Dengan berat hati, Guru Qian dan Guru Lei terpaksa setuju dengan keputusan kepala sekolah agar mereka berbagi kamar.
Kepala sekolah tampak mengendus-endus, sesekali ia menghirup udara dalam-dalam. Sama seperti kedua guru di hadapannya sebelumnya. Agaknya ia juga sedang mencari sumber bau harum yang begitu kentara. Melihat gelagat pemimpin sekolah itu, Guru Tang dan Guru Lei kompak menunjuk ke arah Guru Qian.
“Ha?!”
Kepala sekolah begitu terkejut. Sama seperti dua guru yang lain sebelumnya. Guru Qian pun kembali memberi penjelasan yang sama juga. Ia hampir saja menyesal memiliki bau yang harum bak bunga di musim semi. Akan tetapi, ritual menyapukan minyak wangi usai mandi sudah menjadi kebiasaannya sejak lama.
Guru Qian dan Guru Lei undur diri, sementara Guru Tang tetap tinggal di ruangan kepala sekolah.
“Guru Tang, apa Anda pernah bertemu dengan pria dari Negeri Zhao sebelumnya?” tanya kepala sekolah setelah memastikan kedua guru itu meninggalkan ruangannya,
“Tidak,” jawab Guru Tang.
“Apakah Anda yakin semua pria di sana seharum itu?” tanya kepala sekolah, lagi.
Guru Tang hanya menggeleng. Ternyata mereka berdua memiliki keyakinan yang sama. Bau harum seperti itu hanya pria tertentu saja yang memilikinya. Tentunya pemuda melankolis dan sentimentil seperti Guru Qian.
***
“Guru Lei, apakah Anda belum menerima permintaan maaf saya? Apakah Anda masih kesal? Apakah Anda tidak keberatan berbagi kamar dengan saya? Apakah—“
“Aaah .... Apakah, apakah, apakah!” seru Guru Lei kesal. “Guru Qian, kau sangat cerewet sekali,” protesnya.
“Baiklah, selamat beristirahat,” ujar Guru Qian tak berani membantah.
Sadar rekan sekamarnya semakin kesal jika ia terus bertanya, Guru Qian memutuskan untuk melanjutkan permintaan maafnya esok hari saat suasana hati pria itu dirasanya cukup baik dibandingkan malam ini. Ia naik ke tempat tidur, meraih sebuah selimut, lalu menutupi tubuhnya sebatas d**a.
Guru Lei mengambil sebuah bantal dari dalam peti kayu, lalu melemparnya tepat di samping kepala putri cendikiawan itu berbaring. Kemudian ia pun naik ke tempat tidur. Hal itu sontak membuat Guru Qian segera bangkit dan melompat dari tempatnya berbaring.
“Guru Lei, a-apa yang Anda lakukan?” tanyanya gemetar.
“tidur,” jawab Guru Lei datar.
“Tidur? Di sini?” tanya Guru Qian tidak percaya.
“Iya, kenapa? Anda keberatan?” Guru Lei balik bertanya.
“Ah, ti-tidak. Tidak sama sekali,” jawab Guru Qian terpaksa.
Guru Qian baru menyadari bahwa saat ini ia sedang menyamar sebagai seorang pria. Namun, ia tidak menyangka jika harus berbagi kamar dengan seorang pria. Seumur hidup dia tidak pernah berada pada ranjang yang sama dengan pria mana pun termasuk calon suaminya. Sungguh malang, demi menutupi kebohongan yang dia ciptakan sendiri, dia terpaksa membiarkan putra jenderal itu berada di sisinya sepanjang malam dan malam-malam berikutnya.
Dengan langkah gemetar. Perlahan-lahan, putri cendikiawan itu kembali naik ke tempat tidur. Perasaan canggung setengah mati menggelayuti benaknya. Ia menarik selimut, lalu menutupi tubuhnya sebatas d**a. Matanya enggan terpejam, sementara pria di sampingnya tampak dengan mudah terlelap.
SREEET!
Tiba-tiba, selimut yang digunakan Guru Qian ditarik dengan kasar oleh pria di sampingnya. Hal itu sontak membuatnya terkejut. Ia mengintip ragu-ragu untuk memastikan apakah pria tersebut terbangun, atau masih tertidur.
“Syukurlah ...,” gumamnya lega setelah mendapati putra jenderal itu masih memejamkan mata.
Malam semakin larut, tetapi ia masih belum berani memejamkan mata. Ada pria di atas tempat tidurnya menjadi satu-satunya sebab ia takut untuk tidur. Namun, hawa dingin mulai menusuk indra perabanya. Dilihatnya satu-satunya selimut di ruangan itu kini digunakan oleh putra jenderal yang sedang tertidur pulas.
“Sedikit saja,” gumamnya sembari menarik ujung selimut.
Perlahan-lahan, ia mulai mendapatkan sebagian dari kain tebal penghalang hawa dingin itu. Ia tampak tersenyum sumringah ketika berhasil menutupi tubuhnya hingga sebatas d**a. Tiba-tiba, pria disampingnya terbangun, memergokinya tengah senyum-senyum seorang diri.
Guru Qian kehilangan kata-kata untuk menjelaskan tingkah konyolnya. Ia putri seorang cendikiawan yang kaya. Sejak kecil diperlakukan bak tuan putri. Tentunya dia tidak tahan jika harus kedinginan maupun kepanasan. Mengambil selimut yang sebenarnya miliknya, ia justru seperti pencuri di mata rekan sekamarnya.
“Guru Lei, aku sangat kedinginan, bolehkah aku—“
Tiba-tiba, putra jenderal itu mendekapnya dengan selimut yang sempat ia sibakkan karena terkejut. Ia begitu gemetar diperlakukan demikian oleh seorang pria.
“Tidak ada selimut lain, pakai saja bersama-sama. Tubuhmu begitu kecil, selimut ini terlalu besar untuk kau pakai sendirian. Dasar egois!” umpat Guru Lei kesal.
Malam itu, keduanya tak hanya berbagi kamar, tetapi juga berbagi selimut.
Tanpa sadar, bulir bening itu mengalir dari sudut mata putri cendikiawan. Ia merasa telah mengkhianati sang calon suami. Ia juga merasa bersalah kepada sang ayah. Satu kebohongan telah melahirkan seribu kebohongan lainnya dan sekarang ia tengah terjebak pada permainannya sendiri.
‘Ayah, Kak Kang Jian, maafkan aku ...,’ batinnya.
Putra jenderal itu tidak menyadari bahwa pemuda yang tengah berbagi selimut dengannya sebenarnya adalah seorang gadis. Aroma tubuh putri cendikiawan senior yang berbaring di sampingnya membuatnya begitu rileks dan nyaman.
Keadaan yang benar-benar bertolak belakang. Putra jenderal yang tidak mengetahui rekannya adalah perempuan begitu merasa nyaman dan begitu menyukai kondisi tersebut. Sedangkan putri cendikiawan yang menyamar sebagai seorang pria begitu tersiksa dengan situasi di mana ia seperti dipaksa menikah dengan pria yang tidak ia cintai.
Terkantuk-kantuk, putri cendikiawan itu masih enggan memejamkan mata. Ia hendak memastikan, jika sampai pagi tidak terjadi sesuatu antara mereka, maka malam-malam berikutnya bisa dipastikan aman. Ia benar-benar memutuskan untuk tetap terjaga, hingga pagi.
“Guru Lei, selamat pagi ...,” sapa putri cendikiawan itu saat rekannya membuka mata dan menggeliat. “Tampaknya Anda tidur dengan nyenyak,” lanjutnya.
“Benarkah? Tampaknya seseorang sama sekali tidak tidur tadi malam,” cetus Guru Lei.
Putri cendikiawan itu tampak terkejut. Ternyata pria di sampingnya itu penuh dengan kejutan. Bisa menebak dengan tepat sementara ia tahu pria tersebut tidur pulas sepanjang malam.
“Siapa?” tanya Guru Qian cengengesan.
“Siapa? Apa ada orang lain selain kita berdua di kamar ini?” tanya Guru Lei menguji.
“Guru Lei sungguh hebat. Apakah hari ini suasana hati Anda sedang bagus?” tanya Guru Qian.
“Tentu saja. Aku tidur sangat nyenyak sepanjang malam, tentu saja aku bangun dengan suasana hati yang bagus. Kenapa?”
“Jadi ... apakah hari ini Anda telah siap untuk menerima permohonan maaf seseorang?” tanya Guru Qian diakhiri dengan senyum yang menawan.
Mendapatkan senyuman yang begitu menawan, sontak membuat wajah putra jenderal itu merona. Guru Qian memiliki warna bibir seperti seorang gadis. Wajahnya bersih, tidak ada bekas kumis sama sekali.
“I-itu ... itu tergantung pada sikapmu ke depannya. Jangan membuatku kesal!” serunya yang diawali dengan kegugupan yang sulit ia tutupi.
“Terima kasih, Guru Lei!”
Terjadi perbincangan serius di ruangan kepala sekolah. Pemimpin sekolah dan para guru tengah sibuk membicarakan dua guru yang saat itu sengaja tidak diundang ke ruangan tersebut. Perkumpulan itu tidak lain dan tidak bukan adalah untung membahas kesenjangan di antara keduanya. Di mana Guru Qian begitu dicintai, sementara Guru Lei begitu ditakuti.
“Ini semua gara-gara Guru Tang!” seru kepala sekolah.
“Kepala sekolah, mengapa Anda menyalahkan saya?” protes Guru Tang.
Kepala sekolah mengingatkan kembali kejadian di mana anak jenderal itu datang pertama kali sebagai seorang guru. Saat itu, Guru Tang mengatakan bahwa dia begitu akrab dengan guru baru dari Zhao, sehingga menyarankan untuk menempatkan keduanya pada kamar yang sama. Mereka khawatir dengan adanya kesenjangan kasih sayang dari para murid ini, akan mengganggu hubungan keduanya.
Jika itu sampai terjadi, guru dari Zhao pasti akan menyerah dan mengundurkan diri, lalu kembali ke negaranya. Itu berarti, murid-murid akan kehilangan guru yang mereka cintai dan justru tinggal bersama guru yang paling ditakuti. Kendati demikian, pihak akademi tetap tidak dapat memberhentikan Guru Lei. Pertama, ia adalah orang yang direkomendasikan langsung oleh dewan. Kedua, ia tidak melakukan pelanggaran apa pun selama menjadi pengajar. Sungguh hal yang luar biasa ketika seorang Lei Xian begitu patuh pada peraturan. Hal itu tentu sangat berbeda ketika dulu ia masih menjadi murid akademi.
“Kepala sekolah, saya tidak melihat pertikaian di antara keduanya. Guru Lei dan Guru Qian tampaknya bersaing secara sehat, hal ini justru bagus,” ujar Guru Hong menengahi.
“Bagus? Tidak ada pertikaian? Guru Hong, apa Anda tidak memerhatikan lingkaran hitam pada kedua mata Guru Qian? Mereka mengatakan bahwa untuk memejamkan mata saja Guru Qian tidak berani, itu artinya ... sejak kedatangan Guru Lei di kamarnya, dia sama sekali tidak tidur. Apa Anda mengerti maksudku, ha!”
Sebagai pemimpin akademi, Kepala sekolah tidak ingin guru kebanggaan dan kesayangan para murid itu merasa tidak nyaman berada di tempat itu.
“Wah ... kepala sekolah rupanya sungguh teliti. Hebat, hebat, hebat,” puji Guru Hong. “Kalau begitu, kita tukar saja dengan guru yang lain. Jadi, keduanya tidak perlu berbagi kamar, bagaimana?” usul Guru Hong.
“Cemerlang! Ide yang sangat bagus. Apakah di antara para guru-guru yang terhormat di sini, ada yang bersedia menggantikan Guru Qian untuk berbagi kamar dengan Guru Lei—“
“Tidak!” jawab semua guru berseru kompak.
Musyawarah itu akhirnya menemui jalan buntu. Tidak ada satu pun di antara para guru yang bersedia berbagi kamar dengan putra jenderal.
***
“Dasar licik,” gumam Guru Lei, memeriksa jalur berkuda yang dilalui oleh Guru Wei.
Kecurigaannya semakin menguat. Seseorang telah merencanakan hal keji itu. Jalan terasering tempat biasa dilalui Guru Wei saat berkuda sengaja dilubangi. Parit yang cukup dalam itu tidak tampak begitu jelas di malam hari. Kaki kuda terperosok ke dalam lubang sehingga penunggang kuda terlempar ke jurang.
Jebakan tersebut gagal jika dimaksudkan untuk membunuh Guru Wei. Namun, berhasil membuatnya terluka parah.
Usai melakukan penyelidikan di tempat kejadian kecelakaan. Guru Lei menemui gurunya saat masih di akademi yang saat ini tengah istirahat total sejak kecelakaan itu. Semua orang mengira itu adalah murni kecelakaan. Akan tetapi, tidak dengan putra jenderal itu. Ia begitu mengenal sang guru yang sangat mahir berkuda. Adalah hal yang hampir tidak mungkin bagi Guru Wei terjatuh dari kudanya, meski melalui jalur yang tidak biasa.
“Guru!” sapa putra jenderal sembari memberi hormat.
“Lei Xian, kenapa kamu ada di sini? Bukankah kau harusnya menggantikanku di akademi?” tanya Guru Wei kepada putra jenderal itu.
“Kelas sudah berakhir, aku sudah izin untuk keluar menemuimu,” jawabnya. “Guru, aku jalan itu sengaja dilubangi. Siapa orang yang malam itu tiba-tiba di sana?” tanya Guru Lei.
“Tidak mungkin ...,” ujar Guru Wei ragu. “Malam itu, tiba-tiba Guru Qian datang dengan cepat, sesaat aku terjatuh. Seharusnya ..,,” lanjutnya terjeda.
Kecurigaan Guru Lei langsung mengarah pada guru baru dari Zhao. Namun, ia belum begitu yakin, apakah orang yang dicurigainya benar-benar memiliki motif terhadap Guru Wei, atau sasaran sebenarnya bukanlah Guru Wei.
“Kurang ajar, orang itu ...,” umpat Guru Lei.
“Lei Xian, jangan gegabah. Guru Qian baru datang dari Zhao, dia tidak mungkin punya masalah di sini. Kudengar, ia bahkan baru pertama kali datang ke Yun,” ungkap Guru Wei memperingati.
Berbagai dugaan muncul di pikiran putra jenderal itu. Tempat itu begitu gelap dan jauh dari asrama, untuk apa Guru Qian datang ke tempat itu seorang diri. Di sisi lain, alibi bahwa ia adalah orang dari negeri Zhao yang baru pertama kali datang ke Yun dibenarkan banyak pihak. Dokumen Guru Qian sangat lengkap dan semua resmi. Ia datang karena rekomendasi dari kekaisaran.
‘Sungguh sangat membingungkan,’ batin guru Lei.
***
Sepekan berlalu setelah meninggalkan kedai Nyonya Chen. Guru Qian hendak mengunjungi kembali tempat itu. Ia akan menepati janji, setidaknya dua kali dalam sepekan ia akan memainkan alat musik di atas panggung untuk menarik para pengunjung.
“Maaf Guru Qian, Anda tidak diperkenankan meninggalkan akademi,” ujar penjaga.
“Kenapa? Aku akan kembali sebelum tengah malam. Aku hanya ingin bertemu dengan temanku,” balas Guru Qian.
“Tetap tidak boleh, Guru Qian. Ini adalah peraturan akademi, ada waktu di mana semua guru maupun murid diperbolehkan keluar akademi dan itu disebut hari bebas,” jelas penjaga.
“Tapi, aku baru saja melihat Guru Lei—“ ujarnya terhenti. Seorang murid memanggilnya dari kejauhan. Menahan kesal, ia lebih memilih menghampiri sang murid.
“Iya, Tuan Du Fei. Ada apa?” tanyanya semanis mungkin pada sang murid.
“Haaa ... biar kutebak, pasti penjaga melarang Anda keluar akademi bukan?” tebak Du Fei.
Guru Qian menjawab dengan jujur bahwa ia baru saja dilarang meninggalkan akademi. Sedangkan belum lama ia melihat dengan mata kepalanya sendiri kedua penjaga itu membukakan gerbang untuk Guru Lei yang juga hendak meninggalkan akademi. Sebenarnya bukan mengizinkan, kedua penjaga itu hanya tidak ingin ribut dengan putra jenderal tersebut.
Melihat guru kesayangan diperlakukan tidak adil. Du Fei dan kedua temannya mengantar Guru Qian ke sudut akademi. Tempat itu sering digunakan para murid nakal untuk pergi dan kembali secara diam-diam.
“Guru Qian, mereka bilang ini adalah diding terpendek di akademi ini. Cobalah ...,” ujar Du Fei lirih diikuti anggukkan kepala dua rekannya.
“Apa?!” kejut Guru Qian.
“Ssstttt ... kecilkan suara Anda ...,” pinta Du Fei pada Guru Qian.
Guru Qian menatap ragu dinding batu di hadapannya. Itu adalah pertama kali dalam hidupnya memanjat dinding. Citranya sebagai putri cendikiawan ternodai sudah.
‘Astaga, Wang Shuwan ... di mana sopan santunmu?’ tanya Guru Qian pada dirinya sendiri di dalam hati.
To be continued