Sepuluh hari sebelum pertemuan taman tidak dibiarkan menjadi waktu tunggu tanpa arah. Tim rumah sakit memeriksa cuaca, jalur keluar, suara kendaraan dari jalan belakang, dan jarak bangku menuju gedung. Ibu Kelana menjalani tiga latihan berada di luar ruang perawatan tanpa anaknya.
Pada latihan pertama, bunyi rem mobil membuatnya memanggil Arman dan berjalan cepat menuju gerbang. Perawat menghentikannya sebelum melewati batas taman. Ia marah karena merasa diperlakukan seperti tahanan, lalu menolak kembali ke bangku.
'Kalau Kelana tadi ada, apa yang terjadi?' tanya dokter setelah ia tenang.
Perempuan itu menatap kedua tangannya. 'Dia mungkin ikut lari.'
'Atau dia tertinggal ketika Ibu mengejar suara.'
Kesadaran itu menyakitkan. Ia meminta pertemuan dibatalkan karena menganggap dirinya belum pantas menjadi ibu. Dokter tidak menerima keputusan yang dibuat saat rasa malu sedang tinggi. Mereka menunda pembahasan sampai keesokan hari, lalu menyusun latihan baru dengan rekaman suara kendaraan pada tingkat rendah.
Pada latihan kedua, ia berhasil menyebut bahwa suara tersebut mengingatkannya pada kecelakaan Arman. Ia tetap duduk sambil memegang kartu kecil berisi tanggal hari ini dan lokasi rumah sakit. Pada latihan ketiga, sebuah motor melintas dan ia meminta jeda sebelum kepanikan membesar.
'Apakah itu berarti aku siap?' tanyanya.
'Itu berarti Ibu punya keterampilan yang kemarin belum dapat digunakan,' jawab dokter. 'Keputusan pertemuan tetap melihat kondisi Ibu dan Kelana pada hari yang sama.'
Kelana juga diajak melihat taman tanpa ibunya. Ia berjalan dari bangku menuju pintu gedung bersama pendamping, menghitung dua puluh tiga langkah, lalu memilih bangku tempat Gea menunggu. Bangku itu berada cukup dekat untuk dipanggil tetapi tidak menempel pada meja pertemuan.
'Kalau Kelana lari ke Mama, Ibu sedih?' tanyanya.
'Mungkin Ibu sedih,' jawab pendamping. 'Kelana tetap boleh mendatangi Mama. Perasaan Ibu dibantu dokter.'
'Kalau Mama mual?'
'Mama bisa memberi tahu dan pendamping lain menggantikan. Kelana tidak ditinggal tanpa penjelasan.'
Gea hadir pada peninjauan kedua. Ia memastikan ada tempat duduk teduh dan toilet dekat, tetapi tidak meminta seluruh rencana diubah karena kehamilannya. Dokter kandungan sudah mengatakan ia boleh datang selama merasa baik, makan lebih dahulu, dan tidak memaksakan diri jika pusing.
Deni ingin menunggu di dalam mobil tepat di depan taman. Tim menolak karena mobilnya dapat terlihat oleh ibu dan mengganggu latihan terhadap suara kendaraan. Ia akhirnya bersedia menunggu di ruang keluarga dalam gedung.
'Semua orang punya tempat kecuali aku,' keluhnya saat pulang.
'Tempat kamu ada. Cuma bukan yang paling dekat,' kata Gea.
'Aku takut nggak tahu apa-apa kalau terjadi sesuatu.'
'Pendamping akan menghubungi. Kamu bukan dikeluarkan, Den. Kamu lagi diminta percaya sama tim dan sama Kelana.'
Deni mengaku lebih mudah mengambil alih daripada menunggu. Gea mengingatkan bahwa beberapa bulan lalu kebiasaan itu membuatnya menuduh tanpa bertanya. Pria tersebut tidak membela masa lalunya. Ia meminta satu tugas yang benar-benar dibutuhkan dan mendapat tanggung jawab menyiapkan tas Kelana sesuai daftar anak itu.
Tas tersebut hanya berisi boneka kelinci, gambar empat lingkaran, air minum, tisu, dan baju ganti. Deni hampir memasukkan obat, tiga makanan ringan, payung besar, dua mainan tambahan, dan kamera.
'Pertemuannya lima belas menit, bukan pindahan,' kata Gea.
'Cuaca bisa berubah.'
'Payung ada di rumah sakit.'
Kelana mengeluarkan kamera lebih dahulu. 'Nggak boleh foto tanpa izin.'
Deni menurut. Ia menyadari aturan yang dahulu harus diingatkan orang dewasa kini sudah dipahami anak empat tahun.
Di kampus, Gea memulai tugas kelompok baru setelah proyek observasi selesai. Ia memilih topik yang tidak berkaitan dengan keluarga atau kesehatan agar hidup akademiknya tidak terus meniru masalah rumah. Putri menyusun jadwal diskusi, Rangga mengurus referensi, dan Gea mengambil bagian analisis awal.
Ketika seorang teman dari kelas lain melihat perutnya yang mulai sedikit berubah dan bertanya apakah ia hamil, Gea menjawab iya tanpa memberikan rincian. Ia tidak lagi harus menyembunyikan, tetapi juga tidak wajib menjadikan tubuhnya berita kampus.
'Udah berapa bulan?' tanya teman itu.
'Cukup buat dipantau dokter,' jawab Gea sambil tersenyum.
Putri mengalihkan percakapan ke tugas. Tidak ada foto atau pengumuman daring.
Setelah kelas, Gea memeriksa grup mahasiswa dan menemukan ucapan selamat dari dua orang yang mendengar percakapan tadi. Ia berterima kasih, lalu menulis bahwa kabar tersebut belum untuk disebarkan ke media sosial. Salah satu dari mereka sudah hampir membuat unggahan, tetapi menghapus draf setelah membaca pesannya.
'Lo nggak bisa ngontrol semua orang,' kata Putri.
'Gue tahu. Tapi gue bisa bilang batas gue dengan jelas.'
Gea juga menghubungi bagian akademik sendiri untuk mencatat penyesuaian medis bila kelak dibutuhkan. Ia tidak meminta Deni menelepon pimpinan kampus. Formulir diproses seperti milik mahasiswa lain, disertai surat dokter secukupnya tanpa membuka seluruh riwayat kehamilan.
Ketika petugas menawarkan jalur khusus karena nama suaminya, Gea menolak. Ia ingin bantuan yang memang menjadi haknya, bukan kemudahan yang membuat teman lain mempertanyakan hasil kerja.
Dua hari sebelum pertemuan, ibu Kelana mengalami mimpi buruk lagi. Kali ini ia mampu menyalakan lampu, membaca kartu tanggal, dan memanggil perawat tanpa berlari ke lorong. Paginya ia menceritakan mimpi tersebut dalam sesi, termasuk rasa marah kepada Arman karena meninggalkannya.
'Aku nggak pernah boleh marah sama orang mati,' katanya.
'Kematian Arman tidak menghapus semua perasaan Ibu terhadapnya,' jawab dokter.
Ia menangis, tetapi tidak meminta pertemuan dibatalkan. Ia justru menambahkan satu aturan: jika suara kendaraan memicu ingatan, dokter harus mengalihkan Kelana ke sisi taman lain sementara ia menenangkan diri.
Pada malam terakhir, Kelana memilih pakaian sendiri dan menaruh gambar lingkaran di atas tas. Ia berkata belum ingin memberikan gambar itu kepada Ibu, hanya memperlihatkan.
'Kalau Ibu minta dibawa?' tanya Deni.
'Kelana bilang ini punya Kelana.'
'Bagus.'
Gea mengingatkan bahwa Kelana boleh berubah pikiran pagi nanti. Tidak ada orang yang akan mengatakan sepuluh hari persiapan terbuang.
Pagi pertemuan datang dengan langit mendung tetapi tanpa hujan. Tim memeriksa kedua pihak sekali lagi. Ibu Kelana mengatakan jantungnya berdebar dan tetap ingin mencoba. Kelana mengatakan perutnya terasa geli dan juga tetap ingin datang.
Deni berhenti di ruang keluarga sesuai kesepakatan. Gea berjalan bersama Kelana menuju taman. Dari kejauhan, mereka melihat ibu sudah duduk di meja bundar dengan kertas warna dan beberapa pensil.
Kelana menggenggam tangan Gea lebih kuat. 'Mama duduk di bangku yang itu.'
'Iya.'
'Jangan jauh-jauh.'
'Mama tetap kelihatan.'
Pendamping memberi tanda bahwa waktu lima belas menit dimulai hanya setelah Kelana memilih duduk. Anak itu melepaskan tangan Gea perlahan, berjalan ke meja, lalu menaruh boneka kelinci di kursi sebelahnya.
Untuk pertama kalinya, tidak ada pintu di antara Kelana dan ibunya. Hanya ada taman terbuka, jalan keluar yang terlihat, dan Gea yang duduk di tempat yang telah dipilih anak itu sendiri.