Raisa masih di temani dengan lampu kecil yang ada di meja kerjanya. Jari jemarinya masih menari nari di atas keyboard komputer dengan hentakan yang agak sedikit keras. Batinnya sedari tadi masih saja menggerututi bos tampan nya itu. Ketika pikiran nya kembali waras, Raisa baru menyadari bahwa komputer yang ada di depannya ini bukanlah milik dia. Jika rusak maka dia akan sangat tidak enak hati kepada Tiwi yang sudah meminjamkan meja kerjanya itu. Raisa melirik arah jarum jam yang melingkar di tangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Raisa mempercepat jari jarinya agar bisa selesai dengan cepat, dia sudah membayangkan tugas kuliah yang akan dia terima malam ini.
"Aaaaaaaa....." Raisa menjerit saat menyadari ada sesuatu yang menyentuh bahunya. Spontan saja Raisa melemparkan minuman yang ada di tangannya.
"Kauuu...." Ucap Alvin kesal, dia melototi Raisa dengan sangat tajam. Raisa yang tampak familiar dengan suara itupun mengintip dari celah celah jari yang ia gunakan untuk menutupi wajahnya. Betapa kagetnya Raisa saat mendapati Alvin dengan jas yang sudah berlumuran minuman coklat.
" Astaga pak, maafkan saya.. saya terlalu kaget saat bapak menepuk bahu saya." Raisa berusaha menjelaskan apa yang terjadi. Agar Alvin tidak bertambah marah, Raisa berinisiatif membukakan jas yang sudah kotor itu.
" apa yang kau lakukan?" Sontak hal itu membuat Alvin sangat terkejut. Alvin menepis tangan Raisa. Akan tetapi Raisa tetap saja melanjutkan aksinya.
" Raisa, tidak perlu.." Alvin melangkah mundur untuk menjauhi Raisa. Lagi lagi Alvin menepis tangan Raisa untuk menjauh dari tubuhnya.
" Maafkan saya pak, izinkan saya mencuci jas anda pak. Saya sangat menyesal dengan perbuatan saya pak..." Raisa terus saja mengoceh. Dia harap Alvin tidak akan memecatnya dari pekerjaan ini. Hingga pada akhirnya jas Alvin pun berhasil lepas namun Raisa malah menginjak kaki Alvin.Tentu saja hal itu membuat langkah kaki Alvin terhenti dan kehilangan keseimbangan, Alvin pun terjatuh dan tanpa di sengaja menarik Raisa dalam pelukan nya. Aroma mint dari mulut Alvin tercium begitu kuat di hidung Raisa, jarak di antara mereka terlalu dekat dan siapa saja yang berada dalam posisi itu pasti akan merasakan hembusan nafas dari lawan nya. Alvin menatap lekat bola mata indah itu , di pandangi nya setiap celah yang ada di sana, tampaknya tidak ada yang salah sedikit pun. Hidung nya yang mancung bibir nya merah ranum dan bulu mata yang lentik menambah nilai keindahan di wajah kecil itu.
"Ehemm..." Raisa berdehem dan mengedip ngedipkan mata nya untuk mengusir kecanggungan. Alvin pun ikut tersadar dari lamunan panjangnya dan bergegas untuk berdiri. Soal jas yang menjadi perdebatan beberapa menit yang lalu pun hilang begitu saja.
"Ku rasa keahlian mu bertambah, Aninnnnn...." Tutur Alvin menekankan intonasi tepat di nama Raisa. Yaa Anin adalah panggilan masa kecil Raisa. Hanya saja Raisa sudah terbiasa membahasakan dirinya dengan nama Raisa. Alvin yang mempekerjakan Raisa pun tidak tahu bahwa dia adalah orang yang sama. Hubungan itu sudah terlalu lama berlalu sehingga Alvin tidak terlalu menyadari hal itu.
"Haa.. maksud anda pak?" Jawab Raisa kebingungan sambil mengangkat salah atau alisnya.
"Ciiih apa dia meranggapan bahwa aku menggoda nya? Kepedean sekali dia." Umpat Raisa di dalam hati. Meskipun dia mengumpat dalam hati namun ekspresi nya sangat tidak bisa di tutupi. Raisa terlalu ekspresif sehingga tampak jelas bibirnya yang menyeringai dan bola mata nya yang memutar malas.
Di sisi lain Alvin hanya menghela panjang nafasnya dan pergi meninggalkan Raisa.
"Selamat malam pak, semoga hari mu menyenangkan." Ucap Raisa dengan memaksakan senyuman yang memperlihatkan jejeran giginya yang rapi. Setelah melalui drama panjang tadi Raisa kembali duduk dan melanjutkan pekerjaan nya.