Panggilan video mingguan pertama setelah rencana baru berlangsung hanya delapan menit. Kelana bercerita tentang presentasi foto di sekolah, sedangkan ibunya menunjukkan gambar rambut Kelana yang berdiri saat bayi. Tidak ada pembicaraan tentang kepulangan.
Gea duduk di meja lain menyelesaikan tugas kampus. Ia dapat terlihat ketika Kelana menoleh, tetapi tidak masuk kamera sampai anak itu memanggil.
'Mama, fotonya lucu,' kata Kelana.
Ibu Kelana menarik napas. Tangannya menegang pada tepi album, lalu mengendur.
'Gea boleh lihat kalau Kelana mau,' katanya.
Kalimat itu kecil, tetapi berbeda dari sekadar bertahan melihat wajah Gea. Kelana membawa tablet mendekat. Gea melihat foto dan tertawa karena rambut bayi Kelana benar-benar berdiri seperti sikat.
'Mirip Ayah kalau bangun tidur,' katanya.
'Hei,' protes Deni dari belakang kamera.
Kelana tertawa. Ibunya juga tersenyum singkat sebelum wajahnya kembali sedih saat mendengar suara adiknya. Dokter menawarkan jeda, tetapi ia memilih menyelesaikan satu menit terakhir.
Setelah panggilan, Kelana tidak menangis. Ia berlari mengambil gambar empat lingkaran dan menunjukkan bekas garis yang pernah dihapus menuju Bayi.
'Kalau bayi bisa dengar cerita, berarti dia kenal Kelana?' tanyanya.
'Mungkin nanti dia mulai mengenali suara yang sering didengar,' jawab Gea. 'Tapi sekarang dia masih tumbuh.'
'Kelana boleh baca cerita buat titik?'
'Boleh kalau mau.'
Kelana memilih buku paling pendek. Ia duduk di samping Gea dan membaca dengan banyak kata terlewat. Deni hendak membetulkan, tetapi Gea memberi isyarat agar membiarkannya selesai. Cerita itu bukan ujian membaca.
Sesudahnya, Kelana menarik garis baru dari lingkarannya menuju Bayi. Garis itu tipis dan berbelok menghindari lingkaran Mama.
'Kenapa muter?' tanya Deni.
'Biar punya jalan sendiri.'
Gea merasakan matanya panas. Ia tidak memeluk Kelana sampai anak itu sendiri menyandarkan kepala ke lengannya.
Pada pemeriksaan trimester awal berikutnya, dokter menyatakan perkembangan kehamilan sesuai usia dan hasil pemeriksaan dasar tidak menunjukkan masalah yang tampak saat itu. Ia tetap menjelaskan batas pemeriksaan dan jadwal pemantauan selanjutnya.
Deni sudah tidak menghitung setiap gejala, tetapi ia masih menyimpan tiga pilihan ranjang bayi. Gea akhirnya mengizinkan mereka melihat ukuran kamar tanpa membeli apa pun. Kelana ikut membawa meteran dan mengukur hampir semua benda, termasuk boneka kelincinya.
'Bayi tidur di kamar Mama dulu?' tanyanya.
'Rencananya begitu waktu masih kecil,' jawab Gea. 'Nanti kita atur lagi sesuai kebutuhan.'
'Nggak di kamar Kelana?'
'Nggak.'
Jawaban konsisten membuat Kelana lega. Ia lalu menawarkan satu kotak kosong untuk menyimpan buku bayi, tetapi meminta stiker di atasnya tetap miliknya.
'Kotaknya boleh dipakai, stikernya jangan dicopot,' katanya.
'Deal,' ujar Deni.
Mereka tidak menyebut tindakan itu bukti Kelana sudah menerima calon adik sepenuhnya. Malam berikutnya, anak itu tetap marah ketika Gea terlalu lelah membaca cerita dan menuduh bayi mengambil waktunya. Deni membacakan cerita pengganti, sementara Gea berjanji mengganti waktu pada pagi hari dan benar-benar melakukannya.
Di rumah sakit, ibu Kelana menerima ringkasan bahwa anaknya mulai berbicara kepada calon bayi. Wajahnya berubah muram.
'Berarti dia senang punya keluarga baru,' katanya.
'Dia sedang mencoba membangun hubungan. Kemarin dia juga marah karena Gea lelah,' jawab dokter. 'Jangan pakai satu tindakan untuk menyimpulkan seluruh perasaannya.'
Perempuan itu meminta kertas. Ia menulis pesan untuk Gea, menghapusnya dua kali, lalu memilih kalimat singkat: Jaga kesehatanmu. Kelana butuh orang dewasa yang tidak memaksakan diri.
Dokter bertanya apakah ia ingin menambahkan ucapan selamat. Ia menggeleng.
'Aku belum bisa.'
'Tidak perlu menulis yang tidak Ibu rasakan.'
Pesan itu dikirim melalui pendamping. Gea membacanya tanpa menganggap sebagai penerimaan penuh. Ia membalas bahwa dirinya mengikuti saran dokter dan Kelana tetap dirawat bersama Deni serta keluarga, bukan dibebankan kepadanya seorang.
Sebelum mengirim balasan, Gea menunjukkannya kepada Deni hanya untuk memberi informasi, bukan meminta izin. Deni menyarankan menambahkan bahwa pemeriksaan berjalan baik. Gea menolak karena kakaknya belum meminta rincian medis dan ia tidak ingin setiap pesan berubah menjadi laporan kehamilan.
'Kamu benar,' kata Deni. 'Aku terlalu ingin bikin Kakak merasa aman.'
'Rasa aman dia nggak bisa dibangun dari akses ke semua hal tentang tubuh aku.'
Deni menghapus kalimat tambahan. Sebagai gantinya, ia mengirim catatan terpisah kepada dokter tentang jadwal Kelana dan kesediaannya membantu komunikasi.
Di rumah, orang tua Deni mulai membicarakan acara syukuran kecil. Gea meminta mereka menunda sampai ia siap. Mamanya sempat kecewa karena merasa keluarga hanya ingin berbahagia, tetapi ayah Deni mengingatkan bahwa kabar kehamilan tidak memberi hak mengatur waktunya.
'Nenek boleh senang, tapi jangan bikin acara dulu,' kata Kelana ikut menirukan.
Semua orang tertawa. Gea kemudian menjelaskan bahwa penundaan bukan karena malu terhadap bayi atau takut pada ibu Kelana. Ia hanya ingin menyelesaikan trimester awal tanpa menjadi pusat acara.
Mamanya menerima dan mengganti rencana acara dengan makan malam biasa. Ia juga bertanya kepada Kelana menu apa yang diinginkan, bukan menjadikan anak itu penghibur bagi Gea. Kelana memilih sup jagung lalu mengingatkan agar tidak ada kue bertuliskan calon kakak. Permintaannya dicatat tanpa ejekan.
Balasan tersebut membuat ibu Kelana diam lama. Ia kemudian bertanya apakah Gea harus selalu berada dekat pintu pada pertemuan selanjutnya. Dokter menjelaskan keputusan itu milik Kelana dan dapat berubah sesuai kebutuhannya.
'Kalau pertemuannya bukan di rumah sakit?' tanyanya.
'Tempat netral baru dipertimbangkan setelah asesmen. Mengapa Ibu bertanya?'
Perempuan itu mengatakan ruang rumah sakit membuat Kelana terus melihat pintu dan jam. Ia ingin mencoba bertemu di taman kecil dalam kawasan perawatan, bukan taman luar yang pernah dipakai saat kondisi belum stabil. Tempat itu memiliki jalur keluar, petugas dekat, dan tidak terasa seperti kamar terapi.
Tim tidak langsung menyetujui. Mereka memeriksa kestabilan satu pekan, risiko rangsangan luar, cuaca, serta kesiapan Kelana. Pertemuan akan dibatasi lima belas menit tanpa makanan bersama dan tanpa pembicaraan tentang pulang.
Ketika pilihan tersebut disampaikan, Kelana melihat foto taman lebih dahulu. Ada bangku panjang dan meja bundar. Ia bertanya di mana dokter duduk, di mana pintu kembali ke gedung, dan apakah Gea boleh ikut.
'Mama bisa menunggu di bangku dekat jalur keluar,' kata pendamping. 'Tapi Ibu akan melihat Mama sepanjang waktu.'
'Ibu boleh?'
'Kami belum tahu. Kami akan tanya.'
Jawaban ibu datang keesokan hari. Ia setuju Gea terlihat di taman. Bahkan ia meminta agar Gea tidak bersembunyi di balik pintu karena Kelana akan terus menoleh.
Kelana menerima rencana dengan satu syarat: ia ingin membawa gambar empat lingkaran yang kini memiliki tiga garis.
Pertemuan pertama di luar ruang terapi dijadwalkan sepuluh hari kemudian. Itu bukan izin pulang dan bukan bukti keluarga telah utuh. Namun, untuk pertama kalinya ibu Kelana memilih tempat yang memberi ruang terlihat kepada Gea, bukan sekadar menoleransinya di ambang pintu.