Yeonchan turun dari sisi pengemudi mobilnya dan berjalan mengitari mobil ke sisi penumpang. Yeonchan membuka pintu penumpang dan mengulurkan tangannya membantu Soomin turun dari mobil SUV nya yang tinggi. Soomin menyambut uluran tangan Yeonchan, dan turun perlahan dari mobil. Soomin tidak dalam kondisi mabuk, beruntunglah karena Yeonchan memergokinya ketika hendak meraih gelas minuman yang keempat.
Keduanya melangkah bersisian menuju rumah pribadi Park Yeonchan. Karena jarak apartemen Soomin dari venue acara malam ini cukup jauh, dan Soomin khawatir dengan kadar alkohol pada tubuh Yeonchan jika ia harus menyetir jauh. Yeonchan terlihat baik-baik saja tanpa ada tanda mabuk, tapi Soomin tetap khawatir. Soomin terpaksa memutuskan menginap di rumah Yeonchan, karena Yeonchan tak mengizinkannya pulang dengan taksi, sementara Soomin tak mau Yeonchan mengantarnya sampai apartemen.
Yeonchan membuka pintu masuk dan membiarkan Soomin masuk ke lebih dulu. Tapi, seketika Yeonchan menyadari bahwa membiarkan Soomin melangkah di depannya merupakan sebuah kesalahan besar. Hanya memandangi punggung Soomin, mampu membuat Yeonchan resah. Gaun yang dikenakan Soomin malam ini memang tertutup, tapi gaun tersebut Yeonchan akui tak bisa menyembunyikan lekuk tubuh Soomin. Terlebih gaun tersebut juga mengekspos sedikit kulit punggung Yoon Soomin.
Yeonchan melonggarkan dasinya, ia merasa gerah memandangi Soomin dari belakang. Sampai di lantai dua rumah Yeonchan, Soomin membalikkan tubuhnya menghadap Yeonchan. Soomin belum menyadari kilat gairah yang terpeta di manik hitam Yeonchan.
“Yeonchan, aku pakai kamar tamu yang ini, ya? Maaf merepotkanmu,” ucap Soomin sambil menunjuk pintu kamar di belakangnya.
Yeonchan tak memberikan respon. Mata hitamnya lebih sibuk memperhatikan Soomin. Aroma parfum Soomin yang terhirup, membuat Yeonchan semakin gelisah. Tak kunjung mendapatkan jawaban, Soomin mulai heran. Mata Soomin menyipit melihat Yeonchan. Perlahan, Soomin mendekati Yeonchan.
“Yeon? Kau baik-baik saja?” tanya Soomin sedikit khawatir.
Sadar bahwa ia sudah bersikap aneh, Yeonchan tersenyum tipis. Pria itu sedang berusaha menahan gejolak tubuhnya yang menginginkan perempuan di depannya. “Y-ya, aku baik-baik saja.”
Soomin mendongakkan kepalanya dan berjinjit untuk mengecup singkat pipi prianya. Kecupan yang begitu ringan dan singkat. “Selamat malam, Yeonchan.”
Jarak bibir Soomin yang begitu dekat bibirnya membuat Yeonchan semakin gila. Jarak tersebut membuat Yeonchan seperti di aliri listrik. Dengan pikiran yang seolah lumpuh, Yeonchan membiarkan Soomin berbalik pergi dari depannya. Perempuan itu memutar tubuhnya dan bersiap masuk ke salah satu kamar tamu yang ada di rumahnya.
Detik dimana Soomin hendak memutar kenop pintu, detik itu pula Yeonchan kehilangan kendalinya. Pria itu melangkah lebar menuju Soomin, meraih salah satu lengan Soomin, membuat Soomin menghadap kembali ke arahnya. Dengan tubuh tingginya, Yeonchan mendorong Soomin ke tembok, mengurungnya sebelum mencium bibir Soomin yang tadi memberikan sengatan listrik pada tubuhnya.
Lutut Soomin terasa lemas saat bibir Yeonchan menyapu lembut bibirnya. Seiring dengan kabut gairah yang menutupi mata Yeonchan, pagutan berubah menjadi semakin panas. Yeonchan menarik Soomin agar semakin mendekat, tangannya menekan tengkuk Soomin berusaha memperdalam pagutan mereka. Erangan Soomin tertahan di tenggorokan saat tangan Yeonchan mengelus lembut punggungnya. Aroma tubuh Soomin membuat Yeonchan semakin pening dan kehilangan kendali.
Soomin memaki dirinya yang tak mampu menolak pesona Yeonchan. Soomin tak mengerti dengan tubuhnya yang tak pernah bisa menolak sentuhan Yeonchan. Pagutan Yeonchan memporakporandakan akal sehatnya. Yeonchan menginvansi Soomin sepenuhnya. Detik itu juga, Soomin sadar telah jatuh pada Yeonchan.
Di saat Soomin hanyut dengan pagutan yang ia berikan, Yeonchan mengangkat tubuh Soomin, membawanya menjauhi kamar tamu dan menuju kamar pribadi Park Yeonchan.
~FORGIVENESS~
Puas mencium Soomin, Yeonchan kini bergerak menyelusuri leher jenjangnya, memberikan kecupan-kecupan yang membuat Soomin resah. Sebelah tangan Yeonchan yang bebas, bergerak menyelusuri punggung Soomin, mencari sesuatu, sebuah seringai muncul di roman tampan Yeonchan. Sebelum Soomin sadar, Yeonchan menarik turun ritsleting dengan cepat menyingkirkan gaun dan semua kain yang menutupi tubuh Soomin, hingga Yeonchan tercengang dengan pemandangan yang tersaji di depannya.
Yeonchan bergerak turun dari ranjangnya, membiarkan Soomin mengatur napasnya. Yeonchan berdiri seraya menatap Soomin yang terbaring di ranjangnya dengan tubuh yang polos sepenuhnya. Manik hitam Yeonchan menelusuri setiap permukaan kulit Soomin. Selain d**a yang semakin berisi dan lekuk pinggul yang semakin memperlihatkan tubuh perempuan dewasa, tidak ada perubahan lainnya. Napas Yeonchan semakin kasar, seiring dengan eksplorasi yang ia lakukan pada tubuh polos Soomin.
“Yeon, berhenti menatapku seperti kau hendak menerkamku!” desis Soomin. Demi apapun, di tatap seperti itu oleh Yeonchan membuat Soomin merasa sangat gelisah.
Yeonchan tertawa mendengar peringatan yang diberikan Soomin. Pria itu tak peduli dan mulai menyingkirkan kain yang membalut tubuhnya, hingga ia pun polos. Soomin meneguk ludahnya melihat tubuh Yeonchan sekarang, ia yakin pipinya kini semerah udang rebus. Soomin memalingkan wajahnya tak berani melihat tubuh Yeonchan yang ternyata sudah banyak berubah dari yang ia ingat. Dadanya lebih bidang dan otot perutnya terbentuk secara sempurna, dan jangan lupakan lengannya yang kokoh.
“Kenapa memalingkan wajahmu, chagiya?” tanya Yeonchan dengan suara rendahnya.
Soomin tersentak kaget menyadari Yeonchan telah kembali mengurung tubuhnya. Sentuhan kulit Yeonchan pada kulit polosnya terasa seperti aliran listrik yang menyengat. Gairah dan rasa memuja Soomin pada pria di depannya membuatnya buta. Aroma maskulin yang menguar dari tubuh Yeonchan semakin melumpuhkan akal sehatnya.
Tanpa berniat mendengar jawaban Soomin, Yeonchan membungkam Soomin dengan bibir sementara tangannya menjelajahi setiap lekuk tubuh Soomin, membuat perempuan itu gelisah. Kepala Yeonchan semakin pening karena gairah yang menguasai dirinya. Ia membutuhkan Soomin, tidak hanya hanya saat ini tapi di seluruh hidupnya. Park Yeonchan menginginkan Yoon Soomin, sesederhana itu.
Soomin mengambil napas saat Yeonchan berhenti memcumbunya. Manik cokelatnya tak fokus karena tindakan yang Yeonchan lakukan padanya. Soomin kembali mendongak dan menatap Yeonchan yang tengah sibuk dengan bagian selatan tubuhnya. Sadar diperhatikan Yeonchan kembali berfokus pada Soomin.
“Kalau terasa menyakitkan, kau boleh mencakarku,” geram Yeonchan yang napasnya kembali memburu.
Soomin tersentak merasakan sentuhan awal di bawah tubuhnya. Soomin merasa tubuhnya seperti terbelah. Di tengah sentuhan itu, Soomin bertanya dalam hati, kapan terakhir kali ia melakukannya?
Seiring dengan rasa menyengat di bagian bawah tubuhnya, Soomin mencengkram kuat bahu Yeonchan dan teriakan keduanya lepas. Yeonchan berhenti sejenak untuk memperhatikan Soomin. Yeonchan mengecup kening dan kedua mata Soomin saat ia berhasil melakukannya. Senyum tersungging di wajah Yeonchan saat kelopak mata Soomin memperlihatkan sorot cokelatnya, tangannya dengan lembut mengusap keringat yang membasahi kening Soomin.
“Don’t close your eyes, sweetheart. Apa terasa sakit?”
“Sedikit....” balas Soomin pelan.
Yeonchan terkekeh mendengar pertanyaan Soomin. Rasa tubuh Soomin masih sama seperti yang Yeonchan ingat dulu, tidak berubah. “Kapan terakhir kali kau melakukannya, Soomin-a?” Yeonchan berusaha mengalihkan Soomin dari rasa sakit dan mulai bergerak.
“Denganmu, lima belas tahun yang lalu.”
Rasa bangga memenuhi hati Yeonchan mendengar jawaban Soomin. Sejak dulu hingga sekarang, Yoon Soomin tetap menjadi miliknya. Hal itu membuat Yeonchan merasa spesial. Pria itu kembali memberikan kecupan di dahi.
“So do I. Kau tahu kenapa aku tak bisa melakukannya dengan perempuan lain?”
Soomin menatap Yeonchan, berusaha mencari kejujuran di manik hitam itu dan Soomin menemukannya. “Kenapa?”
Yeonchan menunduk dan memberi kecupan di leher jenjang Soomin. “‘Cause I’m so addicted to you, Yoon Soomin,” bisik Yeonchan dengan suara rendahnya di telinga Soomin.
Soomin tak mampu menjawab, karena Yeonchan bergerak semakin cepat membuat Soomin resah setengah mati. Sensasi dari kegiatan mereka membuat napas keduanya semakin memburu. Suara Soomin yang mendesahkan namanya seperti alunan melodi di telinga Yeonchan, membuat Yeonchan pikir ia sudah gila. Benar-benar gila.
Saat keduanya tak lagi mampu menahan gejolak yang menyebar di tubuh mereka, hanya deru napas dan sesekali teriakan yang memenuhi kamar. Tak peduli dengan detik yang menyeret hari semakin larut, Yeonchan dan Soomin semakin melibatkan perasaan yang begitu dalam lewat setiap sentuhan. Hingga teriakan keras dari keduanya menandai selesainya kegiatan mereka di saat waktu sampai pada dini hari.
Masih dengan napas memburu, Yeonchan menjatuhkan tubuhnya ke samping Soomin. Yeonchan menarik Soomin ke dalam dekapannya, menghujani wajah perempuannya dengan kecupan. Rasa lelah yang menyergap, membuat keduanya memejamkan mata. Keduanya terlelap sambil berpelukan erat, seakan takut salah satu diantara mereka akan pergi.
~FORGIVENESS~
Sinar matahari yang menyilaukan membuat Soomin bangun dari tidurnya. Mata cokelatnya menemukan Yeonchan terlelap di sampingnya. Wajah polos Yeonchan yang terlelap membuat Soomin gemas. Rasa cinta Soomin pada Yeonchan membuncah seiring dengan segala yang telah pria itu lakukan untuknya.
Tangan Soomin terangkat mengusap lembut pipi Yeonchan. Ingatan Soomin melayang pada kegiatan yang mereka lakukan tadi malam, mengingat itu pipi Soomin menghangat. Soomin mendesah bahagia menyadari Yeonchan, menjadi pria yang kembali memiliki Soomin seutuhnya, sejak dulu dan tak berubah. Sebuah keinginan menjadi seseorang yang melihat Yeonchan di pagi hari menggelitik hati Soomin. Apakah ia bisa menjadi seseorang yang setiap pagi melihat wajah terlelap Yeonchan seperti ini ?
“Apa wajahku begitu sempurna sampai kau terpana melihatnya?”
Suara serak Yeonchan membuat lamunan Soomin buyar, kelopak mata Yeonchan terbuka dan memperlihatkan eye smile pria itu. Soomin bergerak mundur menyadari Yeonchan ternyata telah bangun. Bibir Soomin mencebik kesal.
“Kau terlalu percaya diri, Park Yeonchan! ” ujar Soomin kesal. Soomin memalingkan wajahnya karena malu ketahuan mengagumi wajah Yeonchan.
Yeonchan tertawa. Ah, perempuan di depannya terlalu malu. Padahal, Yeonchan melihat kejujuran di mata Soomin. Soomin sangat mencintai dirinya dan Yeonchan bahagia. Pria itu bahagia karena perasaannya berbalas.
Yeonchan meraih pinggang Soomin dan membawanya ke dalam pelukannya. Pria itu kemudian membisikkan sebuah kata yang membuat jantung Soomin berdebar kencang.
“Kau tahu, Soomin-a? Aku ingin melihatmu setiap kali membuka mata seperti sekarang. Aku menginginkanmu di sepanjang hidupku,”
Bolehkah Soomin mengartikan ucapan itu sebagai tanda kelak ia akan menjadi pendamping hidup Yeonchan?
~FORGIVENESS~