Yeonchan menyadari sejak datang dan memasuki ruangan pertemuan ini, dirinya masih berdiri mematung di ambang pintu. Yeonchan terkesima dengan sosok yang berada tak jauh darinya. Yeonchan merasa baru saja mendapatkan keajaiban karena salah satu doanya terkabulkan.
Yeonchan memberanikan diri melangkah lebih jauh ke dalam ruangan, hingga ia berdiri tepat di depan perempuan itu. Perempuan yang menggenggam separuh dirinya di masa lalu. Yeonchan tak bisa menahan diri untuk tak tersenyum pada Yoon Soomin, meski pun pria itu merasa jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Selain itu, Yeonchan merasa sangat gugup untuk berhadapan dengan Yoon Soomin.
“Lama tak berjumpa, S-soomin-a. Bagaimana kabarmu?”
Yeonchan memberanikan diri untuk menyapa dan mengulurkan tangan kokohnya pada Soomin. Padahal, jantung Yeonchan saat ini berdegup lebih kencang dari biasanya. Pria itu merasa gugup dan takut karena tak menyangka bahwa hari ini akan menjadi hari keberuntungannya bertemu dengan Yoon Soomin, perempuan yang sudah ia cari selama hampir sembilan tahun sejak Yeonchan kembali menginjakkan kakinya di Seoul.
Atensi manik cokelat Soomin jatuh pada tangan kokoh Yeonchan yang terulur sebelum akhirnya kembali menatap wajah pria tampan tersebut. Soomin melayangkan tatapan dinginnya pada Yeonchan dan berusaha bersikap biasa saja.
“Baik,” balas Soomin tanpa berniat sedikit pun membalas jabat tangan Yeonchan. Soomin dengan sengaja mengabaikan uluran hangat tangan Yeonchan.
Yeonchan menarik kembali tangannya yang tergantung di udara. Yeonchan merasa canggung. Untuk mengusir rasa canggung, Yeonchan mengusap tengkuknya dan kembali berusaha membuka topik obrolan. Bagaimana pun Yeonchan sadar, pertemuan pertamanya dengan Soomin setelah hampir lima belas tahun tak bertemu akan sulit. Mengingat betapa brengseknya sikap Yeonchan di pertemuan terakhir mereka.
Tak berniat membuang waktu lebih lama dengan Yeonchan, Soomin memilih segera memulai pertemuan hari ini. Soomin tak bermaksud menghindari Yeonchan pada pertemuan hari ini, meski di dalam hati Soomin ingin sekali melakukannya. Lebih dari itu, pekerjaan yang menumpuk di kantor membuat Soomin berpikir jernih mempercepat pertemuan hari ini tanpa banyak basa-basi.
“Saya yakin Anda masih punya banyak urusan yang harus Anda kerjakan. Bagaimana jika kita mulai saja pertemuan hari ini, Tuan Park?” tanya Soomin sambil mengarahkan pandangannya pada Park Yeonchan yang masih berdiri di dekatnya.
Melihat Soomin yang bersikap begitu dingin dan membuat jarak, membuat Yeonchan menghembuskan napasnya dengan pasrah. Yeonchan sadar ia memang pantas diperlakukan seperti itu. Akhirnya Yeonchan mengangguk singkat sebelum akhirnya duduk di kursi yang telah disediakan dan memulai pertemuan.
Soomin meraih tas kerjanya dan mengeluarkan dokumen yang diminta Tuan Byun untuk diserahkan pada Yeonchan. Dokumen tersebut memuat seluruh perjanjian dan perencanaan proyek kerjasama antara Park Land Corp dan Byun Media Group. Dengan tenang, Soomin menyerahkan dokumen tersebut pada Yeonchan.
“Silakan Anda pelajari lebih lanjut, Tuan Park. Dokumen ini memuat perencanaan proyek kerjasama antara Park Land Corp dan Byun Media Group. Jika ada hal yang kurang sesuai dengan keinginan Anda, saya akan mencatat dan menyampaikannya pada Tuan Byun,” jelas Soomin yang kini juga sibuk membuka lembar demi lembar dokumen. Yoon Soomin jelas sekali tak ingin membuka celah bagi Yeonchan untuk berbasa-basi.
Yeonchan tak mengatakan apapun. Pria itu kini menyandarkan punggungnya seraya membuka dokumen. Begitu lembar pertama di buka, Yeonchan menyadari jika matanya terasa enggan untuk membaca dokumen tersebut. Sebaliknya, Park Yeonchan hanya ingin mengamati Yoon Soomin. Yeonchan ingin mempelajari segala sesuatu mengenai Yoon Soomin dewasa. Yeonchan ingin membandingkan apa saja yang telah berubah dari perempuan yang selalu menempati ruang terdalam di relung hati Yeonchan.
Perlahan, Yeonchan memulai pengamatan dari wajah Yoon Soomin. Sebuah senyuman tipis tersungging di wajah Yeonchan, menyadari segala lekuk wajah Soomin tak berubah sedikit pun. Matanya masih terlihat seperti sepasang berlian yang berkilauan, hidungnya yang mancung dan kecil, warna kulitnya yang masih pucat tetapi terlihat sehat, pipinya yang mengenakan sapuan blush on tipis membuat tulang pipinya terlihat tinggi, bibir mungilnya yang terpoles liptint merah muda. Yeonchan sangat menyukai pemandangan yang tengah ia perhatikan saat ini.
Yoon Soomin begitu semakin cantik dengan keanggunan dan kedewasaaan yang dimilikinya. Soomin dewasa lebih cantik dibandingkan yang pernah Yeonchan ingat selama ini. Yeonchan merasa dirinya menahan napas saat melihat jari lentik Soomin terangkat untuk menyelipkan helaian rambut yang menghalangi pandangannya. Jari-jari lentik yang selalu menggenggam tangannya di masa lalu. di dalam hati Yeonchan bertanya-tanya, apakah jari-jari lentik itu masih terasa hangat seperti yang ia ingat?
Soomin sama sekali tak mempedulikan apa yang sedang dilakukan Yeonchan. Mata cokelatnya sibuk membaca dan mempelajari dokumen kerjasama. Soomin tak ingin mengecewakan Tuan Byun, yang seringkali mempercayakan pertemuan penting seperti ini jika atasannya itu berhalangan hadir. Itu sebabnya, Soomin berusaha fokus dengan tugasnya. Tak peduli jika jantungnya berdegup lebih cepat dan Soomin merasa resah berada satu ruangan bersama Yeonchan, pria di masa lalu yang pernah ia cintai sepenuh hatinya.
Lebih dari dua puluh menit Yeonchan dan Soomin lewati dalam keheningan. Keduanya tampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Yeonchan yang berusaha mengingat sebaik mungkin sosok Soomin saat ini, sementara Soomin sibuk mempelajari dokumen kerjasama. Suasana ruangan begitu tenang dan canggung, membuat kedua manusia yang terjebak dalam ruangan tersebut merasa gelisah.
Tak tahan dengan situasi yang begitu canggung, Yeonchan menghentikan pengamatannya pada Soomin. Pria itu ingin sedikit berbasa-basi. Lebih dari itu semua, Yeonchan ingin mengetahui kabar Yoon Soomin selama ini. Pikiran Yeonchan kemudian melayang pada pertemuan terakhir mereka dan Yeonchan mengingat satu hal yang membuat dirinya berada dalam penyesalan mendalam.
Mungkinkah perempuan di depannya itu masih mempertahankannya?
“Soomin-a...”
Tubuh Soomin menjadi kaku mendengar suara Yeonchan memanggil namanya. Entah kenapa, suara Yeonchan yang begitu rendah itu terkesan penuh kasih saat menyebutkan namanya. Nada yang sama seperti Yeonchan di masa lalu menyebut namanya. Tapi, Soomin segera mengenyahkan perasaan itu dari hatinya. Soomin tak mau lagi terjebak dalam sikap yang di perlihatkan pria di hadapannya. Soomin tak akan membiarkan Yeonchan kembali merusak dan menghancurkan dirinya.
“Apa Anda sudah selesai membacanya, Tuan Park?” tanya Soomin seraya mengangkat wajahnya dan menatap lurus pada Yeonchan.
“Ya. Aku sudah selesai membacanya,” Yeonchan berusaha bersikap informal. Dia tak mau mengikuti sikap Soomin yang begitu kaku dan formal padanya. Yeonchan ingin menghilangkan batasan di antara mereka.
Soomin menutup lembaran dokumen dan memfokuskan perhatian pada Yeonchan. sebelah tangannya kini telah siap memegang pulpen untuk mencatat hal yang tak sesuai dengan keinginan Yeonchan. Lagi, Soomin mengabaikan Yeonchan yang tengah menatapnya dengan sorot penuh kerinduan.
“Jadi, apa ada yang tidak sesuai keinginan Anda, Tuan Park? Jika ya, silakan Anda katakan dan saya akan menyampaikannya pada Tuan Byun.”
Yeonchan menghela napas panjang. Yeonchan merasa kesal dengan Soomin yang bersikap formal padanya. Mata hitam Yeonchan menatap tepat di kedua manik cokelat Soomin. Manik cokelat yang dulu selalu memancarkan kehangatan untuknya, kini terlihat begitu dingin dan tertutupi benteng. Tatapan yang terlihat seperti tak ada kesempatan apapun untuk Yeonchan. Tapi, bukan Park Yeonchan jika ia menyerah begitu saja.
“Tidak bisakah kita sedikit berbasa-basi, Soomin-a? Kenapa kau terlihat begitu kaku. Padahal kau begitu mengenalku.”
Soomin menarik napas panjang. Ada alasan Soomin tak membiarkan Park Yeonchan berbasa-basi dengannya. Soomin ingin menganggap bahwa pertemuan hari ini memanglah pertemuan bisnis, bukan pertemuan antara mantan kekasih yang sedang bertukar kabar. Soomin tak mau lagi mengulang rasa sakit yang dulu mendera hatinya karna pria di depannya.
“Saat ini kita sedang dalam urusan bisnis, Tuan Park. Saya yakin Anda sangat mengerti maksud ucapan saya,” tegas Soomin.
“Aku tahu ini adalah pertemuan bisnis. Tapi, tidak bisakah kita berbasa-basi mengingat ini pertemuan pertama kita setelah lima belas tahun berlalu, bukan? Tidakkah kau ingin mengetahui kabarku atau apa yang telah terjadi padaku selama ini?” Yeonchan kini memberikan tatapan memohon.
“Saya tak peduli dengan kabar Anda atau apa pun yang telah terjadi pada Anda, Tuan Park. Semua itu jelas bukan urusan saya dan saya tak punya hak.”
Yeonchan tak tahan lagi. Pria itu menggebrak meja di depannya. Membuat Soomin terlonjak kaget dengan tindakannya. Yeonchan tak peduli. Ini kesempatan yang sudah ia tunggu seumur hidupnya. Kesempatan untuk bertemu dan memohon maaf pada Soomin. Itu sebabnya, Yeonchan bangkit dari duduknya dan melangkah cepat menuju tempat Soomin duduk.
Soomin bersikap waspada melihat pergerakan Yeonchan yang tiba-tiba. Jantung Soomin kembali berdegup kencang dan kepalanya sibuk menduga-duga apa yang akan Yeonchan lakukan padanya. Soomin merasa ketakutan berada satu ruangan bersama Yeonchan. Di dalam hati, Soomin mengerang kesal karena atasannya memilih pertemuan di ruangan privat seperti sekarang.
“A-apa yang akan kau lakukan?”
Yeonchan telah berdiri di depannya. Tanpa pernah Soomin duga, Yeonchan kemudian berlutut tepat di depannya menatapnya sendu. Mata sekelam malamnya menatap tepat di kedua manik Soomin. Kini, Soomin dapat melihat dengan jelas sorot penuh penyesalan dan sedih pada mata Yeonchan. Bahkan, Soomin bisa melihat manik tersebut dibayangi airmata, membuat Soomin merasa hatinya sakit melihat pria di depannya seperti akan menangis. Sejak dulu, Soomin memang paling lemah dengan mata milik Yeonchan.
Jika menurut orang mata adalah jendela hati, maka melalui mata, Soomin bisa melihat dengan jelas hati Yeonchan saat ini. Soomin bisa melihat luka mendalam di hati Yeonchan yang tak pernah Soomin pahami apa penyebabnya.
“Yoon Soomin, aku minta maaf. Aku menyadari jika ucapan, perbuatan, bahkan sikapku di masa lalu pasti telah menghancurkan hidupmu. Aku sangat menyesal,” ucap Yeonchan dengan suara bergetar menahan tangis.
Lukanya di masa lalu yang telah mengering secara tiba-tiba seperti di siram air asam. Membuat Soomin kembali berjengit merasakan sakit dan sesak di dadanya. Lima belas tahun, Soomin menunggu dan berharap Yeonchan menarik semua ucapannya. Semua telah terlambat. Yeonchan pergi meninggalkan Soomin begitu saja dalam keadaan hancur.
Dengan tatapan dingin dan terluka, Soomin membalas tatapan Yeonchan tepat di kedua maniknya. Sambil berusaha mengurangi rasa sesak dan nyeri di dadanya, Soomin memberikan jawaban atas permohonan maaf yang diucapkan Yeonchan.
“Kau terlambat lima belas tahun, Park Yeonchan. Tidak ada lagi yang tersisa sekarang, karena aku membencimu.”
~FORGIVENESS~