Yeonchan menutup telinganya dengan ekspresi kesal bercampur marah. Beberapa kali pemuda itu memberikan tatapan tajam pada gadis yang sejak tadi memegangi lengannya, menahan pergerakan Yeonchan agar tetap berada di sebelahnya. Tak tahan dengan sikap gadis di sebelahnya, Yeonchan menyentakkan tangan si gadis dari lengannya. Mata hitam Yeonchan berkilat penuh kemarahan.
“Kau ini kenapa sih?!” tanya Yeonchan dengan gusar.
Yoon Soomin terkejut dengan perlakuan Yeonchan padanya. Mata Soomin terbelalak saat Yeonchan menyentakkan lengannya dengan kasar. Rasa nyeri perlahan merayapi hati Soomin. Soomin tak menyangka Yeonchan bisa bersikap kasar padanya, padahal selama ini pemuda di depannya selalu memperlakukannya dengan lembut dan penuh kasih.
“Yeon-a, kenapa kau jadi bersikap kasar padaku?”
“Aku tidak akan kasar, jika saja kau tidak berubah menyebalkan,” balas Yeonchan dengan nada yang begitu ketus.
Sudah hampir sebulan Yeonchan dan Soomin selalu bertengkar. Sebenarnya, bertengkar bukanlah hal yang baru bagi Yeonchan dan Soomin selama mereka berpacaran. Tapi, intensitas pertengkaran mereka semakin meningkat setelah Yeonchan memberitahu Soomin jika dirinya akan melanjutkan sekolah ke Inggris sesuai keinginan orangtua Yeonchan.
Soomin tahu, dia tidak bisa bersikap egois dengan keputusan Yeonchan, mengingat status Yeonchan yang saat ini adalah pewaris tunggal perusahaan keluarganya. Seandainya saja kakak Yeonchan—Park Yeonsoo—tidak meninggal secara mendadak, tentu Yeonchan tak akan terbebani dengan kewajiban melanjutkan perusahaan. Hanya saja, Soomin dilanda rasa ketakutan yang begitu besar. Soomin takut kehilangan Yeonchan, terlebih dengan kondisi yang tengah ia hadapi saat ini.
Yeonchan melangkah cepat menuju ruang tunggu VIP bandara Incheon. Pemuda itu terlihat acuh dengan keberadaan Soomin yang terus mengikutinya sampai ruang tunggu. Yeonchan hanya menolehkan sedikit wajahnya saat mendengar perdebatan kecil antara Soomin dan seorang petugas bandara hingga Kim Minseok—asisten ayahnya yang di tugaskan menemani Yeonchan hari ini—memberikan penjelasan pada petugas bandara dan memperbolehkan Soomin masuk ke dalam.
Yeonchan menghempaskan pantatnya pada sofa yang terdapat di ruang tunggu. Rasa kesal pada Soomin masih memenuhi dadanya. Yeonchan tak mengerti kenapa Soomin bertingkah menyebalkan akhir-akhir ini, bahkan bersikap egois dengan memohon padanya agar tak melanjutkan kuliah di Inggris.
Inggris, di mana pasti banyak gadis cantik dan juga agresif, Soomin sadar aura Park Yeonchan bisa memikat dan menghipnotis gadis mana pun. Soomin tak peduli meskipun Yeonchan sudah memberikan pengertian jika dirinya akan pulang setiap liburan. Bagaimana pun juga Yeonchan mencintai gadisnya, tapi Soomin sudah dilanda ketakutan yang sangat besar. Ia takut Yeonchan akan meninggalkannya.
“Yeonchan-a, ada sesuatu yang ingin kukatakan.”
Yeonchan mendongakkan kepalanya dari ponsel yang tengah menampilkan sebuah games. Yeonchan menatap malas Soomin yang berdiri tepat di depannya. Entah kenapa manik hitam Yeonchan bisa melihat Soomin terlihat... gelisah?
“Jika kau ingin melanjutkan pertengkaran kita, lebih baik kau diam. Aku tak ingin membahas apapun saat ini,” jelas Yeonchan dengan perhatian yang kembali tertuju pada layar ponselnya, melanjutkan permainan.
Soomin menggigit bibirnya berusaha mengurangi rasa gugup. Soomin tak mau Yeonchan pergi. Soomin menarik napas resah. Soomin bingung bagaimana caranya memberitahu Yeonchan hal ini. tapi, gadis itu tak punya pilihan lain dan berharap sesuatu yang akan ia katakan ini akan membatalkan kepergian Yeonchan ke Inggris.
“ Yeon-a,” Soomin diam sejenak karena ketakutan itu menjadi semakin nyata, “aku hamil” cicit Soomin dengan nada suara nyaris berbisik.
Tubuh Yeonchan menegang mendengar ucapan Soomin. Meski pun gadis itu mengatakannya dengan nada setengah berbisik, tapi telinga lebar Yeonchan mampu mendengarnya dengan jelas. Sontak, Yeonchan mengangkat wajahnya dan menatap Soomin dengan pandangan nanar.
“Apa kau bilang?”
Soomin menundukkan kepalanya. Gadis itu tak sanggup mengulangi ucapannya. Mata Soomin terasa panas dan merasakan airmatanya hendak menetes, tapi Soomin menahannya dengan menarik napas dan mengulangi ucapannya. “A-aku hamil, Yeon.”
“Apa kau berniat menjebakku?”
Balasan yang di berikan Yeonchan membuat Soomin kembali mengangkat wajahnya. Mata cokelat itu terbelalak yang di hiasi likuid bening yang tampak sangat rapuh. “Apa maksudmu, Yeonchan-a?”
Yeonchan bersandar pada sofa dan menyilangkan tangan di depan dadanya. Mata hitamnya menatap tepat ke arah Soomin, berusaha mencari kejujuran di manik tersebut. Dan Yeonchan mendapati kejujuran tersebut hingga membuat pemuda itu merasa gelisah dan takut.
“Bagaimana bisa ‘sesuatu’ itu muncul secara tiba-tiba? Kita pernah melakukannya sebelumnya dan tak menimbulkan masalah apa pun. Kenapa sekarang ‘sesuatu’ itu bisa muncul begitu saja?”
Soomin menatap Yeonchan dengan mulut terbuka. Gadis itu terkejut mendengar ucapan Yeonchan. Memang benar, mereka sudah melakukannya sebanyak dua kali. Dan saat pertama kali mereka melakukannya, tidak ada masalah. Masalah ini muncul karena terakhir kali mereka melakukannya saat Soomin dalam masa subur. Dan bagaimana bisa Yeonchan menyebut calon anaknya sebagai sesuatu? Seolah-olah buah cinta itu layaknya sebuah benda.
“Terakhir kali kita melakukannya aku dalam masa subur, Yeol. Dan kau tak pernah mau menggunakan pengaman meskipun aku sudah mengingatkan!” Suara Soomin sedikit meninggi. Matanya berkilat marah pada Yeonchan.
“Mana aku tahu kau sedang dalam masa subur atau tidak! Kau, jelas yang paling tahu. Jika kau sadar dalam masa subur dan akan menimbulkan masalah di kemudian hari, kenapa kau tak mencegahnya? Minum obat pencegah kehamilan, misalnya?” balas Yeonchan sambil memalingkan wajahnya dengan malas.
Oh cukup sudah!
Soomin merasa darahnya mendidih mendengar balasan Yeonchan. Kedua tangannya yang berada di sisi tubuhnya mengepal. Soomin merasa sesak mendengar Yeonchan yang seolah menyalahkan dirinya atas kejadian ini. Kemarahan yang Soomin rasakan membuatnya tak sanggup berkata - kata. Gadis itu terlalu marah.
Jantung Yeonchan berdegup kencang, ia tak menyangka bisa mengatakan hal seperti itu pada Soomin. Pemuda itu merasakan keringat membasahi punggungnya meskipun ia berada di ruangan ber-AC. Yeonchan merasa takut dan tak siap menghadapi apa yang akan terjadi jika orangtuanya, terutama sang ayah. Yeonchan tak siap menghadapi kemurkaan ayahnya. Hingga otaknya mendapatkan jawaban agar semua masalah ini selesai. Jawaban paling brilian yang pernah ia pikirkan setelah diam selama sepuluh detik.
“Jika kau merasa takut dan tak siap, maka gugurkan saja,Soomin-a. Kau tak perlu cemas, aku akan meminta bantuan Jungin, dia tahu seorang dokter yang mau membantu kita menyelesaikan masalah ini. Kau hanya perlu pergi pada dokter tersebut dan aku akan menanggung semua biaya. Selesai bukan?”
Yeonchan mengatakan semuanya dalam nada yang begitu datar. Sama sekali tak ada raut penyesalan yang tergambar di wajah Park Yeonchan. Yeonchan seolah menganggap topik pembicaraanya ini adalah menyingkirkan tanaman liar yang mengganggu tanaman hiasnya. Begitu santai dan tenang. Berbanding terbalik dengan Soomin yang wajahnya terlihat merah padam menahan kemarahan bercampur kekecewaan dan kesedihan di hatinya.
“Bagaimana mungkin kau bisa setenang itu mengatakan semuanya?”
Yeonchan bisa mendengar nada kecewa dari suara Soomin. Gadis itu menatapnya dengan tatapan terluka dan penuh kekecewaan. Mendadak, Yeonchan merasa sesak melihat tatapan Soomin. Yeonchan memilih mengabaikan rasa sesak yang diakibatkan pandangan Soomin padanya. Yeonchan kembali membalas tatapan Soomin dengan berani.
“Well, aku tak mengharapkan semua ini terjadi dan kuyakin kau juga tidak. Jadi, lebih baik kita singkirkan saja. Selesai, bukan? ‘Sesuatu’ seperti itu sama sekali belum ada daftar rencana hidupku setidaknya sampai sepuluh tahun yang akan datang,” tukas Yeonchan santai. Pemuda itu kini meraih kembali ponselnya yang sempat ia letakkan di meja.
Sakit.
Sesak.
Soomin merasakan hatinya tercabik mendengar jawaban Yeonchan. Pemuda yang selama ini dipujanya ternyata begitu egois dan tak punya hati. Bagaimana bisa ia begitu tega membuang begitu saja darah daging yang ada dalam rahim Soomin saat ini?
Detik itu juga, Soomin menyadari jika Park Yeonchan tak sepenuhnya mencintai dirinya. Pemuda itu tak pernah menginginkan dirinya dan seharusnya Soomin menyadari semua itu sejak awal. Mana mungkin, pemuda tampan, kaya raya, populer, serta cerdas sekelas Park Yeonchan jatuh cinta pada dirinya yang begitu sederhana dan tak memiliki daya tarik apa pun selain pintar? Sementara ada puluhan gadis cantik dan setara dengan Yeonchan di sekolah yang menginginkan pemuda tersebut menjadi kekasih mereka.
Di dalam hati, Soomin menertawakan kebodohannya. Ya Tuhan, ia benar-benar gadis naif yang percaya jika kejadian layaknya cerita di novel remaja yang sering ia baca memang bisa terjadi dalam dunia nyata. Kenyataan memang selalu pahit. Dan kini Soomin tengah menelan pil pahit setelah terbangun dari mimpi indahnya.
Soomin menghela napas panjang. sebelah tangannya terangkat untuk menyelipkan anak rambut yang mengganggu pandangannya. Soomin menegakkan kepalanya, berusaha mengumpulkan sisa harga diri dan hatinya yang telah hancur di hadapan Park Yeonchan.
“Jika semua ini terjadi di luar rencanamu, aku minta maaf, Yeonchan-ssi. Kau tak perlu cemas, aku akan melakukannya sesuai keinginanmu. Menggugurkan ‘sesuatu’ yang kau anggap sebagai pengganggu ini. Kelak di kemudian hari, kau tak akan mendapatkan masalah lagi dan bisa melanjutkan hidupmu dengan tenang,” ucap Soomin dengan nada yang begitu tenang. Tidak ada lagi ledakan emosi yang terdengar dari nada bicara gadis itu.
Yeonchan menghentikan permainannya dan mendongakkan kepalanya. Yeonchan terkejut mendapati Soomin tengah tersenyum pahit padanya. Yeonchan merasa sakit mendengar Soomin yang memanggilnya dengan formal. Belum sempat Yeonchan mengatakan sesuatu, Soomin sudah kembali berbicara, mendahului Yeonchan.
“Hiduplah dengan baik, Park Yeonchan. Aku dan ‘sesuatu’ ini, tidak akan mengganggu hidupmu lagi. Kurasa ini pertemuan terakhir kita. Jadi, sampai jumpa,” ucap Soomin sambil mempertahankan senyuman di wajahnya meskipun hatinya perih bukan main.
Soomin sekuat tenaga menahan airmatanya. Soomin tak mau terlihat lemah di depan Yeonchan. Soomin ingin membuktikan dirinya bukan perempuan lemah seperti yang Yeonchan pikirkan selama ini. perempuan lemah yang begitu saja mudah dipermainkan setelah menyerahkan hati dan sesuatu yang sangat berharga pada Park Yeonchan.
Secepat itu, Soomin berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Yeonchan yang duduk mematung menyaksikan punggung Soomin menjauhi dirinya. Yeonchan kehilangan kemampuannya untuk bergerak. Pemuda itu hanya duduk diam dengan kepala yang dipenuhi tatapan dan senyuman terakhir yang di berikan Soomin padanya.
Seandainya saja Yeonchan tahu bahwa tatapan dan senyuman terluka Soomin pada hari ini akan terus menghantuinya. Seandainya saja, Yeonchan tak bersikap seperti seorang pecundang.
~FORGIVENESS~