Ibu Kelana tidak langsung memeluk anaknya. Ia menunjukkan kertas warna yang disediakan rumah sakit dan bertanya apakah Kelana ingin menggambar atau hanya duduk.
'Gambar daun,' jawab Kelana.
Mereka memilih daun yang sudah jatuh. Tidak ada yang diizinkan memetik tanaman. Ibu meletakkan daun di bawah kertas, lalu menggosokkan sisi pensil sampai bentuk tulangnya muncul. Kelana mencoba terlalu keras dan merobek kertas pertama.
'Nggak apa-apa,' kata ibunya. 'Kita pakai kertas lain.'
Kelana menoleh kepada Gea. Perempuan itu masih di bangku dekat jalur keluar sambil membaca bahan kuliah. Setelah memastikan Gea melihatnya, Kelana mengambil kertas kedua.
Ibu mengikuti arah tatapan anaknya. Rahangnya mengeras, tetapi ia kembali memegang daun. Dokter yang duduk beberapa langkah dari meja tidak perlu memberi peringatan.
'Mama lagi belajar?' tanya Kelana.
'Kelihatannya begitu,' jawab ibunya.
Itu pertama kalinya ia menyebut panggilan Mama dalam kalimat tanpa langsung menangis. Suaranya tetap kaku, dan Kelana memandangnya dengan heran.
'Ibu bilang Mama.'
'Ibu cuma mengulang panggilan Kelana.'
'Iya.'
Anak itu tidak meminta lebih. Ia menggosok pensil lebih pelan sampai bentuk daun muncul utuh. Ibunya memuji usahanya, bukan mengatakan hasil Kelana paling bagus.
Pada menit kelima, sebuah motor terdengar dari jalan belakang. Tangan ibu Kelana berhenti. Wajahnya kehilangan warna dan matanya mencari gerbang.
'Itu suara motor, sekarang hari Sabtu, kita ada di taman rumah sakit,' kata dokter tenang.
Perempuan itu membaca kartu tanggal di pergelangan tangannya. Ia meminta Kelana berjalan bersama pendamping ke pohon dekat bangku Gea selama dua menit.
'Ibu mau pergi?' tanya Kelana.
'Ibu mau tenangin napas. Kelana boleh dekat Mama Gea dulu.'
Kata-kata itu keluar terputus, tetapi jelas. Kelana mengambil boneka lalu berlari kecil ke Gea. Gea tidak bertanya apakah ibu membuatnya takut. Ia hanya memberi ruang di bangku dan menunjukkan jam pasir kecil yang dibawa pendamping.
'Kalau pasirnya habis, kita tanya Kelana mau balik atau selesai,' kata pendamping.
Dua menit kemudian, ibu Kelana sudah kembali memandang meja, bukan gerbang. Ia tidak memaksa anak melanjutkan. Kelana sendiri berjalan kembali setelah melihat dokter mengangguk.
'Ibu nggak pergi,' katanya.
'Nggak. Ibu tadi ingat suara yang bikin takut.'
'Suara kecelakaan Papa?'
Perempuan itu menarik napas. 'Iya. Tapi motor tadi bukan motor Papa. Sekarang kita di sini.'
Kelana duduk. Tidak ada penjelasan rinci tentang kecelakaan. Mereka melanjutkan gambar daun dengan waktu tersisa tujuh menit.
Satu pensil hijau jatuh dan bergulir dekat bangku Gea. Kelana hendak mengambil, tetapi ibunya lebih dahulu berdiri. Dokter mengingatkan agar tidak bergerak cepat ketika masih pusing. Gea mengambil pensil tersebut dan berjalan setengah jarak.
'Aku taruh di sini, ya,' katanya.
Ibu Kelana mengangguk. 'Terima kasih.'
Kelana melihat pertukaran itu dengan senyum lebar. Ia hampir berkata bahwa Ibu sekarang suka Mama, tetapi Gea menggeleng kecil. Satu ucapan terima kasih tidak boleh dipaksa menjadi perasaan yang belum ada.
Ketika waktu tinggal tiga menit, Kelana mengeluarkan gambar empat lingkaran. Ia menunjukkan garis menuju Ibu, Mama, dan Bayi.
'Bayi sekarang punya jalan sendiri,' katanya.
'Bagus,' jawab ibunya, lalu ekspresinya berubah. 'Ibu belum punya garis ke bayi.'
'Nggak harus. Ini gambar Kelana.'
Jawaban itu sama dengan batas yang telah mereka ajarkan. Ibu Kelana menerima tanpa meminta salinan. Ia bertanya apakah garis menuju dirinya boleh diberi warna merah muda. Kelana mengizinkan satu titik kecil di ujung garis, tetapi tidak membiarkannya menggambar seluruh bagian.
Pengatur waktu berbunyi. Kelana belum selesai membuat cetakan daun ketiga dan terlihat ingin meminta tambahan. Pendamping mengatakan waktu tetap berakhir sesuai kesepakatan agar pertemuan yang menyenangkan pun memiliki batas dapat dipercaya.
'Kertasnya boleh dibawa Kelana?' tanya ibu.
'Yang Kelana bikin, boleh. Yang Ibu bikin, Ibu bawa,' jawab anak itu.
Mereka membagi tiga kertas. Satu robek dibuang setelah keduanya setuju, satu dibawa Kelana, dan satu disimpan ibu. Tidak ada benda yang dijadikan alasan untuk memperpanjang pertemuan.
Kelana berdiri di depan ibunya. Kali ini ia membuka kedua tangan, tetapi berhenti sebelum menyentuh.
'Ibu boleh peluk?' tanyanya.
Ibu Kelana mengangguk sambil menangis. Pelukan berlangsung lebih lama dari genggaman tiga detik, tetapi perempuan itu melepaskan ketika Kelana mundur. Ia tidak mencium berkali-kali atau memintanya tinggal.
'Sampai ketemu lewat video,' katanya.
'Iya.'
Kelana berjalan ke bangku Gea sambil membawa gambar daun. Sebelum meninggalkan taman, ia menoleh dan melambaikan tangan. Ibunya membalas dari meja, tetap duduk sampai dokter menyatakan anak itu telah masuk gedung.
Di ruang debrief, Kelana mengatakan bagian terbaik adalah daun dan bagian paling menakutkan adalah suara motor. Ia juga menyebut Ibu menyuruhnya mendatangi Mama ketika takut.
'Berarti Ibu udah suka Mama?' tanyanya.
'Belum tentu,' jawab Gea. 'Ibu tahu Mama tempat aman buat Kelana. Itu cukup untuk hari ini.'
Pendamping meminta Kelana menggambar posisi semua orang saat suara motor terdengar. Kelana menaruh Ibu dekat meja, dokter di sampingnya, dan dirinya di bangku Gea. Ia tidak menggambar siapa pun berlari keluar taman.
'Kalau lain kali ada suara lagi, Kelana mau apa?' tanya pendamping.
'Lihat Ibu dulu. Kalau Ibu bilang ke Mama, Kelana ke Mama.'
'Kelana juga boleh memilih selesai meski Ibu ingin lanjut.'
Anak itu menambahkan boneka kelinci di dekat jalur keluar sebagai tanda berhenti. Gambar tersebut disalin untuk tim, sedangkan kertas asli dibawa pulang.
Di rumah, Kelana menempel cetakan daun di lemari es, tetapi tidak mau menceritakan pertemuan kepada nenek melalui telepon. Deni hampir mengambil alih penjelasan. Gea menghentikannya dan mengatakan pengalaman itu milik Kelana.
'Kelana cerita nanti kalau mau,' ujar anak itu.
Nenek menerima tanpa merajuk. Malamnya Kelana hanya berkata Ibu bisa menggambar daun dan takut suara motor. Tidak ada yang meminta rincian pelukan.
Deni masuk setelah pendamping mengizinkan. Ia memeluk Kelana dan bertanya apakah anak itu ingin pulang atau makan di tempat lain. Kelana memilih pulang. Pertemuan di taman tidak diubah menjadi perayaan.
Ibu Kelana menjalani debrief lebih lama. Setelah kegembiraan pelukan mereda, ia merasa malu karena membutuhkan jeda saat mendengar motor. Dokter menunjukkan bahwa meminta Kelana menjauh sementara justru tindakan perlindungan.
'Aku menyuruhnya ke Gea,' katanya seperti baru menyadari.
'Iya.'
'Aku benci rasanya.'
'Dan Ibu tetap memilih kebutuhan Kelana.'
Perempuan itu memandangi gambar daun yang dibawanya. 'Aku belum mau tinggal satu rumah sama Gea.'
'Tidak ada yang meminta itu.'
'Tapi semua orang bicara kalau aku pulang.'
'Rencana saat ini bukan pulang ke rumah Deni.'
Kalimat tersebut menempel lebih kuat daripada pujian tentang pertemuan. Malam itu ibu Kelana mulai bertanya, jika suatu hari keluar dari perawatan penuh, rumah mana yang sebenarnya akan menjadi tempatnya.