Malam setelah pertemuan, Kelana terbangun sambil menangis. Ia bermimpi boneka kelincinya tertinggal di rumah sakit dan Ibu tidak mau mengembalikannya. Gea datang lebih dahulu, tetapi Kelana memanggil Deni juga sampai mereka bertiga duduk di lantai kamar.
'Boneka ada di sini,' kata Deni sambil menunjuk benda di pelukannya.
'Tadi Ibu pegang.'
'Iya, lalu Ibu kembalikan waktu pertemuannya selesai.'
Deni tidak mengatakan mimpi itu mustahil. Pendamping telah menjelaskan bahwa setelah pengalaman besar, anak dapat mengulang bagian yang paling menegangkan dalam tidur. Mereka menemani Kelana sampai napasnya teratur, kemudian kembali ke kamar masing-masing setelah ia setuju.
Pagi berikutnya Kelana tidak mau sekolah. Perutnya masih terasa sakit meski tidak demam atau muntah. Deni hendak langsung mengizinkannya tinggal di rumah, tetapi Gea mengajak anak itu membedakan sakit tubuh dan rasa takut.
'Dua-duanya bisa terasa beneran,' kata Gea. 'Kelana mau coba datang sampai jam makan, terus guru telepon kalau masih sakit?'
Kelana memilih rencana itu. Ia berangkat membawa boneka di dalam tas dan berhasil mengikuti kegiatan sampai pulang normal. Guru mengatakan Kelana sempat diam ketika teman membahas ibu, tetapi ia meminta duduk dekat guru tanpa mendorong siapa pun.
'Berarti pertemuannya bikin dia mundur?' tanya Deni kepada pendamping sore itu.
'Tidak semua kesulitan setelah pertemuan berarti kemunduran,' jawab pendamping. 'Lihat apakah ia mampu memakai bantuan dan kembali ke rutinitas. Hari ini dia melakukannya.'
Ibu Kelana mengalami hari yang lebih berat. Ia menolak sarapan, mengatakan Gea sengaja membuat anak itu bersandar kepadanya, lalu meminta semua foto ditutup. Dokter tidak membenarkan tuduhan tersebut. Rekaman catatan sesi menunjukkan Gea tidak menarik atau memanggil Kelana.
'Aku lihat sendiri,' kata perempuan itu. 'Kelana pilih dia.'
'Kelana memilih tempat bersandar pada saat itu. Dia juga kembali menggenggam tangan Ibu.'
'Cuma tiga detik.'
'Tiga detik yang Kelana mulai dan akhiri sendiri.'
Perempuan itu menangis. Ia ingin mengukur hubungan lewat durasi, sedangkan dokter mengingatkan bahwa rasa aman dibangun dari anak yang boleh pergi tanpa ditahan. Setelah beberapa jam, ia bersedia makan dan membuka kembali satu foto.
Gea tidak menerima rincian ledakan tersebut sampai dokter memastikan informasi yang dibagikan relevan. Saat mendengar, ia sempat merasa bersalah karena membiarkan Kelana bersandar.
'Aku seharusnya geser?' tanyanya.
'Nggak,' jawab Deni cepat.
'Aku tanya pendamping, bukan kamu.'
Pendamping menjelaskan bahwa menolak kedekatan Kelana demi menjaga perasaan ibunya justru dapat membuat anak merasa harus memilih. Gea telah melakukan hal yang tepat dengan tetap diam dan tidak menarik perhatian.
Deni meminta maaf karena menjawab sebelum orang yang ditanya. Ia sedang berusaha tidak mengubah kekhawatiran menjadi kendali, tetapi kebiasaan itu masih muncul ketika ia takut Gea menyalahkan diri.
Pada latihan kelompok sebelum pemeriksaan berikutnya, Gea kehilangan urutan penjelasan karena mual dan kurang tidur. Rangga menawarkan menggantikan seluruh bagiannya, tetapi Gea meminta lima menit untuk makan lalu mengulang dari awal.
'Kalau nanti hari presentasi lo nggak kuat, kode kita apa?' tanya Fian.
'Gue taruh pulpen di meja. Putri lanjut slide berikut, bukan jelasin semua bagian gue seolah gue hilang.'
Mereka mencoba perpindahan itu dua kali. Daffa menyiapkan salinan catatan agar tidak ada satu anggota menjadi titik kegagalan. Penyesuaian tersebut memperbaiki kerja kelompok untuk semua orang, bukan hanya Gea.
Saat pulang, Gea menceritakan latihan itu kepada Deni. Pria tersebut ingin menghadiri presentasi, tetapi Gea menolak karena kehadiran mantan dosennya dapat membuat peserta salah fokus.
'Aku duduk paling belakang aja,' rayu Deni.
'Tetap aja kamu pemilik kampus dan suami gue.'
'Aku mau lihat kamu presentasi.'
'Nanti gue minta teman rekam bagian yang diizinkan. Kamu lihat di rumah.'
Deni menerima. Ia belajar mendukung capaian Gea tanpa harus hadir di setiap ruang.
Pada minggu yang sama, Gea menjalani pemeriksaan trimester awal. Hasil pemantauan sesuai usia kehamilan. Dokter membahas nutrisi, pemeriksaan lanjutan yang dapat dipilih, dan perubahan aktivitas bila mual memburuk.
Deni bertanya apakah stres pertemuan rumah sakit dapat membahayakan bayi. Dokter tidak memberi jawaban menakutkan atau janji kosong.
'Stres adalah bagian hidup. Yang kita perhatikan apakah Gea dapat makan, tidur, berfungsi, dan mendapat dukungan. Jangan jadikan setiap emosi sebagai ancaman terhadap kehamilan,' katanya.
Gea menoleh tajam kepada Deni. 'Dengar itu.'
'Aku dengar.'
'Jangan nanti aku dilarang marah demi bayi.'
'Aku catat bagian itu paling atas.'
Mereka tertawa kecil. Sepulang dari klinik, Gea pergi ke kampus untuk membagi bahan presentasi. Putri akhirnya menyarankan agar kelompok diberi tahu karena sesi akhir akan berlangsung pada masa ketika perut Gea mungkin mulai terlihat.
Gea memilih memberi tahu Rangga, Fian, Serli, dan Daffa dalam satu percakapan. Ia meminta kabar tidak disebarkan dan menegaskan bahwa pembagian tugas tetap berdasarkan kemampuan, bukan rasa kasihan.
Rangga terdiam paling lama. 'Jadi lo hamil? Sama Pak Deni?'
'Ya sama suami gue, siapa lagi?'
Putri menahan tawa. Fian mengucapkan selamat, Serli bertanya apa yang dapat membuat ruang diskusi lebih nyaman, sedangkan Daffa terlihat malu mengingat foto Kelana yang pernah disebarkannya.
'Gue nggak bakal ngomong ke siapa-siapa,' kata Daffa.
'Bagus. Karena ini bukan kesempatan lo memperbaiki nama dengan jadi penjaga rahasia paling hebat,' jawab Gea.
Daffa menerima teguran itu. Kelompok lalu kembali membahas presentasi. Tidak ada keputusan mengeluarkan Gea dari tugas lapangan.
Pada akhir pekan, keluarga Arman berkunjung membawa album yang telah diperiksa pendamping. Mereka tidak bertanya mengapa Kelana hanya menggenggam tangan ibunya sebentar. Seorang bibi Arman bercerita bahwa Arman juga sulit masuk sekolah setelah liburan dan sering mengaku sakit perut.
'Papa takut sekolah?' tanya Kelana.
'Kadang. Terus kakeknya antar sampai gerbang.'
Kelana terlihat senang mengetahui ketakutan bukan hanya miliknya. Ia menempel foto Arman kecil di samping foto sekolahnya sendiri.
Bibi Arman juga menyerahkan salinan resep kue yang dulu disukai Arman. Ketika Kelana ingin langsung membuatnya, Gea memeriksa bahan karena ada catatan alergi lama. Mereka mengganti sabun pencuci tangan yang beraroma kuat, bukan mengubah resep tanpa alasan.
Deni mengaduk adonan terlalu keras sampai tepung beterbangan. Kelana tertawa dan berkata Papa Arman pasti lebih pandai. Keluarga Arman tidak membandingkan kedua pria itu. Mereka hanya mengatakan Arman juga pernah membuat kue gosong.
Saat kue matang, Kelana memilih satu untuk difoto dan dikirim kepada Ibu melalui pendamping. Foto itu diberi keterangan dari Kelana, bukan laporan tentang keluarga yang bahagia tanpa dirinya.
Ibu Kelana membalas beberapa jam kemudian bahwa bentuk kuenya mirip batu tetapi ia ingin mencicipi suatu hari nanti. Kelana tidak tersinggung. Ia menyimpan resep untuk pertemuan berikut tanpa meminta janji kapan mereka akan memasak bersama.
Malam itu gambar empat lingkaran kembali dibuka. Kelana menarik garis tipis dari lingkarannya menuju Bayi, lalu segera menghapus sebagian hingga tinggal bekas samar.
'Kelana salah?' tanya Gea.
'Belum tahu bayinya baik atau berisik.'
'Belum tahu boleh.'
Gea tidak menyuruhnya menggambar ulang. Bekas garis itu tetap ada, menunjukkan bahwa hubungan dapat dicoba tanpa harus langsung ditetapkan.