“Kepala suku, sebenarnya aku ...”
“Heh, mulai sekarang panggil aku Ayah. Mengerti?”
Kang Jian semakin tidak enak hati. Kehidupannya yang lama begitu bahagia dan sempurna tanpa cela. Bahkan setelah selamat dari kematian ia masih diberikan kehidupan yang serupa. Le Ying yang baik dan penuh kasih sayang sepadan dengan Wang Shuwan. Orang-orang di tempat ini bagaikan keluarga dan para muridnya begitu patuh dan menghormatinya. Tidak ada alasan bagi Kang Jian untuk tidak berterima kasih.
* * *
Putri cendekiawan yang biasanya bersikap tenang kali ini terlihat begitu gelisah. Bagaimana tidak, kejadian yang baru saja dialaminya berurusan dengan nyawa seseorang. Tuan Yu hampir saja meninggal jika saja terlambat mendapatkan pertolongan. Gurat-gurat kekhawatiran tampak jelas pada paras cantik itu. Rasa bersalah menggelayuti nuraninya teringat keputusan yang tergesa-gesa meninggalkan kediaman sang saudagar muda tersebut.
“Nona, Ajui sudah menunggu di bawah,” ujar Nyonya Hui memberitahu. Pukul 01.00 dini hari, keduanya akan berangkat ke kediaman Tuan Yu. Bisa dipastikan pesta ulang tahun telah terpaksa dibubarkan lebih awal mengingat sang empunya hajat tengah mendapat musibah dan terluka parah. Gosip dan isu pun tak diragukan lagi menyeruak melebar luas tak terkendali.
Nona Feifei begitu gencar melayangkan fitnah dengan menyebut Tuan Yu bersama wanita penghibur yang tidak lain adalah Nona Shuwan. Akan tetapi, hal itu rupanya tak begitu dipikirkan oleh Nona Shuwan. Kesembuhan Tuan Yu dan menemukan dalang pembunuh bayaran adalah prioritas gadis itu saat ini.
Dengan menyewa tandu dan dikawal oleh Ajui, Nona Shuwan melakukan perjalanan menuju kediaman Tuan Yu. Dia masih belum juga terlihat tenang. Jemarinya sesekali ia satukan dan meniupnya. Terlintas senyum ramah saudagar muda yang hendak ditemuinya. Suaranya yang lembut jelas terdengar. Pun dengan aroma wewangian yang dikenakan membuat Nona shuwan terbuai merasakan perasaan berbeda yang saat ini dirasakan.
“Ah, tidak mungkin. Kak Kang Jian, maafkan aku,” gumam Nona Shuwan, saat menyadari bahwa hatinya milik Qian Kang Jian bukan untuk dibagi dengan siapa pun termasuk pria yang baru saja dipikirkannya.
“Nona, kita sudah sampai.”
“Ajui, terima kasih. Kembalilah, mungkin aku akan bermalam di sini.”
“Baik, Nona. Jaga diri Anda baik-baik!”
Dibantu pelayan Nyonya Hui, putri cendekiawan itu turun dari tandu. Langkahnya yang tergesa-gesa menuju gerbang dengan penjagaan lebih ketat dari biasanya memperjelas betapa gadis itu sudah tidak sabar lagi untuk bertemu tuan rumah. Saat ini kediaman Tuan Yu rupanya mendapat penjagaan begitu ketat setelah insiden penusukan beberapa jam yang lalu. Ayah dari Guru Lei yaitu Jenderal Lei mengutus tantara pemerintahan yang disetujui oleh Gubernur Feng guna menjaga si tuan rumah. Tidak menutup kemungkinan bahwa akan terjadi p*********n kedua.
“Nona, Anda tidak diperkenankan untuk masuk!” larang salah seorang penjaga gerbang yang tidak lain adalah tantara pemerintahan.
“Tuan, aku Wang Shuwan teman Tuan Yu. Tolong beri tahu seseorang di dalam sana bahwa aku ingin bertemu.”
“Tidak sekarang, Nona. Anda datang pada dini hari sebaiknya Anda kembali besok pagi.”
“Tuan, tapi aku harus bertemu Tuan Yu sekarang.”
Terjadi perdebatan antara Nona Shuwan dengan penjaga gerbang. Meski berkali-kali mencoba meyakinkan penjaga bahwa tidak mungkin seorang perempuan seperti dirinya berniat buruk pada tuan rumah. Terlebih lagi, ia juga mengaku teman dari pemilik rumah yang sedang dijaga. Namun, sang penjaga tampaknya begitu tegas menjalankan tugas hingga tak bersedia menerima alasan apapun.
Di tengah keputusasaan, seorang pengurus rumah Tuan Yu tiba-tiba keluar gerbang. Pria paruh baya tersebut hendak menyuruh penjaga lainnya agar kembali menjemput tabib. Hal itu artinya kondisi Tuan Yu saat ini kembali memburuk.
“Tuan, apa yang terjadi dengan Tuan Yu?” tanya Nona Shuwan, cemas.
“Nona, Anda dari mana saja? Tuan Yu sangat ingin bertemu dengan Anda.”
“Maaf Tuan, aku begitu tergesa-gesa dan tidak sopan.”
“Aduh … nanti saja minta maafnya. Mari, ikut saya menemui Tuan Yu sekarang!”
Menyusuri koridor Panjang di kediaman luas Tuan Yu, Nona Shuwan akhirnya berada di depan pintu kamar saudagar muda itu. Sebuah kamar ekslusif yang menghadap taman bunga dan kolam menyerupai sungai. Sungguh si pemilik tampak mendambakan ketenangan dan sangat sesuai dengan pribadinya. Tenang dan lembut.
Telapak tangan dengan jemari lentik itu mendorong perlahan daun pintu. Melangkah perlahan, Nona Shuwan menuju pintu berikutnya. Daun pintu kedua pun terlewati. Langkah hati-hati berayun menuju pintu ketiga yang merupakan pintu terakhir.
Pria bermata elang itu langsung siaga begitu merasakan seseorang baru saja masuk ke kamar Tuan Yu—sahabatnya. Hal itu sontak membuat Nona Shuwan terkejut.
‘Guru Lei, sedang apa dia di sini?’ batin Nona Shuwan.
Sementara pria yang terbaring lemah dan berwajah pucat di sisi Guru Lei juga menyadari kedatangan Nona Shuwan.
“Nona …,” panggilnya lemah.
Lei Xio Ao yang tadinya begitu siap siaga pun mengendurkan urat-urat ketegangannya saat sahabatnya itu ternyata mengenal wanita yang baru saja tiba.
“Lu Xuan, gadis ini?”
Yu Lu Xuan mengangguk, seolah paham apa yang hendak ditanyakan oleh sang sahabat. Hendak memberi privasi pada keduanya, Lei Xio Ao pun beranjak dari tempatnya berdiri, tetapi dicegah oleh Nona Shuwan.
“Guru Lei, tetaplah tinggal!”
“Guru Lei?!” kejut Lei Xio Ao, saat mendengar gadis yang bahkan tidak dikenalnya itu menyebutnya sebagai Guru Lei. Selama ini hanya orang-orang dari akademi Yun shang yang menyebutnya seperti itu. Dia lebih dikenal sebagai putra jenderal daripada sebagai seorang guru.
“Oh, maaf. Maksudku, Tuan Lei,” ralat Nona Shuwan.
Lei Xio Ao hendak menegaskan, tetapi ia segera menguasai diri. Gadis itu datang untuk sahabatnya dan memang kehadiran gadis tersebut telah dinanti-nanti oleh sahabatnya. Sejenak, ia menyingkirkan rasa ingin tahunya. Kendati demikian tidak menutup kemungkinan bahwa kecurigaan kepada Nona Shuwan akan terlupakan. Di matanya, sosok cantik itu penuh dengan rahasia pun dengan ancaman bahaya bagi dirinya maupun orang-orang di sekitarnya, termasuk Yu Lu Xuan.
Meski kikuk karena keceplosan memanggil Lei Xio Ao dengan sebutan Guru Lei, Nona Shuwan segera beralih kepada Tuan Yu. Ia mendekat, duduk bersimpuh di samping ranjang. Tangan gadis itu tanpa sungkan menangkup kedua pipi pria pucat di hadapannya. Pria yang baru saja mempertaruhkan nyawa demi dirinya.
Mendapatkan perlakuan seperti itu, Yu Lu Xuan begitu terkejut. Meski rasa ngilu menyiksa luka bekas tusukan pedang, tetapi hatinya kini sedang berbunga-bunga. Sentuhan lembut dan aroma khas Nona Shuwan bagaikan obat seribu penyakit dan luka. Ajaibnya orang yang tengah dimabuk cinta. Nyawa sudah hamper melayang pun tetap bahagia bila berada di dekapan orang yang dicintai.
“Tuan Yu, maafkan aku. Apakah sakit sekali?”
Bulir bening tak kuasa mengalir dari mata indah gadis itu. Sementara Tuan Yu menggeleng lemah.
“Tidak. Tidak sakit lagi, jangan pergi ….”
“Iya, aku tidak akan pergi. Aku akan menjaga Tuan, aku janji.”
Belaian lembut mengelus rambut indah gadis di hadapannya. Sudah sejak lama ia mendambakan sang putri cendekiawan tersebut dan baru hari ini ia bisa menyentuhnya. Meskipun harus merasakan kesakitan yang luar biasa terlebih dahulu tampaknya Yu Lu Xuan mendapatkan bayaran yang sepadan, yaitu rasa khawatir dan perhatian Nona Shuwan.
Sementara itu kericuhan terjadi di Akademi Yunshang. Jam pelajaran telah dimulai, tetapi Guru Qian tak kunjung muncul. Lama menunggu akhirnya seorang siswa berinisiatif untuk memeriksa kamar Guru Qian.
“Guru! Guru Qian ...”
Lengang. Guru Qian maupun Guru Lei tidak berada di kamar. Du Fei menjadi khawatir. Terakhir, ia membantu Guru Qian untuk keluar akademi dengan cara melompat pagar.
‘Mungkinkah Guru Qian belum kembali?’ batin pemuda tersebut. Ia pun segera bergegas kembali ke kelas dan menyampaikan kepada teman-temannya bahwa Guru Qian saat ini tengah sakit sehingga tidak akan datang untuk mengajar mereka. Alih-alih membuat tenang para murid justru merasa khawatir dan ingin mengunjungi sang guru. Namun hal itu justru langsung dicegah oleh Du Fei.
“Tunggu! Guru Qian berpesan dia hanya butuh istirahat jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Meski melalui perdebatan tetapi Du Fei berhasil mencegah yang lainnya agar tidak ke kamar Guru Qian. Ia pun menggiring mereka ke perpustakaan untuk menyalin materi dari buku-buku yang ada di sana. Kemudian ia mendekati salah satu temannya yang ia percaya dapat menjaga rahasia. Membisikkan bahwa ia tidak dapat menemukan Guru Qian juga Guru Lei di kamar. Sang teman itu pun terkejut dan refleks menutup mulut yang seketika membuka lebar dengan kedua tangannya. Du Fei pun meminta agar hal tersebut tidak diketahui oleh yang lainnya.
“Maksudmu keduanya pergi bersama? Bukankah Guru Lei sangat membenci Guru Qian? Jangan-jangan ...”
PLAK!
Sebuah pukulan segera mendarat di kepala pemuda itu. Du Fei geram karena temannya justru menambah kekhawatiran dirinya. Akhirnya keduanya memutuskan untuk pergi diam-diam mencari Guru Qian dan Guru Lei.
“Jangan bicara sembarangan! Biar bagaimana pun Guru Lei adalah seorang putra jenderal terkemuka di negeri ini. Rasanya tidak mungkin bertindak gegabah hanya karena masalah pribadi. Lagi pula Guru Qian bukan orang yang perlu dilenyapkan, bukan?”
“Guru Qian pria yang baik dia juga dari Zhao. Kamu benar jika terjadi sesuatu urusan ini akan melibatkan dua negara.”
Menyusuri jejak terakhir Guru Qian. Keduanya berhenti di dekat tembok yang dipanjat oleh sang guru. Du Fei berniat hendak memanjat, tetapi dicegah oleh temannya. Bisa jadi masalah jika sampai ada yang melihat tindakan ilegal tersebut Terlebih saat siang hari keduanya terlihat begitu jelas.
“Jangan bodoh, kita bisa dihukum,” cegah sang teman.
“Guru Qian mungkin dalam masalah.”
“Kita juga akan dalam masalah jika ketahuan. Lagi pula setelah keluar dari akademi kau mau cari Guru Qian di mana?”
“Di mana saja, kita punya mulut untuk bertanya dan kaki untuk berlari, apa yang harus ditakutkan?”
“Akh ... terserahlah!”
Tiba-tiba hujan lebat turun membasahi tubuh keduanya. Akan tetapi, mereka tetap tidak mengurungkan niat untuk mencari Guru Lei dan Guru Qian. Justru jika hujan lebat tidak akan ada petugas akademi yang berkeliling. Keduanya pun berhasil melompati dinding batu tersebut.
“Sekarang kita ke mana?”
“Kita teduh dulu. Emm, di sana!”
Du Fei menunjuk sebuah kedai yang tampak ramai. Keduanya sudah basah kuyup, berteduh pun sebenarnya percuma, hanya saja ternyata Du Fei punya maksud lain. Ia sebenarnya tengah mencari informasi. Berharap satu dari mereka mengetahui atau pernah melihat pria asal Zhao yang mereka sebut sebagai Guru Qian.
“Tuan Yu diserang pembunuh bayaran,” ujar salah satu pengunjung yang langsung dikerumuni lainnya.
“Benarkah?”
“Iya, padahal beliau sedang mengadakan pesta besar pesta ulang tahunnya. Entah untuk alasan apa aku dengar beliau berada di tandu wanita penghibur Nyonya Chen. Aku rasa beliau menjemput langsung wanita dari Zhao itu. Di tengah jalan mereka dicegat pembunuh bayaran. Untung saja putra Jenderal Lei datang tepat waktu dan menyelamatkan keduanya. Tapi ...”
“Kenapa, kenapa?”
“Kudengar Tuan Yu terkena pedang. Itu sebabnya pesta tidak dilanjutkan meskipun ada gubernur dan istri gubernur di sana.”
Du Fei mendengarkan dengan seksama cerita tersebut. Semua orang tahu bagaimana Tuan Yu dan Guru Lei bagaikan saudara. Kemungkinan saat ini Guru Lei juga tengah berada di kediaman keluarga Yu. Meski tak ada yang menyebut tentang Guru Qian setidaknya sedikit informasi tentang Guru Lei cukup untuk melanjutkan pencarian terhadap Guru Qian.
Setelah menghabiskan teh yang dipesan keduanya kembali menembus hujan untuk menuju kediaman keluarga Yu. Du Fei tak lagi menggubris keluhan dan larangan temannya. Keputusannya mengajak rekan yang banyak bicara cukup ia sesali. Seharusnya ia pergi sendiri, tetapi semua sudah terjadi. Mau tidak mau ia harus mendengar ocehan temannya tersebut, hingga keduanya sampai di depan gerbang megah saudagar muda, Tuan Yu.
“Hei, kalian murid Akademi Yun Shang untuk apa datang ke mari?” tanya penjaga gerbang.
“Tuan, izinkan kami masuk. Kami ingin mencari guru kami, Guru Lei.”
Mendengar nama putra jenderal itu disebut, penjaga langsung memberikan izin kepada keduanya. Lagi pula orang yang mereka cari memang tengah berada di rumah besar ini. Salah satu dari penjaga pun mengantar keduanya ke paviliun tempat Guru Lei bermalam.
“Putra Jenderal ada di dalam.”
Setelah penjaga pergi, ragu-ragu Du Fei mengetuk pintu di hadapannya. Guru Lei tidak dekat dengan para murid. Du Fei terpaksa harus menemuinya demi memastikan Guru Qian baik-baik saja. Tak lama kemudian pintu itu pun dibuka.
“Guru Lei.”
“Kalian kenapa di sini? Siapa yang memberi izin kepada kalian meninggalkan akademi. Kalian harus dihukum—“
“Guru Lei! Guru Qian menghilang,” sergah Du Fei.
“Hilang?!”
“Iya, pagi ini kami tidak dapat menemukan Guru Qian di mana pun.”
Tiba-tiba, Guru Lei terdiam untuk sejenak mengingat dan berpikir. Mungkinkah wanita yang saat ini berada di kamar Tuan Yu adalah Guru Qian? Keduanya sama-sama dari Zhao. Sebagai seorang pria Guru Qian memiliki aroma sangat harum bagaikan wanita. Tubuhnya tinggi semampai tanpa otot yang menonjol. Jemarinya lentik dan wanita itu memanggilnya Guru Lei bukan sebagai putra jenderal.
“Dia tidak hilang. Dia ada bersamaku menghadiri pesta Tuan Yu. Saat ini dia sedang berada di rumah kerabatnya. Kalian kembalilah ke akademi, aku akan membawanya ke akademi setelah makan siang,” titah Guru Lei kepada kedua muridnya.
Meski ragu, Du Fei tidak punya pilihan lain selain percaya kepada Guru Lei. Temannya juga terus mendesak agar segera kembali ke Akademi sebelum yang lain menyadari kepergian mereka. Ketakutan akan dihukum membuat langkah kaki seribu pun dilakukan.
Hujan telah reda. Du Fei dan temannya kembali memanjat dinding batu. Beruntung tidak ada yang memergoki keduanya. Akan tetapi, para murid tampak heran melihat pakaian keduanya yang basah kuyup. Keduanya bergegas untuk mengganti baju sebelum pertanyaan-pertanyaan menjebak dilontarkan.
To be continued