Ibu Kelana menatap Gea seolah jawaban singkat itu belum cukup.
'Kamu yang mengajarinya?' tanyanya.
'Nggak.'
'Deni?'
'Nggak. Awalnya Kelana memanggil aku Tante Gea. Panggilannya berubah dari dia sendiri.'
Dokter mengingatkan bahwa pertemuan bukan pemeriksaan silang. Perempuan itu mengangguk, tetapi jemarinya masih saling meremas.
'Waktu dia pertama panggil Mama, kamu senang?'
Gea dapat saja menjawab tidak untuk membuat suasana lebih mudah. Namun, kebohongan itu akan menjadikan Kelana seolah beban yang hanya diterima karena kewajiban.
'Aku kaget. Setelah itu aku senang,' jawabnya.
Wajah ibu Kelana menegang. 'Karena kamu bisa jadi ibunya.'
'Karena dia percaya sama aku. Tapi aku tahu dia punya Ibu.'
'Tahu nggak sama rasanya.'
'Iya. Aku nggak akan pura-pura ngerti rasanya kehilangan waktu sama anak sendiri.'
Jawaban tersebut menghentikan perempuan itu sesaat. Ia mungkin telah menyiapkan perlawanan jika Gea mengaku memahami semuanya. Pengakuan bahwa Gea tidak memahami justru membuatnya kehilangan sasaran.
'Aku ingat melahirkan Kelana,' katanya. 'Aku ingat Arman pegang tangan aku. Terus sekarang anakku panggil orang lain Mama.'
Gea menelan rasa tidak nyaman. 'Kenangan itu milik Ibu. Aku nggak bisa mengambilnya.'
'Tapi kamu punya semua hari setelahnya.'
'Nggak semua. Aku baru masuk ke hidup Kelana setelah banyak hal terjadi.'
Ibu Kelana menyebut ulang hal-hal kecil yang masih diingatnya: rambut bayi Kelana yang tipis, tangisnya saat mandi, dan baju pertama yang dipilih Arman. Beberapa ingatan bercampur. Dokter tidak langsung mengoreksi karena rincian itu tidak membahayakan percakapan.
Gea mendengarkan tanpa mengatakan bahwa dirinya juga tahu makanan kesukaan Kelana sekarang, buku yang harus dibaca dua kali, atau cara anak itu meminta pintu dibiarkan terbuka. Pertemuan tersebut bukan perlombaan siapa memiliki lebih banyak kenangan.
'Kamu mau punya bayi dari awal?' tanya perempuan itu.
'Aku sama Deni pernah sepakat menunda. Kehamilan ini datang lebih cepat dari rencana.'
'Berarti kamu nggak mau?'
'Bukan begitu. Aku bahagia, tapi juga takut. Dua perasaan itu bisa ada bareng.'
'Kamu masih kuliah.'
'Iya.'
'Kalau kamu sibuk, Deni yang jaga semuanya?'
'Kami membagi tanggung jawab. Kuliah aku nggak otomatis berhenti, dan kerja Deni juga nggak membuat dia bebas dari rumah.'
Ibu Kelana tampak terkejut mendengar Gea tidak menyusun hidupnya hanya di sekitar suami. Gea sendiri menyadari pertanyaan itu mungkin bukan serangan, melainkan usaha memahami rumah tempat Kelana tinggal.
Perempuan itu menatap meja. Kalimat tersebut mirip dengan penjelasan dokter tentang perasaannya sendiri. Rasa takut tidak otomatis berarti penolakan.
'Kalau bayimu menangis dan Kelana juga menangis, kamu pilih siapa?'
Gea sudah menduga pertanyaan semacam itu, tetapi tetap terasa seperti jebakan.
'Aku akan lihat siapa yang paling butuh bantuan cepat. Kadang aku mungkin pegang bayi dulu. Kadang Deni menemani Kelana. Kadang keluarga lain bantu. Aku nggak bisa janji Kelana selalu didahulukan setiap detik.'
'Jadi dia nomor dua.'
'Bukan. Kebutuhan nggak selalu punya nomor tetap.'
Suara Gea mengeras sedikit. Dokter mengangkat tangan, menanyakan apakah keduanya perlu jeda. Ibu Kelana menggeleng, sedangkan Gea meminta satu menit. Ia minum air dan menempelkan telapak kaki ke lantai seperti yang diajarkan pendamping.
Ketika percakapan dilanjutkan, dokter menetapkan bahwa tidak ada lagi pertanyaan yang meminta Gea memilih salah satu anak. Mereka dapat membahas rencana perawatan, bukan membuat percobaan kesetiaan.
'Aku takut dia nggak butuh aku,' ucap ibu Kelana. Nada suaranya lebih rendah. 'Kalau ada kamu, Deni, dan bayi, aku buat apa?'
'Kelana masih menyimpan surat Ibu,' jawab Gea. 'Dia tanya keadaan Ibu. Tapi aku nggak bisa menjadikan rasa sayangnya alasan agar Ibu buru-buru pulih.'
'Kamu mau aku sembuh?'
'Iya.'
'Supaya kamu bisa kasih dia balik?'
Gea menarik napas. 'Supaya Ibu punya hidup yang lebih aman. Soal pengasuhan Kelana nanti bukan keputusan aku sendirian dan bukan hadiah karena Ibu terlihat sembuh.'
Perempuan itu mulai menangis. 'Kamu ngomong kayak dokter.'
'Karena aku takut ngomong salah.'
'Kamu takut sama aku?'
'Iya.'
Kejujuran itu membuat dokter memperhatikan Gea lebih saksama. Ia siap menghentikan sesi, tetapi Gea memberi tanda bahwa dirinya masih mampu lanjut.
'Aku takut Ibu suruh aku pergi dari hidup Kelana,' kata Gea. 'Aku juga takut apa pun yang aku bilang dianggap merebut tempat Ibu. Tapi aku datang karena kita nggak bisa terus bicara lewat orang lain.'
'Aku memang pernah suruh kamu pergi.'
'Waktu itu Ibu sedang kewalahan. Kelana dengar, dan dia takut.'
Perempuan itu menutup wajah. Gea tidak mendekat atau menyentuhnya. Dokter membantu mengatur napas sampai tangisnya berkurang.
'Aku nggak mau dia takut sama aku,' katanya.
'Kalau begitu jangan minta dia membuktikan sayang dengan menjauh dari Mama Gea,' ujar dokter.
Untuk pertama kalinya, dokter menyebut panggilan itu di depan mereka. Ibu Kelana terlihat ingin membantah, tetapi urung.
'Arman pasti mau Kelana sama aku,' katanya setelah diam lama.
Gea mengingat batas yang telah ditulis. 'Aku nggak bisa bicara atas nama Arman. Ibu juga nggak bisa tahu semua yang dia pilih kalau melihat keadaan sekarang.'
'Kamu nggak kenal dia.'
'Benar. Karena itu aku nggak bilang Arman pasti setuju sama aku.'
Nada percakapan kembali naik. Dokter menyatakan waktu tinggal tiga menit dan meminta mereka memilih satu hal yang ingin dibawa pulang.
Ibu Kelana menatap Gea. 'Aku mau tahu kalau aku pulang nanti, kamu pergi atau nggak.'
'Aku nggak bisa janji pergi,' jawab Gea. 'Aku juga nggak bisa menjanjikan bentuk keluarga kita nanti. Yang bisa aku bilang, aku nggak akan memakai bayi ini buat menyingkirkan Kelana atau mempercepat keputusan tentang Ibu.'
'Berarti kamu tetap mau dipanggil Mama.'
'Aku nggak akan menyuruh Kelana berhenti hanya supaya orang dewasa merasa menang.'
Air mata kembali mengalir di wajah perempuan itu, tetapi ia tidak berteriak. Ia meminta kertas dan menulis satu kalimat. Setelah membacanya, dokter bertanya apakah kalimat tersebut boleh diberikan kepada Gea.
Perempuan itu mengangguk.
Kertas digeser menyeberangi meja. Tulisan tangannya tidak rapi: Aku belum bisa menerima kamu sebagai Mama, tapi aku tahu Kelana yang memilih panggilan itu.
Gea membaca tanpa tersenyum. Kalimat itu bukan penerimaan, apalagi restu. Namun, untuk pertama kalinya ibu Kelana memisahkan perasaannya dari pilihan anaknya.
'Terima kasih sudah jujur,' kata Gea.
Dokter mengakhiri sesi tepat waktu. Gea berdiri lebih dahulu, tetapi ibu Kelana memanggil sebelum ia mencapai pintu.
'Gea.'
Gea menoleh.
'Kamu boleh bawa kertasnya. Jangan kasih ke Kelana dulu.'
'Iya.'
Di luar ruangan, Deni langsung berdiri. Ia tidak bertanya apakah kakaknya bersikap baik atau buruk. Ia hanya melihat tangan Gea yang gemetar dan menawarkan telapak tangannya.
Gea menggenggamnya. Pertemuan tersebut tidak membuat dua perempuan itu berbagi satu panggilan dengan damai. Namun, tidak ada satu pun yang meninggalkan ruangan dengan tempat orang lain dihapus.