Park Yeonchan tak bisa melepaskan pandangannya sedikitpun dari apa yang ada di hadapannya. Demi apapun, Yeonchan seperti berada di surga dan bertemu bidadari. Butuh waktu beberapa detik hingga Yeonchan ingat untuk mengedipkan matanya. Yoon Soomin yang ada di depannya sangatlah cantik. Yeonchan tak menyadari jika sejak tadi gerak-geriknya sedang diperhatikan seorang pria lain yang menatapnya dengan sinis.
“Berhentilah menatap sepupuku seolah-olah kau hendak menerkamnya, Ya Park sialan Yeonchan !” geram Hyunso yang duduk di ruang duduk apartemen Soomin.
Do Hyunso yang mengetahui Soomin menyetujui ajakan Yeonchan menghadiri pesta akhir bulan SMA Daekyung, merasa menyesali keputusannya menggantikan tugas jaga salah satu temannya di stasiun bedah malam ini. Meskipun tak bisa menjaga Soomin saat acara berlangsung, Hyunso tak kehilangan akal.
Sejak dua jam yang lalu, Hyunso sudah berada di apartemen Soomin karena Yeonchan akan menjemputnya. Hyunso menemani Soomin yang bersiap sekaligus akan membuat perhitungan dengan pria b******k dari masa lalu sepupu kesayangannya. Itu sebabnya, Hyunso tak sedikitpun melepaskan pandangannya pada Park Yeonchan yang baru saja datang sepuluh menit yang lalu.
“Ya ampun Hyunso-ya, kita baru bertemu lagi sekarang, tapi kau tak berubah sedikit pun, tetap menjadi body guard galak Soomin,” cibir Yeonchan.
“Apa kau bilang?! Kau berani mengatakan sesuatu tentangku?” tanya Hyunso dengan lirikan matanya yang tajam.
Sebuah cengiran muncul di wajah Yeonchan karena Hyunso ternyata mendengar cibirannya. Yeonchan segera memberikan tanda damai pada Hyunso yang sudah bersiap seperti hendak membunuhnya.
“Santai, dude. Aku hanya bercanda.”
Soomin hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat keributan yang terjadi antara Hyunso dan Yeonchan. Meskipun heran dengan tingkah Hyunso dan Yeonchan yang seperti tom dan jery malam ini, Soomin memakluminya. Otaknya dengan cepat memutar kejadian saat seminar kedokteran yang ia dan Hyunso hadiri di Gyeonggi. Betapa marahnya Hyunso saat mendapati dirinya sedang bersama Park Yeonchan, terlebih saat mendengar Soomin akan menghadiri pesta SMA Daekyung malam ini bersama Yeonchan.
Ah mengingat kejadian itu membuat telinga Soomin merasa panas karena omelan Hyunso malam itu.
“Bisa kita berangkat sekarang?” tanya Soomin memecah keheningan yang terjadi di ruang duduk apartemennya.
Yeonchan mengangguk cepat seraya bangkit dari duduknya. Dengan sigap, Yeonchan pun menawarkan lengannya pada Soomin. Sebelum Soomin sempat melingkarkan tangannya di lengan Yeonchan, Hyunso sudah lebih dulu menginterupsi, dengan meraih lengan Yeonchan dan menyeret pria itu ikut bersamanya menuju pintu keluar apartemen.
“YA! YA! Apa yang kau lakukan Hyunso-ya!” ucap Yeonchan.
“Tak perlu bersikap seolah-olah kau seorang gentleman di hadapanku! Karena aku tahu betapa brengseknya dirimu pada uri-Soomin,” jelas Hyunso dengan tatapan tajam.
“Aku tahu. Aku tahu, aku sudah melakukan kesalahan besar. Tapi, tidak bisakah ktia mengulangi semuanya dari awal?” tanya Yeonchan dengan nada lemah.
“Oh bisakah kau menghentikan kejadian buruk di malam kau meniduri uri-Soomin di masa lalu? Kau, sudah jelas begitu berbahaya untuk Soomin. Aku tak peduli apa rencanamu malam ini pada uri-Soomin. Satu hal yang pasti, jika sampai terjadi sesuatu pada Soomin setelah malam ini, akan kupastikan kau kubunuh dengan tanganku sendiri. Sampai satu tetes airmata jatuh dari Soomin, kupastikan hidupku kelak akan seperti berada di neraka.”
Yeonchan tersenyum. Pria itu paham Hyunso sedang mengancamnya, tapi Yeonchan tak merasa takut ataupun gentar. Sebaliknya, pria itu semakin ingin membuktikan bahwa ia tidak sebrengsek yang dipikirkan Hyunso.
“Seorang pria bisa dikatakan seorang pria jika ia memegang teguh kata-katanya. You have my word, Do Hyunso. Kupastikan Soomin baik-baik saja selama bersamaku malam ini atau kapanpun,” balas Yeonchan yang kini menatap tajam Hyunso.
~FORGIVENESS~
Pesta malam ini benar-benar mengingatkan Soomin pada prom night terakhirnya saat ia masih mengenakan seragam SMA-nya. Tidak hanya dekorasi dan segala yang ada di venue yang mengingatkan Soomin pada prom night dulu, tatapan serta perhatian yang diberikan teman-teman seangkatannya pada dirinya masih tetap sama.
Saat Soomin dan Yeonchan tiba di tempat acara, perhatian seluruh undangan seolah tertuju pada dirinya dan Yeonchan yang melangkah memasuki venue. Soomin kembali mendapati tatapan iri dan tak suka yang menghujani dirinya seiring langkahnya yang semakin jauh memasuki tempat acara.
Di saat itu pula, Soomin merasakan tepukan halus yang diberikan Yeonchan pada tangan Soomin yang melingkar di salah satu lengan kokoh pria itu. Hanya dengan tepukan halus, rasa cemas dan gelisah yang Soomin rasakan menghilang begitu saja.
Soomin tersenyum tipis seraya menyesap minumannya mengingat saat ia datang tadi. Betapa hebatnya pengaruh Park Yeonchan pada dirinya. Soomin menyadari pengaruh tersebut tak pernah berubah sedikitpun.
Soomin mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat acara seraya menyesap minuman yang sejak tadi ia pegang. Manik hazel Soomin berhenti pada empat sosok yang kehadirannya selalu menyita perhatian, Yeonchan dan ketiga temannya—Juho, Sejoon dan Jungin—yang tengah asyik mengobrol dengan beberapa teman pria lainnya. Sejujurnya, perhatian Soomin hanya tertuju pada satu sosok. Sosok yang begitu menonjol karena tinggi tubuhnya, Park Yeonchan.
Hanya memandangi Yeonchan dari jauh mampu membuat jantung Soomin berdegup kencang, persis saat ia remaja dulu. Soomin sedikit salah tingkah saat tatapannya bersirobok dengan Yeonchan, membuat pria itu tersenyum dan memisahkan diri dari teman-temannya dan melangkah menujunya. Demi apa pun Soomin merasakan keringat menuruni punggungnya seiring langkah Yeonchan ke arahnya.
“Kau benar-benar tak berubah sedikitpun,ya?” ucap Yeonchan setelah berdiri tepat di depan Soomin. Pria itu menatap Soomin tepat di mata.
Soomin mencebikkan bibirnya kesal. “Apa maksudmu dengan tidak berubah?”
Yeonchan tersenyum dan mencondongkan tubuhnya lebih dekat, bersiap berbisik di telinga Soomin. “ Selalu merasa tersesat dalam pesta jika aku tak berada di sampingmu.”
Tubuh Soomin meremang mendengar bisikan Yeonchan, membuat Soomin jengah dan canggung berdiri di dekat Yeonchan seperti sekarang. Apakah dirinya sejelas itu bisa di baca oleh Yeonchan?
“Jika kau tak keberatan, aku harus ke toilet,” ucap Soomin dengan nada suara pelan.
Yeonchan mengangguk dan membiarkan Soomin pergi begitu saja dari sisinya. Meskipun begitu, Yeonchan tak melepaskan pandangannya dari punggung Soomin yang menjauhi dirinya. Ah, Park Yeonchan terlalu senang dengan sikap malu-malu yang diperlihatkan Soomin. Yeonchan seperti melihat Yoon Soomin saat remaja.
~FORGIVENESS~
Soomin hendak beranjak dari toilet duduk yang baru saja selesai ia gunakan, ketika telinganya mendengar suara berisik dari luar toilet yang di susul suara pintu masuk toilet terbuka dan beberapa percakapan heboh. Sepertinya ada beberapa perempuan dari angkatannya yang masuk untuk menggunakan toilet.
Tangan Soomin yang hendak meraih clutch bagnya seolah terhenti di udara, saat menangkap namanya pada percakapan di luar bilik toilet yang ia gunakan. Otak Soomin seolah memerintahkan dirinya untuk diam dan mencuri dengar percakapan tersebut.
“Sepertinya ia begitu senang ya menempel seperti lem pada Park Yeonchan. Sekali jalang, tetap saja jalang.”
“Kau benar. Siapa pula yang membuat aturan jika kita harus datang dengan pasangan prom night terakhir dulu. Sungguh konyol!”
“Bisa saja dia yang menyarankan Taeyong membuat aturan seperti itu. Min Ji, boleh kupinjam bedakmu?”
“Meski pun aku mengakui jika Yoon Soomin salah satu lulusan tercantik Daekyung, rasanya aku tak rela melihat ia kembali berdiri di sebelah Yeonchan. Siapa yang menyangka Yeonchan menjadi pria dewasa yang begitu hot!”
“Kudengar jalang itu bekerja di perusahaan Byun Media dan mengurus kerjasama antara Byun Media dan perusahaan Park Yeonchan. Ini sebuah keberuntungan atau memang jalang itu pintar memanfaatkan situasi?”
“Entahlah kudengar dia sempat dicampakkan Yeonchan begitu lulus. Lagi pula aku tak percaya dengan kemampuannya yang bisa menduduki posisi direktur kerjasama.”
“Dia menduduki posisi direktur kerjasama? Daebak!”
“Dia menduduki posisi itu paling mengandalkan kemampuannya dalam merayu pria, So Jin-a. Kau tahu betul kemampuannya merayu pria seperti apa, bukan? Ia pasti mewarisi kemampuan itu dari ibunya.”
Telinga Soomin terasa panas mendengar hujatan yang diberikan sekelompok perempuan di luar bilik toilet. Sebuah senyuman sinis tersungging di wajah Soomin menyadari ia seperti di tarik ke masa lalu.
Masa di mana ia di benci hampir seluruh populasi perempuan di Daekyung karena memiliki status sebagai pacar Park Yeonchan. Soomin masih bisa menahan gejolak kemarahannya jika hanya dirinya yang di caci maki,tapi perempuan itu tak akan tahan jika ibunya ikut di caci maki.
Dengan emosi yang juga berkumpul di tangan, Soomin membuka bilik toilet dengan kasar. Kehadirannya yang secara tiba-tiba membuat ke empat perempuan yang sejak tadi asyik membicarakan dirinya tersentak kaget. Soomin menatap satu persatu kelompok perempuan yang baru saja tertangkap basah menggosipkan dirinya. senyuman sinis dan meremehkan terukir jelas di wajah cantik Soomin.
Dengan tenang, Soomin mencuci tangannya di wastafel. Soomin tak mempedulikan keempat perempuan yang sibuk memperhatikan setiap gerak-geriknya. Begitu Soomin selesai dengan kegiatannya, perempuan itu berbalik kembali menghadapi keempat perempuan paling menyebalkan yang pernah Soomin temui.
“Kalau ingin mengatakan sesuatu tentangku, katakan saja langsung di depanku. Setidaknya dengan begitu, aku tahu apa saja kekuranganku. Satu hal yang ingin kuingatkan adalah aku bukan hanya salah satu lulusan tercantik, aku juga sepupu dari lulusan terpintar, Do Hyunso. Di mana setengah darah keluarga Do mengalir juga pada nadiku dari ibuku yang kalian sebut sebagai tukang rayu.”
Yoon Soomin menyunggingkan senyum meremehkan pada ke empat perempuan yang menggosipkan dirinya itu.
“Jika kalian lupa, silakan lihat buku tahunan sekolah, namaku tercatatat sebagai siswi kelas akselerasi, yang seharusnya aku tak lulus di tahun yang sama dengan kalian. Aku mendapatkan posisiku sebagai direktur muda saat ini bukan dengan cara tidur tapi menggunakan otakku. Tolong camkan itu,” ucap Soomin tegas.
Ke empat perempuan itu membisu mendengar balasan Soomin yang begitu tegas. Ketika ke empatnya hendak menarik napas karena kaget dengan kehadiran Soomin, Soomin membalikkan tubuhnya dan kembali memberikan tatapan tajam pada mereka satu persatu.
“Ah satu lagi, mengenai kehadiranku yang datang bersama Park Yeonchan, itu di karenakan aturan konyol yang dibuat penyelenggara acara. Jika kalian begitu frustasi melihatku berada di sisi Park sialan Yeonchan itu silakan dekati dia,” ucap Soomin seraya tersenyum mengejek.
“Itu pun jika Yeonchan mau di dekati kalian.” lanjut Soomin dengan nada pedas. Setelah itu, Soomin keluar dengan membanting pintu toilet untuk menyalurkan emosi yang memenuhi kepalanya.
Soomin keluar toilet dengan wajah yang begitu masam. Kakinya menghentak begitu kasar lantai, tanda kemarahan yang begitu menguasai hati perempuan itu. Jika saja ia tak menyetujui ajakan dari Yeonchan, semua ini tentu tidak akan terjadi. Setetes airmata meluncur turun dari matanya, tanpa Soomin sadari, Yeonchan melihat airmatanya malam ini.
~FORGIVENESS~