Cahaya kecil di ujung timur perlahan naik ke atas, mengusir kegelapan yang sempat menyembunyikan Tanah Silla. Dayang Kepala Choi tampak tengah membantu Hwa Goon, menyisir rambut panjang sang Putri Mahkota seperti hari-hari sebelumnya. Namun ada hal yang menarik perhatian Dayang Choi saat itu, di mana ia masih mendapati wajah murung sang Putri Mahkota di saat Putra Mahkota sendiri sudah kembali dari perantauannya.
Memberanikan untuk bertanya, Dayang Choi berucap dengan sangat berhati-hati, "Putri Mahkota ..." teguran kecil yang membuat pandangan sang Putri Mahkota terarah pada wajahnya.
"Kenapa Putri Mahkota terlihat murung pagi ini?"
Pandangan Hwa Goon kembali terjatuh. Sembari tangannya yang kembali menyisir rambutnya ia berucap, "apa ... Putra Mahkota belum memberi kabar?"
"Eh?" Dayang Choi tentu saja terkejut, jelas-jelas tadi malam dia bertemu dengan Tae Hwa dan Tae Hwa mengatakan akan bermalam di sana. Dan kerterkejutan kecilnya tersebut lantas berhasil kembali menarik perhatian Hwa Goon.
"Ada apa?"
Dayang Choi yang masih bingung pun lantas menggeleng, mungkinkah Hwa Goon belum melihat Tae Hwa? Kiranya itulah yang berada dalam pikiran Dayang Choi saat ini. Dan benar bahwa Hwa Goon sama sekali belum melihat wajah Tae Hwa, karena pagi-pagi sebelum Putri Mahkota itu terbangun, Tae Hwa sudah lebih dulu kembali ke Paviliunnya. Bukannya ingin mempermainkan Hwa Goon, sepertinya Tae Hwa hanya ingin menunda pertemuannya dengan Hwa Goon.
"Wajah Dayang Choi terlihat gelisah, mungkinkah telah terjadi sesuatu?"
Dayang Choi dengan cepat menggeleng, lebih memilih berpura-pura tidak tahu tentang kepulangan Tae Hwa. "Tidak apa-apa, aku hanya baru mengingat sesuatu yang sangat penting."
"Apa itu?"
Dayang Choi kembali bingung untuk memberi jawaban yang tidak ia miliki, namun pintu kamar yang dibuka secara perlahan berhasil menyelamatkan. Dari sana seorang dayang junior masuk dan berjalan mendekat dengan kepala yang tertunduk setelah sebelumnya menutup pintu.
Si dayang muda sejenak membungkuk ke arah Hwa Goon dan beralih menjatuhkan kedua lututnya di samping Dayang Choi.
"Ada apa?"
Si dayang junior lantas mendekat dan membisikkan sesuatu kepada Dayang Choi, "Kasim Cha ingin bertemu dengan Dayang Kepala."
Guratan keheranan tiba-tiba terlihat di wajah Dayang Choi, untuk apa Kasim dari paviliun Putra Mahkota itu ingin bertemu dengannya. Dayang Choi memberikan tatapan menuntutnya pada si dayang junior yang mengangguk dengan yakin, dan setelah tak memiliki alasan untuk menolak undangan dari Kasim Cha, Dayang Choi pun mempertemukan pandangannya dengan Hwa Goon.
"Putri Mahkota, aku memiliki urusan yang harus diselesaikan. Biarkan Yeon Woo yang berada di sini dan menemani Putri Mahkota."
Hwa Goon mengangguk, tampak tak memiliki keberatan. Setelahnya Dayang Choi pun beranjak pergi dan tepat setelah Dayang Choi menutup pintu dari luar, saat itu pula dayang junior bernama Yeon Woo itu segera mendekatkan diri pada Hwa Goon.
"Bagaimana perasaan Putri Mahkota pagi ini?" tanya gadis itu dengan tatapan yang antusias seperti hari-hari sebelumnya.
"Masih sama seperti yang kemarin."
Kedua alis Yeon Woo saling bertautan, menatap sang Putri Mahkota dengan tatapan yang lebih menuntut lagi.
"Kenapa melihatku seperti itu?"
"Putri Mahkota ini aneh atau apa, Putra Mahkota sudah ..."
Perkataan Yeon Woo terhenti ketika Dayang Choi kembali membuka pintu dan berjalan ke arah keduanya di saat Hwa Goon kembali menjatuhkan pandangannya pada Yeon Woo.
"Putra Mahkota sudah apa?"
Dayang Choi yang mendengar pertanyaan Hwa Goon pun segera mempercepat langkahnya.
"Putra Mahkota sudah ..."
"Putri Mahkota," celetuk Dayang Choi seakan tengah ingin menghentikan perkataan Yeon Woo. Menyisakan kebingungan di antara Hwa Goon dan Yeon Woo. Namun saat itu sebelum duduk di sebelah Hwa Goon, Dayang Choi memberikan isyarat menggunakan matanya kepada Yeon Woo yang bukannya mengerti justru semakin bertambah bingung.
"Ada apa?" tegur Hwa Goon ketika Dayang Choi sudah duduk di sampingnya.
"Cuaca di luar sangat cerah, udara pagi sangat cocok untuk Putri Mahkota. Bagaimana jika kita pergi keluar sekarang?"
Yeon Woo menatap penuh selidik ke arah Dayang Choi yang terlihat begitu mencurigakan. Gadis itu memeluk lengan Hwa Goon dan sedikit mendekat kemudian berucap, "Dayang Choi terlihat sangat mencurigakan."
Dayang Choi dengan cepat memukul lengan Yeon Woo. "Apa yang kau bicarakan?"
Yeon Woo hanya mendengus sebal dan mencibir tanpa suara.
"Putri Mahkota tidak perlu mendengarkan ocehan anak ini. Lebih baik kita pergi sekarang."
Meski ragu, Hwa Goon mengangguk dan di sambut oleh senyum lebar Dayang Choi yang segera membantunya merapikan rambutnya. Setelahnya Hwa Goon pergi meninggalkan paviliunnya, mengikuti arahan yang di berikan oleh Dayang Choi dan berakhir pada taman di dekat danau.
Cahaya matahari yang masih malu-malu menyusup di antara dedaunan dari pohon-pohon besar yang mengapit jalan. Begitu hangat dan menenangkan ketika suara burung terdengar seperti tengah melantunkan sebuah nyanyian.
Mengikuti arahan dari Dayang Choi, semua dayang yang berjalan di belakang sang Putri Mahkota pun berhenti. Membiarkan Hwa Goon memilih jalannya sendiri. Saat itu Yeon Woo diam-diam mendekati Dayang Choi dan membuat pandangan Dayang Kepala itu jatuh padanya.
"Apa yang sedang Dayang Choi rencanakan?" selidik Yeon Woo dengan nada berbisik.
Dayang Choi dengan gemas mendorong kening Yeon Woo menggunakan telunjuknya sebelum menaruh telunjuknya tersebut di depan bibirnya sendiri. "Sssttt, jangan banyak bicara dan diam saja."
"Ishh... kenapa Dayang Choi selalu mendorong kepalaku?" protes Yeon Woo.
Hwa Goon yang sudah berjalan beberapa meter dari mereka pun berbalik, sedikit heran karena para dayang itu tidak mengikutinya. Namun Dayang Choi yang menyadari tatapan sang Putri Mahkota pun segera membungkukkan badannya sekilas dan memberikan tatapan peringatan pada Yeon Woo yang kemudian ikut menunduk.
Tak merasa ada hal yang aneh, Hwa Goon pun kembali mengalihkan pandangannya. Perhatiannya terjatuh pada beberapa kelopak bunga yang bermekaran di sisi jalan. Perlahan dia melangkahkan kakinya mendekati bunga-bunga tersebut dan tanpa sepengetahuannya, Dayang Choi memberikan intruksi kepada seluruh dayang untuk meninggalkan tempat tersebut.
Ekor mata Hwa Goon sempat menangkap pergerkan para dayang tersebut dan hal itu membuat keheranan terlihat di garis wajahnya, kenapa semua orang meninggalkannya sendiri?
Memilih tak terlalu mempermasalahkan hal itu, Hwa Goon kembali menfokuskan pandangannya pada beberapa kelopak bunga penuh warna yang berada di hadapannya. Memancing seulas senyum terlihat di kedua sudut bibirnya.
Sedikit merasa aneh, Hwagoon sendiri tidak mengerti akan dirinya. Dulunya dia bukanlah gadis penggila bunga dan hal-hal manis lainnya. Namun semenjak hidup sang calon bayi di dalam perutnya, dia justru menyukai hal yang tak pernah ia perhatikan sebelumnya.
Hwa Goon adalah sosok gadis yang kuat dan memiliki ketegasan yang tidak diragukan lagi, terlebih ketertarikannya akan pedang. Namun sifatnya justru berbanding terbalik sejak ia mengetahui bahwa ia akan menjadi seorang ibu sebentar lagi. Bukan sesuatu yang direncakan, ia sendiri juga tidak sadar akan perubahan dalam dirinya. Dan bahkan ia tidak memiliki ketertarikan lagi terhadap pedang.
Perlahan tangan Hwa Goon terulur untuk menyentuh salah satu kelopak bunga di hadapannya, namun tepat saat tangannya hampir bersentuhan dengan kelopak bunga tersebut. Saat itu sebuah telapak tangan lebar tiba-tiba terulur dan mendapatkan punggung tangannya.
"Kelopak bunga cantik itu bisa saja melukai tanganmu."