ㅤㅤㅤ𝑨𝒊𝒌𝒐 terimpit di antara dua wanita berbadan subur. Jalinan rambut yang diikat menggunakan pita di belakang kepala kini mencuat ke berbagai arah. Arus manusia bergerak tanpa henti bagai gelombang di tengah laut pasang. Mengerahkan seluruh tenaga, Aiko berhasil menyelinap dan terhuyung-huyung menjauhi keramaian.
Pukul lima kurang. Berada di pasar pada pukul lima kurang bukanlah keberuntungan. Pedagang-pedagang nyaris menginvasi jalanan. Gerobak mereka. Meja-meja mereka. Akuarium dan kolam-kolam buatan di mana separuh ikan telah mengambang. Jika Martha tidak menjanjikan gula-gula, sekarang Aiko pasti sedang bersantai di ruang makan—mengenakan baju tidur berbahan katun—sembari menuntaskan buku bacaan.
Namun, mereka berdiri lama sekali di dalam toko beratap rendah, pengap, berbau tepung dan kayu apak. Martha kurang pandai menawar harga sehingga menimbulkan antrean panjang. 𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘶𝘢𝘭, 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘦𝘯𝘪𝘴 𝘨𝘢𝘯𝘥𝘶𝘮 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘶𝘳𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘰𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘰𝘺𝘢𝘯𝘨-𝘨𝘰𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘭𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯. Pria bermulut kejam berteriak dari belakang mereka, sementara wanita berwajah sendu tampak ragu-ragu untuk menunggu. Aiko sendiri ingin segera pergi. Selain lelah mendengar gerutuan orang-orang, dia pun cukup terganggu oleh sebuah patung porselen berbentuk moncong rusa. Pikir Aiko, 𝘚𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩 𝘢𝘯𝘦𝘩 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘳𝘢 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘳𝘶𝘩 𝘣𝘢𝘺𝘢.
"Tidak punya mata, ya?!"
Aiko menghadang seorang pesepeda. Ditilik dari ujung kaki sampai kepala, sosok di hadapan jelas tidak memiliki tata krama. Sedangkan, menurut si pemuda sendiri, Aiko adalah sejenis gadis pembangkang dan manja. Namun, kebisuan Aiko menghantarkan perasaan tak nyaman. Barang sebentar, netra yang dilihat hanyalah sepasang pupil bulat—mengibakan, menunjukkan kepolosan—dan ketika dia mengamati lebih lama, sorot itu balas menatap lancang; seakan menelanjangi, pun meremehkan.
"Kau bagaimana?"
Pertanyaan membingungkan menyentak kesadaran. Dia ingat bahwa orang kaya suka sekali menyamar dan merias diri sedemikian rupa; sengaja membuat masalah dengan warga biasa sebelum melepas rambut palsu mereka kemudian berteriak, "𝘏𝘢! 𝘒𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘶! 𝘏𝘶𝘬𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘪!"
"Maafkan saya, Nona."
Sentuhan pelan di pundak Aiko sedikit mengejutkan. Ini dia! Keributan ternyata selalu berhasil menarik perhatian. Biar Aiko bayangkan: Martha tergopoh-gopoh datang, bernapas pendek karena kelelahan, tetapi luar biasa panik dan siap menghardik. 𝘠𝘢𝘩, 𝘉𝘪𝘣𝘪—pembelaannya tiba-tiba memiliki suara—𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘪𝘬𝘰.
Desember kemarin Martha murka bukan main. Rumah mereka dihias oleh boneka bertopi kerucut, bola-bola kaca bersalju, bahkan sulaman benang lucu. Namun, satu untai lampu pohon Natal tidak menyala. Aiko sangat kecewa dan menjadi pendiam. Sepanjang malam, Martha berusaha membangkitkan semangat sang keponakan. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘩𝘢𝘸𝘢𝘵𝘪𝘳, 𝘈𝘪𝘬𝘰. 𝘛𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘕𝘢𝘵𝘢𝘭 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, bujuk Martha sambil menyodorkan sepotong kue cokelat. 𝘈𝘱𝘢 𝘴𝘪 𝘉𝘢𝘫𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘋𝘢𝘷𝘪𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯?
Keceriaan Aiko kembali. Pada sisa malam mereka, pada esok harinya, pada saat tahun berganti hingga kini. Martha merapikan kamar dan Aiko membuka jendela. Martha menyiram bunga dan Aiko berlari mengitari pekarangan, melompat lalu melempar boneka ke udara. Aiko bahagia. Martha pun juga. Maka, Aiko yakin Martha tidak akan marah jika dia mengaku telah menggunting untaian lampu Natal lalu.
"Kalian perlu bantuan?"
Apa yang Aiko harapkan tidak terjadi. Martha terlalu berapi-api untuk bersikap tenang di situasi begini. Dia melangkah ke samping, menuntut si pesepeda agar segera melanjutkan kayuhan. Pandangan segan melewati Aiko disertai embusan angin kencang.
"Saya ingat. Remaja tadi beberapa kali merusak bunga-bunga saya."
Di bawah kaki Aiko adalah sepetak teras berlantaikan pualam hitam. Pot-pot tembikar membingkai di sisi kiri-kanan. Kelopak-kelopak bunga saling berdekatan. Penataannya sangat buruk dan, seakan-akan, semua bunga dicabut dari suatu tempat kemudian ditancapkan begitu saja.
"𝘗𝘦𝘰𝘯𝘺?" Tunjuk Aiko penasaran. "𝘉𝘶𝘯𝘨𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘨𝘢𝘶𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬—"
"𝘋𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘪."
Kutipan serupa diucapkan. Aiko menoleh, mendapati pria berkacamata tipis yang sedang merunduk sopan. Lengan kemeja seputih tulang dilipat apik di pergelangan tangan.
"Alan D. Hope," bisiknya jenaka. "Huruf tengah selalu misteri, bukan? 𝘋 bisa diartikan 𝘋𝘶𝘤𝘬 atau 𝘋𝘰𝘭𝘭."
Aiko menggeser posisi, tidak menghendaki orang asing mengakrabkan diri. "Derwent."
"Benar. Benar." Ada tarikan halus pada sudut bibir. "𝘐𝘳𝘪𝘴. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢𝘩, 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘪𝘫𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘱𝘶-𝘬𝘶𝘱𝘶 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘢𝘩."
Juru masak sering menghidangkan beragam makanan, menjelaskan bahan-bahan yang digunakan—menyuguhkan rasa terbaik untuk memuaskan sang tuan. Menurut Aiko, pria ini pun demikian. Masing-masing nama bunga disebutkan. Setiap langkah sengaja dilambatkan seolah mereka mengikuti pesta tahunan (pesta warga desa: pesta sederhana tanpa aula dansa).
"𝘒𝘳𝘪𝘴𝘢𝘯, 𝘴𝘢𝘭𝘷𝘪𝘢. Derwent memaparkan kemiripan antara cemara dan 𝘴𝘢𝘭𝘷𝘪𝘢, tetapi paman saya mencebik, menyebut 𝘢𝘱𝘪 𝘯𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢 di waktu makan malam mereka."
"Pamanmu pernah menemui beliau?" Aiko menuding, terselip nada tidak terima. "Tuan Hope sibuk menjelajahi dunia."
Tawa lepas membuat Aiko kesal. Namun, gambaran kritikus sadis beralis tebal—sosok congkak penerap pendapat mutlak—tak sesuai dengan perangai lembut yang terpancar.
"Kalau tidak salah, dia berada di belahan bumi bagian barat."
"Tuan Hope?" tanya Aiko mendesak.
"Bukan," sahutnya disusul senyuman. "Paman saya."
Perbedaan tinggi mereka amat kentara. Puncak kepala Aiko hanya mencapai d**a. Berjinjit kemudian menengadah, dia mengamati tanpa kata. Tatanan rambut rapi serta lekukan samar di kedua lesung pipi terekam atensi. Aroma kayu manis seketika menyergap saat pria itu memangkas jarak.
"Sebentar."
Tali di bahu kiri Aiko diraih perlahan. Penuh kehati-hatian, simpul dibenahi dan diikatkan ulang. Mereka tidak cukup dekat, tapi Aiko dapat merasakan embusan napas yang hangat.
"Ya Tuhan!"
Martha nyaris tersandung sebelum menyemburkan segudang omelan. Keranjang di genggaman terjejal tiga botol s**u, sekepal keju, dan seikat sayuran layu. Aiko ingin menanyakan sesuatu, tetapi sapaan ramah membungkam Martha lebih dulu. Perubahan intonasi nyata terdengar. Cuaca, harga pasar, bahkan isu-isu kerajaan diatasi Martha dengan benar.
𝘑𝘰𝘷𝘪𝘢𝘯.
Aiko berbalik memunggungi. Perbincangan mereka telah menjamah hal-hal pribadi. Memilih memisahkan diri, bunga ungu pucat dipetiknya tanpa permisi. Aiko tidak ingat nama bunga ini—lupa, barangkali.
Mereka berpamitan. Matahari sudah tenggelam ketika Aiko menceritakan dua toko baru di persimpangan, kedunguan pemuda urakan, dan buku-buku bacaan yang terpajang. Namun, Martha sibuk memperbaiki keliman pakaian. Sanggul keemasan dinaikkan—alur-alur mengganggu disembunyikan.
"Bibi."
Martha tersentak. "Astaga! Ada apa, Aiko?"
"Bibi lupa membeli gula-gula."
Permintaan maaf meluncur lirih. Padahal, senyuman Martha mengembang sejak tadi. 𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯, 𝘉𝘪𝘣𝘪? Mereka menyeberangi jembatan tua dengan aliran sungai kecil. Kerikil-kerikil berbatu menyambut pijakan. Jalan setapak diapit pepohonan menjulang dan pendar jingga di balik dedaunan menciptakan bayang-bayang mengerikan. Aiko mengangkat tangan, mencoba menangkap rembulan.
"Besok, aku akan membelikanmu gula-gula."
Aiko bahagia jika tidak menyadari air muka Martha: berseri, mendamba, seolah menanti pangeran berkuda—atau seorang pria pecinta bunga.