“Nona, tunggu!” seru pria itu.
Saat ia hendak melangkah untuk menyusul gadis yang baru saja menabraknya, tiba-tiba ia dihentikan oleh pria tua berseragam yang sebelumnya berbicara dengan gadis yang hendak dikejarnya.
“Tuan Yu! Oh, Tuan Yu ... sudah lama sekali tidak ke sini. Apakah Tuan Yu hendak bepergian, ha?”
Meski sebenarnya kesal karena langkahnya terpaksa dihentikan, Tuan Yu tidak akan menampakkannya. Ia dikenal sebagai orang yang sangat ramah dan populer di kalangan pejabat dan pedagang. Alumni Akademi Yun Shang itu menyembunyikan kekesalannya di balik senyum ramahnya.
“Aaaah, tidak. Aku hanya sedang berkeliling dan melihat-lihat,” jawab Tuan Yu.
“Melihat-lihat? Apa Tuan Yu tertarik untuk melihat-lihat para pendatang dari negeri lain. Misalnya ... gadis cantik yang baru saja berpapasan dengan Anda barusan, hahaha ....”
Seketika, wajah Tuan Yu merona. Ia tiba-tiba tersenyum tanpa sebab yang jelas. Tanpa disadarinya, perubahan mimik wajahnya sedang diperhatikan oleh lawan bicaranya,
“Hahaha ... Tuan Yu, ada apa dengan Anda, wajah Anda tampak merona,” goda pria berseragam itu.
Sadaar pria di hadapannya begitu memerhatikan perubahan mimik wajahnya. Tuan Yu segera angkat bicara.
“Jadi, dari mana ia berasal?”
“Negeri Zhao, Tuan,” jawab pria berseragam itu.
“Ah, dari Zhao rupanya. Apa kau tahu siapa namanya?”
“Haaaa ... sayangnya tidak, Tuan.”
Kali ini, tampak raut kekecewaan di wajah pria tampan itu. Ia mencebikkan bibir, lalu beranjak meninggalkan si pria berseragam.
Tuan Yu hendak menemui sahabatnya—putra dari seorang jenderal yang dulu sama-sama belajar di Akademi Yun Shang. Keduanya memang sangat dekat dan kerap minum bersama. Ia juga ingin menceritakan tentang pertemuannya dengan gadis di pelabuhan. Akan tetapi, ia tidak begitu yakin sahabatnya itu ingin mendengar ceritanya.
Pasalnya, putra jenderal tersebut tidak mendapatkan gadis yang dicintainya, sebelum ia sempat mengutarakan isi hatinya. Gadis yang dicintainya telah menentukan pilihan dan itu bukan dirinya. Tuan Yu yang mengetahui hal tersebut berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengungkit hal itu lagi. Terlebih, mereka berempat adalah sahabat sekaligus saudara.
“Permisi, Tuan ...,” sapa gadis itu kepada pria yang bekerja di kedai Tuan Min.
“Mari, Nona ... silakan duduk!”
“Ah, tidak. Terima kasih, aku ke sini bukan untuk memesan makanan. Aku sedang mencari seseorang,” jelas Nona Shuwan kepada pegawai kedai.
Lagi-lagi gadis itu meminta orang yang ditemuinya untuk melihat gambar wajah Guru Qian. Kali ini, ia benar-benar mendapatkan petunjuk lagi. Ia merasa sudah sangat dekat, sedikit lagi pasti bertemu dengan orang yang dicarinya.
“Guru Qian?” tanya pegawai itu yang langsung membuat gadis di hadapannya tersenyum semringah.
“Betul sekali, Tuan. Apakah Anda melihatnya?” tanya Nona Shuwan tak sabar.
“Iya, dua hari yang lalu beliau datang karena Tuan min membawanya ke sini. Tapi ...,” ungkap pegawai itu terjeda.
“Tapi ... tapi apa, Tuan?”
“Guru Qian keluar bersama seseorang dan tidak kembali, hingga hari ini, beliau bahkan meninggalkan barang-barangnya di sini. Tuan Min menyuruhku untuk menyimpannya jika sewaktu-waktu beliau kembali,”
Gadis itu lagi-lagi harus menghadapi kenyataan yang membingungkan. Baru saja merasakan akan mendapatkan titik terang misteri hilangnya Guru Qian. Kini, harapan itu kembali menjauh.
Menyakinkan bahwa ia merupakan kerabat Guru Qian dari Zhao. Pegawai itu memberikan barang-barang milik pria yang dicarinya kepadanya. Ia menjadi semakin khawatir mendapati kenyataan pria itu pergi dengan orang asing dan sudah tiga hari meninggalkan semua barang-barangnya di tempat ini.
“Tuan, apa aku bisa bertemu dengan Tuan Min?” tanya gadis itu.
“Sayang sekali, Nona. Pagi ini Tuan Min sudah berangkat ke Yong Nam.”
“Apa aku boleh tahu kapan Tuan Min akan kembali?” tanyanya lagi.
“Tuan Min tidak memberi tahu kapan ia akan kembali. Beliau hanya berpesan jika Guru Qian datang dan membutuhkan tempat tinggal, Guru Qian bisa tinggal di rumahnya.
Nona Shuwan membawa barang-barang milik calon suaminya ke penginapan tempatnya akan tinggal sementara di Negeri Yun. Pemilik penginapan merupakan mantan pengusaha rumah b****l di kota tersebut. Usahanya terpaksa tutup karena tidak memiliki izin. Akan tetapi, tempat haram itu kini telah diubah menjadi penginapan. Letaknya begitu setrategis, berada tepat di seberang akademi wanita yang didirikan tiga tahun yang lalu oleh istri gubernur dan dikelola oleh nona muda dari keluarga Han.
“Nyonya, Anda begitu ramah, pelayan Anda pandai memasak, dan tempat ini begitu bersih dan nyaman. Mengapa dari sekian banyak kamar, Anda hanya memiliki seorang tamu yang menginap?” tanya Nona Shuwan kepada pemilik penginapan.
Image sebagai rumah b****l sudah lama melekat pada tempat tersebut. Tentunya membuat orang-orang enggan datang untuk singgah. Nyonya Chen—pemilik penginapan bahkan terancam bangkrut.
“Jangankan untuk menginap. Orang datang untuk minum saja segan. Kalau seperti ini terus, aku bisa bangkrut,” keluh Nyonya Chen.
Melihat kesalahpahaman yang berujung pada hati yang tersakiti. Nona Shuwan tergerak hati untuk menolong wanita paruh baya yang hanya hidup dengan dua orang pelayan yang juga sudah seusia dengan sang nyonya. Nona Shuwan melihat alat musik petik di atas meja panggung. Terlintas ide untuk memainkan alat musik tersebut agar menarik para pengunjung.
Melangkah ke atas panggung, gadis itu duduk bersimpuh, lalu memerintahkan kepada pelayan Nyonya Chen untuk membuka semua pintu dan jendela. Nona Shuwan mulai memainkan melodi dengan alat musik petik tersebut. Kepiawaiannya membuat kagum pemilik penginapan. Sungguh alunan musik yang membuat jatuh cinta.
Menyusupi indra pendengaran orang-orang yang kebetulan melintas di depan penginapan. Satu per satu kursi kosong itu telah ditempati. Beberapa dari mereka bahkan rela berdiri. Begitu ia selesai dengan permainan musiknya, seorang dari pengunjung bertepuk tangan, memecah keheningan. Tuan Yu.
Nona Shuwan melempar senyum kepada pria tersebut. Kemudian, tepuk tangan meriah dari para pengunjung membuyarkan adegan saling menatap antara keduanya. Hanya tersisa wajah merona, tersipu malu.
Nyoya Chen terpaksa mencari banyak pegawai paruh waktu sore itu. Penginapan sekaligus kedai yang semula sepi pengunjung mendadak begitu ramai.
“Nona Shuwan, bagaimana aku harus berterima kasih kepadamu? Aku mohon tinggallah lebih lama di sini,” pinta Nyonya Chen pada gadis yang baru saja membuat kelimpungan para pelayan karena pengunjung yang membludak.
“Aku sangat tersanjung, Nyonya. Tapi ...,” ujarnya terjeda.
“Aku tidak menyangka kita akan bertemu di sini, Nona.”
“Wah, Nona Shuwan dan Tuan Yu rupanya saling mengenal satu sama lain, ini benar-benar kebetulan yang mengejutkan,” sela Nyonya Chen.
Tuan Yu yang sedari tadi tidak melepaskan tatapan padanya membuat Nona Shuwan sangat malu. Pria yang secara tidak sengaja bertabrakkan dengannya di pelabuhan itu ternyata bukan orang sembarangan. Suatu saat, ia pasti akan membutuhkan bantuan dari pria tersebut. Berada di negeri orang, tentu menjaga sikap merupakan hal utama baginya. Termasuk bersikap di hadapan orang terpandang seperti Tuan Yu.
“Permisi, Tuan Yu ....”
Nona Shuwan meninggalkan Tuan Yu dan Nyonya Chen sebelum dua orang itu memintanya untuk melakukan hal yang sedang tidak ingin dilakukan. Suasana hati gadis itu sebenarnya sedang buruk. Di pikirannya hanya tentang calon suaminya yang kini entah ke mana. Sesuatu yang buruk bisa saja terjadi kepada pria yang kini tidak diketehui keberadaannya. Namun, Nona Shuwan yakin, orang yang kini tengah dicari masih dalam keadaan baik-baik saja.
Gadis yang ingin sekali dikenalnya memutuskan untuk meninggalkan mereka. Tuan Yu tidak punya pilihan lain selain berpura-pura tenang dan bersikap biasa saja. Kendati demikian, pria dengan kipas di tangan kanan itu masih terus menatap kepergian Nona Shuwan. Satu per satu anak tangga terlewati dan menghilang dari pandangannya.
“Nyonya Chen, mengapa Anda tidak meminta Nona Shuwan untuk memainkan satu lagu lagi, atau duduk bersama kita?” tanya Tuan Yu kepada pemilik penginapan.
“Tuan Yu ... sepertinya Anda salah paham. Nona Shuwan adalah tamuku, dia tidak datang untuk menghibur siapa pun. Nona Shuwan jauh-jauh dari Zhao karena ingin mencari kerabatnya. Lagi pula, Nona Shuwan adalah wanita berpendidikan, putri dari cendikiawan senior di negaranya,” ungkap Nyonya Chen.
Pemuda itu mengetuk-ketuk kepalanya saat menyadari kekeliruannya. Bagaimana mungkin ia hampir saja salah paham terhadap gadis yang begitu piawai bermain musik itu adalah seorang penghibur. Ia kembali mengingat betapa gadis itu sangat lembut dan sopan dalam berbicara. Penampilannya lebih mirip bangsawan daripada penghibur. Pantas saja jika ternyata Nona Shuwan adalah putri dari seorang cendikiawan.
Mendengar penuturan pemilik penginapan, membuat Tuan Yu semakin penasaran. Ingin tahu lebih banyak mengenai satu-satunya tamu yang menginap di penginapan Nyonya Chen. Karena bukan merupakan asli Yun, ia mungkin akan kesulitan mengumpulkan informasi tentang gadis itu. Satu-satunya orang yang bisa ia tanyai saat itu adalah si pemilik penginapan yang tampak dekat dengan tamu tersebut, hingga mendapatkan bantuan agar penginapan menjadi ramai pengunjung.
Tepat tengah malam, Nyonya Chen menutup kedainya. Ia tidak ingin tamu yang menginap di lantai atas terganggu oleh suara berisik pengunjung kedai.
“Tuan Yu, kami akan segera menutup kedai. Aku pikir Nona Shuwan tidak akan turun, mungkin dia juga sudah tidur. Jika Tuan ada pesan untuknya—“
“Aaa ... tak perlu repot-repot Nyonya Chen. Aku juga akan segera pergi. Jangan salah paham, aku tidak sedang menunggu, em ... Nona—Shuwan. Atau, mungkin aku akan datang lagi lain kali,” ungkap Tuan Yu yang tampak kikuk tidak seperti dia yang biasanya.
Usai menutup kedai dan memberikan upah pada para pekerja paruh waktu. Si pemilik penginapan memberanikan diri untuk berkunjung ke kamar tamu satu-satunya. Sesuai dugaan, gadis itu belum tidur dan menerima dengan ramah kunjungannya.
“Nona Shuwan, ini ada sedikit makanan, mungkin Nona ingin kudapan sebelum tidur,” ujar Nyonya Chen sembari meletakkan nampan berisi makanan.
Gadis itu tampak murung, tetapi tetap menyajikan sebuah senyuman yang kentara sekali dibuat-buat. Menyadari hal tersebut, Nyonya Chen berusaha mengorek informasi agar dapat membantu kalau-kalau Nona Shuwan saat ini tengah memiliki masalah.
Awalnya, Nona Shuwan menolak untuk bercerita. Akan tetapi, Nyonya Chen meyakinkan bahwa dirinyalah satu-satunya tempat untuk bercerita di negeri ini. Mengingat Nona Shuwan tidak punya kerabat lain di kota tersebut. Pengalaman puluhan tahun sebagai ibu asuh bagi wanita penghibur tampaknya ia tengah berhasil merayu gadis di hadapannya.
Nona Shuwan menceritakan semuanya tentang dia dan Guru Qian. Perasaannya menjadi lega setelah ada orang yang bersedia mendengarnya. Ia juga mengutarakan kebingungannya saat ini. Di mana tak seorang pun yang boleh memberitahui kepada pihak Akademi Yun Shang mengenai hilangnya Guru Qian. Namun, jika Guru Qian tidak datang pada hari pembukaan tahun ajaran baru, yaitu besok. Pria tersebut beserta keluarga akan dianggap menghina kaisar.
“Kalau begitu pergilah!” cetus Nyonya Chen.
“Apa?!”
“Jika tidak mampu menyelamatkan nyawanya, maka selamatkanlah nama baiknya,” ujar Nyonya Chen.
“Caranya?”
Ide gila tiba-tiba muncul. Nyonya Chen mengusulkan agar Nona Shuwan menyamar sebagai Guru Qian dan datang ke upacara pembukaan, besok. Dokumen-dokumen milik calon suaminya pun berada di dalam tas yang diambilnya dari kedai Tuan Min, lengkap dengan pakaian. Terdengar sangat tidak masuk akal. Akan tetapi, itu adalah cara satu-satunya untuk menyelamatkan nama baik Bangsawan Qian.
“Nyonya, tapi itu terdengar tidak masuk akal dan ... gi—la?”
“Apanya yang tidak masuk akal, Nona Shuwan putri dari cendikiawan senior. Berpendidikan dan aku yakin sekali, Nona Shuwan orang yang memiliki wawasan yang sangat luas.”
“Tapi ... pakaian Guru Qian terlalu longgar untukku,” ujar Shuwan beralasan.
“Jangan khawatir! Hongli akan membereskan semuanya.”
Nyonya Chen membawa setumpuk pakaian Guru Qian, lalu menyerahkan kepada pelayannya untuk dipermak. Pakaian-pakaian tersebut diukur sesuai dengan tubuh Nona Shuwan.
Keesokan harinya ....
Kedai yang sebelumnya tidak memiliki satu pengunjung pun, pagi itu tampak dipadati oleh orang-orang yang memesan makanan dan minuman. Masakan Hongli yang meskipun sudah tua sangat digemari. Semua itu tak lepas dari penampilan Nona Shuwan yang berhasil menyedot perhatian, sehingga para peengunjung tertarik untuk mencicipi menu yang disajikan di kedai tersebut.
“Waah ...!”
Wanita yang biasa tampil anggun, hari itu terlihat sangat berbeda. Ia begitu tampan dengan pakaian milik calon suaminya.
“Nona, Anda sangat luar biasa. Saat menjadi seorang gadis, Nona sangat cantik dan anggun, bahkan saat menjadi pria pun, Nona juga sangat tampan,” puji Nyonya Chen.
“Ssstttt ... pelankan suara Anda, Nyonya ...,” protes Nona Shuwan berbisik.
Nyonya Chen segera membungkam mulutnya dengan kedua tangan. Penyamaran yang merupakan idenya itu tidak boleh seorang pun tahu. Rahasia besar itu harus rapat-rapat dijaga. Itu adalah sebuah penipuan. Jika sampai ketahuan, hukumannya sangat berat. Masalah tersebut akan melibatkan antara dua negara Yun dan Zhao. Shuwan sadar betul risikonya. Akan tetapi, ia berharap bisa segera menemukan Guru Qian sebelum penipuan itu terbongkar.
“Nona Shuwan, aku tahu ini sangat tidak sopan. Tapi ...,” ujar Nyonya Chen terjeda.
“Katakanlah, Nyonya.”
“Kedaiku ramai karena mereka pikir Nona akan bermain musik lagi. Jika sekarng Nona pergi ....”
“Nyonya, Anda sangat baik, aku tidak keberatan sesekali datang ke kedai ini untuk bermain musik. Beritahu mereka, setidaknya dua kali dalam sepekan aku akan berkunjung.”
“Benarkah itu, Non—“
“Sssttt ... mulai sekarang, panggil aku Guru Qian. Jangan salah lagi, kecuali jika aku kembali menjadi seorang wanita, mengerti?”
Telah terjadi kesepakatan antara Nona Shuwan dan Nyoya Chen. Meski memutuskan untuk pergi ke Akademi Yun Shang sebagai Guru Qian. Gadis itu tetap tidak melupakan jasa pemilik kedai kepadanya. Ia bersedia mengunjungi kedai tersebut dua kali dalam sepekan dan kembali menjadi Wang Shuwan.
To be continued