Putri cendikiawan memang jeli dan teliti. Penampilan Tuan Yu yang meskipun setiap kali bejumpa selalu mengenakan pakaian terbaiknya, tetapi malam itu benar-benar berbeda. Hendak menghadiri jamuan. Tepat sekali dugaan Nona Shuwan. Namun, bukan jamuan milik orang lain, tetapi jamuan yang dia adakan di kediamannya sendiri.
“Nona Shuwan, Anda begitu memerhatikanku, aku sungguh tersanjung,” ujar Tuan Yu.
Tidak ingin menunda lagi. Pemuda itu akhirnya memberanikan diri untuk menyampaikan maksud serta tujuan kali ini. Tidak hanya sekadar ingin melihat putri cendikiawan itu bermain musik, melainkan untuk mengundang ke jamuan pesta ulang tahun di kediamannya.
Tidak dapat dipungkiri, Tuan Yu adalah teman baginya di luar akademi. Sudah berkali-kali ia selamat dari tangan-tangan p****************g berkat nama besar Tuan Yu. Pemuda itu seolah-olah telah memilikinya, sehingga para hidung belang itu tahu diri untuk tidak lagi berniat dengannya. Hal itu memberikan rasa aman baginya setiap kali harus tampil di panggung kedai dan penginapan Nyonya Chen.
Wanita terhormat seperti Nona Shuwan tahu betul bagaimana mengingat dan membalas budi baik yang telah ia terima. Apa lagi, Tuan Yu sudah menyusahkan diri meninggalkan tamu undangan demi untuk menjemputnya. Tidak ada penolakan. Kali ini, ia dengan sukarela mengikuti pemuda itu menghadiri jamuan pesta ulang tahun di kediaman keluarga Yu.
“Tuan Yu sedang berulang tahun, tetapi aku tidak memiliki hadiah untuk Anda. Tolong maafkan aku. Jika kita bertemu pada hari pertama pekan depan, aku akan memberikan hadiah untuk Anda,” ungkap Nona Shuwan meminta maaf. Perihal ulang tahun itu diketahuinya begitu mendadak. Tentunya ia tidak sempat untuk menyiapkan kado ulang tahun bagi Tuan Yu.
“Nona Shuwan, tolong jangan sungkan,” balas Tuan Yu.
Tandu keluarga Yu membawa keduanya menuju tempat diadakannya perjamuan. Berada di satu tandu, membuat keduanya semakin canggung. Pemuda itu dalam keadaan sadar. Ia belum menyentuh arak sama sekali. Tentunya tidak akan seberani trmpo hari. Di mana ia berterus terang di hadapan putri cendkiawan itu tentang aroma harum dan senyum menawan yang dimiliki gadis tersebut.
Mereka hanya membisu. Sesekali tatapan mereka bertemu, saat itu keduanya akan saling melempar senyum, lalu kembali menundukkan kepala. Sungguh pemandangan yang menggelikan ketika seorang wanita dewasa dan pria dewasa berada di dalam satu tandu, tetapi tidak terlibat pembicaraan apa pun, apa lagi kontak fisik.
Tiba-tiba, tandu yang membawa mereka berhenti. Kaki-kaki tandu itu diletakkan pada tanah sesegera mungkin. Membuka tirai, keduanya dikejutkan oleh beberapa orang berpakaian hitam dan penutup muka. Orang-orang itu masing-masing membawa pedang yang mengkilap. Musuh siapa?
Tuan Yu adalah pebisnis bukan politikus. Ia tidak berhubungan langsung dengan pemerintahan, kecuali berteman baik dengan gubernur dan sang istri gubernur. Sedangkan Nona Shuwan adalah putri cendikiawan bukan dari Yun. Hanya saja saat ini ia memeng tengah berusaha mencari keberadaan sang calon suami yang diduga menjadi korban teror penculikan para bangsawan di negaranya.
“Tuan Yu ...,” panggil Nona Shuwan sembari memegang lengan Tuan Yu yang hendak keluar dari tandu. Gadis itu menggelengkan kepala saat pria yang dihentikannya menatap padanya. Seolah berkata jangan pergi. Seolah mengatakan dia takut. Seolah akan terjadi hal yang buruk tentang perpisahan dan kehilangan.
“Jangan takut,” ujar Tuan Yu. Dengan lembut dilepaskannya pegangan tangan Nona Yu pada lengannya.
Sayangnya, pemuds dengan kipas di tangan kanannya itu hanya pandai berbisnis bukan ilmu bela diri. Menghadapi mereka yang bersenjata sama saja dengan bunuh diri. Akan tetapi, ia tidak punya pilihan lain. Ada seorang gadis yang harus dia lindungi.
“Tuan Yu, serahkan putri cendikiawan itu! Kami tidak berurusan dengan Anda!” seru salah seorang dari mereka.
“Jika ada hubungannya dengan Nona Shuwan, bagaimana mungkin tidak berurusan denganku,” jawab Tuan Yu berharap bisa bernegosiasi dengan mereka.
“Tuan Yu, jika Anda menghalangi kami, maka jangan salahkan kami!”
Ternyata, incaran mereka adalah Nona Shuwan. Sungguh mengejutkan, seorang gadis yang bukan dari keluarga bangsawan dan berasal dari negeri yang jauh, memiliki musuh di negeri Yun. Namun, para pembunuh bayaran yang dengan jelas mengetahui nama Tuan Yu. Cukup membuktikan bahwa mereka bukan orang-orang yang sengaja didatangkan dari Zhao.
Pedang bermata tajam itu hampir saja menusuk Tuan Yu. Namun, kalah cepat dengan tangkisan sigap putra jenderal yang saat itu juga melintas di jalan tersebut setelah kembali dari rumah untuk mengambil hadiah ulang tahun yang ketinggalan. Perkelahihan satu lawan enam berlangsung sengit.
Para pemanggul tandu hanya menonton. Mereka juga bukan orang-orang yang kompeten dalam ilmu bela diri. Bisa menyelamatkan diri sendiri saja sudah merupakan keberuntungan yang besar.
Salah satu dari pembunuh bayaran itu menyergap ke arah tandu di mana masih ada Nona Shuwan di dalamnya. Sementara Guru Lei sibuk bertarung dengan lima lainnya. Tuan Yu yang melihat putri cendikiawa dalam bahaya itu pun nekad melakukan perlawanan.
JLEB!
Ujung pedang salah satu pembunuh bayaran itu berhasil menancap pada punggung Tuan Yu saat berusaha melindungi Nona Shuwan. Tidak begitu dalam, tetapi telah cukup membuatnya tumbang.
Mendengar teriakan Nona Shuwan, Guru Lei berlari ke arah mereka dan mendapati sahabatnya itu tumbang. Hal itu membuat putra jenderal semakin gusar, sehingga menebas leher pembunuh bayaran yang tidak sempat kabur. Perkelahihan berakhir, setelah satu dari pembunuh bayaran mati di tempat, sementara lima lainnya berhasil melarikan diri.
“Nona, aku akan mengejar mereka. Tolong bawa Lu Xuan ke rumahnya dengan cepat!” pinta Guru Lei. Nona Shuwan tidak berani menatap putra jenderal itu. Ia khawatir identitasnya sebagai Guru Qian palsu diketahui. Gadis itu hanya mengangguk-angguk cepat sembari mengibas-kibaskan telapak tangan pertanda meminta Guru Lei agar segera bergegas.
Guru Lei mendelik, melihat tingkah aneh gadis itu. Sementara Nona Shuwan segera membuang muka. Ia meraih kipas Tuan Yu, membukanya lebar-lebar untuk menutupi wajahnya dari samping. Tingkahnya makin terlihat aneh. Namun putra jenderal segera mengesampingkan hal itu dan bergegas mengejar para pembunuh bayaran yang melarikan diri.
“Tuan-tuan, tolong bawa kami segera ke kediaman keluarga Yu!” perintah Nona Shuwan kepada para pemanggul tandu.
Putri cendikiawan itu mendekap erat tubuh pria yang baru saja menyelematkan hidupnya itu. Sesekali ia menyeka air mata yang mengalir dari sudut netranya. Sementara Tuan Yu yang meski semakin melemah, tetapi masih tetap sadar. Pemuda itu tersenyum berada di dalam dekapan wanita pujaan hati.
“Harum sekali,” gumamnya.
“Tuan, jika terjadi sesuatu padamu, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri,” ujar Nona Shuwan sembari terisak-isak.
Tandu yang membawa keduanya telah sampai di kediaman keluarga Yu. Kedatangan Tuan Yu yang seharusnya menjamu para tamu begitu mengejutkan. Pasalnya, pria yang sedang berulang tahun itu tengah terluka.
To be continued