"raisa mana? Tumben nga barengan." tanya aldo heran sambil memperhatikan sekitar lina.
"lu nanyain raisa aja? Gue kagak? Jahat amat lu."
" lah terus yang berdiri di depan gue siapa? Lu kira gost."
"sialan, lu ngatain gue hantu? ." lina membulatkan matanya besar, dan memukul aldo hingga di dalam kelas.
" eh ntar nitip tanda tangan raisa ya, lu kan baik, boleh ya?" lina memasang wajah semanis mungkin berharap aldo akan membuat keterangan raisa hadir di dalam absen.
"wah gilak seorang cumlaude nitip absen, gilak gilak.."
Lina langsung menutupi mulut aldo, agar tidak terdengar oleh orang lain.
"ayolah al, kali ni aja bantuin sahabat gue, yah? Lagian dosen pasti percaya sama elu. Gue janji akan lakuin apa aja yang lu mau. " lina setengah berbisik dan memohon agar raisa tetap aman.
"ngak gue nga mau."
"dinner."
"hm..? Maksud lu..? "
" sebagai balasannya gimana kalau kita dinner, gue traktir."
"oke." jawab aldo singkat.
"astaga kenapa jadi gue yang kayak ngejar dia, aisshh begok." umpat batin lina.
"Oh raisa lu liat ni, demi lu gue jadi kayak gini, kurang cinta apa lagi gue ke lu rai, semoga pulang dari kantor lu bawa berita bahagia. Dan dinner? Kapan? Di mana?? Arghhh gue harus gimana? Aah nga nga lu harus tetap calm lin, oke?" lina berbicara sendiri sambil terus menenangkan hati nya yang sedang melompat lompat di dalam sana.
Flashback on
"al tolongin gue ya, besok gue nitip absen, plis kali ni aja, gue selama ni jadi mahasiswi baik kok, cuma kali ini aja gue nakal karena tuntutan kerja." raisa memelas dan putus asa karena besok dia ada kelas sekaligus rapat pertemuan klien, dua dua nya sangat lah penting sehingga dia tidak bisa memilih.
"rai lu gila, itu kriminal. Gue nga berani, gue terlalu polos untuk lakuin itu."
"Ciih sejak kapan lu polos hah? Al plis tolongin." raisa mendengus kesal namun tetap berusaha memohon.
"ogah deh, lagian harusnya bos lu ngerti dong, dia mempekerjakan mahasiswi harusnya siap dengan konsekuensi nya."
"gue balas dengan lina,yah?."
"ha? Lu jual sahabat sendiri?"
"b******k lu, ya kali gue lelang manusia."
"terus maksud lu apa?" aldo terkekeh kecil.
"gue tahu lu suka sama lina, tapi lu terlalu pengecut untuk ngungkapinnya."
"sialan lu rai, oke gue pegang kata kata lu. Udah gue mau main game"
" thanks yaa al, lu emang dewa penolong gue, sayang gue sama lina." raisa tekekeh geli dan mematikan sambungan ponselnya. Sedangkan aldo masih bingung dan mengernyitkan kening nya.
"punya teman terlalu waras." batin aldo