ㅤㅤㅤ𝑨𝒊𝒌𝒐 memimpikan padang tulip. Kelopak-kelopak bak beledu menari-nari ketika dia berlari. Amat ringan langkah kaki—terayun tanpa beban, bergerak tanpa paksaan.
𝘉𝘦𝘣𝘢𝘴 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪.
Seekor kelinci tiba-tiba menghampiri. Seputih kapas dan serapuh debu. Ada kesamaan; ada tekad, pun ketidakberdayaan.
𝘒𝘢𝘶 '𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶?
Tulip berguguran. Kelinci tadi lenyap, meninggalkan Aiko di tengah kesunyian. Namun, dia melihat diri sendiri. Di hamparan bunga 𝘱𝘦𝘰𝘯𝘺, dikelilingi mawar-mawar berduri, Aiko terduduk lunglai dengan kepala terkulai ke satu sisi. Helaian rambut dibelai perlahan sebelum terjatuh halus menyentuh lekuk pinggang. Tali gaun ditarik, terlepas hingga bahu kiri terpampang. Tak memandang, tak melawan—kosong menerawang dalam cengkeraman Jovian.
𝘔𝘢𝘵𝘪.
Ⅱ
Napas Aiko menghangatkan bantal. Jarang sekali dia berleha-leha setelah terjaga. 𝘒𝘢𝘴𝘶𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬𝘢𝘱 𝘈𝘪𝘬𝘰, alasan pertama dirancang sempurna, 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘦𝘯𝘥𝘦𝘭𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘬𝘢, dipastikan membuat kesal Martha. Dari celah tirai, sinar matahari menjulai. Aiko tidak bisa mengira-ngira pukul berapa sekarang karena musim panas selalu meneriakkan kebohongan. Meski serupa, musim dingin adalah pengecualian. Suram mendekap awan, salju berjatuhan, tetapi itulah yang dia butuhkan. Secangkir s**u, selimut berbulu, bahkan suara gemuruh dirindukannya ketimbang topi-topi berpita atau kemeriahan pesta di alun-alun desa.
Namun, Agustus merupakan bulan kemakmuran. Akhir musim panas sekaligus awal bagi musim gugur. Petani-petani menuai ladang dan anak-anak muda membawakan makanan; buah, bir, daging yang disantap saat rehat siang. Selama masa panen, lonceng gereja dibunyikan—menandakan kapan waktu memulai dan pulang.
Martha tidak memiliki lahan, sementara Aiko bukanlah gadis penurut yang berkenan menjinjing olahan domba atau botol-botol minuman. Maka, mereka memasang papan di pagar depan, berupaya menjerat bocah-bocah penyuka gula serta wanita-wanita penggila acara keluarga. Pai, tar, aneka biskuit dan roti membanjiri keseharian mereka, terkadang harus melapangkan d**a karena beberapa perempuan pelit—irit—memaksa untuk mengurangi harga.
Jendela diketuk-ketuk. Aiko kecil akan mengadu pada Martha—nyaris menangis ketika mengatakan ada jari tangan raksasa. Padahal, itu hanya ranting 𝘮𝘢𝘱𝘭𝘦; menjulang di pekarangan, menutupi separuh bangunan, dan mengintimidasi kedatangan orang-orang.
𝘈𝘯𝘦𝘩. 𝘋𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘔𝘢𝘳𝘵𝘩𝘢?
Aiko mengendap-endap menuju pintu lantas mengintip melalui lubang kunci. Dinding krem yang digantungi lukisan 𝘈𝘯 𝘈𝘯𝘨𝘦𝘭 𝘈𝘱𝘱𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘵𝘰 𝘉𝘢𝘭𝘢𝘢𝘮 tampak seperti aula gereja dibanding lorong sempit salah satu rumah biasa.
Bergeming. Hening.
Bagai memasuki dunia fantasi, Aiko melihat sekitar seolah baru pertama kali. Karpet ditumbuhi rerumputan berembun. Pohon-pohon membuka jalan dan menari. Lebat dedaunan menyatu di udara—membentuk kanopi. Menaungi, melindungi, menuntun ke arah kobaran api 𝘛𝘸𝘰 𝘈𝘭𝘭𝘦𝘨𝘰𝘳𝘪𝘤𝘢𝘭 𝘍𝘪𝘨𝘶𝘳𝘦𝘴.
Bilah sabit mengilap keji di apitan jemari sang tengkorak. Takhta dan kekayaan terinjak-injak. Sedangkan, wanita sederhana berdiri di atas sebuah roda yang tergeletak. Setangkai bunga di genggaman. Seekor burung di punggung tangan. Raga-raga fana menyaksikan, pun matahari dan rembulan. Kehidupan, kematian; keduanya saling berdampingan.
"Benar. Dia Margaret, teman saya."
Segala keajaiban sirna. Aiko tergesa-gesa menuruni tangga. Bertabrakan secara tak terduga, beradu pandang dan dekapan sigap di pinggang—seulas senyuman menyadarkan Aiko bahwa ini bukan khayalan. Jovian, beraroma semanis cendana, membantu Aiko mendapatkan kembali keseimbangan.
"Selamat pagi, Aiko," sapa Jovian ramah. Arloji di bawah lipatan lengan kemeja dengan cekatan diperiksa. "Oh. Selamat siang, Aiko," ralatnya, menyelami teduh sepasang netra sang lawan bicara.
"Sebelas?" Aiko bertanya seakan menghakimi penjual koran yang tak sengaja menumpahkan minuman.
Jovian berlutut, meniru sikap seorang pangeran. "Dua belas jam sebelum Henry menemukan sepatu kaca."
"Atau,"—jemari Aiko menodong dahi Jovian, berlama-lama untuk menyaksikan sebuah reaksi—"satu menit setelah para pemberontak dihukum mati?"
Pelukis atau penyair selalu melebih-lebihkan situasi. Di kanvas selebar separuh ruangan, Aiko pasti digambarkan sebagai putri belia yang menangis bahagia saat kekasih tercinta mengajukan pernikahan, dan keindahan prosa Jovian dilantunkan di pentas sandiwara setiap Sabtu malam.
"Teman wanita, huh? Aku kira kau cukup pendiam, Jovian." Martha muncul dari dapur sambil memegang secangkir teh. Gelenyar kejut menguasai sekejap. "Oh! Kau baru bangun, Aiko?"
Menurut Aiko, cara Martha berjalan sungguh ganjil; mirip pemabuk di bar-bar desa, tetapi memiliki kesadaran selayak hari-hari biasa. Ulir-ulir rumit bergoyang di pundak Martha. Bibirnya pun dipoles perona merah muda.
"Aiko nyaris tidak mengenalimu, Bibi," ucap Aiko tanpa rasa humor, selagi Jovian berdeham.
Martha tergegap-gegap. "Itu, ... hanya mencoba ... berdandan."
Aiko tak pandai memuji dan susuran tangga dijadikan pelampiasan: 𝘒𝘶𝘢𝘵, '𝘬𝘢𝘩? 𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴, '𝘬𝘢𝘩? 𝘛𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘢𝘱𝘢 𝘪𝘴𝘵𝘪𝘮𝘦𝘸𝘢𝘯𝘺𝘢? sembari mengamati kecanggungan Martha, memilah kata-kata yang tidak meluruhkan kepercayaan diri atau menyakitkan hati.
"Rambutmu," Aiko tersenyum lugu, "mengingatkan Aiko pada pegas kotak badut Natal lalu."
Ⅲ
Dapur adalah tempat ternyaman, tapi begitu canggung sekarang. Di ujung meja, Aiko tak berhenti menatap Jovian; menilai, merendahkan, atau apapun yang Martha anggap sangat tidak sopan. Jovian sendiri tampak tenang selama menikmati hidangan, bahkan—terhitung dua kali—menawarkan selai 𝘴𝘵𝘳𝘢𝘸𝘣𝘦𝘳𝘳𝘺 disertai senyuman.
"Bicaralah." Martha menyerah. Perlu sedikit pancingan agar Aiko mengatakan apa yang ingin disampaikan. "Aiko kurang suka roti 𝘷𝘢𝘯𝘪𝘭𝘭𝘢, ya?" Tiba-tiba, Martha menyumpah. Dia pernah menanyakan tentang cuaca atau rusa di perapian kepada Aiko saat bersama seseorang, dan muntahan kebencian membuat orang itu segera pamit untuk pulang.
"Kenapa dia di sini?"
Martha berjengit ibarat menelan pil pahit. "Paman, Aiko."
"Dia tidak terlihat seperti pria yang harus dihormati."
"Dengar," Martha nyaris akan melakukan kebiasaan lama; membelalakkan mata jika seseorang begitu keras kepala, "satu bulan lagi, usia Jovian menginjak dua puluh empat."
Berbeda dari semula, kini ucapan Martha mencerminkan gadis d***u di pesta dansa—malu-malu dan memuja. 𝘗𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮𝘢𝘯. 𝘚𝘦𝘤𝘢𝘳𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘳𝘵𝘢𝘴 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘯𝘢𝘮𝘱𝘢𝘯. 𝘛𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘨𝘶𝘮 𝘳𝘢𝘩𝘢𝘴𝘪𝘢, 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘶𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢.
"Anda tidak dapat dipercaya, Martha." Candaan Jovian membuat Martha salah tingkah. "Mari kita periksa apakah kebun Anda masih layak untuk ditanami perdu atau bunga-bunga."
Mereka pergi melalui pintu belakang, sementara Aiko memerhatikan dalam diam. Kaca jendela menembus ke luar, menangkap momen saat Martha tersenyum kepada Jovian. Aiko mendesah kecewa. Ternyata, Martha memang pelupa. Setelah meyakinkan diri bahwa dia membenci roti 𝘷𝘢𝘯𝘪𝘭𝘭𝘢, Aiko pun meninggalkan meja.
Langkah Aiko terhenti di anak tangga pertama. Dia mundur satu kali lantas meniup butiran halus dari permukaan laci. Jarang sekali Martha melalaikan kebersihan. Namun, terbesit kecurigaan. Aiko menarik pegangan berbahan besi dan menemukan sebuah bungkusan; terikat pita biru cerah, berisi gula-gula.