Gui hanya memiliki waktu tiga hari untuk berkemas. Ia begitu antusias untuk berangkat ke negeri Yun. Usianya masih sangat muda, tetapi pengetahuannya begitu luas bagai langit. Ia bahkan pernah menjadi guru pembimbing bagi putra mahkota selama tiga tahun. Akan tetapi, di atas langit masih ada langit.
Sang calon istri—Wang Shuwan, diakuinya sebagai mentor yang sempurna. Ia kerap datang pada gadis tersebut untuk berdiskusi dan belajar bersama. Di negeri Zhao dan negeri-negeri sekitarnya, perempuan tidak begitu diperhitungkan dan tidak memiliki kesempatan yang sama seperti pria. Alhasil, wanita-wanita cerdas seperti Nona Shuwan, hanya akan menjadi berlian yang tersembunyi.
Sehari sebelum perpisahan, keduanya memutuskan untuk bertemu. Menaiki sebuah perahu dan menuju tengah danau. Membawa dua kail pancing dan seember umpan.
“Kakak, sebentar lagi Kakak akan pergi jauh. Apakah Kakak tidak akan rindu?” tanya Nona Shuwan memecah keheningan di antara mereka.
“Hahaha ... Adik, engkau sangat berlebihan. Negeri Yun tidak jauh. Kita hanya menaiki kapal selama sehari semalam dan akan langsung menginjakkan kaki di negeri tersebut,” jawab Qian Chen Gui.
“Bagaimana bisa dikatakan tidak jauh jika kaki kita tidak dapat berjalan di atas air untuk menempuhnya,” kilah gadis itu yang membuat Kang Jian sulit untuk membantah.
“Adik memang sangat cerdas. Kelak, anak-anak kita pasti bangga memiliki ibu seperti dirimu,” puji pemuda itu pada calon istrinya.
Qian Chen Gui berjanji akan pulang setiap akhir semester untuk berjumpa dengan sang calon istri. Guru besar itu tampaknya mengerti kegundahan gadis yang kini tengah bersandar di punggungnya. Nona Shuwan tidak akan melarangnya pergi meskipun sangat ingin melakukannya. Dukungan terbesar selama ini ia peroleh dari gadis itu. Namun, ini adalah kali pertama mereka berpisah.
Rumor penculikan para bangsawan beredar. Kediaman seluruh bangsawan di negeri tersebut mendapat penjagaan ketat dari pemerintah. Termasuk rumah keluarga Qian.
“Kakak, ada apa ini?” tanya Nona Shuwan berbisik.
Keduanya baru saja kembali dari danau dan melihat banyak tentara di sepanjang jalan tengah berpatroli. Bangunan mewah yang biasanya hanya ada dua penjaga, kini tampak berbaris lebih banyak dengan seragam yang berbeda. Ya, mereka adalah tentara dari pemerintah pusat.
“Tuan ada apa ini?” tanya Qian Chen Gui kepada salah seorang penjaga.
“Tuan Muda Qian, sebaiknya Anda tetap berada di dalam rumah. Terjadi teror penculikan kepada para bangsawan. Keluarga Han baru saja menjadi korban,” jelas penjaga itu menjawab rasa penasaran keduanya.
Calon pengantin itu saling pandang. Situasi negeri sedang sangat mencekam, tetapi tugas untuk pergi ke negeri Yun tidak dapat dibatalkan. Keluarga Qian akan dianggap menghina Kaisar Negeri Yun jika mundur dari tugas tersebut. Akademi Yun Shang merupakan sekolah bagi calon pejabat negara di negeri tersebut.
“Kakak, bagaimana ini?” tanya Nona Shuwan cemas.
“Tenang, para penculik tersebut sebenarnya bukan orang yang benar-benar jahat. Mereka hanya menculik para bangsawan yang dianggap menindas rakyat. Keluarga Qian sangat bersih, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk kepadaku,” ungkap Qian Chen Gui menenangkan sang calon istri.
“Oh, begitu. Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu, Kakak masuk saja, aku akan pulang sendiri.”
“Eh, bagaimana mungkin aku membiarkan calon istriku pulang sendiri?”
Nona Shuwan menarik lengan sang calon suami agar lebih dekat dengannya. Kemuadian berbisik, “Jangan khawatir, aku bukan putri seorang bangsawan, aku putri seorang cendikiawan, hehehe ....”
Keduanya berpisah di depan pintu gerbang kediaman Qian. Dua orang penjaga diminta oleh Qian Chen Gui agar memastikan sang calon istri sampai di rumahnya dengan selamat.
Dua hari kemudian ....
“Nona, tuan muda belum sampai di Akademi Yun Shang,” ujar seorang pelayan wanita berbisik kepada Nona Shuwan.
Qian Chen Gui seharusnya sudah sampai di Negeri Yun sehari sebelumnya, tetapi hingga hari kedua, ia dikabarkan belum datang untuk menemui kepala sekolah tempat ia akan mengajar. Pada hari kelima, jika ia tidak muncul, maka akan dianggap menghina Kaisar Negeri Yun.
Mendengar berita tersebut, Nona Shuwan tidak tinggal diam. Apalagi teror penculikan terhadap bangsawan di negerinya sedang marak terjadi. Kendati demikian, gadis dengan latar belakang seorang cendikiawan itu tetap bersikap tenang dan memikirkan cara untuk menemukan calon suaminya.
“Permisi, Tuan ...,” sapanya dengan lembut kepada petugas pelabuhan.
“Iya, Nona. Apa Anda baru saja ketinggalan kapal?” tanya penjaga tersebut.
“Ah, tidak. Aku hanya ingin bertanya, apakah Tuan berjaga di sini dua hari yang lalu pada saat kapal menuju Negeri Yun berangkat?” tanya Nona Shuwan memastikan.
“Iya, Nona. Apa ada yang bisa aku lakukan untukmu?”
“Kalau begitu, apa Tuan melihat pria ini naik ke atas kapal?” tanya Nona Shuwan sembari memperlihatkan lukisan wajah Qian Chen Gui yang ia lukis sendiri.
“Haa ... iya. Ini putra bungsu bangsawan Qian, bukan?” Nona Shuwan tampak semringah sembari mengangguk cepat. “Dia sudah berada di atas kapal, aku jamin saat ini dia sedang berjalan-jalan di pasar Negeri Yun yang terkenal itu. Ada lagi, Nona?”
“Tidak, terima kasih.”
Shuwan tidak meragukan kesaksian penjaga pelabuhan tersebut. Apa lagi, penjaga lain juga turut bersaksi, tetapi jika Qian Chen Gui berhasil naik ke atas kapal, lantas mengapa ia belum juga sampai di Akademi Yun Shang?
Kembali dari pelabuhan, Nona Shuwan masih terus memikirkan bagaimana caranya untuk menemukan sang calon suami yang hilang secara misterius. Langkahnya terhenti ketika berada di depan gerbang kediaman Bangsawan Qian. Tempat itu masih dijaga ketat oleh pasukan pemerintah. Teror penculikan terhadap para bangsawan semakin membuat keadaan mencekam.
“Nona, sebaiknya Anda tidak keluar rumah sendirian. Saat ini—“
Seorang penjaga memberikan peringatan kepada Nona Shuwan untuk tetap tinggal di dalam rumah. Belum selesai ia mengatakan kepada putri cendikiawan itu, sang pemilik rumah tiba-tiba keluar.
“Nona Shuwan,” sapa calon ayah mertuanya.
Gadis itu membungkukkan badan, menyatukan ujung jemari seperti tengah memegang setangkai bunga, tanda penghormatan kepada orang yang pantas dihormati. Kemudian, ia tersenyum meskipun hatinya tidak sedang ingin melakukannya.
“Masuklah, Nona. Mari kita bicara,” ajak sang pemilik rumah.
Bangsawan Qian tampaknya menangkap rona kekhawatiran gadis tersebut, sama dengan ketika ia melihat istrinya. Dua wanita dengan perasaan sama itu kini duduk di hadapannya. Berbeda dengan Nona Shuwan yang mencoba terlihat setegar mungkin, Nyonya Qian tak kuasa menahan air matanya luruh membasahi pipi merona yang sudah termakan usia.
Berita kemungkinan putra bungsu Bangsawan Qian telah hilang karena belum juga sampai di Akademi Yun Shang tampaknya sudah lebih dulu sampai ke telinga keluarganya. Namun, ternyata mereka belum begitu yakin. Bangsawan Qian adalah pejabat yang bersih dan dicintai rakyat. Sungguh mustahil menjadi korban teror yang dilakukan kepada para pejabat korup.
“Nona, jika putra kami tidak kembali, tolong maafkan kami sekeluarga,” pinta Tuan Qian seolah tengah berputus asa.
“Tuan, putra Anda adalah guru yang cerdas dan dicintai banyak orang. Tuan dan juga Nyonya harus yakin ...,” ujar Nona Shuwan terjeda.
Ia sendiri sebenarnya tidak yakin dengan apa yang akan dia katakan. Akan tetapi dia tidak ingin egois, ada dua hati yang harus dijaga selain perasaannya sendiri.
“Guru Qian hanya tersesat di negeri yang begitu besar. Guru Qian pernah mengatakan, beliau memiliki seorang teman di sana. Hingga saat ini, saya masih berpikir beliau baik-baik saja,” ungkap Nona Shuwan melanjutkan.
Gadis itu begitu piawai menyembunyikan kegelisahan di balik sikap tenangnya. Mendengar pendapat calon menantu yang begitu bijak, sejenak kekhawatiran mereka terhadap Qian Chen Gui berkurang. Hingga saat ini, pihak Bangsawan Qian belum melaporkan kejadian tersebut kepada pemerintah pusat.
Teror penculikan terhadap para bangsawan hanya mengarah pada pejabat korup dan dibenci rakyat. Jika sampai masalah itu keluar, maka secara tidak langsung citra sebagai bangsawan bersih yang selama ini melekat pada mereka akan tercoreng dan akan ada banyak pihak yang justru mencari-cari kesalahan keluarga tersebut.
Menunggu. Hanya menunggu yang bisa mereka lakukan. Akan tetapi tidak dengan sang calon istri. Diam-diam, putri cendikiawan itu memiliki rencana tersendiri untuk mencari dan menemukan keberadaan sang calon suami saat ini.
Undur diri dari kediaman Bangsawan Qian, gadis itu akan segera menyampaikan niatnya pergi ke Negeri Yun untuk menyusul Qian Chen Gui tanpa sepengetahuan keluarga calon suami.
“Ayah, jika tidak mendapatkan apa yang aku inginkan, setidaknya aku telah berusaha. Ayah, tolong izinkan putrimu yang tidak berbakti ini—“
“Pergilah ...,” ujar pria tua itu lirih. “Hidup dan mati bukan manusia yang menentukan, diam di rumah sekalipun jika sudah waktunya tetap akan mati. Berjanji atau tidak, bertekatlah bahwa engkau akan pulang untuk si tua ini,” ungkap Cendikiawan Wang kepada putri satu-satunya itu.
“Terima kasih, Ayah ....”
Pagi-pagi buta, putri cendikiawan itu menaiki kapal menuju Negeri Yun. Bayangan calon suaminya yang begitu bersemangat untuk mengajar di Akademi Yun Shang membuatnya begitu sedih. Tidak mungkin pria itu memutuskan untuk tidak datang. Pasti ada satu hal yang menyebabkan pria tersebut begitu terlambat.
Tidak terlalu banyak orang yang menaiki kapal tersebut. Pantas saja penjaga pelabuhan mampu mengingat setiap orang yang sudah naik ke kapal. Terlebih, keadaan di Negeri Zhao terbilang genting. Para bangsawan yang biasa bepergian dengan kapal terpaksa tetap tinggal di rumah mereka, hingga pemerintah berhasil menemukan dalang dari teror tersebut, dan menjadikan bangsawan dan rakyat hidup berdampingan dengan damai.
Hari berikutnya, kapal dari Negeri Zhao sandar di pelabuhan pusat kota Negeri Yun. Ini kali pertamanya bagi Nona Shuwan berada di tempat baru. Jauh dari keluarga dan tak mengenal seorang pun di tempat tersebut. Seorang wanita cantik dengan penampilan bak bangsawan berada di keramaian padatnya pengunjung pelabuhan kota tersebut.
“Permisi, Tuan ...,” sapanya kepada seorang pria tua mengenakan seragam penjaga.
“Nona, Anda begitu terlihat asing, apakah ini adalah kunjungan pertama Anda?” tanya pria tersebut kepada Nona Shuwan.
“Betul, Tuan. Saya dari Zhao. Apakah tiga hari yang lalu ada kapal dari Zhao juga?” tanya gadis tersebut menyelidik.
“Ah ...! Iya-iya, tiga hari yang lalu juga ada kapal dari Zhao,” jawab pria tersebut.
“Kalau begitu, apakah Tuan pernah melihat pria di gambar ini?” tanya Nona Shuwan sembari menungjukkan gambar wajah Guru Qian.
Pria itu mengamati gambar wajah tersebut dengan seksama. Ia mencoba mengingat-ingat kembali memori tiga hari yang lalu. Pria di gambar tersebut tampak tidak asing, dengan kata lain ia benar-benar merasa pernah melihat pria itu sebelumnya. Berpikir keras, akhirnya ....
“Haaa ...! Bukankah pria itu adalah teman Tuan Min? Ya, Tuan Min datang menjemputnya waktu itu.”
Menurut keterangan pria tersebut, Tuan Min adalah pemilik kedai di pasar jalan selatan. Orang yang terakhir kali terlihat bersama Guru Qian adalah dia. Tidak ada yang mencurigakan, bahkan keduanya tampak akrab sekali. Tuan Min juga terkenal sebagai pebisnis yang jujur dan taat pada pemerintah. Kedai yang dimilikinya adalah salah satu yang terbesar di kota itu.
Mendengar penuturan pria yang telah memberikannya petunjuk tidak lantas membuat Nona Shuwan tenang. Meskipun ada harapan untuk menemukan calon suaminya dalam keadaan baik-baik saja, tetapi pertanyaan di benaknya kembali muncul. Mengapa ia tidak datang ke Akademi Yun Shang setelah bertemu dengan teman lamanya?
“Terima kasih, Tuan ...,” ucap Nona Shuwan undur diri.
BRUK!
“Aw ... aduh ....” Nona Shuwan mengaduh lirih ketika langkahnya yang tergesa-gesa membuatnya menabrak seorang pria.
Pria tampan dengan pakaian sutra yang membalut tubuhnya serta kipas lipat ditangan itu segera membantu Nona Shuwan berdiri.
“Tuan, aku ceroboh karena sedang tergesa-gesa. Tolong maafkan aku ...,” ujar Nona Shuwan meminta maaf.
Saat keduanya saling menatap, pria itu sejenak tercengang mengagumi kecantikan gadis tersebut. Ia segera tersadar dari lamunannya. Alih-alih merasa kesal dengan insiden tersebut, ia justru menampilkan senyum yang menawan. Berbanding terbalik dengan gadis di hadapannya yang tampak merasa bersalah.
“Nona, aku yang seharusnya meminta maaf jika sampai Anda terluka,” ujar pria tersebut.
“Terima kasih Tuan atas keramahtamahannya, permisi ....”
Gadis itu segera beranjak dan kembali berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan pria yang baru saja ditabraknya. Ia tidak ingin kehilangan jejak Guru Qian. Petunjuk yang baru saja diperolehnya diyakininya akan membawa pada titik terang.
To be continued