Park Yeonchan begitu heboh menceritakan kejadian di pertemuan yang biasa ia lakukan dengan Soomin selama seminggu ini. Ketiga temannya, Juho, Sejoon, dan Jungin, lebih tertarik memperhatikan ekspresi yang terdapat di wajah Yeonchan. Ketiganya menyadari terdapat perubahan yang sangat besar pada diri Yeonchan.
Tawa dan ekspresi ceria yang kini menghiasi roman tampan Yeonchan, membuat senyuman terbit di wajah Juho, Sejoon, dan Jungin. Ketiganya seperti melihat Yeonchan remaja. Begitu bebas, bersemangat, dan bersinar. Belum pernah selama lima belas tahun setelah kejadian itu, ketiganya melihat Yeonchan begitu lepas seperti sekarang.
Ketiganya tahu, hanya ada satu alasan yang membuat Yeonchan bisa kembali seperti sekarang. Satu alasan sama yang dengan rasa menyesal yang selalu membayangi hidup Yeonchan. Satu alasan itu adalah Yoon Soomin.
“Kalian harus melihat bagaimana lucunya wajah Soomin-i. Ia seperti siap melempar tablet yang ia pegang ke mukaku,” cerita Yeonchan dengan nada heboh.
“Kau seperti anak kecil yang menemukan kembali mainan kesayangannya yang telah hilang, Yeon,” balas Jungin sambil menopang wajahnya di atas meja.
“Jungin benar. Aku lebih senang melihatmu kembali ceria seperti sekarang. Kembalinya Soomin dalam hidupmu membawa perubahan sangat besar, Yeon,” timpal Sejoon dengan senyuman lebar.
Yeonchan merasa jengah dengan ucapan sahabatnya. Pria itu mendadak berhenti berbicara dan berdeham dengan canggung. Kepalanya menunduk untuk menyembunyikan pipinya yang sedikit menghangat karena ucapan para sahabatnya. Yeonchan terlihat canggung dan sedikit malu. Melihat tingkah Yeonchan yang mendadak diam secara spontan mengundang tawa Juho, Sejoon, Jungin. Ketiganya seperti melihat Yeonchan remaja jika melihat perubahan tingkah yang dialami Yeonchan sekarang.
“Ya! Kenapa kalian tertawa? Memang ada yang lucu?” tanya Yeonchan sambil menatap kesal ketiga temannya yang menertawakan dirinya secara tiba-tiba.
Sejoon dan Jungin yang memang susah berhenti jika sudah tertawa, tak bisa menjawab pertanyaan Yeonchan, hingga Juholah yang bertugas memberikan penjelasan pada Yeonchan.
“Kami senang kau bisa kembali seperti dulu, Yeon-a. Melihat tingkahmu sekarang kau seperti Yeonchan remaja yang kami kenal dulu,” ujar Juho sambil kembali tertawa.
Yeonchan mengerucutkan bibirnya sambil bergumam sendiri. Pria itu menatap kesal pada ketiga sahabatnya yang masih menertawakan dirinya. Yeonchan memilih menyesap minumannya untuk meredakan rasa kesalnya, hingga Yeonchan teringat dengan pesan yang ia terima pagi tadi.
“Kalian, apa pagi ini kalian menerima undangan dari Taeyong-ie?”
Tawa ketiganya berhenti. Sejoon menatap Yeonchan dengan pandangan tak mengerti. Dahi fotografer tampan itu sedikit berkerut.
“Undangan apa maksudmu, Yeon?”
“Ah dari Taeyong ketua angkatan kita di Daekyung,bukan? Kalau kau bertanya undangan mengenai pesta yang akan dilaksanakan akhir bulan ini, tentu saja aku dapat. Mana mungkin aku di lewatkan,” sambar Jungin sambil mengangkat bahunya dengan arogan.
“Coba cek email-mu, Sejoon. Taeyong bilang ia mengirim undangan pada semua. Mana mungkin anggota XO tak di undang. Apa kau tak lupa betapa berkuasanya kita dulu?” tambah Juho dengan nada yang tak kalah arogannya dengan sikap Jungin.
“Aku akan memeriksa email-ku lebih dulu,” balas Sejoon seraya mengambil ponselnya dan mulai sibuk membuka fitur email pada ponsel pintarnya.
“Apa itu berarti Taeyong yang menjadi pihak penyelenggara pesta nanti?” tanya Yeonchan sambil menoleh pada Juho dan Jungin.
Juho mengangkat bahunya. “Entahlah. Aku rasa karena Taeyong adalah ketua angkatan kita, maka ia bertugas menyebarkan undangan. Apa kau punya masalah dengannya?” Mata Juho menatap lurus pada Yeonchan.
“Tidak. Jika pesta akhir tahun ini khusus mengundang angkatan kita, ada sesuatu yang ingin kulakukan.”
“Kenapa kau tak cari tahu saja langsung pada Taeyong, Yeon?” ujar Jungin.
“Memang apa yang ingin kau lakukan, Yeon~a?” Sejoon yang sudah selesai memeriksa email kembali bergabung dalam topik obrolan.
Yeonchan tidak menjawab pertanyaan Sejoon. Sebaliknya, pria itu memberikan seringai jahilnya. Sebuah seringai yang selalu Yeonchan perlihatkan setiap kali hendak melakukan hal tak terduga saat ia remaja dulu.
~FORGIVENESS~
Soomin menatap barisan huruf di layar ponselnya dengan perasaan resah. Perempuan itu menggigit bibir bagian dalamnya, kebiasaan yang selalu muncul saat Soomin merasa gugup ataupun resah. Dan kedua perasaan itu tengah memenuhi hatinya.
Di saat Soomin merasa resah karena membaca pesan masuk di emailnya, otaknya secara tak sopan memunculkan wajah pria yang menjadi sumber keresahannya selama beberapa minggu ini, membuat Soomin memilih menjatuhkan tubuhnya kembali ke tempat tidurnya. Soomin berteriak kesal, kesal dengan segala yang terjadi pada hidupnya selama beberapa minggu ini.
Selama beberapa minggu ini, Soomin merasa begitu kesal dan marah. Ya, Soomin merasa kesal dan marah pada pria bernama Park Yeonchan, yang begitu kurang ajarnya selalu mengganggu dirinya, dengan menggunakan kejadian saat ia mabuk. Setiap pertemuan yang mereka lakukan minggu ini, tak pernah sedetikpun pria menyebalkan yang sayangnya begitu tampan itu, berhenti menyinggung kejadian itu. Park sialan Yeonchan itu berhasil mengobrak-abrik perasaan dan bahkan meruntuhkan benteng pertahanan diri Soomin.
“Arrggh! Kenapa kau begitu mudah luluh dengan pria sialan itu, Yoon Soomin!” geram Soomin pada dirinya sendiri.
Oh karena kau begitu cinta mati pada pria sialan itu, Soomin-ssi.
Soomin tersenyum miris mendengar hatinya membalas keluh kesahnya. Soomin sadar, ia tak menampik jika Park Yeonchan masih memiliki tempat di hatinya. Bagaimana pun juga, hari-hari remajanya begitu indah dan berwarna karena pria jangkung itu. Tapi, senyuman Soomin memudar seiring dengan otaknya yang kembali memutar kejadian mengerikan itu, membuat Soomin hanya mampu menghela napas panjang.
Soomin kembali mengalami pergolakan batin, di satu sisi hatinya begitu ingin memiliki kembali Yeonchan dalam hidupnya, sementara sisi hatinya yang lain begitu ingin mengenyahkan pria itu selama-lamanya. Soomin lelah menghadapi pergolakan emosional tersebut dan semua ini tidak akan terjadi jika saja Yeonchan berhenti menggoda dirinya!
Semua semakin parah dengan masuknya pesan baru pada alamat emailnya. Pesan dimana Soomin seolah di paksa untuk menyelami lagi masa-masa indahnya bersama Park Yeonchan.
Ya Tuhan, ingin sekali Soomin mencekik dan mencaci maki Lee Taeyong, ketua angkatannya di Daekyung dengan undangan sialan itu!
~FORGIVENESS~
“Soomin-a, apa kau mendapat undangan dari Taeyong?”
Soomin mendapati dirinya merasa kesal setelah mendengar pertanyaan Hyunso. Di dalam hati, Soomin melontarkan sejumlah umpatan pada sepupunya itu. Kenapa dari sekian banyak hal, hal pertama yang Hyunso tanya saat mereka bertemu di venue seminar kedokteran ini adalah pesta akhir bulan yang ingin Soomin lupakan.
“Entahlah Oppa. Aku rasa....”
“Kau tak perlu datang,” potong Hyunso dengan tegas.
Soomin menatap tak mengerti pada Hyunso yang memberinya tatapan yang tak ingin di bantah.
“Oppa....”
“Kau tahu dengan jelas undangan itu menyebutkan bahwa kau harus datang dengan pasanganmu saat acara prom night terakhir. Tanpa perlu kusebutkan, kau pasti ingat siapa pasangan prom nightmu, bukan?” ujar Hyunso sambil tersenyum lembut pada Soomin yang kini menunduk dan tak bisa membalas ucapannya.
Soomin tak mengatakan apa pun. Hyunso sangat mengerti keresahan Soomin mengenai pesta akhir bulan tersebut. Sejujurnya, Soomin senang dengan adanya pesta tersebut. Tapi, rasa senang itu luntur saat Soomin membaca bahwa ia harus datang dengan pasangannya saat pesta prom night terakhir. Semua siswa-siswi Daekyung angkatannya tahu, semasa sekolah Yoon Soomin adalah milik Park Yeonchan.
Sambil menghela napas panjang, Soomin akhirnya memilih mengangguk. Mengikuti saran dari sepupunya—Hyunso.
~FORGIVENESS~
“Jadi, Soomin-ssi, kau bekerja di perusahaan apa?” Dokter Zhang, teman Hyunso yang ingin bertemu dengan Soomin di seminar hari ini, membuka topik obrolan dengannya.
Soomin bersyukur teman Hyunso yang satu ini lebih sopan dibandingkan beberapa yang pernah Soomin temui sebelumnya, karena Hyunso pernah mencarikannya pasangan. Pria itu memperlakukannya dengan sangat sopan dan lembut.
“Saya bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang media. Anda tahu Byun Media, Dokter Zhang?”
“Ah Byun Media. Tentu, saya perusahaan tersebut,” balas Dokter Zhang sambil mengangguk sopan.
“Anda sendiri mengambil spesialis di bidang apa?”
Dokter Zhang terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan yang di ajukan Yoon Soomin. Pria itu begitu terpesona dengan Yoon Soomin, sepupu Dokter Do. Tanpa Dokter Zhang sadari, ada sepasang mata hitam yang menatap tak suka dengan apa yang sedang dilakukannya. Pemilik sepasang mata hitam itu tengah melangkah mendekati dirinya dan Yoon Soomin dengan seringai terpasang di wajahnya.
“Kebetulan saya dokter spesialis di bidang....”
“Dokter Zhang Yixing! Kebetulan sekali Anda ada di sini.”
Baik Soomin ataupun Dokter Zhang, keduanya menoleh pada sumber suara yang menginterupsi percakapan mereka. Mata hazel Soomin terbelalak saat menemukan sosok Park Yeonchan berdiri begitu dekat dengan dirinya. Park Yeonchan tersenyum manis pada Soomin yang begitu terkejut menyadari kehadirannya.
“Direktur Park, senang juga bisa bertemu dengan Anda,” sapa Dokter Zhang sopan.
“Kalian berdua saling mengenal?” tanya Soomin dengan pandangan yang beralih dari Yeonchan kemudian pada Dokter Zhang.
Yeonchan melemparkan senyuman terbaiknya pada Soomin. Mata hitamnya menatap Soomin dengan tatapan penuh cinta. “Ya, Soomin sayang. Aku mengenal Dokter Zhang karena ia akan menjadi direktur dari rumah sakit yang sedang kubangun. Dokter Zhang, kau baru saja bertemu dengan calon nyonya besar keluarga Park selanjutnya,” jelas Yeonchan sambil merangkul pinggang Soomin sedikit posesif.
Menyadari aura intimidasi yang disebarkan Park Yeonchan padanya, membuat Dokter Zhang memilih mengakhiri percakapannya dengan Soomin. Sebelum pergi, dokter itu memohon maaf karena tak mengetahui status Yoon Soomin, calon nyonya besar dari keluarga Park selanjutnya.
Begitu Dokter Zhang pergi dari hadapan mereka, Soomin melepaskan tangan Yeonchan dari pinggangnya dan menatap Yeonchan dengan tatapan paling tajam yang ia miliki.
“Apa maksudmu berbicara seperti itu pada Dokter Zhang?” desis Soomin.
Soomin mengangkat dagunya dan menatap angkuh Yeonchan yang tengah memperlihatkan senyum penuh kemenangan padanya. Sungguh, selama beberapa minggu ini, ia memang sangat marah pada Yeonchan yang terus menggodanya. Kemarahan dan rasa kesal yang memuncak itu mengumpul hingga hari ini ia tak sanggup lagi menahan gangguan yang diberikan Park Yeonchan. Soomin tak menyangka Park Yeonchan bisa hadir di seminar dokter yang hanya bisa di hadiri para dokter dan undangan.
“Kenapa kau selalu muncul di setiap tempat yang kudatangi? Kau menguntitku?”
“Aku kemari bukan membuntutimu, Soomin-ssi. Aku adalah tamu undangan. Kau tak dengar pembicaraanku dengan Dokter Zhang tadi, calon nyonya besar keluarga Park?” tanya Yeonchan dengan senyuman jahil.
Soomin berdesis kesal. Kemarahan yang selama ini ia tahan kini sudah memenuhi permukaan hatinya. Jika saja ini bukan tempat umum, ia akan melempar wajah Yeonchan dengan heels yang ia pakai.
“Apa yang sebenarnya kau inginkan?! Berhenti menggangguku!”
Yeonchan tertawa dalam hati melihat Soomin yang akhirnya melepas kemarahannya karena terus ia ganggu selama ini. Yeonchan tak masalah jika ia mendapatkan caci maki dari Soomin karena gangguan yang ia lakukan. Pria ini sedang mencoba peruntungannya atas hubungannya dengan Yoon Soomin.
Jika memang ini kesempatan kedua yang diberikan langit untuk menebus kesalahan dan mendapatkan Soomin kembali dalam hidupnya, maka Yeonchan akan melakukan apapun. Salah satunya, membujuk Taeyong dan tim perencana pesta akhir bulan ini, membuat aturan tambahan, meminta siswa angkatannya datang dengan pasangan di prom night mereka saat masa sekolah.
“Oh kau merasa terganggu denganku selama ini, Soomin-ssi?”
“Tentu saja aku terganggu! Aku ‘kan sudah minta maaf karena kejadian mabuk itu! Tapi kau selalu mengungkitnya!” Soomin merasakan pipinya memanas karena dirinya mengungkit kejadian memalukan itu.
“Ah maaf, aku tak tahu jika kau terganggu dengan sikapku selama ini, Soomin-ssi. Haruskah aku berhenti mengganggumu?” tanya Yeonchan dengan ekspresi jenakanya.
Soomin mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya. Kata-kata makian yang selama ini tersimpan di hatinya, telah siap ia semburkan pada pria tampan di depannya.
“Tentu saja! Kau pikir aku tidak merasa terganggu dengan sikapmu itu!”
“Baiklah. Aku akan berhenti mengganggumu,tapi dengan satu syarat.”
Soomin menatap curiga. Sejak dulu, Soomin tahu jika Yeonchan tak akan menyerah begitu saja terhadap sesuatu. Pria itu pasti menginginkan sesuatu sebagai gantinya.
“Pergi ke pesta akhir bulan ini denganku,” ucap Yeonchan dengan senyuman jahilnya.
“Aku benar-benar membencimu, Park Yeonchan!” geram Soomin.
~FORGIVENESS~