Setelah meletakkan semua barang di penginapan dan kedai Tuan Min. Qian Kang Jian hendak berjalan-jalan di ibukota negeri Yun yang tersohor sebelum tiba waktunya untuk datang dan tinggal di Akademi Yun Shang sebagai guru besar. Kekagumannya terhadap kaligrafi dan puisi membuat ia terpaku pada sebuah karya yang dipamerkan di sebuah toko kesenian tak jauh dari akademi Yue Niang, yaitu akademi yang sama dengan akademi Yun Shang, tetapi khusus perempuan.
“Tuan, apakah Anda tertarik? Ini adalah karya Nyonya Wen Xi, istri dari Gubernur Feng, gubernur di provinsi ini,” ucap pria tua yang merupakan pemilik toko.
“Seorang istri Gubernur? Kaligrafi ini mengingatkan saya dengan seorang wanita di negara saya, negeri Zhao,” jawab Kang Jian.
“Wah, rupanya Anda berasal dari Zhao. Jangan-jangan, Anda adalah guru besar Qian yang tengah ramai diperbincangkan oleh para guru di Yun Shang juga Petinggi Wei.”
“Tuan, saya sungguh tersanjung. Sayalah Qian yang dimaksud tapi saya hanya pendidik biasa bukan orang besar seperti kedengarannya.”
Rupanya kedatangan Guru Qian sudah ramai menjadi perbincangan terutama pada kalangan orang-orang terpelajar di Yun Shang. Sang pemilik toko sungguh merasa sangat beruntung telah didatangi oleh seperti Guru Qian. Ia pun memberikan sebuah ornamen sebagai hadiah. Meski dengan tak enak hati ditolak. Namun akhirnya Kang Jian menerima hadiah tersebut.
Meninggalkan toko barang-barang kesenian, Kang Jian menuju sungai yang terkenal memiliki air sedingin es yang mencair. Selain itu, rupanya tempat tersebut memiliki pemandangan yang indah. Terletak di kaki gunung, tumbuh subur bunga-bunga dan puhon buah kesemak yang juga tengah berbuah. Sungguh negeri yang indah dan subur. Pemerintahan yang begitu disegani negara-negara lain. Sukses dan menguasai pasar dagang. Negeri Yun menjadi paling dikdaya dibandingkan Zhao yang kecil.
‘Kelak, akan kubawa kamu ke negeri yang indah ini, Shuwan ...,’ gumam Kang Jian, ketika teringat dengan sang calon istri yang kini tengah berada di negeri Zhao, menunggunya menyelesaikan tugas sebagai guru besar di negeri orang.
Terdengar suara derap langkah yang semakin dekat. Kang Jian segera berbalik dan waspada. Seketika di hadapannya kini tengah berbaris orang-orang bertopeng dan berpakaian hitam. Tangan mereka semua bersiap mengayunkan pedang tanpa sarung.
“Bunuh!”
Salah seorang dari mereka berteriak memberi komando agar membunuh Kang Jian yang tanpa senjata di tangannya. Kang Jian sebisa mungkin menghindar, sesekali melawan meski dengan tangan kosong, pria itu menguasai ilmu bela diri yang terlatih sejak remaja. Namun, ia tentu kewalahan karena jumlah mereka bukan sedikit. Begitu ada kesempatan, ia pun berlari sekuat tenaga menyusuri padang ilalang, menaiki bukit, lembah, dan gunung. Para pembunuh itu pun terus mengejar.
Sampailah Kang Jian di tepi jurang. Mundur selangkah saja sudah pasti jatuh ke dasar jurang. Akan tetapi, para pembunuh terus berjalan maju. Sempat terjadi perkelahian kembali antara Kang Jian dengan orang-orang berpedang itu. Namun, ia tak mampu bertahan apalagi memenangkan perkelahian. Akhirnya, Kang Jian terkena tebasan pedang lalu jatuh ke dalam jurang.
Para pembunuh telah yakin jika putra bangsaan Qian meninggal dunia. Jika bukan karena sabetan pedang, maka pasti telah remuk menghantam dasar jurang. Mereka pun bergegas meninggalkan tepian jurang. Berbaur dengan warga yang hendak menaiki kapal, mereka tertahan karena pemeriksaan ketat.
Kaisar Yun terlambat mendengar mengenai teror p*********n bangsawan di negeri Zhao. Oleh sebab itu, hari ini para tentara kerajaan ditugaskan untuk memperketat penjagaan dan pemeriksaan di pelabuhan. Rumor yang beredar para pembunuh telah sampai ke Yun. Sementara itu, ada beberapa bangsawan Zhao yang masih tinggal di negeri Yun untuk urusan dagang maupun pemerintahan.
Sore itu, Le Ying dan para gadis di desa terbelakang tengah melakukan aktifitas mandi dan mencuci. Gadis berparas cantik, berpenampilan sederhana, dan berperangai lemah lembut tersebut hendak memetik bunga krisan yang tumbuh di sekitaran sungai.
“Le Ying!” temannya memanggil. “Kamu tidak masuk ke Air?”
“Kalian saja! Aku harus memetik bunga krisan untuk teh ayahku,” sahut Le Ying menolak ajakan temannya.
Satu per satu bunga beraroma teh itu hampir memenuhi keranjang rotannya. Saat masuk lebih dalam ke rerimbunan pohon bunga krisan, gadis itu terkejut melihat tubuh seorang pria yang berlumuran darah. Baju putih yang dikenakan pun telah bercampur noda tanah dan darah. Le Ying meletakkan ranjang berisi bunga krisan di samping tubuh pria tersebut. Kemudian ia memeriksa napas dan denyut nadi sang pria.
“Dia masih hidup,” gumam Le Ying.
Gadis itu segera berlari menuju sungai. Ia memanggil teman-temannya dan meminta salah satu dari mereka untuk memenggil para pemuda yang tengah menggembala ternak tak jauh dari tempat tersebut.
“Wah, pemuda ini sangat tampan. Sayang sekali siapa yang tega mencelakainya?” cetus salah satu dari mereka.
Tak lama kemudian, para penggembala datang lalu membawa tubuh pria itu ke kediaman kepala suku—Ayah Le Ying. Gadis itu memohon kepada sang Ayah agar diizinkan merawat pria tersebut. Mungkin saja Le Ying telah jatuh cinta saat pertama melihat Qian Kang Jian. Bukan hanya ia, para gadis yang juga melihatnya tak henti-henti memuji ketampanan putra bangsawan itu.
Le Ying dan yang lainnya tak pernah pergi ke sekolah. Semua warga di desa itu buta huruf. Mereka dulunya berasal dari b***k belian dari negara lain yang dibebaskan Kaisar atas permintaan selir agung. Karena selir agung juga berasal dari negeri yang sama. Hanya saja, mereka tidak diizinkan tinggal di ibukota. Dasar jurang itu adalah satu-satunya tempat yang diberikan Kaisar untuk mereka. Namun, mereka dibebaskan dari p********n, diizinkan bertani dan menjual hasil ke ibukota. Diizinkan menikah dengan orang asli Yun maupaun negeri lain.
Kendati hidup dalam keterbelakangan ilmu pengetahuan, tetapi kepekaan mereka pada alam sangat kuat. Bahkan, Kakek Le Ying pernah diundang ke istana untuk mengobati putra Selir Agung. Sejak kesembuhan pangeran, desa itu kerap menerima hadiah dari istana. Namun, sejak sang kakek meninggal, istana juga telah berhenti mengirimkan hadiah. Sepertinya Le Ying menuruni bakat sang Kakek sebagai tabib. Gadis itu piawai membedakan tumbuhan beracun dan tidak. Bahkan, tumbuhan beracun pun bisa ia racik menjadi obat untuk penyakit tertentu. Sungguh bakat yang luar biasa. Le Ying adalah tabib wanita pertama di negeri Yun, tetapi keberadaannya tidak diketahui orang luar.
Melihat sang putri yang tulus memohon, kepala suku pun akhirnya memberikan izin. Padahal, sebelumnya mereka sangat anti terhadap orang asing. Untuk menjaga kemurnian asli keturunan pun kepala suku dan tetua sebelumnya melarang pernikahan dengan orang luar suku.
Gadis itu membersihkan tubuh Kang Jian juga menggantikan pakaiannya. Le Ying tidak pernah keluar desa. Hanya pria yang pergi ke ibu kota untuk menjual hasil pertanian dan membeli kebutuhan. Itu sebabnya, seumur hidupnya baru kali ini ia bertemu dengan orang asing. Le Ying begitu mengagumi pria itu. Kulit yang putih bersih, bibir merah nan tipis berkilau, rambut halus bagaikan sutra. Ia Pun membayangkan bagaimana ketika mata terbuka? Ketika tersenyum? Ketika berbicara?
“Le Ying,” panggil sang Ayah yang mengejutkannya.
“Saya, Ayah,” jawab Le Ying.
“Sudah puluhan tahun keturunan kita hidup di desa ini atas belas kasihan selir agung dan Kaisar terdahulu. Selama itu pula, tidak satu pun dari kita yang akan menikah dengan orang di luar suku.”
Le Ying mengerti maksud ayahnya. Ia tahu sang Ayah curiga bahwa dia menaruh hati dengan pria ini. Sejak awal Le Ying memang bersikap berlebihan, membawa pulang sang pria tanpa meminta persetujuan ayahnya, lalu ia harus berani memohon agar diizinkan merawat pria yang sebenarnya sudah sekarat hanya tinggal menunggu kematian yang sebentar lagi.
“Tidak, Ayah. Semua ini tidak seperti yang Ayah pikirkan.”
“Baik. Ayah akan mengingat ini. Jangan membuat si tua ini kecewa, kamu adalah satu-satunya bagiku setelah ibumu pergi.”
Kepala suku meninggalkan putrinya dengan pria sekarat itu. Ia kembali mengingat bagaimana sang istri yang diberi kebebasan pergi ke ibu kota untuk menjual hasil panen akhirnya tidak kembali. Tepat saat Le Ying berusia tiga tahun, sang istri pergi untuk menikah dengan pria asing. Seorang bangsawan negeri ini yang sebenarnya teleh memiliki dua istri.
Le Ying dibesarkan oleh sang Ayah tanpa bisa mengingat wajah ibunya. Wanita berparas cantik itu mewarisi garis wajah yang sama dengan sang ibu. Sayangnya keluarga yang semula harmonis itu harus terpecah belah karena godaan harta. Siapa yang tidak tergiur dengan kemegahan serta kemewahan. Kala itu, Bangsawan Lao adalah penguasa pasar dagang di bawah Kaisar. Lao yang sudah mempunyai dua istri tak sengaja bertemu Ibu dari Le Ying yang tengah menjual hasil pertanian bersama yang lainnya.
Sejak kejadian itu, Ibu Le Ying tidak kembali bersama rombongan. Desas desu tak lagi bisa disembunyikan. Berita perselingkuhan istri kepala suku pun akhirnya terdengar di telinga sang suami. Geram, kepala suku pun pernah datang ke ibu kota untuk menemukan dan membawa pulang sang istri. Namun, ia terlambat datang. Pesta pernikahan itu dihadiri oleh para bangsawan dan saudagar, bahkan mendapatkan banyak hadiah dari istana. Wanita yang berdiri di pelaminan bersama Bangsawan Lao adalah istrinya. Hidup dengannya hanya bertani dan menggembala ternak, tentu sekarang tidak susah lagi karena telah menjadi Nyonya Bangsawan.
Bertahun-tahun berlalu, kabarnya sang istri telah memiliki seorang putra dan seorang putri. Tidak pernah terdengar kabar buruk kecuali sejak tiga tahun yang lalu Bangsawan Lao sudah tidak lagi mengusai pasar dagang. Semua bangsawan termasuk Lao kini berada di bawah kaki saudagar muda, keturunan Bangsawa Lu yang tidak diketahui siapa Ayah dari pemuda tersebut.
Hari-hari berganti ....
Kang Jian tersadar untuk pertama kalinya. Lamat-lamat ia melihat seorang wanita yang tengah tertidur tak jauh dari tempatnya berbaring. Terlihat sangat lelah hingga mangkok tanah liat di tangan wanita itu terjatuh.
“Tuan, Anda sudah bangun?” tanya wanita itu saat terbangun karena suara mangkok yang terjatuh kemudian mendapati pria yang selama ini dirawatnya telah sadar.
“Nona, berapa lama saya tidak sadarkan diri?”
“Sebelas hari.”
Tak lama kemudian, kepala suku dan yang lainnya datang untuk melihat orang asing itu. Mereka hanya diam melihat. Hanya kepala suku yang diizinkan untuk bertanya.
“Nak, siapa namamu dan dari mana kamu berasal?”
Kang Jian hendak menjawab, tetapi segera ia urungkan ketika melihat tatapan seorang dari mereka yang dianggapnya mirip dengan orang yang hendak membunuhnya.
“Ka—kakiku ... kenapa aku tidak bisa merasakan kakiku?”
“Kaki? Le Ying, coba kamu priksa kaki pemuda ini!” titah kepala suku kepada putrinya.
Le Ying segera mendekat, mnyibakan selimut yang menutupi setengah bagian tubuh pemuda itu. Ia pun meraba dan memijat lalu bertanya pada sang pemuda. Namun Kang Jian tetap tidak merasakan apa pun. Langkah terakhir, Le Ying mulai menggunakan beberapa jarum akupuntur lalu menancapkan pada beberapa bagian di kaki pemuda itu.
“Kakinya ... Ayah, pria ini lumpuh. Kedua kakinya telah lumpuh,” ujar Le Ying yang langsung membuat Kang Jian lemas.
Kang Jian telah sebelas hari terlambat untuk datang ke Akademi Yun Shang dan sekarang ia lumpuh. Ditambah lagi jika ia mengungkap identitasnya kemungkinan ia tidak akan selamat. Seketika rasa putus asa menggelayuti pikirannya. Buntu semua, tak ada lagi jalan keluar.
“Nak, kamu jatuh dari atas jurang. Kakiku mungkin hanya patah tapi nyawamu masih bisa selamat. Bersyukurlah!”
“Tapi, Ayah. Kelumpuhan yang diderita pemuda ini bukan karena kakinya patah, tapi karena pengaruh obat yang kuberikan sepertinya aku menggunakan terlalu banyak dan sering tumbuhan itu sehingga—“
“Le Ying, ini bukan salahmu. Pemuda ini seharusnya berterima kasih karena kamu telah menyelamatkan hidupnya.”
Le Ying yang jujur tidak takut jika harus dipersalahkan. Dia juga tidak takut jika pernyataannya tersebut membuat ia dibenci oleh Kang Jian atau tidak lagi dipercaya warga untuk mengobati mereka. Sungguh wanita yang berbudi. Le Ying benar-benar berbeda dari sang ibu yang picik dan haus harta serta pujian.
Meski sangat kecewa, tetapi Kang jian tetap berhutang nyawa kepada Le Ying. Ia pun akhirnya berterima kasih dan putri kepala suku pun meminta maaf. Sebagai permohonan maaf yang tulus Le Ying berjanji akan merawat Kang Jian hingga bisa berjalan kembali. Kepala Suku sebenarnya tidak mengizinkan putrinya untuk merawat pemuda itu lebih lama lagi. Ia takut akan terjadi kedekatan khusus antara mereka berdua. Namun, kepala suku tidak bisa melarang putrinya untuk bertanggung jawab atas kecerobohannya. Apalagi, pengakuan Le Ying telah disaksikan banyak orang.
“Jadi, Nak. Siapa namamu?”
“Nama?”
Kali ini, demi keselamatan dirinya di masa mendatang, Kang Jian berpura-pura lupa ingatan. Sebuah sandiwara yang tidak bisa dibuktikan oleh tabib hebat mana pun. Hingga semua orang pun percaya bahwa pemuda yang sebelas hari lalu ditemukan hampir mati di dasar jurang kini telah kehilangan ingatannya. Sejak hari ini para warga memanggilnya Gui.
Keadaan Gui semakin membaik. Hanya kakinya yang belum bisa merasakan apa pun. Salah satu warga berbaik hati membuatkan Gui sebuah kursi roda dari rotan agar ia memiliki alat untuk bergerak. Gui pun dikenal sebagai pria yang ramah dan sopan. Terutama pada anak-anak, ia sangat disenangi oleh anak-anak di desa itu.
Saat itu Gui menulis pada sebuah batu dengan kayu yang memiliki ujung arang. Kemudian meminta salah satu dari anak-anak itu untuk membacanya. Anak itu menggeleng, anak satunya juga sama, pun semua anak tak bisa membaca. Gui pun akhirnya tahu, bahwa semua warga di desa ini buta huruf.
To be continued