Alvin pagi ini sengaja bangun lebih awal, mengingat klien nya yang sangat sensitif membuat dia bekerja lebih giat dari biasanya, mulai dari sarapan pagi, memilih stelan jas bahkan aroma parfum yang sudah di siapkan nya malam tadi. Lebih tepatnya itu semua berkat kerja keras dean. Dia rela begadang hanya demi menjaga penampilan bos nya itu.
" Ini sepatu yang tuan muda inginkan."
" Baiklah kamu bisa meletakkan nya di sana." Sambil menunjuk ke kaki Dean.
" Baik tuan." Dean pun meletakkan nya tepat di depan kakinya. Dan berbalik hendak keluar apartemen.
" apa aku akan menggunakan nya di hari penting seperti ini?" Alvin melirik sepasang sepatu yang di berikan oleh Dean. Kemudian memberikan isyarat dengan bola matanya agar Dean segera menggantikan sepatunya dengan sepatu yang baru ia beli.
" Maafkan saya tuan muda." Dean tersenyum lebar dan sedikit tertawa.
" Kencanmu gimana?"
" Rusak di ganggu buaya." Dean berdecak kesal. Bagaimana tidak , kencannya batal akibat ulah bos nya itu.
" Buaya gantengggg kan yaa, hahahaha" Alvin tertawa sedikit menggoda.
" Cepat keluarkan mobil, aku tidak ingin terlambat sampai di kantor." Mereka berjalan menuju parkiran apartemen dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Di kantor,
" Tuan muda, saya izin ke ruangan saya sebentar." Ucap Dean gugup berharap Alvin tidak akan bertanya banyak.
" Baiklah." Alvin langsung melangkahkan kakinya menuju ruang rapat. Dan benar saja Alvin tidak banyak bertanya, sikapnya kembali dingin. Dia sangat berbeda dengan Alvin yang ada di apartemen tadi. Di sisi lain Dean sangat bersyukur atas sikap bos nya itu. Bukan bersyukur sih lebih tepatnya dia sudah terbiasa dengan perubahan sikap bos nya itu.
"Kamu...."
"Al...alviiin..akuuu..kamu..ini anuu" ucapnya terbata bata dan langsung bergegas lari tidak karuan. Ntah kemana dia harus berlari yang penting dia harus segera bersembunyi meskipun harus keujung dunia.
" Kenapa dia di sini?" Tanya Alvin pada dirinya.
Nafas Raisa memburu begitu tidak teratur, d**a nya sesak seperti di iris iris. Kaki nya gemetaran dan lelah karena berlari dengan tenaga supernya. Di tambah dia menggunakan heels dan itu menambahkan poin plus penderitaan nya pagi ini.
"Wah gilaaa.. mimpi apa gue malam tadi. Alvin bos nya? Hah? Kok bisa?." Raisa bertanya tanya tidak percaya. Dia semakin tidak percaya bahwa kenyataannya perusahaan tempat dia bekerja di pimpin oleh seorang Alvin. Ya Alvin mantan nya waktu masih duduk di bangku SMA. Bukan gagal move on hanya saja bekerja bersama mantan rasanya kurang efektif. Apalagi dengan Alvin. Dan hal yang paling bodohnya Raisa memutuskan Alvin dengan alasan merasa terganggu karena Alvin terlalu sering menghubungi nya. Sebenarnya hal yang wajar bagi anak muda pada umumnya. Tapi tidak bagi Raisa, dia sangat amat terganggu dengan hal itu.
Kring...kring....
"Ha..halo"
" Ke ruangan meeting sekarang!" Jawab seberang sana tidak bersahabat.
"Iya pak maafkan saya." Raisa bergegas merapikan dirinya dan menenangkan hatinya. Bagaimanapun dia di sini adalah karyawan. Dia harus bekerja dan mengesampingkan urusan pribadi. Tidak mungkin Alvin akan membahas hal konyol itu di kantor.
Tok..tok.. tok
"Masuk." Alvin memberikan isyarat dengan mata nya. Raisa seolah mengerti dan langsung memulai presentasi nya. Raisa menjelaskan setiap detail rancangan yang telah dia buat dengan lugas. Tidak ada satupun yang terlewat kan dia menyakinkan para klien dengan baik. Pujian demi pujian Raisa dapat kan setelah presentasi nya berakhir. Siapa sangka rancangan nya di senangi oleh semua klien. Rumah impian itu akan segera di wujudkan di proyek ini.
"Selamat atas presentasi nya hari ini ya, dan ini ada pekerjaan yang harus kamu siapkan malam ini juga dari pak Alvin." Ucap Tiwi salah satu rekan kerja Raisa.
" Makasih ya, aku bawa ke rumah pekerjaan nya gak masalah kan?" Ucap Raisa sopan.
" Aduh Rai, pak Alvin minta kamu ngerjainnya di kantor."
" Tapi kan aku pekerja paruh waktu dan biasanya juga kerja dari rumah."
"Aah kalau itu urusan kamu sama pak bos, aku nga tau sayang." Tiwi pun bergegas ke luar ruangan, karena ini emang sudah jam pulang para karyawan. Dan hanya Raisa yang lembur malam ini. Seperti nya Alvin sengaja membuat nya menderita setelah mengetahui identitas dirinya.