“Cepat, panggil tabib! Tuan Yu terluka,” perintah Nona Shuwan kepada pengurus rumah.
Putri cendikiawan dan seorang pengurus rumah lainnya memapah Tuan Yu ke dalam kamar. Sedangkan gubernur dan sang istri kembali menjamu tamu. Namun, keadaan si tuan rumah datang dengan luka yang tampaknya serius telah disaksikan semua tamu undangan, sehingga membuat mereka turut prihatin. Oleh sebab itu, mereka memutuskan unjuk mengakhiri jamuan saat itu juga dan berharap kesembuhan untuk Tuan Yu.
Gubernur dan sang istri mewakili sahabatnya—Tuan Yu yang sedang berulang tahun, meminta maaf dan berterima kasih kepada para tamu yang bersedia datang serta mengerti dengan kondisi si tuan rumah. Kejadian tak terduga itu benar-benar di luar perkiraan. Mestinya malam itu mereka bersenang-senang. Apa lagi, Tuan Yu yang tidak pernah terlibat dengan wanita, sudah mulai menbuka diri mengenai kekagumannya terhadap seorang wanita.
Beberapa tamu mengenal gadis yang datang dengan Tuan Yu. Beredar rumor bahwa gadis tersebut adalah calon istrinya. Namun, beberapa menyayangkan jika pilihan Tuan Yu benar-benar jatuh pada gadis itu. Hal itu dikarenakan sebuah kesalahpahaman yang tidak sengaja dilontarkan oleh putri Bangsawan Lou—Nona Feifei.
“Tampaknya, jika Tuan Yu berhasil selamat dari maut, akan ada hajatan besar di kediamannya. Bukan sekadar pesta ulang tahun, hahaha ...!” ujar seorang saudagar sebelum mereka benar-benar membubarkan diri dari jamuan di kediaman Keluarga Yu.
“Tuan Ma, maksud Anda adalah ... pernikahan?” tanya Bangsawan Lou yang sebenarnya menegaskan maksud dari kiasan Tuan Ma.
“Hahaha ... betul sekali. Tuan Yu tidak pernah terlibat dengan gadis mana pun, hari ini di hadapan kita semua meski keadaannya tidak begitu baik, Tuan Yu membawa pulang seorang gadis,” ujar Tuan Ma membenarkan.
Mendengar berita gembira itu para undangan bersuka cita. Berharap Tuan Yu segera pulih sehingga kembali mengundang mereka pada jamuan lebih besar berikutnya, yaitu pesta pernikahan. Namun, rupanya tidak semua turut bahagia. Nona muda dari keluarga Bangsawan Lou yang saat itu datang bersama sang ayah tampaknya tidak setuju dengan pendapat Tuan Ma juga ayahnya.
Nona Fei merupakan murid akademi wanita yang terletak tepat di seberang jalan kedai dan penginapan Nyonya Chen. Hal itu ia manfaatkan sebagai alasan ia tahu betul siapa gadis yang mereka maksud.
“Maaf merusak suasana hati Tuan dan Nyonya sekalian. Tampaknya Tuan Yu tidak akan buru-buru mengakhiri masa lajangnya dengan seorang wanita penghibur,” ungkap Nona Feifei bersungut-sungut.
“Feifei!” tegur sang ayah. “Tuan dan Nyonya sekalian, maafkan kelancangan putri saya. Dia masih muda, suka asal berbicara, sekali lagi tolong dimaafkan,” ungkap Bangsawan Lou meminta maaf.
“Nona Lou, maksud Anda adalah ...,” ujar Tuan Ma terjeda.
“Betul sekali. Gadis itu adalah wanita penghibur di kedai dan penginapan milik Nyonya Chen. Saya yakin gadis itu hanya sedang mengambil keuntungan saja dari Tuan Yu,” lanjut Nona Feifei menghasut orang-orang.
“Fefei, hentikan!” titah Bangsawan Lou keoada putrinya.
Bangsawan Lou lantas berpamitan kepada gubernur dan sang istri yang saat itu menggantikan peran tuan rumah. Ia membawa serta putrinya yang dianggapnya telah berbuat tidak sopan. Pria tua itu benar-benar dibuat malu oleh tingkah laku putrinya. Terlepas benar atau tidak rumor tersebut, tidak seharusnya gadis belia itu mengumbarnya di depan khalayak ramai.
Menyusul Bangsawan Lou, para tamu undangan membubarkan diri.
“Tabib, bagaimana kondisi Tuan Yu?” tanya Nona Shuwan khawatir.
“Nona, Anda tidak perlu khawatir. Lukanya tidak terlalu dalam, aku sudah memberikan obat terbaik di negeri ini, saya jamin, Tuan Yu akan segera pulih,” jawab tabib dengan optimis.
Mendengar pria yang menyelamatkan nyawanya kini baik-baik saja. Nona Shuwan merasa lega. Ia mendekat pada Tuan Yu yang tengah setengah berbaring di tempat tidur. Duduk di tepi ranjang, ditatapnya dalam-dalam netra pria itu. Kini, keduanya bersitatap.
“Tuan, Tuan bisa pergi dan membiarkan mereka membawa saya. Mengapa Tuan membahayakan diri sendiri?” ucap Nona Shuwan lirih.
“Mendekatlah ...,” pinta Tuan Yu. Nona Shuwan pun menggeser duduknya lebih dekat. “Lebih dekat lagi,” pinta Tuan Yu lagi.
Putri cendikiawan itu menuruti permintaan Tuan Yu yang tengah bersandar pada sisi ranjang. Saat keduanya menjadi sangat dekat. Pemuda itu menyandarkan kepala gadis di hadapannya pada dadanya. Ia membelai lembut rambut panjang, hitam, dan berkilau milik Nona Shuwan. Tiba-tiba, dikecupnya pucuk kepala gadis tersebut.
Sontak, Nona Shuwan mendongak ketika mendapatkan perlakuan lembut dari Tuan Yu. Perasaannya berkecamuk. Ia merasa itu tidak layak dan harus dihentikan. Biar bagaimana pun, putri cendikiawan itu tengah bertunangan dengan calon suaminya, meskipun kini tidak tahu keberadaan pria yang telah meminangnya.
“Lu Xuan!” seru istri sang gubernur saat memasuki kamar Tuan Yu bersama suaminya. “Bagaimana keadaanmu?” tanyanya.
Melihat kedatangan gubernur dan sang istri, Nona Yu yang semula berada di dekapan Tuan Yu, langsung bangkit dan memberi hormat pada keduanya. Keadaan menjadi canggung, sehingga gadis itu memilih untuk undur diri.
“Tuan Gubernur, Nyonya. Kalau begitu, saya izin undur diri,” ucap Nona Shuwan.
“Eh ... Nona!” panggil Tuan Yu, tetapi hanya dibalas dengan senyuman.
Gubernur dan sang istri tampak menutup tawa denga telapak tangan masing-masing melihat wajah kecewa sahabatnya itu ketika gadis itu memutuskan untuk pergi.
“Aaah, harusnya kalian sedikit terlambat,” sesal Tuan Yu yang justru ditanggapi dengan cekikikan sang gubernur dan sang istri.
Tak lama kemudian, putra jenderal pun datang membawa kabar bahwa ia berhasil menangkap satu dari kawanan pembunuh bayaran yang menyerang Tuan Yu. Ia membawa orang tersebut ke kediamannya untuk diinterogasi anak buah ayahnya. Ia juga berencana membawa masalah ini ke pemerintahan agar diusut secara tuntas.
Namun, agaknya Tuan Yu punya rencana lain. Sebenarnya dia tidak ingin ada yang tahu bahwa orang yang hendak dibunuh oleh pembunuh bayaran itu bukanlah dirinya, melainkan Nona Shuwan. Ia akan diam-diam mencari informasi mengenai keterlibatan orang lain dalam rencana pembunuhan tersebut.
“Lu Xuan, bukankah tadi seorang gadis yang membawamu kembali ke rumah, di mana dia?” tanya Guru Lei.
“Salahkan mereka berdua,” ujar Tuan Yu sembari menunjuk gubernur dan sang istri. “Gara-gara mereka dia ketakutan, lalu pergi,” lanjutnya.
Mereka tertawa terbahak-bahak melihat Tuan Yu yang masih kesal karena gadis itu buru-buru pergi. Ia baru saja mendambakan malam yang indah di mana sang putri cendikiawan akan merawat lukanya sepanjang malam.
“Saudara Yu, kami bisa membedakan antara takut dan malu. Hei ... siapa di sini yang menyebabkan ia begitu malu, ha?”
Sang gubernur dan istri tak henti-hentinya menggoda sahabatnya itu. Pun dengan Guru Lei yang senantiasa menimpali mendukung pasangan suami-istri itu. Kendati demikian, Tuan Yu terus menerus tersenyum semringah mengingat kejadian sebelum mereka datang.
“Tuan Yu, Nona Shuwan meninggalkan surat untuk Anda,” ujar pengurus rumah sembari menyerahkan tabung bambu berisi surat dari Nona Shuwan untuk Tuan Yu.
To be continued