Bulan sebelas hampir berakhir. Hari istimewa bagi Tuan Yu. Ia hendak mengadakan jamuan untuk pesta ulang tahunnya. Sebenarnya tidak penting baginya siapa tamu yang akan datang, asalkan Nona Shuwan bersedia menghadiri jamuan tersebut. Namun, acara tetap tidak akan meriah tanpa kehadiran para sahabat yang sudah seperti saudara. Putra jenderal—Guru Lei, Gubernur dan istrinya, direncanakan juga akan datang pada jamuan pesta ulang tahunnya.
Siang itu ia datang ke penginapan dan kedai Nyonya Chen. Berharap wanita paruh baya itu bersedia menyampaikan undangannya kepada sang putri cendikiawan untuk menghadiri jamuan pesta ulang tahun di kediamannya.
Tuan Yu merupakan anak di luar nikah yang dibuang keluarga semenjak kecil. Hal itu justru membuatnya menjadi sangat tangguh dan mandiri dalam segi finansial. Ia pebisnis bertangan dingin. Meski awalnya ia berkeinginan untuk membeli gelar bangsawan, tetapi diurungkannya. Kendati demikian, ia tetap diakui sebagai pria terhormat yang disegani di Negeri Yun.
“Tuan Yu, Anda tentunya tahu bahwa Nona Shuwan hanya datang ke sini dua kali dalam sepekan. Tempat tinggal kerabatnya pun saya tak tahu. Bagaimana Anda bisa berpikir saya bisa membantu Anda?” tolak Nyonya Chen.
“Ah, begini saja. Hari ini adalah hari keempat. Aku yakin Nona Shuwan akan datang, bisakah Anda mengantarnya ke kediamanku?” pinta Tuan Yu.
“Tuan Yu, kalau soal itu bagaimana kalau Anda datang sendiri untuk menjemput. Saya yakin sekali jika Tuan Yu yang melakukannya, Nona Shuwan tidak akan menolak,” ungkap Nyonya Chen meyakinkan.
Ide pemilik penginapan itu terdengar tidak terlalu buruk baginya. Lagi pula, Tuan Yu juga ingin mengatasi kegugupannya saat berada di hadapan Nona Shuwan. Pertemuan terakhir keduanya membuatnya menyesal karena telah lancang, sehingga menyebabkan kecanggungan di antara keduanya.
Di akademi ....
Hari ini merupakan hari bebas. Para guru dan murid diizinkan keluar akademi hingga dua hari ke depan untuk mengunjungi keluarganya.
“Guru Qian, apakah Anda akan pulang ke Zhao?” tanya seorang murid kepada Guru Qian.
“Dasar bodoh! Perjalanan Yun ke Zhao memakan waktu sehari semalam dengan kapal, bagaimana mungkin libur dua hari bisa digunakan,” sahut Du Fei.
Guru Qian hanya tersenyum menanggapi para murid yang tengah memperdebatkan dirinya. Ia akhirnya menengahi, meminta para murid agar kembali tepat waktu serta menitipkan salam untuk keluarga mereka.
“Eh, aku dengar penginapan dan kedai bekas rumah b****l sekarang ramai pengunjung. Kabarnya ada seorang gadis cantik yang sangat piawai memainkan alat musik. Bagaimana sebelum kembali ke rumah, kita sama-sama pergi ke sana!” ajak Du Fei kepada para juniornya.
“Ide bagus!” sahut yang lainnya.
“Aku juga setuju!” sahut yang lainnya lagi.
Mendengar hal itu Guru Qian menjadi gugup. Gadis yang mereka maksud tentu saja adalah dirinya. Ia tidak mungkin tampil sebagai wanita di hadapan para pelajar itu.
“Eeeh ... tidak-tidak-tidak!” cegah Guru Qian.
“Kenapa, Guru?” tanya Du Fei.
“Kalian adalah para pelajar, tidak elok mengunjungi tempat seperti itu. Lagi pula, keluarga pasti sudah sangat menunggu kedatangan kalian. Jadi, jauhi tempat itu, paham!”
Guru Qian yang biasanya begitu lembut kepada murid-muridnya hari itu tampak tidak seperti biasanya. Ia bahkan mengancam akan mengawasi siapa saja yang berani mendekati penginapan dan kedai Nyonya Chen. Hal itu tentu saja membuat para murid kecewa. Namun, dalam hati Guru Qian merasa lega karena dengan begitu dirinya aman tinggal sementara di penginapan tersebut.
“Ada apa dengan Guru Qian? Dia aneh sekali hari ini,” ucap seorang murid setelah Guru Qian meninggalkan mereka.
“Apanya yang aneh? Guru Qian sebenarnya sedang sedih, dia tidak bisa mengunjungi keluarganya seperti kita, makanya dia melarang kita untuk membuang-buang waktu sehingga menunda kepulangan,” bela Du Fei.
Di kediaman Tuan Yu, para pelayan tengah sibuk menyiapkan acara jamuan pesta ulang tahun. Makanan dengan kualitas terbaik serta arak mahal pun tampak memenuhi meja saji. Ini adalah kali pertamanya Tuan Yu mengadakan pesta ulang tahun yang mengundang banyak orang.
“Saudara Lei! Wah ... kamu datang terlalu awal rupanya,” sapa Tuan Yu kepada putra jenderal.
Tak lama kemudian, gubernur dan sang istri juga datang. Keduanya adalah sahabat karib Tuan Yu sejak masih sama-sama di akademi. Meskipun sibuk dengan urusan pemerintahan, keduanya tentu akan menyempatkan diri untuk menghadiri pesta ulang tahun sahabat bagai saudaranya itu.
Tidak ada sungkan dan canggung di antara mereka berempat. Menyebut nama tanpa gelar kehormatan. Meskipun cukup jarang bertemu setelah pernikahan gubernur dan sang istri, tidak lantas membuat jarak yang berarti sehingga menjadikan asing satu sama lain.
“Kakak Yu, kamu tampak gelisah. Apakah sedang menunggu seseorang?” tanya Nyonya Feng—istri gubernur.
“Ah, tidak sedang menunggu. Hanya saja seharusnya aku menjemput seseorang,” jawabnya sembari menggosok-gosok tengkuk. Ia sebenarnya masih malu untuk mengatakan hal yang berhubungan dengan wanita.
Sementara ketiga temannya saling pandang dan tersenyum melihat tingkah Tuan Yu yang tampak malu-malu disertai perubahan pipi yang merona.
“Kalau begitu, tunggu apa lagi? Jemputlah, biar para tamu undangan kami yang sambut,” saran Nyonya Feng.
Mendengar hal itu, Tuan Yu merasa tenang. Selama ada sang gubernur dan istri yang tidak keberatan menyambut tamu undangan, ia tidak akan dianggap tidak sopan karena mengabaikan tamu-tamu tersebut. Lagi pula, pesta itu diadakan memang bertujuan agar Nona Shuwan bersedia bertandang ke kediamannya.
Tuan Yu akhirnya meninggalkan kediamannya untuk menjemput Nona Shuwan. Pun dengan Guru Lei yang terpaksa kembali ke rumah karena hadiah ulang tahun yang hendak diberikan kepada Tuan Yu tertinggal di rumah. Tinggallah sang gubernur dan isrti yang bertindak sebagai tuan rumah untuk menyambut para tamu undangan.
Sesampainya di penginapan dan kedai Nyonya Chen. Putri cendikiawan itu tengak memainkan alat musik gesek dengan anggunnya. Mengenakan gaun sutra berwarna merah cerah senada dengan pakaian yang dikenakan oleh Tuan Yu. Sungguh kebetulan yang membuat pemuda itu merasa mereka adalah jodoh yang telah digariskan oleh Tuhan.
Usai memainkan sebuah lagu dan hendak memasuki lagu kedua. Tuan Yu berdiri lalu bertepuk tangan. Berjalan ke atas panggung, meminta izin kepada para pengunjung untuk meminjam pemusik favorit mereka. Nona Shuwan patuh saat Tuan Yu membantunya berdiri dan menggandengnya untuk berbicara empat mata di lantai dua.
“Tuan Yu, Anda tampak berbeda hari ini,” ujar Nona Shuwan. “Anda terlihat ...,” lanjutnya terjeda.
“Tampan?” sela Tuan Yu.
Nona Shuwan tersenyum, bukan itu yang dimakasud olehnya. “Maaf, Anda terlihat seperti hendak pergi ke sebuah jamuan besar,” jawab Nona Shuwan yang langsung membuat Tuan Yu merona karena salah menebak.
Meski keduanya merasa canggung, tetapi tawa di antara mereka agaknya berhasil mencairkan suasana.
To be continued