Guru Lei menarik paksa pakaian yang dikenakan oleh rekan sesama pengajar itu. Ia benar-benar tidak rela bajunya dipakai orang lain. Sungguh egois dan keras kepala. Pun dengan Guru Qian yang kukuh tidak bersedia melepas pakaian tersebut.
“Kenapa? Keberatan?” tanya Guru Lei.
“Tentu saja saya keberatan,” jawab Guru Qian.
Guru Qian memegang tangan yang mencengkeram erat kerah baju yang dia pakai. Tiba-tiba, cengkeraman itu melemah lalu terlepas dengan sendirinya. Ia melihat pria di atas tubuhnya itu sejenak terdiam memerhatikan kedua tangannya. Sungguh membuat heran.
‘Tangannya begitu lentik, tidak mungkin Guru Qian pelakunya,’ batin Guru Lei saat memerhatikan kulit halus dan jemari-jemari Guru Qian yang bahkan mungkin menepuk lalat pun tak mati.
Putra jenderal itu sangsi kalau Guru Qian mampu menggali lubang sedalam yang ada di tengah perlintasan kuda Guru Wei. Kecurigaannya terhadap rekan sekamarnya itu lagi-lagi terpatahkan. Namun, dalam hati masih tetap mempertanyakan untuk apa Guru Qian berada di tempat itu pada malam hari. Apakah dia sedang menyembunyikan atau sedang mencari sesuatu.
Guru Lei melompat dari tempat tidur menuju peti penyimpanan barang dan juga pakaian milik Guru Qian. Kotak itu benar-benar berisi pakaian yang tersusun rapi. Terbongkar satu kebohongan mengenai tidak memiliki baju kering untuk dipakai. Ia lantas mengambil pakaian itu, lalu melemparnya ke arah Guru Qian.
“Lepas pakaian yang kamu pakai dan ganti sekarang juga!” hardik Guru Lei memberi perintah.
Tidak ingin berdebat lagi. Guru Qian mengambil satu set pakaian miliknya, lalu berjalan ke arah pintu. Namun, langkahnya dihentikan oleh Guru Lei. Lagi-lagi mereka berdebat. Guru Qian menolak mengganti pakaiannya di dalam kamar, sementara Guru Lei memintanya untuk berganti pakaian saat itu juga.
Sebagai seorang yang sebenarnya bukan pria, jelas Guru Qian keberatan. Keduanya pun adu mulut. Itu jauh lebih baik daripada harus berganti pakaian di hadapan seorang pria. Bahkan, calon suaminya pun belum pernah melihat tubuh polosnya.
“Saya atau Guru Lei yang meninggalkan kamar, baru saya bersedia mengganti pakaian,” tawar Guru Qian.
“Apa masalahmu? Kita sama-sama laki-laki, untuk apa harus risi, ha! Atau jangan-jangan ...,” ujar Guru Lei terjeda. Kalimat menggantung putra jenderal itu membuat Guru Qian ketakutan setengah mati. Ia waswas kalau penyamarannya akan terbongkar oleh Guru Lei malam itu juga.
“A—apa?” tanya Guru Qian gemetar.
“Jangan-jangan ... ada yang orang-orang tidak tahu dari dirimu, Guru Qian,” ujar Guru Lei yang justru memberikan ide bagi Guru Qian untuk mengelak.
“Anda benar sekali Guru Lei. Memang ada sesuatu yang tidak semua tahu tentang saya. Huh ... ini sangat sulit untuk dipahami,” ujar Guru Qian mulai dengan nada tenang tidak seperti sebelumnya. Guru Qian mendekat pada Guru Lei, memegang kedua pundaknya, lalu berbisik, “Terkadang ... para pria muda seperti Anda ... terlihat begitu ... seksi.”
Refleks, putra jenderal itu mendorong tubuh Guru Qian agar menjauh. Dia tidak menyangka akan mendengar pengakuan itu langsung dari mulut sosok yang memiliki bau harum bagai bunga di musim semi.
“Baiklah, aku akan keluar. Ganti cepat pakaianmu sebelum aku kembali,” pinta Guru Lei yang akhirnya mengalah untuk meninggalkan kamar.
Sementara Guru Lei beranjak dari ruangan . Putri cendikiawan yang menyamar sebagai seorang pria itu tertawa terpingkal-pingkal karena telah berhasil menipu rekan sekamarnya. Dia tidak sedang berbohong. Pada dasarnya dia memang seorang wanita, maka wajar baginya mengatakan bahwa pria muda seperti Guru Lei terlihat tampan dan menggoda. Hanya saja saat ini, di mata Guru Lei dia adalah laki-laki. Maka sungguh mengerikan jika dia mengatakan hal demikian.
Guru Lei kembali ke kamar dengan canggung. Ia masih teringat tentang bisikan rekan sekamarnya itu. Ia bahkan ragu untuk naik ke tempat tidur. Melihat perubahan sikap Guru Lei, Guru Qian justru merasa bersalah.
Guru Qian tahu betul bagaimana rasanya hampir tidak tidur dalam sepekan terakhir. Ia bukan orang jahat yang gemar menyimpan dendam. Dia bahkan tidak ingin Guru Lei merasakan hal yang sama dengannya saat harus tepaksa tidur dengan pria asing.
“Guru Lei, Anda tidak tidur?” tanya Guru Qian.
“Ah, belum mengantuk. Kamu tidur saja,” jawab Guru Lei tampak kikuk.
“Guru Lei, naiklah ke tempat tidur. Aku tidak akan melakukan hal yang tidak Anda inginkan. Aku berjanji,” ungkap Guru Qian berharap kali ini Guru Lei akan mempercayainya.
Perlahan, Guru Lei naik ke tempat tidur. Saat Guru Qian tersenyum kepadanya, ia segera membuang muka dan langsung membenamkan kepalanya di balik selimut. Putra jenderal itu rupanya benar-benar percaya pada pengakuan Guru Qian.
Mulai malam ini, dipastikan Guru Qian akan tidur dengan nyenyak Tidak ada lagi pelukan yang tiba-tiba menyergap tubuhnya karena rasa nyaman yang disebabkan oleh aroma tubuhnya yang harum.
“Hahaha ...!”
Tuan Yu tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Guru Lei tentang rekan sekamarnya di akademi. Seorang putra jenderal di buat waspada sepanjang malam oleh pemuda yang mengaku menyukai pria gagah seperti dirinya. Apa lagi pemuda tersebut kini berada di tengah-tengah lingkungan yang semuanya adalah laki-laki.
“Berhenti mengejekku,” ketus Guru Lei kepada sahabatnya itu.
“Baiklah-baiklah, katakan padaku siapa namanya?”
“Qian Kang Jian, dia berasal dari Zhao, dipuja semua murid dan guru, termasuk kepala sekolah,” terang Guru Lei.
“Tunggu, tadi kamu bilang ... Guru Qian dari Zhao?” tanya Tuan Yu.
Mendengar nama Negeri Zhao, seketika tawanya terhenti. Ia teringat perbincangannya dengan Nyonya Chen yang juga menyebutkan bahwa Nona Shuwan berasal dari Zhao. Putri cendikiawan itu dikabarkan tidak lagi menginap di penginapan bekas rumah b****l tersebut, melainkan telah tinggal di rumah kerabatnya. Kemudian, Tuan Yu menarik kesimpulan mengenai kemungkinan ada keterkaitan antara Guru Qian dengan Nona Shuwan yang sama-sama berasal dari Zhao.
Di kota tersebut, sangat jarang pendatang yang berasal dari Negeri Zhao. Apa lagi menetap untuk waktu yang lama. Menurutnya, besar kemungkinan kerabat yang dimaksud Nyonya Chen adalah orang yang diceritakan putra jenderal itu.
“Tapi ... kenapa ia tinggal di asrama?” gumam Tuan Yu.
“Saudara Yu? Kamu baik-baik saja?” tanya Guru Lei ketika tidak begitu jelas mendengar apa yang digumamkan oleh sahabatnya. Ia juga mendapati keanehan pada sikap Tuan Yu yang semula begitu semangat mengejeknya, tiba-tiba berubah serius.
“Saudara Lei, apa Guru Qian yang kamu maksud itu, memiliki kerabat di Yun?” tanya Tuan Yu menyelidik.
“Kerabat? Dia tinggal di asrama sepanjang hari dan tidak boleh pulang sebelum masa tugasnya berakhir, untuk apa memiliki kerabat di kota ini. Aku dengar dia putra seorang bangsawan,” jawab Guru Lei.
Tuan Yu berpikir, satu-satunya cara untuk menjawab rasa penasaran adalah bertemu langsung dengan Guru Qian. Yang satu putra bangsawan, sementara satunya lagi adalah putri cendikiawan. Sama-sama generasi dari keluarga terpandang. Keduanya pasti saling mengenal. Pebisnis ulung itu tampaknya tengah merencanakan sesuatu.
To be continued