Deni memperbesar gambar dari kamera lokasi, tetapi kartu identitas di dada orang berseragam tetap tidak terbaca jelas selain nama ibu Kelana. Petugas meminta keluarga tidak menyimpan gambar di ponsel pribadi karena wajah pasien sedang dipakai sebagai bagian penyamaran.
'Seragamnya sama dengan rumah sakit?' tanya Gea.
'Warnanya mirip, tapi potongan sakunya berbeda,' jawab kepala keamanan. 'Seragam kami juga memiliki lambang bordir. Yang di rekaman seperti ditempel.'
Mereka membandingkan waktu kamera dengan pengakuan kurir. Gambar diambil sekitar dua puluh menit sebelum perempuan itu datang ke meja penerimaan. Tas selempang dan sepatunya sama. Setelah melihat rekaman lengkap, kurir mengakui orang berseragam tersebut adalah dirinya.
'Akun kedua bilang saya harus terlihat seperti petugas supaya nggak dicurigai,' katanya didampingi bantuan hukum. 'Seragam dan kartu sudah ada di loker penitipan dekat terminal.'
'Kenapa kemarin tidak mengatakan itu?' tanya petugas.
'Saya takut. Saya pikir kalau mengaku menyamar, saya langsung ditahan.'
Kurir menyerahkan kunci loker yang belum dibuang. Di dalam loker sudah tidak ada barang, tetapi pengelola memiliki catatan penyewaan. Pembayaran dilakukan tunai oleh seseorang yang memakai topi dan masker sehari sebelum pengantaran.
Rekaman loker menunjukkan orang tersebut memasukkan sebuah tas belanja, bukan mengenakan seragam rumah sakit. Tas diambil kurir beberapa jam kemudian. Di dalamnya ada atasan, celana, wadah kartu, dan selembar petunjuk yang sudah dibuang kurir ke tempat sampah.
Petugas menemukan tempat sampah telah dikosongkan. Namun, kurir masih menyimpan foto petunjuk karena takut lupa urutan tugas. Tulisan itu meminta dirinya berganti di toilet umum, berjalan melewati titik internet dekat rumah sakit, lalu menghubungi layanan informasi.
'Kenapa harus lewat titik internet?' tanya Deni.
'Akun kedua bilang supaya lokasi saya terlihat seperti pegawai yang sedang istirahat,' jawab kurir. 'Saya nggak ngerti untuk apa. Saya cuma ikuti.'
Petugas menjelaskan langkah tersebut mungkin dirancang untuk menciptakan jejak palsu seolah akun dipakai orang rumah sakit. Kurir sendiri tidak mengakses akun kedua dari jaringan itu; ponselnya hanya menerima pesan melalui data seluler.
'Berarti gambar orang berseragam di lokasi jaringan nggak membuktikan akun dikendalikan dari sana,' kata Gea.
'Benar. Kamera dan catatan jaringan hanya terjadi pada waktu berdekatan,' jawab petugas.
Deni merasa lega mereka tidak langsung menuduh pegawai rumah sakit berdasarkan seragam.
Kartu identitas palsu dibuat dari gambar yang dikirim akun kedua. Kurir mencetaknya sendiri di kios dekat terminal, lalu menempelkan ke wadah kartu kosong. Nama ibu Kelana diberikan tanpa foto; kurir memakai foto dirinya sendiri.
'Jadi orang di kamera bukan pegawai rumah sakit dan bukan pasien,' kata Gea setelah menerima penjelasan.
'Iya. Tapi akun kedua masih belum jelas,' jawab Deni.
Penyidik memeriksa ponsel kurir. Akun itu menghubunginya melalui layanan peramban dan sudah terhapus. Namun, gambar kartu palsu masih memiliki data pembuatan. Berkas dibuat pada perangkat yang memakai zona waktu berbeda, tetapi petugas mengingatkan zona dapat diubah dengan mudah.
Mila kembali ditanya melalui pengacaranya. Ia tetap menyangkal mengirim tugas kedua. Menurutnya, ia hanya membayar kurir untuk mengantar amplop, lalu mengakhiri percakapan setelah menerima foto meja penerimaan.
Penyidik belum menyebut Mila berbohong. Mereka meminta izin memeriksa akun lama, komputer sewaan, dan data pemulihan melalui prosedur. Pengacaranya menyetujui pemeriksaan terbatas pada rentang waktu perkara.
'Kami juga mencari kemungkinan orang lain mengambil alih akun setelah klien saya keluar,' kata pengacara Mila. 'Jangan hanya mencari bukti yang menguatkan satu dugaan.'
Petugas menerima keberatan itu. Riwayat masuk, alamat perangkat, dan waktu pembuatan akun akan dibandingkan. Gea menghargai proses tersebut meski dirinya ingin segera tahu siapa yang memakai nama ibu Kelana.
'Kalau bukti menunjukkan Mila, kita terima. Kalau bukan, kita cari lagi,' ucap Gea kepada Deni.
'Aku tahu. Aku cuma nggak suka dia masih menyimpan sebagian cerita.'
'Kita juga pernah takut mengakui sesuatu karena akibatnya. Bukan berarti dia boleh bohong, tapi itu alasan proses harus pakai bukti.'
'Apa ada orang lain yang bisa melihat akun pertama?' tanya petugas.
'Saya pernah buka lewat komputer sewaan. Tapi saya selalu keluar.'
Mila menyebut sebuah tempat penyewaan komputer dekat rumah lamanya. Catatan pembayaran menunjukkan ia berada di sana dua kali. Penyidik meminta data perangkat tanpa menyita semua komputer atau membuka data pelanggan lain.
Deni merasa jalur itu mulai mengarah kembali kepada Mila, tetapi ia tidak mengatakan perempuan itu pasti berbohong. Ia sudah belajar bahwa satu petunjuk dapat dibuat sengaja untuk menyesatkan.
Di rumah, Kelana sedang memilih pakaian untuk boneka yang akan dikirim kepada ibunya. Gea membantu memasukkan boneka ke kotak bening sesuai aturan rumah sakit. Tidak ada benda logam atau pesan tersembunyi.
Pengasuh bertanya apakah keamanan baru akan membuatnya dilarang membawa Kelana keluar. Deni menjelaskan kegiatan rutin tetap berjalan. Mereka hanya tidak menerima penjemputan mendadak atau telepon dari nomor asing.
'Kalau ada yang mengaku keluarga?' tanya pengasuh.
'Telepon kami dulu. Jangan berikan alamat les atau jadwal Kelana,' jawab Gea. 'Tapi jangan bicara soal ancaman di depan dia.'
Pengasuh mengangguk. Mereka menulis daftar kontak yang boleh menjemput dan menaruhnya di tempat tertutup. Keluarga Arman belum masuk daftar sampai pertemuan serta persetujuan Kelana berkembang lebih jauh.
Deni sempat ingin menghentikan les piano beberapa minggu. Gea menanyakan apakah ada ancaman khusus di tempat les. Karena tidak ada, mereka memilih memperketat penjemputan tanpa mengambil kegiatan yang disukai Kelana.
'Ibu boleh peluk bonekanya?' tanya Kelana.
'Boleh kalau Ibu mau,' jawab Gea.
'Kalau Ibu nggak mau?'
'Nggak apa-apa. Boneka bisa ditaruh di meja dulu.'
Kelana mengangguk lalu menempelkan gambar hati di bagian luar kotak. Deni pulang ketika mereka selesai. Ia berjongkok dan memuji pilihan pita biru.
'Ayah besok antar?' tanya Kelana.
'Ayah antar ke dokter. Kelana belum ikut dulu.'
Anak itu sedikit cemberut, tetapi mengingat surat ibunya. 'Ibu belum bisa pulang.'
'Iya. Kita kasih waktu.'
Malamnya Deni dan Gea membicarakan kemungkinan pertemuan langsung. Gea mengaku takut ibu Kelana tidak menerima dirinya sebagai Mama. Deni tidak langsung mengatakan ketakutan itu mustahil.
'Waktu pertama ketemu kamu, kakak aku minta kamu nikah sama aku dan jaga Kelana,' kata Deni. 'Tapi saat itu pikirannya juga belum stabil. Dia bisa ingat berbeda sekarang.'
'Aku nggak mau pakai ucapan waktu dia sakit sebagai izin mengambil anaknya.'
'Kita nggak akan begitu.'
Gea bertanya apa yang terjadi jika kakaknya pulih dan ingin mengasuh Kelana sendiri. Deni menjawab dokter, keluarga, dan pendamping harus melihat kesiapan, bukan hanya keinginan satu hari. Gea tetap bisa berada dalam kehidupan anak itu sebagai bibinya melalui pernikahan, sekalipun panggilan Mama nanti berubah.
Jawaban itu jujur dan membuat Gea takut. Namun, ia lebih memilih ketidakpastian yang diakui daripada janji bahwa keadaan tidak akan pernah berubah.
'Apa pun panggilannya nanti, aku nggak akan tiba-tiba menjauh,' kata Gea.
'Dan aku akan pastikan suara kamu juga didengar,' jawab Deni.
'Kakak aku mungkin bingung atau marah,' katanya. 'Kalau itu terjadi, bukan berarti kamu harus pergi dari hidup Kelana.'
'Aku juga nggak mau mengambil tempat dia.'
'Kelana bisa sayang kalian berdua.'
Gea berharap kalimat itu mudah dijalankan seperti saat diucapkan. Ia menyandarkan kepala pada dada Deni dan meminta suaminya tidak memaksa membela dirinya di depan kakaknya nanti. Keadaan pasien harus tetap menjadi pertimbangan.
Pagi berikutnya, penyidik menemukan komputer sewaan yang pernah digunakan Mila. Riwayat peramban sudah dibersihkan, tetapi penyedia layanan menyimpan alamat surel pemulihan akun kedua.
Alamat itu memakai nama palsu, tetapi nomor pemulihannya sama dengan nomor lama Mila yang katanya sudah tidak aktif.