"Kelopak bunga cantik itu bisa saja melukai tanganmu."
Batin Hwagoon tersentak, merasa sangat familir dengan suara berat namun terdengar begitu lembut tersebut. Tangannya diturunkan oleh tangan lain yang menggenggam punggung tangannya. Membimbing langkahnya untuk berbalik dan menemukan seulas senyum hangat yang telah ia nantikan selama kurang lebih satu bulan lamanya.
"Apa aku mengejutkanmu?" Tae Hwa kembali berucap.
Tak ada jawaban, Hwa Goon tiba-tiba memeluk Tae Hwa dengan lembut dan hal itu sempat membuat Tae Hwa terkejut. Mengingat bahwa sebelumnya istrinya itu tidak akan berani memeluknya terlebih dulu. Namun setelahnya senyum itu melebar sebelum ia membalas pelukan Hwa Goon. Merengkuh dengan lembut wanita yang sudah bersedia untuk menunggunya.
Kelopak mata Hwa Goon perlahan terpejam. Namun setelah itu, terlihat air mata yang keluar dari kelopak mata sang Putri Mahkota yang telah menutup. Tae Hwa merasakannya, deru napas yang terdengar memberat dalam rengkuhannya dan membuatnya sadar bahwa mungkin dia benar-benar telah melukai hati wanita yang saat ini berada dalam rengkuhannya.
"Aku minta maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi," terucap sebagai pengganti pengakuan dosa.
Hwa Goon lantas melepaskan pelukannya dan segera berbalik, berdiri membelakangi Tae Hwa dengan kepala yang menunduk. Membuat Tae Hwa kembali dibuat bingung akan tingkah sang istri yang berubah terlalu banyak dalam satu bulan.
Hwa Goon mengusap bekas air mata di wajahnya dan saat itu Tae Hwa mendekatinya, mendapatkan kedua bahu Hwa Goon dan membalik tubuh wanita itu dengan lembut. Mempertemukan pandangan keduanya setelah perpisahan singkat bagi Tae Hwa, namun begitu panjang bagi Hwa Goon.
Tae Hwa menggunakan tangan kirinya untuk mengusap bekas air mata di wajah Hwa Goon yang kemudian berakhir dengan menangkup wajah sang istri.
"Apa aku benar-benar telah menyakitimu?"
Hwa Goon menggeleng.
"Lalu, hal apa yang sudah membuatmu menangis?"
"Kapan Putra Mahkota datang?" tak berusaha menjawab, merasa masih malu untuk mengungkapkan perasaan rindunya. Sang Putri Mahkota lebih memilih mengalihkan pembicaraan.
Tae Hwa pun menarik kedua tangannya yang kemudian ia letakkan di belakang tubuhnya. Dia lantas menjawab, "semalam."
"Semalam?" terlihat gurat heran dalam wajah Hwa Goon.
"Kau sudah tidur ketika aku datang."
Hwagoon lantas menjatuhkan pandangannya, merasa tak memiliki hal lain untuk ditanyakan.
"Maukah kau ikut denganku?" sebuah teguran yang membuat Hwa Goon kembali mengangkat wajahnya, menatap Tae Hwa, seakan bertanya ke manakah mereka akan pergi.
"Aku membawa pulang Chang Kyun bersamaku," diakhiri oleh seulas senyum yang begitu lembut.
Mengerti maksud Tae Hwa, Hwa Goon pun mengangguk dan keduanya lantas mulai berjalan beriringan dengan tenang tanpa ada yang mengeluarkan sebuah kata untuk melunturkan kecanggungan yang kini dirasakan oleh sang Putri Mahkota.
Langkah Hwa Goon tertinggal satu langkah di belakang Tae Hwa. Dan saat itu pandangan sang Putri Mahkota jatuh pada tangan Tae Hwa yang saling bertautan di belakang tubuh. Ingin rasanya Hwa Goon menggandeng tangan itu, namun logikanya segera menyadarkannya bahwa hubungan keduanya tidak sedekat itu sampai harus berjalan sembari bergandengan tangan. Meski Tae Hwa pun juga tidak akan menolaknya jika ia melakukan hal itu.
Hwa Goon larut dalam lamunannya dan hal itu tanpa sadar membuatnya semakin jauh tertinggal. Dan Tae Hwa yang menyadari bahwa istrinya telah menghilang dari sisinya pun segera menghentikan langkahnya. Memutar kakinya, seketika kerutan itu terlihat di dahi Tae Hwa ketika melihat Hwa Goon berjalan dengan pandangan yang tak fokus.
Tak berniat menegur, Tae Hwa lebih memilih menunggu hingga Hwa Goon sampai di tempatnya. Dan setelah berada di hadapan Tae Hwa, Hwa Goon tersadar dari lamunannya. Merasa terkejut ketika mendapati wajah Tae Hwa berada tepat di depan wajahnya karena saat itu Tae Hwa sedikit mencondongkan tubuh ke depan.
"Kau melamun?" tegur Tae Hwa kemudian.
Hwa Goon mundur selangkah dan segera menggeleng dengan kepala yang sedikit tertunduk. Dan lagi-lagi membuat Tae Hwa terheran dengan sikapnya yang terkesan penurut. Untuk sejenak Tae Hwa merasa asing dengan sikap Hwa Goon.
Apakah mungkin itu sifat Hwa Goon yang sesungguhnya?
Menepis semua pemikirannya tentang wanita di hadapannya, Tae Hwa mengulurkan tangan kanannya kepada Hwa Goon dan membuat Putri Mahkota itu kembali mengangkat wajahnya.
"Berjalanlah di sampingku."
Hwa Goon menjatuhkan pandangannya seiring dengan tangannya yang terulur dan kemudian langsung disambut oleh tangan Tae Hwa yang lantas membimbing langkahnya untuk berjalan beriringan. Untuk pertama kalinya sejak pertemuan pertama mereka, pada akhirnya harapan kecil Hwa Goon untuk berjalan sembari bergandeng tangan dengan Tae Hwa pada akhirnya terwujud.
Diam-diam, seulas senyum itu tercipta di kedua sudut bibir Hwa Goon. Perlahan ia memberanikan diri untuk memegang lengan Tae Hwa menggunakan tangannya yang terbebas.
Tak merasa keberatan, Tae Hwa justru menggenggam punggung tangan Hwa Goon yang tengah memegang lengannya. Hal kecil yang membuat Hwa Goon bahagia. Merasa bahwa penantiannya selama ini telah terbayarkan dengan impas.
°°°°
Setelah berjalan tak terlalu jauh, Tae Hwa membawa Hwa Goon menepi. Dan saat itu pula langkah Hwa Goon terhenti ketika ia melihat Chang Kyun yang telah menunggu mereka di atas perahu yang berada di tepi danau. Pandangannya sempat bertemu dengan Tae Hwa sebelum genggaman tangannya terlepas saat Tae Hwa mulai menuruni tangga batu untuk mencapai tempat Chang Kyun berada.
Berada di anak tangga batu nomor dua, Tae Hwa menghentikan langkahnya dan mengulurkan tangannya pada Hwa Goon yang kemudian menerima uluran tangannya tangannya. Tae Hwa kemudian membuat Hwa Goon mengikuti langkahnya untuk menuruni tangga batu.
Namun baru dua anak tangga terlewati, Hwa Goon dikejutkan oleh Tae Hwa yang tiba-tiba mengangkat tubuhnya. Membuat satu tangannya refleks berpegangan pada bahu Tae Hwa, sedangkan tangan lainnya menyentuh d**a Tae Hwa.
"A-aku bisa berjalan sendiri," perkataan yang terucap dengan sangat gugup.
"Mulai detik ini, aku akan benar-benar menjagamu."
Semburat merah tiba-tiba muncul di kedua pipi Hwa Goon yang segera menunduk. Tak ingin jika ia tertangkap oleh Tae Hwa, meski Tae Hwa sendiri sudah melihat hal itu dengan jelas.
Tae Hwa lantas kembali menuruni anak tangga dan dengan hati-hati naik ke atas perahu. Setelah berhasil berdiri di atas perahu, Tae Hwa merendahkan tubuhnya dan menurunkan Hwa Goon dengan sangat berhati-hati, tak ingin menyakiti wanita yang saat ini mulai mendapatkan sepenuh hatinya yang pernah terpecah sebelum pertemuan mereka kembali.
Setelah mendapatkan tempat yang nyaman bagi Hwa Goon, Tae Hwa pun mengambil tempat duduk yang berada tepat di sebelah Hwa Goon. Tepatnya di ujung perahu. Sedangkan Chang Kyun yang sedari tadi duduk di sudut lain pun mulai menggerakkan dayungnya untuk membawa tuan beserta sang istri mengelilingi danau pagi itu.
Sejenak kecanggungan menyelimuti ketiganya, dan saat itu Tae Hwa sadar bahwa Hwa Goon berusaha menghindari kontak mata dengannya. Hal itu justru Tae Hwa manfaatkan untuk memperhatikan wajah sang calon ibu dari anaknya yang sekian lama tak ia lihat. Hingga tangan itu terangkat untuk menyingkirkan beberapa helai rambut yang membuatnya terganggu. Saat itu pula pandangan keduanya kembali dipertemukan.
"Bagaimana keadaanmu?" pertanyaan itu terucap oleh mulut Tae Hwa.
"Hamba baik-baik saja."
"Tidak adakah hal yang ingin kau tanyakan padaku?"
Hwa Goon menggeleng. Sekalipun dia memiliki sesuatu untuk ditanyakan, dia lebih memilih untuk menyimpannya sendiri.
"Jika begitu, aku ada."
Tae Hwa sejenak memandang Chang Kyun yang juga melihat ke arah mereka tanpa menghentikan pergerakan kedua tangannya yang terus mendayung, seakan tengah meminta izin sebelum pandangannya kembali terjatuh pada Hwa Goon.
Kedua tangan Tae Hwa kemudian terulur pada Hwa Goon dan mendapatkan punggung wanita muda itu yang kemudian ia tarik dengan lembut ke dalam rengkuhannya. Hwa Goon sempat terkejut, namun ia tak memberontak ketika sebuah usapan jatuh pada bagian belakang kepalanya hingga turun ke punggungnya. Memberikan sebuah kenyaman yang selalu ia rindukan setiap waktunya.
Pergerakan tangan Tae Hwa terhenti pada punggung sempit Hwa Goon. Mulut itupun lantas terbuka untuk berucap, "aku pikir ... aku sudah bisa memberikan sepenuhnya hatiku padamu."
Sebuah gumaman yang membimbing Hwa Goon mendongakkan wajahnya dan mempertemukan pandangan keduanya dalam jarak yang begitu dekat.
Tae Hwa kembali berucap, "aku bisa memberikan seluruh hatiku untuk mencintaimu, sekarang."
Tae Hwa lantas memutus jarak di antara keduanya, mendaratkan ciuman lembut pada bibir Hwa Goon yang segera memejamkan matanya. Merasa sangat terkejut namun juga ingin menangis.
Chang Kyun yang menjadi saksi atas pengungkapan cinta dari tuannya pun menjatuhkan pandangannya ke samping hingga salah satu sudut bibirnya yang perlahan terangkat. Menjadikan seulas senyum tipis yang hanya mampu bertahan selama beberapa detik.
Tae Hwa menjauhkan wajahnya, mempertemukan tatapan keduanya untuk yang kesekian kalinya. Ia sekilas memandang Chang Kyun yang menghindar untuk melihat mereka dan hal itu membuat kedua sudut bibirnya terangkat menjadi seulas senyum yang kemudian ia jatuhkan pada Hwa Goon.
"Chang Kyun menertawakanmu."
Chang Kyun mengangkat wajahnya, namun Hwa Goon justru menyembunyikan wajahnya. Dia memeluk Tae Hwa, meredam rasa malu bercampur bahagianya. Dan saat itulah terdengar kekehan ringan keluar dari mulut Tae Hwa sebelum tawa ringan itu memudar ketika pandangannya kembali dipertemukan dengan Chang Kyun.
"Aku sudah menepati janjiku," batin Tae Hwa.
Senyum Tae Hwa terbalaskan ketika Chang Kyun mengalihkan pandangannya dan tak mampu menahan sudut bibirnya untuk tidak terangkat. Pada akhirnya wajah dingin pemuda itu terlihat lebih hangat ketika seulas senyum tipis melukis rahang tegasnya.
Setelahnya semua berlalu hanya dengan keheningan di saat tak ada yang berusaha untuk bersuara. Dan setelah cukup lama menghabiskan waktu di atas permukaan danau, Tae Hwa menyuruh Chang Kyun untuk menepikan perahu ketika dirasa bahwa sepertinya Hwa Goon tertidur dalam pelukannya.
"Dia tidur," gumam Tae Hwa memberitahukan pada Chang Kyun di saat keduanya masih berada di posisi masing-masing.
"Tidak biasanya dia seperti ini. Apa semua wanita yang sedang hamil akan seperti ini?" Taehyung kembali berucap.
"Apa maksud Putra Mahkota?"
"Dia berbeda, sangat berbeda sejak terakhir kali aku melihatnya."
Chang Kyun turut merenung karena jujur bukan hanya Tae Hwa yang merasa bahwa sikap Hwa Goon sangat berbeda, melainkan dirinya sendiri. Sejak ia melihat Hwa Goon sebelumnya, dia menangkap perbedaan yang sangat tampak di raut wajah sang Putri Mahkota.
"Mungkinkah telah terjadi sesuatu saat aku pergi?" suara Tae Hwa yang kembali menarik perhatiannya Chang Kyun.
"Hamba pikir bukan itu penyebabnya."
"Lalu?"
"Hamba pernah mendengar bahwa wanita akan bersikap seperti itu ketika sedang mengandung."
Tae Hwa mengulum senyumnya, tak habis pikir dengan perkataan Chang Kyun.
"Dari mana kau mendegarnya?"
"Ibu hamba pernah mengatakannya kepada hamba."
"Apa yang beliau katakan padamu?"
"Ibu hamba mengatakan bahwa sikap kasar dan angkuh Putri Mahkota akan luntur ketika Putri Mahkota mengandung. Mohon maaf atas kelancangan hamba ini."
Bukannya marah, Tae Hwa justru menarik senyumnya dengan begitu lebar. Mungkinkah sikap Hwa Goon saat ini adalah bawaan dari sang calon bayi yang berada dalam perut istrinya tersebut.
"Apa lagi yang pernah kau dengar dari beliau tentang wanita yang sedang mengandung?"
Chang Kyun tak langsung menjawab, dia sejenak terdiam karena merasa aneh dengan pertanyaan Tae Hwa. Kenapa tiba-tiba melakukan konsultasi perihal tentang wanita hamil padanya. Bahkan dia masih belum memiliki pasangan.
Menyadari perubahan pada garis wajah Chang Kyun, Tae Hwa pun kembali menarik senyumnya dan berucap, "aku hanya ingin berusaha memperlakukan istriku dengan semestinya."
Chang Kyun lantas memberikan jawaban, "menurut ibu hamba, wanita yang sedang mengandung akan cenderung lebih sensitif. Hati mereka bisa terluka hanya dengan hal-hal kecil sekalipun."
Mendengar hal itu, Tae Hwa pun menjatuhkan pandangannya pada Hwa Goon yang masih berada dalam pelukannya.
"Jadi, bukankah mulai sekarang aku harus lebih berhati-hati lagi?" gumamnya yang lebih ditujukan kepada diri sendiri.
Mereka pun kemudian turun dari perahu dengan Tae Hwa yang mengangkat tubuh Hwa Goon dengan hati-hati dan membawanya kepada para dayang yang telah menunggu mereka di tempat sebelumnya.
Saat itu, Dayang Choi yang melihat kehadiran mereka pun tampak terkejut dan segera berlari dengan panik diikuti oleh para dayang junior di belakangnya.
"Putri Mahkota," ucap Dayang Choi, sarat akan kekhawatiran.
"Dia hanya tidur."
"Tidur?" para dayang saling bertukar pandang, sama-sama bingung dengan perkataan Tae Hwa. Bagaimana mungkin Putri Mahkota mereka tidur sepagi ini?
"T-tapi, tapi ini masih terlalu pagi bagi Putri Mahkota untuk tidur, Putra Mahkota," ucap Dayang Choi sembari menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa. Jika dia tidak bangun, jangan dibangunkan. Biarkan dia bangun atas kehendaknya sendiri."
"Y-ye, ye."
Tae Hwa lantas berbalik menghadap Chang Kyun. "Aku ingin menemui Baginda Raja, bisakah kau mengantarkan Putri Mahkota kembali ke paviliun?"
Chang Kyun sempat meragu. Namun setelah netra keduanya dipertemukan, pemuda itu pun mengangguk. Perlahan Tae Hwa memindahkan Hwa Goon dari tangannya ke tangan Chang Kun dengan sangat berhati-hati, seakan sedikit gerakan yang berlebihan bisa menyakiti istrinya.
"Pergilah," ucap Tae Hwa ketika Hwa Goon telah berpindah tangan.
Chang Kyun kembali mengangguk dan setelahnya berjalan melewati Tae Hwa yang mengantarkan kepergiannya dari tempatnya. Para dayang di hadapan Tae Hwa pun segera menundukkan kepala mereka sebelum mengikuti Chang Kyun berjalan menjauhi area taman.
Saat itu seulas senyum kembali terlihat di kedua sudut bibir Tae Hwa yang kemudian membimbing langkahnya untuk berbalik dan berjalan ke arah berlawanan dengan rombongan yang sebelumnya meninggalkannya.
"Sekarang, aku akan berusaha untuk menebus dosa yang telah aku perbuat padamu selama ini."