Di Sebuah Kampung Pinggiran Kota Surabaya.
Jalanan kampung dipinggiran kota Surabaya dimalam hari dengan suasana sedikit berbeda dengan perumahan elit maupun pusat kota. Seorang pemuda berpakaian sekolah dan memakai jas identitas sekolahnya berjalan menyusuri jalanan. Pemuda itu adalah Rangga,dia terus berjalan hingga sampai depan sebuah rumah. Rangga pun melepaskan sepatunya dan mententeng sepatunya. Diapun mengetuk pintu rumah tersebut.
"Assalamuaikum,asaalamualikum mbah ??".
"Waalaikumsalam !!".
Tak lama pintu terbuka,dan muncullah seorang wanita tua yang sekitar berumur 48 tahun. Rangga mencium tangan wanita tua tersebut,yang ternyata wanita tua itu adalah nenek Rangga dari ayahnya. Nenek Rangga dikenal orang-orang dengan nama Bu Sumirah.
"Ya Allah le,awakmu kok baru mulih sekarang ?? Darimana kamu ?? Tadi Mbah ketemu arek-arek diantaranya ada Cakra dan Rendi di jalan,katanya kamu pulang terlambat. Terus ini kenapa mukamu kok ajur kabeh ?? Baru gelut maneh yo ??".
"Mbah ceritanya panjang,Rangga capek. Rangga tak mandi dulu baru nanti Rangga cerita".
"Hmm yowes mandi dulu sana terus makan,mbah juga ada yang mau diomongin. Tapi kamu udah sholat maghrib sama isya kan ??".
"Udah mbah, Rangga tak mandi dulu ya ??".
"Yowes mandi dulu sana".
Akhirnya Rangga pun pergi membawa tas,sepatu kekamar. Setelah itu dia melepas baju seragam dan membawa handuk kekamar mandi.
Setelah mandi dan berganti baju diapun berjalan menuju ruang makan. Rangga hanya memakai kaos santai dan celana boxer saja. Di ruang makan neneknya sudah menunggu.
"Sekarang kamu makan dulu,nanti baru cerita",ucap Nenek Sum.
Rangga makan dengan lahap karena memang perutnya sudah keroncongan dari tadi karena belum diisi. Semua masakan neneknya dilahap habis. Bagi Rangga tidak ada masakan yang paling enak selain masakan neneknya,apalagi neneknya sekarang memasak makanan favoritnya yaitu rujak cingur. Setelah selesai makan Rangga membawa piring untuk dicuci,tapi neneknya menghentikan.
"Udah nanti aja biar Mbah yang ngebersihin,sekarang kamu cerita kenapa wajahmu bonyok begitu ?".
"Hmmmm,oh ini. Ehmm tadi ada sedikit kerusuhan di dekat sekolah,karena merasa tidak aman dan ingin melindungi warga sekitar ya terpaksa kami berantem",ucap Rangga berbohong. Dia juga tidak mungkin berkata jujur kalau dia bonyok karena cuma menantang berkelahi Wisnu.
"Kamu ini kerjaanmu berantem terus. Kamu ini masih ingusan,kamu gak pantas terlalu ikut campur masalah orang disekitarmu",ucap Mbah Sum menasihati. Rangga yang mendengar nasihat neneknya hanya bisa diam.
"Lagian juga kamu sudah Mbah suruh pindah juga tetep gak mau. Kenapa sih kamu tetep sekolah di sekolahan itu ??"
"Mbah kenapa aku masih ingin sekolah di Wonotirto karena ayah dulu juga sekolah disitu,dan juga aku ingin buat pandangan orang terhadap Wonotirto berubah. Wonotirto bukan hanya tempat anak-anak berandalan yang dianggap sampah masyarakat".
Rangga pun diam sebentar,kemudian dia melanjutkan.
"Dan mengenai kenapa kami selalu bentrok dan tawuran itu semata-mata karena kami ingin melindungi masyarakat dari geng,kelompok,dan para penjahat yang menggangu ketentraman. Para penegak hukum di negeri ini tidak bisa diandalkan,mereka hanya memihak kaum berduit daripada masyarakat kecil seperti kita".
Mbah Sum yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas.
"Yaudah le kalau itu mau mu,tapi kamu harus bisa menjaga diri jangan mudah terpancing emosi karena kamu masih muda masih labil. Mbah tidak mau kejadian ayahmu dulu kembali terulang",ucap Mbah Sum sambil menitikkan air mata teringat kejadian yang menimpa anaknya.
Melihat mbahnya menangis Rangga segera bangkit dan memeluk mbahnya dari belakang.
"Iya Mbah Rangga paham,Rangga tidak akan bernasib seperti ayah".
Mbah Sum segera mengusap air matanya. Dia kemudian berkata,
"Oh iya le tadi eyang kakung dan eyang putrimu telpon Mbah". Mendengar eyang kakung dan eyang putrinya Rangga terdiam dan melepaskan pelukannya.
"Kenapa mereka menelpon Mbah ??"
"Eyangmu kangen kamu le,besok mereka ulang tahun pernikahan. Mereka mau kamu hadir diacara keluarga sebagai obat kangen mereka".
Rangga pun diam dan dia segera berbalik dan mau menuju kamarnya. Mengetahui hal itu Mbah Sum segera menghentikannya.
"Rangga bagaimanapun mereka adalah keluargamu,eyangmu. Kamu harus tetap menghormati mereka,eyang harap kamu besok mau datang ya le ??".
"Iya Mbah,sepulang sekolah Rangga akan langsung menuju ke rumah eyang",jawab Rangga sambil terus berjalan kearah kamarnya. Didalam kamarnya Rangga terdiam dan terpejam matanya. Dia mengingat peristiwa 13 tahun yang lalu dimana dia dibawa ke rumah mbahnya oleh ibunya. Masih teringat jelas diingatkannya bahwa ibunya mengatakan tidak ingin bertemu dengannya,dan mengatakan bahwa dia anak pembawa sial. Sehingga tak terasa air matanya secara tiba tiba mengalir. Diapun memandangi foto ayahnya,ibunya,dirinya ketika masih berusia 2 tahun. Foto itu diambil beberapa bulan sebelum ayahnya tewas tertabrak mobil. Dia pun akhirnya terpejam dan mulai terlelap dalam tidurnya.
SMA Wonotirto
Pagi yang cerah menyambut kota Surabaya. Di sebuah sekolah menengah yang cukup luas di kota Surabaya yang dikenal dengan sekolah berandalan paling ditakuti yaitu SMA Wonotirto. Di depan gerbang sudah berdiri Rangga yang memakai baju dan celana seragam sekolah dan memakai jaket biru bermotif Garuda dipunggungya. Membawa tas ransel,sepatu sneakers putih,dan tidak lupa pengikat kepala warna hitam bermotif batik selalu dipakainya. Dia masuk sekolah dan berjalan menuju kelasnya yang ada dilantai tengah. Sepanjang perjalanan ketika berpapasan dengan guru dia selalu mengangguk kan kepala dan mengucapkan salam. Perlu diketahui meskipun SMA Wonokromo terkenal dengan murid laki-laki berandalan yang suka berkelahi dan tawuran,tapi mereka tetap melakukan kegiatan belajar seperti sekolah lainnya,meskipun kegiatannya sedikit berbeda. Para guru disini sebenernya hanya mengajar secara singkat dan jarang masuk kelas karena tahu kelakuan murid disini yang sulit diatur. Mereka hanya mementingkan uang hasil dari tarikan siswa dan mereka juga lepas tanggung jawab jika ada siswa Wonotirto terkena masalah,dan para siswa mengetahui namun mereka acuh terhadap itu semua. SMA Wonotirto yang sering bentrok dengan berbagai kelompok tak luput harus bersinggungan dengan aparat keamanan. Namun karena mereka kesulitan mengatur semua siswa disini sehingga mereka kerap kali kesusahan untuk mengatur mereka. Karena hal itulah sekolah ini begitu terkenal seantero Surabaya bahkan diluar kota sekalipun.
Setelah sampai di kelasnya Rangga disambut oleh murid lain termasuk Cakra dan Rendi satu kelas dengannya. Mereka pun mengobrol untuk beberapa saat sebelum guru datang untuk memulai pelajaran. Selang beberapa waktu terdengar bunyi bel tanda istirahat berbunyi. Cakra mengajak Rangga untuk pergi ke markas mereka dilantai atas untuk membicarakan sesuatu. Rangga yang tidak mengetahui apa-apa maksud dari Cakra akhirnya hanya mengikuti Cakra. Mereka bertiga yaitu Rangga,Cakra,dan Rendi segera menuju markas mereka. Setelah sampai di markas mereka sudah menunggu para petinggi yaitu Kevin dan Nawang. Tak lupa disitu juga ada Roni,Juni,dan Ludi dari kelas 1 yang sudah terbiasa kumpul dengan kakak kelasnya dan dianggap yang memegang kelas 1. Sebenarnya yang dimaksud markas disini adalah lantai teratas dari sekolah tersebut dan ruangan terbuka. Disitu juga ada bendera dan spanduk bergambar lambang mereka. Tak lama kemudian rangga memulai pembicaraan.
"Apa yang ingin kau bicarakan Cakra ?",tanya Rangga sambil duduk di sofa kecil,yang ternyata digunakan sebagai singgasananya. Sementara itu Cakra duduk disebuah tong yang terbalik.
"Ada rokok Rangga ??",tanya Cakra
Rangga yang sudah mengerti sifat sahabatnya ini,kemudian mengeluarkan satu bungkus rokok dan menaruhnya di bawah. Cakra langsung mengambil satu batang dan menyalakannya.
"Huffft,baiklah Rangga aku langsung saja",Cakra berhenti sejenak. Semua yang ada disitu diam memperhatikan.
"Kau harus segera mengakhiri perselisihan dengan Wisnu".
Rangga yang mendengar itu sontak langsung terkejut.
"Apa maksudmu Cakra ?".
"Apa kau pikir aku tidak bisa mengalahkannya dan menganggap aku lebih lemah dari dia ? Sehingga kau memintaku untuk berdamai dengan orang itu !!! Apa itu maksudmu ?".
"Oi sabar dulu Rangga,dengarkan penjelasan dari Cakra dulu ? Lanjutkan Cakra !',sela Rendi sambil memakan keripik singkongnya.
"Hei Rangga sekarang aku tanya apa keuntunganmu jika menang dari Wisnu ?".
"Haahhhh ??"
"Begini jika kau menang dari Wisnu kau hanya akan mendapatkan kesenangan sesaat,kau tahu masih ada hal yang lebih besar dari Wisnu".
"Apa maksudmu ??"
"Oke akan kujelaskan,kau tahu bahwa kita ini berada di kota Surabaya,kota terbesar di Jawa Timur. Dan kota Surabaya masuk di wilayah yang bernama Gerbangkertosusilo,dimana wilayah ini adalah wilayah paling berbahaya no 2 di Indonesia khususnya pulau Jawa. Di wilayah ini bukan kita saja kelompok yang besar".
"Lebih besar dari kita ?? Coba jelaskan lebih jelas Cakra !!",ucap Nawang.
"Hei Ludiii !!!",teriak Cakra.
Ludi pun langsung kedepan membawa papan tulis,spidol,dan kayu kecil. Dia pun langsung menggambar dan menulis sesuat. Semua orang disitu memperhatikan Ludi.
"Oke semuanya,saudara-saudara sekalian tolong perhatikan. Ludi sang informan akan memberikan informasi,jadi tolong semuanya dengarkan!!!!",ucap Ludi.
"Woi Jerangkong cepat jelaskan,jangan bertele-tele!!!",teriak Roni.
"Woi b*****t diam dan cukup dengarkan !!",jawab Ludi. Kemudian Ludi langsung melanjutkan.
"Dahulu sekitar 17 tahun yang lalu,di daerah Gerbangkertosusilo ada 4 geng besar yang menguasai daerah ini,dan salah satu dari 4 geng tersebut adalah sekolah kita !!".
"Wahhhh !!!",semuanya serentak bersorak.
"Tidak kusangka sekolah kita dulu segitu kuat dan besarnya",ucap Kevin.
"Oke dari 4 geng tersebut kita bahas yang pertama yaitu sekolah kita. Dulu sekolah kita terkenal dengan geng yang memiliki kekuatan yang besar. Mereka menguasai kota Surabaya dan sekitarnya. Ada 3 orang terkuat di kelompok ini yaitu Tony William,Zhang Chou,dan pemimpin tertinggi mereka yaitu Arya Buana !!!".
Orang-orang disitu terkejut mendengar nama itu.
"Oi nama belakang pemimpinnya sama dengan nama ketua",ucap Juni.
Semua orang disitu menoleh kearah Rangga.
"Yaa,pemimpin itu adalah alm ayah Rangga",ucap Cakra.
"Heehhh ?? Benarkah itu Rangga ??",tanya Kevin yang keheranan.
"Aku baru mengetahuinya",ucap Nawang.
"Aku dan Cakra sudah mengetahuinya sejak dulu,karena kami bersahabat sejak kecil. Dan ayah Rangga meninggal karena kecelakaan",kata Rendi sambil terus memakan keripik nya.
Semua orang terdiam hingga membuat suasana hening. Rangga pun kembali menghisap rokoknya kemudian berkata,"Sudahlah kalian tidak usah memikirkannya,teruskan penjelasannya Ludi !!",kata Rangga.
"Wahhh keren sekali,ketua kami memang memiliki darah yang hebat !!! Oke aku akan melanjutkan setelah ketiganya lulus,sekolah Wonotirto perlahan mulai menghilang dan sudah tidak kembali berkecimpung di dalam perseteruan wilayah ini. Kemudian yang kedua ada nama Kalawisa Group. Diantara semua geng mungkin inilah yang benar-benar menggambarkan mafia. Mereka yang paling bernafsu untuk menguasai Gerbangkertosusilo. Mereka berpusat di Sidoarjo dan menguasai beberapa sektor bisnis maupum politik. Pemimpin mereka Reyza Manganang sangat berambisi untuk menjadi penguasa. Dan ketiga ada nama Al-Mudamir,si brutal dari Bangkalan".
"Bobabo sudah kuduga nama mereka masuk daftar",kata Rendi.
"Kau mengenal mereka gentong ??",tanya Nawang.
"Semua orang di Madura mengetahui nama itu,orang-orang Arab sialan",jawab Rendi.
"Ya seperti yang dikatakan Cak Rendi,orang-orang keturunan Arab ini penguasa di tanah Madura. Nama pemimpinnya adalah Ja'far. Tapi sayang nasin mereka tidak terlalu baik. Mereka hancur dalam sebuah pertempuran melawan Kalawisa. Dalam pertempuran itu juga membuat Kalawisa harus kehilangan kekuatan begitu besar sehingga membuat mereka harus mundur untuk beberapa lama. Yang keempat ada nama Surapati Brothers".