Suara detik jam terdengar begitu jelas di dalam sebuah ruangan. Suara tersebut sama sekali tak mengganggu seorang pria yang sibuk berkutat dengan beberapa dokumen yang sedang ditampilkan layar laptopnya. Pria tersebut mengabaikan suara detik jam yang kini hampir mengarah ke angka dua belas.
Park Yeonchan berusaha memfokuskan pikirannya dengan dokumen kerja yang harus ia selesaikan malam ini. Meskipun langit di luar jendela ruang kerjanya telah semakin gelap, Yeonchan seakan enggan beranjak dari kursi kerja dan menghentikan kegiatannya.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa pria bertubuh tinggi itu adalah seorang workaholic. Park Yeonchan—putra tunggal pemilik Park Land Corp itu terkenal sebagai pria pekerja keras. Bahkan Yeonchan sanggup membuat perusahaan raksasa milik keluarganya semakin sukses dalam waktu empat tahun setelah pria itu secara sah menjadi pemimpin utama Park Land Corp menggantikan sang ayah yang memilih menikmati waktu senjanya.
Bunyi beep sebanyak tiga kali akhirnya menghentikan Park Yeonchan dari kegiatannya mempelajari dokumen kerjasama yang sejak tadi menyita perhatiannya. Yeonchan menyandarkan punggungnya yang terasa kaku pada kursi kerjanya. Rasa lelah langsung menyergap pria tersebut.
Yeonchan menatap langit-langit ruangannya dalam diam. Suasana sunyi membuat Yeonchan merasakan sesuatu yang lain dalam hatinya. Sekali lagi, perasaan itu kembali muncul ke permukaan hatinya. Yeonchan merasakan kekosongan dalam hidupnya. Pria itu merasa ada bagian dari hidupnya yang menghilang begitu saja. Perasaan itu mulai muncul di tahun pertama Yeonchan berkuliah di Inggris.
Atensi manik hitam Yeonchan kemudian beralih dan menjatuhkan perhatiannya pada sebuah bingJungin foto yang terletak di atas meja kerjanya. Sebuah foto yang memperlihatkan sosok yang sedang tersenyum manis kepadanya. Senyuman manis dari sosok tersebut menular tanpa sadar pada Yeonchan. Membuat lesung pipi pria tampan itu terlihat.
Yeonchan beranjak dari duduknya. Pria itu tak tahan terus merasakan perasaan kosong dan menyesal yang terus menggerogoti hatinya. Tangannya kemudian meraih ponsel hitam yang sejak tadi tersimpan di atas meja tanpa tersentuh olehnya.
Jari-jari besarnya bergerak mengusap layar ponsel. Yeonchan melihat sekilas beberapa notifikasi yang masuk ke dalam ponselnya tanpa berniat membukanya lebih lanjut. Yeonchan kini membuka daftar kontak pada ponselnya, menelusuri beberapa nama sebelum akhirnya berhenti di salah satu kontak dan kemudian menekan tanda memanggil.
Bunyi nada tunggu langsung menyapa telinga Yeonchan. Yeonchan menunggu panggilannya di angkat sambil beranjak dari kursi kerjanya. Yeonchan mengarahkan dirinya menuju mini pantry yang terdapat di ruang kerjanya. Dengan sebelah tangannya yang bebas, Yeonchan meraih salah satu botol minuman dan menuangnya. Yeonchan membawa sloki berisi minumannya dan memilih duduk di sebuah sofa tunggal yang berada dekat jendela yang memperlihatkan pemandangan kota Seoul di malam hari.
Pada nada tunggu yang ke lima belas, akhirnya panggilan tersebut diangkat. Belum sempat Yeonchan mengatakan sesuatu, seseorang yang dipanggilnya menjawab dengan nada suara yang begitu ketus.
“Apalagi yang kau inginkan, Park Yeonchan? Apa kau tak melihat jam berapa ini?”
“Maaf mengganggumu, Hyunso-ya. Ada hal yang ingin kutanyakan padamu. Aku....”
“Sekeras apapun kau berusaha mencari informasi padaku, kau tak akan pernah mendapatkannya. Jikapun aku tahu informasi yang kau inginkan tersebut, aku tak akan pernah mengatakannya padamu,” tegas Do Hyunso dari sebrang telepon.
Detik berikutnya seseorang bernama Do Hyunso, memutuskan panggilan secara sepihak. Yeonchan menghela napas mendapati sikap dingin dan ketus yang ditunjukkan Hyunso padanya. Ini sudah kesekian kalinya Do Hyunso bersikap seperti itu padanya. Yeonchan menyerah dan meletakkan ponselnya pada meja kecil yang berada di sisi kiri sofa tunggal yang ia duduki.
Pria itu duduk seraya memperhatikan suasana Seoul di malam hari. Sebuah senyuman sinis tersungging di wajahnya. Yeonchan merasa dirinya memiliki kesamaan dengan suasana malam Seoul. Orang pasti akan menilai dirinya begitu sempurna dengan segala yang Yeonchan miliki. Di mata orang, Park Yeonchan seperti kilauan lampu yang menerangi jalanan di malam hari. Tanpa siapapun tahu, Park Yeonchan yang sebenarnya adalah seperti langit malam tanpa bintang. Begitu gelap dan terkesan menyedihkan.
Yeonchan merasa dirinya terasa kosong. Rasa kosong itu semakin terasa menyesakkan jika ia mengingat semuanya. Di saat Yeonchan mengingat semuanya, sebuah beban lain muncul memenuhi hatinya hingga terasa sesak. Rasa bersalah dan penyesalan menghantui Yeonchan. Yeonchan menyandarkan tubuhnya seraya menyesap alkoholnya. Berusaha meredakan pergolakan hebat yang terjadi di dalam hatinya.
“Kenapa aku masih merasa bersalah seperti ini?” tanya Yeonchan pada dirinya.
Karena dia seorang i***t! Pria paling i***t dan b******k yang pernah dunia kenal! Maki hati kecilnya.
Ya. i***t yang masih stuck dengan seorang perempuan yang sudah lima belas tahun tidak pernah Yeonchan ketahui dimana keberadaannya. Seorang perempuan yang selalu mengisi hati dan pikirannya. Perempuan yang menghilang begitu saja sebelum Yeonchan sempat mengucapkan permohonan maaf. Perempuan yang mampu membuatnya berkubang dalam penyesalan selama lima belas tahun. membuat Yeonchan menguburkan dirinya pada pekerjaan demi mengalihkan rasa kosong dan bersala yang selalu mengisi jiwanya.
“Then, where are you, my dear?” gumam Yeonchan pelan dengan air mata yang mengalir di kedua sudut matanya.
Pikiran Yeonchan melayang pada hari terakhir dimana ia bertemu secara langsung dengan perempuan itu. Hari yang membuat Park Yeonchan mengutuk tindakannya dan berharap bisa mengulang hari itu jika saja ia memiliki kesempatan memperbaikinya.
~FORGIVENESS~
“Kau tampak sangat buruk, Chan,” komentar Jungin seraya menatap prihatin pada Yeonchan.
Yeonchan mengangkat kepalanya sejenak sebelum kembali sibuk dengan minuman miliknya. Ini malam minggu dan sudah menjadi sebuah jadwal tersendiri bagi Yeonchan untuk bertemu para sahabatnya, Juho, Sejoon dan Jungin.
Meski dari luar terlihat baik-baik saja, jauh di dalam dirinya, Yeonchan hancur luluh lantak. Semua hanya bisa terlihat oleh orang yang sangat mengenal Park Yeonchan, seperti tiga orang pria yang terlibat dalam pertemuan kecil hari ini.
“Seburuk itukah penampilanku di mata kalian?” tanya Yeonchan dengan senyuman miris tersungging di wajah tampannya. Sebelah tangan Yeonchan tertumpu pada meja. “Bisakah kalian katakan seberapa buruknya keadaanku ini, hm?”
Sejoon menghela napas kasar. Meskipun sering terlihat sebagai sosok yang dingin, sebenarnya Oh Sejoon adalah pria yang sangat peka terhadap situasi. Tidak butuh waktu lama bagi Sejoon untuk menjawab pertanyaan Yeonchan.
“Kau seperti zombie. Sangat mengerikan. Aku tak tahu bagaimana kau bisa hidup dalam penyesalan besar seperti ini selama lima belas tahun.”
“Kau ingin tahu rasanya, Sejoon-a?” Yeonchan tersenyum jahil ke arah Sejoon, tapi berbanding terbalik dengan sorot hampa yang tergambar di manik hitam Yeonchan.
Sejoon menggelengkan kepalanya dengan cepat. Sejoon tak ingin repot mengetahui bagaimana rasanya hidup dalam penyesalan seperti yang di alami Yeonchan. Melihat betapa buruknya diri Yeonchan selama lima belas tahun ini, membuat Sejoon mengerti.
Yeonchan kembali meneguk minumannya dalam sekali teguk. Tatapannya kini terlihat menerawang dan sedih. “Rasanya lebih baik mati dibandingkan hidup seperti ini. Satu-satunya cara keluar dari semua ini adalah bertemu dan berlutut di depannya.”
Juho melepaskan Jungintan dasi di lehernya yang terasa seperti mencekik lehernya. Mendengar balasan Yeonchan yang begitu putus asa membuat Juho paham betapa menderitanya Yeonchan selama ini.
“Kami tahu, Chan. Itu sebabnya kami tak pernah berhenti membantumu mencari dia. Tapi, kau sudah menghubuni Hyunso, bukan? Apa kau mendapatkan sesuatu dari anak itu?” tanya Juho.
“Aku sudah menghubunginya. Dan tentu saja aku tak mendapatkan apapun darinya.”
“Wah anak ingusan itu tak berubah sedikitpun,ya? Tetap keras kepala dan menyebalkan,” ujar Jungin sambil menggelengkan kepalanya. Wajah Jungin terlihat kesal.
Yeonchan terkekeh melihat raut kesal di wajah Jungin. Dalam kondisi normal, Yeonchan pun akan marah mendapat perlakuan menyebalkan dari pria bernama Do Hyunso—sosok jenius di angkatannya saat bersekolah di SMA Daekyung. Hanya saja, ini dalam kondisi yang berbeda, Park Yeonchan telah melakukan kesalahan besar dan ia hanya bisa menerima dengan pasrah perlakuan tersebut.
“Aku bisa memaklumi tindakannya Hyunso padaku, Jungin. Jika aku berada di posisi yang sama dengan Hyunso, akupun pasti akan bersikap sepertinya.”
“Aku yakin anak ingusan itu mengetahui sesuatu. Jika tidak, kenapa ia begitu gigih menolak mengatakan apapun padamu, Chan,” sahut Sejoon seraya mengangkat slokinya.
Terjadi keheningan beberapa saat setelah ucapan Sejoon. Keempat pria berbeda profesi itu seolah tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga Juho akhirnya memecah keheningan dengan sebuah pertanyaan yang tak terduga.
“Yeonchan-a, boleh kutanyakan sesuatu padamu?”
“Oh. Katakan saja apa yang ingin kau katakan, Juho~ya.”
Juho membenahi posisi duduknya sebelum akhirnya meletakkan kedua tangannya diatas meja dan menatap Yeonchan tepat di kedua matanya. “Yeonchan-a, sampai kapan kau berusaha mencari keberadaan Soomin? Hampir sembilan tahun setelah kau kembali ke Seoul, kau terus mencari perempuan yang seolah menghilang dari muka bumi ini. Tidakkah kau berniat menata kembali hidupmu?”
Yeonchan terdiam mendengar pertanyaan Juho. Lewat pertanyaan tersebut, Yeonchan bisa merasakan rasa peduli yang begitu besar dari Juho. Yeonchan mengerti, ketiga sahabatnya ini menginginkan dirinya bisa lepas dari bayangan masa lalunya.
Tapi, Yeonchan sadar, ia tak bisa melepas begitu saja masa lalunya. Yeonchan telah membuat kesalahan besar di masa lalunya. Satu-satunya cara agar Yeonchan lepas dari rasa bersalah adalah berlutut dihadapan Soomin dan meminta pengampunan atas segala kesalahan yang telah ia perbuat.
“Aku tak bisa lari lagi dari kesalahan yang kuperbuat di masa lalu, Juho-ya. Aku tak bisa begitu saja melanjutkan hidup sementara aku sudah menghancurkan hidup seseorang di masa lalu,” jawab Yeonchan dengan nada pahit.
Yeonchan sadar, semua telah berbeda. Bahkan teman-temannya pun sudah melanjutkan hidup menjadi lebih baik. Juho yang kini menjadi seorang profesor di salah satu universitas ternama, Jungin menjadi seorang aktor dan model profesional, dan Sejoon yang telah menjadi seorang fotografer profesional yang sukses.
Yeonchan pun telah berubah. Ia menjadi seorang pebisnis hebat. Hanya saja, hatinya tak berubah. Hanya dengan bertemu Yoon Soomin, Yeonchan bisa melanjutkan kembali hidupnya tanpa rasa penyesalan dan bersalah yang membayangi hatinya.
~FORGIVENESS~