Wang Shuwan, akhirnya terpaksa mengikuti saran dari murid-muridnya untuk memanjat dinding akademi demi bisa keluar malam itu. Bagaimana mungkin seorang putri cendikiawan yang saat ini menyamar sebagai seorang guru laki-laki melakukan hal tercela seperti itu. Akan tetapi, dia tetap wanita terhormat yang memegang teguh prinsip bahwa janji harus ditepati.
Berhasil melewati dinding akademi dengan bantuan murid-muridnya. Ia bergegas menuju kedai dan penginapan Nyonya Chen. Dia harus masuk ke tempat itu melalui pintu belakang. Orang-orang bisa saja berpikiran buruk jika sampai ada yang mengenalinya sebagai Guru Qian, masuk ke dalam kedai dan penginapan bekas rumah b****l itu.
“Nona Shuwan, Anda sudah datang,” sapa Nyonya Chen saat putri cendikiawan itu hendak masuk ke kamar masih sebagai Guru Qian.
“Ssssttt ... pelankan suara Anda Nyonya, jangan memanggilku Nona Shuwan saat aku masih mengenakan pakaian Guru Qian,” pintanya dengan suara berbisik.
Nyonya Chen menepuk mulutnya berkali-kali sebagai hukuman pada dirinya sendiri karena telah ceroboh. Ia harus lebih berhati-hati lagi ke depannya. Nona Shuwan memerankan karakter Guru Qian dengan sangat baik di akademi, sehingga menjadi kesayangan dan kebanggaan para murid serta guru di sana. Jika sampai ada yang tahu rahasia besar ini, akan ada banyak hati yang kecewa, dan pastinya hukuman berat telah menanti di depan mata.
“Akhirnya, aku bisa mandi dengan air hangat. Huh ... air di sungai belakang bukit selalu membuatku membeku setelah mandi, nyamannya ....”
Putri cendikiawan itu tampaknya begitu tersiksa menjadi Guru Qian. Dia mandi di sungai saat tengah malam dan harus berbagi kamar dengan putra jenderal yang membuatnya berjaga-jaga setiap malam. Ia benar-benar tidak tidur dengan baik selama lebih dari sepekan. Dia berharap bisa tidur nyenyak malam ini di penginapan Nyonya Chen, tetapi tidak mungkin. Ia harus kembali ke akademi tengah malam nanti dan kembali mengajar di keesokan harinya.
Mengenakan pakaian sutra yang sangat dirindukannya. Shuwan bercermin, merias wajahnya yang cantik menjadi semakin memukau. Jangankan pria biasa, bangsawan pun akan bertekuk lutut kepadanya. Senyuman yang menawan itu, adalah candu bagi setiap pria yang pernah melihatnya tersenyum.
“Nona Shuwan, Anda sangat cantik dan harum sekali,” ujar Nyonya Chen kagum. Shuwan tersenyum mendengar pujian darinya. “Nona Chen, beberapa kali Tuan Yu datang menanyakan Anda,” lanjutnya.
“Tuan Yu?” tanya Shuwan dan ditanggapi dengan anggukan kepala oleh Nyonya Chen. “Lantas, jawaban apa yang Anda berikan?” tanyanya lagi.
Nyonya Chen memberitahu bahwa pengusaha bernama Tuan Yu kerap datang untuk menanyakan tentangnya. Namun, demi menjaga rahasianya, Nyonya Chen terpaksa berbohong dan mengatakan bahwa Shuwan tidak tinggal lagi di penginapan itu, melainkan tinggal di rumah kerabatnya yang juga dirahasiakan siapa dan di mana kerabat yang dimaksud.
Mendengar jawaban pemilik penginapan, Shuwan tersenyum lega. Rupanya wanita paruh baya itu benar-benar banyak membantu dan sangat bisa diandalkan, serta dipercaya untuk menjaga rahasianya. Ia meminta Nyonya Chen turun lebih dulu. Sedangkan ia akan menyusul setelah selesai menata rambutnya.
Berada di kedai, Nyonya Chen menyuruh pelayannya untuk pergi ke kediaman keluarga Yu, memberitahu bahwa Nona Shuwan telah kembali. Ia tidak sedang mengkhianati siapa pun. Namun, ia sempat berjanji kepada Tuan Yu akan memberi kabar jika putri cendikiawan itu datang lagi.
“Ajui, beri tahu Tuan Yu, dia sudah kembali ...,” bisiknya pada salah seorang kepercayaannya.
Pelayan itu segera berlari ke kediaman keluarga Yu sesuai perintah sang majikan. Sesampainya di tempat tujuan, rupanya yang dicari sedang tidak ada di tempat. Namun, seperti telah direncanakan, tuan rumah selalu memberi tahu kepada penjaganya.
‘Jika pelayan dari kedai Nyonya Chen datang, katakan aku sedang minum dengan sahabatku di kedai Tuan Min.’
Sesuai arahan dari penjaga kediaman keluarga Yu. Ajui bergegas pergi ke kedai yang dimaksud untuk menemukan orang yang dicari. Benar saja, pria tampan dengan kipas di tangan kanan itu tengah bersenda gurau dengan seorang pemuda seusianya. Keduanya memiliki hubungan persahabatan bagai saudara. Tuan Yu dan putra jenderal itu adalah teman sejak kecil.
“Saudara Lei, bagaimana rasanya kembali ke akademi, ha ...,” goda Tuan Yu kepada temannya itu. Ia hampir menyemburkan arak saat tertawa mendengar sahabatnya kembali ke akademi sebagai seorang guru pengganti. “Bagaimana mungkin, seorang Lei Xian, murid paling pembangkang, kini menjadi pengajar di sekolahnya dulu, hahaha ...,” ejeknya.
“Lain kali aku akan mengusulkan kepada kepala sekolah agar memanggil pengusaha Yu Xuan untuk menjadi guru pengganti di akademi,” balas putra jenderal itu.
“Baiklah-baiklah, mari bersulang!”
Hendak menenggak arak yang kesekian kali. Ajui datang mendekat tepat di sisi Tuan Yu. Ia membisikkan kabar yang paling ditunggunya. Gadis itu, putri cendikiawan itu telah kembali ke penginapan Nyonya Chen.
Mendengar hal itu, Tuan Yu tampak tersenyum semringah, tidak dapat menyembunyikan betapa ia sangat menunggu hari ini. Ia tergesa-gesa meninggalkan Sahabatnya yang belum selesai minum tanpa memberi tahu alasan yang sebenarnya. Untuk persoalan ini, rupanya dia masih malu bersikap terbuka pada sahabatnya itu.
“Eh, mau ke mana, ha!” cegah Guru Lei sembari menarik lengan Tuan Yu.
“Saudara Lei, kali ini tolong lepaskan aku. Aku sedang ada keperluan yang sangat mendesak. Lain kali, kita minum lagi sampai mabuk, ha?”
Guru Lei tersenyum menyeringai kepada sahabatnya itu. Rayuan Tuan Yu rupanya berhasil membuat Guru Lei melepas cengkeramannya.
Dengan langkah yang ringan dan hati berbunga-bunga. Tuan Yu memasuki kedai dan penginapan Nyonya Chen. Si pemilik kedai telah menyiapkan bangku istimewa yang terletak paling depan untuknya. Dia mungkin terlampat untuk lagu pertama, tetapi tidak untuk lagu kedua.
Kali ini, Shuwan menunjukkan kepiawaiannya memainkan alat musik petik. Irama yang begitu sesuai untuk mewakili suasana hati pria yang tangah duduk di bangku istimewa. Sesekali putri cendikiawan itu melempar senyum menawannya kepada Tuan Yu.
Sedangkan Tuan Yu tak pernah melewatkan setiap detik tanpa menatapnya.
Hampir tengah malam, Nona Shuwan mengakhiri pernampilannya di atas panggung. Ia harus kembali ke akademi segera. Waktu berjalan begitu cepat bagi seorang pria yang setiap hari menanyakan kabarnya pada pemilik penginapan.
“Nona Shuwan, tunggu!” cegah Tuan Yu saat putri cendikiawan itu tengah berada di depan pintu kamarnya.
Nona Shuwan begitu terkejut melihat pria itu nekat naik hanya untuk bertemu dengannya. Ia tidak mengira bahwa pria terpandang seperti Tuan Yu tidak khawatir dengan pendapat orang-orang di luar sana jika sampai ada yang melihat pengusaha keluarga Yu mengejar seorang gadis hingga ke kamarnya.
“Tuan Yu, apa yang Anda lakukan di sini?” tanya Nona Shuwan canggung.
Tuan Yu tersenyum, berjalan perlahan mendekat ke arah putri cendikiawan itu. Tampaknya ia minum terlalu banyak, atau mungkin sudah mabuk cinta. Tanpa canggung, ia meletakkan kedua lengannya pada pintu, dan menghimpit gadis di hadapannya.
“Nona Shuwan, mengapa ... Anda begitu harum dan memiliki senyum yang begitu menawan ...,” ungkap Tuan Yu, saat wajah kedunya hanya berjarak satu kelingking.
Putri cendikiawan itu begitu terkejut. Sama sekali tidak mengira kalimat itu benar-benar diucapkan oleh pria terhormat seperti Tuan Yu. Ia berharap ada seseorang yang datang menghentikan kecanggungan itu.
Tuan Yu dengan sadar mengatakan apa yang sangat ingin disampaikan. Ia tidak lagi mampu mengendalikan kerinduan kepada putri cendikiawan itu. Tampaknya Nona Shuwan tengah benar-benar memikat hatinya. Menjadi satu-satunya gadis yang pernah singgah di hatinya. Untuk pertama kalinya, ia merasakan apa itu jatuh cinta.
“Tuan Yu ...,” ujar Nona Shuwan terjeda.
“Sssttt ... jangan bicara, biarkan aku melihat Anda dari dekat, sangat dekat.”
Pemilik penginapan yang saat itu hendak ke lantai atas, melihat Nona Shuwan dalam posisi tidak menguntungkan. Wanita paruh baya itu itu tahu, satu-satunya pria yang dicintai Nona Shuwan adalah Guru Qian sang calon suami. Noan Shuwan bahkan rela bertaruh nyawa demi menemukan sang calun suami.
Nyonya Chen kembali menuruni anak tangga. Ia memanggil Ajui untuk mencari tandu. Kemudian, ia kembali ke atas dan sengaja mengejutkan keduanya. Ia tidak berniat mengacaukan suasana hati Tuan Yu, tetapi dia hanya berniat hendak membebaskan Nona Shuwan dari keadaan yang canggung tesebut.
Bibir keduanya hampir saja beradu jika sedetik saja ia terlambat. Beruntung, panggilannya terhadap Nona Shuwan berhasil menghentikan. Tuan Yu adalah orang yang paling kesal pada kejadian itu.
“Nona Shuwan, di sini Anda rupanya,” kejut Nyonya Chen. “Tandu yang Anda pesan sudah di bawah,” lanjutnya.
“Tandu?” tanya Nona Shuwan. Ia tidak merasa memesan tandu, tetapi melihat kedipan mata perempuan paruh baya itu. Ia menyadari bahwa itu hanya akal-akalan pemilik penginapan karena ingin membebaskan ia dari pemuda di hadapannya. “Aaah, iya. Aku akan segera turun. Terima kasih, Nyonya Chen.”
Putri cendikiawan itu undur diri. Ia berpesan kepada Tuan Yu agar segera pulang ke rumah untuk beristirahat dan berhenti minum untuk malam itu karena mengira pemuda tersebut tengah mabuk.
“Nona Shuwan!” panggil Tuan Yu.
Wanita yang dipanggilnya menghentikan langkah dan kembali melemparkan senyum untuknya. Bau harum perlahan memudar seiring dengan kepergian putri cendikiawan itu. Sadar dari lamunannya, Tuan Yu bergegas menyusul Nona Shuwan. Namun, begitu sampai di luar penginapan, tandu yang dinaikki oleh Nona Shuwan telah menjauh.
Tuan Yu hendak mengejar tandu tersebut, tetapi Nyonya Chen lebih dulu menahannya. Wanita itu benar-benar tidak mengizinkannya untuk mengetahui di mana putri cendikiawan itu tinggal.
“Tuan Yu, cobalah arak baru kami. Ini adalah arak langka, mari ...,” rayu Nyonya Chen.
“Terima kasih, Nyonya. Anda sangat baik kepada Nona Shuwan, bisakah Anda juga berbaik hati kepadaku?” sindir Tuan Yu sembari menyunggingkan senyum.
Pemilik penginapan itu baru menyadari bahwa pria di hadapannya adalah orang yang sangat cerdik dan teliti. Jika seperti ini terus, tentu dengan mudah kebohongan Nona Shuwan sebagai Guru Qian akan terbongkar. Tuan Yu benar-benar tidak bisa dianggap remeh. Tidak ada satu pun saingan bisnisnya yang berhasil mengelabuinya. Sungguh pria yang luar biasa di negeri Yun.
Akhirnya, Nyonya Chen tak sanggup menahannya lagi. Semakin ditahan maka dia akan semakin curiga. Alhasil, pemilik penginapan itu membiarkan Tuan Yu pergi untuk mengejar tandu.
“Tuan—Tuan! Tolong berhenti!” seru Nona Shuwan dari dalam tandu, meminta para pemanggul tandu untuk berhenti. Tandu itu pun berhenti sesuai dengan perintahnya. Dia memberikan upah, lalu meninggalkan rombongan tersebut, sebelum sampai pada tujuan.
Tak lama setelah Nona Shuwan meninggalkan tandu dan menghilang di kegelapan. Rombongan tandu itu kembali dihentikan oleh seorang pria dengan kipas di tangan kanannya. Ia mengira di dalam tandu itu adalah orng yang dia cari. Namun, ia terkesiap ketika mendapati ruangan di dalam tandu tersebut kosong.
“Tuan, di mana wanita yang tadi menaiki tandu kalian?” tanya Tuan Yu pada pemanggul tandu.
“Oh, dia sudah pergi,” jawab pemanggul tandu.
“Ke mana kalian mengantarnya?” tanyanya lagi.
“Dia meminta kami untuk menurunkan kami di lorong sebelum persimpangan ini, Tuan,” jawab pemanggul tandu.
Tuan Yu merasa ada yang aneh dengan Nona Shuwan juga pemilik penginapan. Ia penasaran apa yang sebenarnya mereka rahasiakan. Diketukkan beberapa kali kipas di tangan pada kepalanya. Ia mengingat-ingat kembali hal-hal yang mungkin bisa dijadikan petunjuk. Namun, yang di dalam pikirannya hanyalah bayangan wajah cantik Nona Shuwan dengan senyuman yang menawan.
‘Tuan, kembalilah ke rumah dan beristirahatlah. Berhentilah minum untuk malam ini, mari kita bertemu kembali pada kesempatan mendatang.’
Pria itu tidak punya pilihan lain, selain menuruti permintaan terakhir Nona Shuwan, sebelum keduanya berpisah. Mendapatkan perhatian dari wanita yang begitu disukainya tampaknya cukup untuk menyadarkannya dari pengaruh arak yang ia minum. Namun, tidak ada yang menjamin ia akan tidur nyenyak malam ini. Semenjak pertemuan keduanya, Tuan Yu kesulitan menghilangkan bayangan putri cendikiawan itu dari pikirannya.
“Aduh ... aku harus memanjat dinding lagi,” keluh Nona Shuwan yang hendak kembali ke akademi untuk melanjutkan penyamarannya sebagai Guru Qian.
Ia tidak sempat mengganti pakaian. Oleh sebab itu, ia harus lebih berhati-hati, bahkan saat sudah berada di dalam akademi pun, tidak boleh ada seorang pun yang melihatnya.
BRUK!
“Aw ... sakit,” keluhnya mengaduh kesakitan saat terjatuh dari pagar tembok.
Nona Shuwan mengendap-endap agar tidak seorang pun melihatnya. Sudah tengah malam, seharusnya semua orang sudah tidur, kecuali para penjaga yang bertugas. Ia hendak masuk ke kamar, tetapi segera mengurungkan niat. Lampu kamar menyala. Itu artinya putra jenderal—teman sekamarnya masih belum tidur. Masuk sebagai Guru Qian tidak terlalu masalah meskipun akan menjadi pertanyaan mengapa ia kembali tengah malam. Namun, saat ini ia adalah Nona Shuwan.
Dilihatnya pakaian putra jenderal itu berada pada jemuran. Muncul ide untuk meminjam baju tersebut. Tidak basah, hanya lembab karena dibiarkan berada di luar pada malam hari. Nona Shuwan mengganti pakaiannya, lalu menyembunyikan gaun merah mudanya di tempat tersembunyi. Setelah itu, ia baru memiliki nyali untuk masuk ke kamar sebagai Guru Qian.
“Guru Lei, Anda belum tidur?” sapa Guru Qian kepada rekan sekamarnya.
Alih-alih menjawab, putra jenderal itu justru sibuk memindai sosok di hadapannya. Tampaknya ia menyadari bahwa pakaian yang dikenakan Guru Qian adalah miliknya. Terlihat kebesaran pada tubuh kecil itu. Memastikanlebih jelas, Guru Lei mendekati rekannya yang kemudian merasa risi karena perlakuannya.
“Guru Qian, apa yang kamu pakai ini adalah pakaianku?” tanyanya menyelidik.
“Aaaah, iya,” jawab Guru Qian pasrah. “Saya hanya lupa untuk meminta izin pada Anda. Mari kita istirahat, bukankah besok kita harus bangun pagi-pagi sekali,” ajaknya untuk menghindari pertikaian dengan Guru Lei.
Tanpa menunggu jawaban dari rekannya. Guru Qian naik ke tempat tidur, meraih satu-satunya selimut, lalu menutupi tubuhnya sebatas d**a. Dengan raut wajah kesal, Guru Lei turut naik ke tempat tidur.
“Lepaskan!”
Guru Lei menindih tubuh Guru Lei, menarik kerah baju yang dia kenakan, dan memaksanya untuk melepaskan pakaian tersebut.
“Le—lepas?!”
Guru Qian ketakutan setengah mati ketika si pemilik pakaian memintanya untuk melepas pakaian yang dia kenakan saat itu juga. Selain malu karena sebenarnya di bukan seorang pria. Ia takut kebohongannya sebagai Guru Qian palsu akan terbongkar.
To be continued