Gea tidak menjawab permintaan ibu Kelana malam itu. Ia membaca pesan dokter sekali lagi, lalu meletakkan ponsel dalam keadaan terbalik.
'Aku butuh tahu bentuk pertemuannya dulu,' katanya.
Deni mengangguk meski rahangnya terlihat tegang. 'Aku bisa tunggu di luar.'
'Dia minta kamu nggak ada di ruangan. Bukan berarti kamu harus hilang dari rumah sakit.'
'Aku tahu.'
'Kamu kelihatan kayak mau membatalkannya.'
'Aku takut dia menyalahkan kamu.' Deni menatap perut Gea yang belum berubah. 'Dan aku nggak bisa masuk kalau keadaan buruk.'
'Makanya kita tanya dokter. Jangan putuskan dari ketakutan kita sendiri.'
Keesokan paginya, Gea mengikuti pertemuan daring dengan dokter rumah sakit dan pendamping keluarga. Deni duduk di sebelahnya hanya selama bagian awal, lalu keluar ketika dokter ingin mendengar keputusan Gea tanpa tekanan suami.
Pertemuan yang diusulkan berlangsung maksimal dua puluh menit. Dokter berada di dalam ruangan, sedangkan pendamping menunggu dekat pintu. Gea boleh meminta jeda atau pergi kapan saja. Tidak boleh ada keputusan tentang tempat tinggal Kelana, hak pengasuhan, atau jadwal pertemuan anak selama percakapan itu.
'Tujuannya apa?' tanya Gea.
'Ibu Kelana ingin menanyakan peranmu langsung, bukan melalui jawaban kami,' kata dokter. 'Tujuanmu boleh berbeda. Kamu tidak wajib meyakinkannya bahwa kamu orang baik.'
'Kalau dia minta aku berhenti dipanggil Mama?'
'Kamu tidak perlu menjawab saat itu. Panggilan Kelana tidak diputuskan hanya oleh dua orang dewasa tanpa melibatkan kebutuhan anak.'
Dokter juga memastikan kondisi kehamilan Gea cukup baik untuk datang, tetapi keputusan tetap miliknya. Rumah sakit menyediakan ruang yang dekat pintu keluar, air minum, dan waktu kedatangan berbeda agar Gea tidak menunggu lama di koridor.
Pendamping lalu mengajak Gea mencoba kalimat penghenti. Gea semula merasa cukup dengan mengatakan dirinya ingin pulang, tetapi suaranya mengecil setiap kali latihan memasuki pertanyaan tentang Kelana.
'Saya ingin berhenti sekarang,' contoh pendamping.
Gea mengulanginya dua kali sampai tidak terdengar seperti meminta izin. Mereka juga memilih isyarat mengangkat telapak tangan jika Gea terlalu sulit bicara. Dokter wajib menghentikan percakapan begitu isyarat itu muncul, bukan menunggu ibu Kelana menyelesaikan kalimat.
'Kalau saya menangis, pertemuannya otomatis selesai?' tanya Gea.
'Tidak. Menangis bukan berarti kamu kehilangan kemampuan memilih. Kami akan bertanya, lalu mengikuti jawabanmu.'
Penjelasan itu penting. Gea tidak ingin air matanya dipakai untuk menganggapnya rapuh, tetapi ia juga tidak mau ketegaran dijadikan alasan membiarkannya terus menerima tekanan.
Mereka menyepakati pemeriksaan singkat setelah sepuluh menit. Dokter akan menanyakan keadaan Gea dan ibu Kelana secara terpisah, lalu hanya melanjutkan jika keduanya masih setuju. Persetujuan di awal tidak dianggap berlaku tanpa batas sampai waktu habis.
Setelah Deni kembali, Gea menyampaikan syarat tambahan. Ia tidak mau pertemuan direkam. Ringkasan boleh dibuat oleh dokter, tetapi kata-katanya tidak boleh langsung dibacakan kepada Kelana. Ia juga tidak ingin keluarga besar mengetahui sebelum pertemuan selesai.
'Aku setuju,' kata Deni. 'Kapan?'
'Jumat sore. Setelah observasi kampus aku selesai.'
'Kamu mau menjalani dua hal berat di hari yang sama?'
'Observasi bukan hal berat. Itu tugas aku.'
Deni menahan bantahan. Ia hanya meminta Gea membawa makanan ringan dan tidak datang dengan perut kosong. Permintaan itu masih berada dalam batas perhatian yang mereka sepakati.
Selama tiga hari berikutnya, Gea tidak melatih jawaban seperti menghadapi sidang. Pendamping justru memintanya menulis tiga batas: ia tidak akan berjanji meninggalkan Kelana, tidak akan berbicara atas nama anak itu, dan tidak akan menerima penghinaan sebagai harga untuk memahami trauma seseorang.
Di kampus, Gea memimpin sesi observasi tambahan bersama Putri dan Rangga. Fian bertugas mengatur lembar persetujuan peserta, sedangkan Serli membantu merapikan catatan. Tidak seorang pun kecuali Putri mengetahui bahwa beberapa jam lagi Gea akan menemui ibu kandung Kelana.
'Lo yakin bisa lanjut?' bisik Putri ketika Gea berhenti untuk memakan biskuit.
'Bisa. Kalau nggak bisa, gue bilang.'
'Gue nggak akan nanya lagi.'
Sesi berjalan tanpa masalah besar. Gea sempat mual karena aroma kopi salah satu peserta, lalu meminta jendela dibuka dan melanjutkan setelah lima menit. Ia tidak memaksakan tubuhnya, tetapi juga tidak menyerahkan pekerjaannya hanya karena takut dianggap lemah.
Dosen pembimbing menerima catatan mereka dan meminta laporan akhir disusun pekan berikutnya. Gea menyimpan tugas itu dalam jadwal. Hidupnya tidak boleh menyusut hanya menjadi kehamilan dan persoalan keluarga Deni.
Sebelum berangkat ke rumah sakit, Gea pulang sebentar untuk mengganti pakaian. Kelana sedang menggambar di ruang keluarga dan langsung bertanya hendak ke mana.
'Mama ada pertemuan sama dokter Ibu,' jawab Gea.
Pensil Kelana berhenti. 'Ketemu Ibu?'
'Iya, tapi Kelana nggak ikut hari ini.'
'Ibu marah sama Mama?'
'Mama belum tahu apa yang akan Ibu rasakan nanti. Dokter ada di sana.'
Kelana berdiri dan memeluk kaki Gea. 'Jangan tinggal di rumah sakit.'
Gea berjongkok perlahan. 'Mama pergi buat bicara, lalu pulang. Kalau rencananya berubah, Mama atau Ayah kasih tahu. Tapi Mama nggak akan bawa keputusan tentang Kelana pulang tanpa membicarakannya sama pendamping dan Kelana.'
'Ibu mau ambil Mama juga?'
Pertanyaan itu membuat Gea hampir tertawa, tetapi wajah anak tersebut terlalu serius.
'Nggak. Mama bukan barang yang bisa diambil.'
Deni menunjukkan jam dan menjelaskan kapan mereka diperkirakan kembali. Nenek akan menemani Kelana sampai saat itu. Mereka tidak menjanjikan pertemuan pasti menyenangkan.
Di mobil, Deni hanya bertanya sekali apakah Gea ingin membatalkan. Ketika Gea menjawab tidak, ia berhenti mengulang pertanyaan. Tangannya menggenggam kemudi terlalu keras sepanjang jalan.
Mereka tiba lewat pintu samping sesuai pengaturan rumah sakit. Pendamping menemui mereka di ruang tunggu kecil. Deni menerima kartu akses untuk menunggu di ruangan seberang, cukup dekat jika Gea keluar tetapi tidak dapat mendengar percakapan.
'Kalau dia bicara tentang Arman, aku harus bagaimana?' tanya Gea kepada pendamping.
'Dengarkan sejauh kamu mampu. Kamu tidak perlu mengoreksi perasaannya. Tapi fakta yang keliru boleh kamu batasi.'
Gea mengangguk. Mual yang tadi tidak muncul di kampus tiba-tiba naik ke tenggorokan. Ia minum, menarik napas perlahan, lalu memastikan pintu keluar tidak terhalang.
Dokter membuka pintu. Di dalam, ibu Kelana sudah duduk dengan kedua tangan di atas meja. Tidak ada kartu keluarga atau foto untuk menjadi perantara.
Tatapan perempuan itu turun sesaat ke perut Gea, kemudian kembali ke wajahnya. Perut tersebut masih rata, tetapi keduanya tahu ada kehidupan baru di sana.
'Namamu Gea?' tanyanya.
'Iya.'
'Kelana memanggilmu Mama?'
Gea duduk di kursi yang paling dekat pintu. Dokter tetap berdiri sampai ia merasa siap.
'Iya,' jawab Gea akhirnya. 'Itu panggilan yang Kelana pilih.'
Perempuan di seberangnya menarik napas gemetar. Pertemuan belum berjalan satu menit, tetapi kata yang paling mereka takuti sudah berada di tengah ruangan.