Ruang pertemuan kedua berbeda dari taman tempat Kelana pertama kali bertemu ibunya. Tidak ada banyak tanaman atau jalan panjang menuju pintu. Tiga kursi disusun membentuk setengah lingkaran. Kursi Gea berada paling dekat jalan keluar.
Deni berjongkok di koridor untuk menyamakan tinggi dengan Kelana. 'Ayah tunggu di sini. Kalau Kelana keluar, Ayah ada.'
'Ayah nggak masuk?'
'Hari ini Kelana minta Mama yang dekat pintu.'
Kelana mengangguk, lalu menggenggam tangan Gea. Mereka masuk bersama pendamping. Ibu Kelana sudah duduk di kursi seberang dengan dokter di sisinya.
Tatapannya langsung menemukan Gea. Napasnya berubah cepat, tetapi ia tidak meminta siapa pun pergi. Ia melihat boneka kelinci dalam pelukan anaknya.
'Itu masih ada,' katanya.
'Iya. Kelana bawa ke sekolah kadang-kadang,' jawab Kelana.
Anak itu tidak mendekat. Pendamping mempersilakannya memilih kursi atau berdiri. Kelana memilih duduk di kursi tengah, sedikit lebih dekat kepada Gea daripada ibunya.
Ibu Kelana tampak kecewa. Dokter menyentuh meja sebagai isyarat agar ia menyebut perasaan tanpa mengubah posisi anak.
'Ibu ingin Kelana duduk lebih dekat,' katanya.
'Kelana di sini dulu.'
'Iya.'
Jawaban itu keluar berat, tetapi tidak diikuti bujukan. Kelana lalu menunjukkan foto kaki bayinya. Ibu menceritakan bahwa Arman mengambil foto itu karena jari kaki Kelana bergerak setiap kali mendengar suara. Ceritanya tidak panjang dan tidak mengubah Arman menjadi tokoh sempurna.
'Papa yang gendong Kelana?' tanya anak itu.
'Iya. Papa takut kepalamu jatuh, jadi gendongnya kaku sekali.'
Kelana tertawa. Ia berdiri untuk melihat buku catatan di tangan ibunya. Langkahnya hanya satu, tetapi bahu perempuan itu langsung mengendur.
Gea tetap di kursi. Ia tidak mengabadikan momen atau memberi tanda kepada Deni di luar. Pertemuan itu bukan pertunjukan bagi keluarga.
Ibu Kelana membuka halaman lagu. Mereka menyanyikan bagian pertama pelan-pelan. Kelana lupa satu kata, lalu menoleh kepada Gea seperti kebiasaannya ketika membutuhkan bantuan.
Gea tidak tahu liriknya. 'Mama nggak hafal bagian itu.'
Panggilan Mama membuat ibu Kelana berhenti bernyanyi. Tangannya mencengkeram tepi buku. Dokter menanyakan apakah ia perlu jeda.
'Aku mau lanjut,' jawabnya, meski matanya tetap pada Gea.
'Kelana boleh tanya Ibu kata yang lupa,' kata pendamping.
Anak itu berbalik kembali. Ibunya memberi kata yang benar, dan lagu selesai tanpa Gea mengambil peran yang tidak dimilikinya.
Pada menit keenam, Kelana mengeluarkan gambar empat lingkaran. Garis dari namanya telah mencapai Ibu dan Mama. Lingkaran Bayi masih sendirian.
'Ini yang waktu video,' katanya.
'Ibu punya salinannya,' jawab ibunya.
'Garis Ibu sudah sampai?'
'Sudah.'
'Punya Ibu mana?'
Perempuan itu menunjukkan salinannya dari dalam map. Garis merah muda menghubungkan Ibu dan Kelana. Tidak ada garis lain. Kelana membandingkan kedua gambar, lalu berkata milik Ibu belum memiliki garis menuju Mama.
Suasana berubah. Dokter hendak mengalihkan pembicaraan, tetapi ibu Kelana mengangkat telapak tangan untuk meminta jeda. Semua orang diam selama satu menit.
'Ibu belum bisa bikin garis itu,' katanya setelah napasnya teratur. 'Bukan salah Kelana.'
'Ibu nggak suka Mama?'
'Ibu belum tahu cara suka sama Gea. Ibu sedang belajar nggak menyuruhnya pergi.'
Kelana menatap Gea. 'Mama sedih?'
'Sedikit,' jawab Gea jujur. 'Tapi Ibu boleh butuh waktu. Mama tetap di sini.'
Ibu Kelana tampak terkejut karena Gea tidak memaksa dirinya memberi jawaban baik. Ia menunduk dan menyentuh ujung garis menuju Kelana.
Pengatur waktu menunjukkan tiga menit tersisa. Kelana berpindah dari kursinya dan berdiri di dekat ibu. Ia tidak memeluk, hanya meletakkan boneka kelinci di pangkuan perempuan itu.
'Ibu pegang dulu.'
'Boleh dibawa setelah pertemuan?'
'Nggak. Nanti Kelana bawa pulang.'
Wajah ibunya jatuh, tetapi ia mengangguk. 'Ibu pegang sampai waktunya habis.'
Kelana duduk di lantai di antara dua kursi. Ketika merasa lelah, ia menyandarkan punggung ke lutut Gea sambil terus melihat ibunya. Gerakan itu membuat perempuan di seberang menutup mata.
'Saya perlu berhenti sebentar,' katanya kepada dokter.
Dokter menawarkan mengakhiri pertemuan lebih awal. Ibu Kelana membuka mata kembali dan melihat Kelana memegang boneka, bukan sedang direbut siapa pun.
'Satu menit lagi,' jawabnya.
Pada menit terakhir, Kelana bertanya apakah Ibu ingin mendengar cerita tentang sekolah lain kali. Ibu berkata ingin, tetapi tidak menentukan tanggal. Pendamping lalu mengingatkan isyarat selesai.
Kelana mengambil boneka dari pangkuan ibunya. Perempuan itu melepaskannya tanpa menahan.
'Dah, Ibu.'
'Dah, Kelana.'
Tidak ada pelukan. Kelana berjalan menuju pintu, kemudian berhenti. Ia kembali dua langkah dan mengulurkan tangan. Ibunya menggenggam tangan kecil itu selama tiga detik sebelum anak tersebut melepaskan sendiri.
Gea berdiri. Saat melewati kursi, ibu Kelana memanggil namanya.
'Terima kasih sudah duduk di pintu.'
'Aku duduk di sana karena Kelana minta,' jawab Gea.
'Aku tahu.'
Sesudah Gea dan Kelana keluar, dokter tidak langsung memuji ibu karena bertahan. Ia menanyakan bagian yang membuat tubuhnya paling tegang. Perempuan itu menunjuk kursi Gea dan saat Kelana menyandarkan punggung.
'Aku ingin menarik Kelana ke sini,' katanya.
'Apa yang membuat Ibu tidak melakukannya?'
'Dia bilang mau duduk di sana dulu. Kalau aku paksa, dia mungkin pakai kelinci dan pergi.'
Dokter mencatat bahwa ia mampu melihat akibat tindakannya sebelum bertindak. Itu keterampilan penting, tetapi belum otomatis berarti ia siap merawat anak tanpa pengawasan.
Di ruang debrief lain, Kelana menggambar tangan dengan tiga jari berwarna. Ia mengatakan genggaman Ibu terasa hangat, tetapi takut jika melepaskan terlalu cepat akan membuat Ibu menangis.
'Kelana yang jaga tangis Ibu?' tanya pendamping.
Anak itu mengangguk ragu.
'Dokter yang bantu Ibu waktu sedih. Kelana boleh pegang tangan selama mau, lalu lepas. Tiga detik atau tidak sama sekali tetap boleh.'
Deni mendengar penjelasan itu dari kursi di sudut. Ia tidak meminta Kelana memperpanjang genggaman pada pertemuan berikutnya.
Gea tidak menambahkan apa pun. Di koridor, Kelana langsung masuk ke pelukan Deni. Pria itu melihat wajah istri dan keponakannya, tetapi menunggu sampai mereka berada di ruang debrief sebelum bertanya.
Kelana mengatakan pertemuan tadi membuat perutnya sakit sedikit. Ia senang memegang tangan Ibu, tetapi sedih karena Ibu belum suka Mama. Pendamping menegaskan bahwa Kelana tidak bertugas membuat keduanya berteman.
'Lain kali Mama masih dekat pintu?' tanyanya.
'Kalau ada lain kali dan Kelana masih butuh, Mama ada,' jawab Gea.
Di balik pintu lain, ibu Kelana menangis karena Kelana bersandar kepada Gea. Namun, ia juga meminta dokter menulis bahwa dirinya berhasil mengembalikan boneka saat waktu selesai.
Hari itu tidak menghasilkan pelukan ibu dan anak. Hanya ada genggaman tiga detik, boneka yang dikembalikan, dan dua perempuan yang tetap tinggal di ruangan meski keberadaan satu sama lain terasa menyakitkan.