Yoon Soomin menenggelamkan diri ke dalam bathtub, membiarkan aliran hangat menyapu seluruh permukaan kulit pucatnya. Gelembung udara akibat napasnya muncul di permukaan air bathtub, Soomin memejamkan mata, menikmati sensasi dirinya berada di dalam air. Hingga desakan kebutuhan oksigen di paru-parunya, membuat Soomin akhirnya keluar dari air.
Soomin mengusap air yang menetes dari rambut kecokelatannya. Perempuan itu menyandarkan punggungnya. Otak Soomin kembali menayangkan pertemuan tak terduganya hari ini dengan Park Yeonchan. Bayangan Yeonchan yang berlutut, memohon maaf padanya, bahkan cara pria itu menggenggam tangannya, kembali berlarian di kepala Soomin.
Soomin mendesah putus asa. Soomin menyesali pertemuannya dengan Yeonchan hari ini. Di saat ia berhasil memulihkan diri dan merasa hidupnya kembali seperti semula, semesta malah membawa Yeonchan kembali padanya. Ungkapan dunia ternyata sempit memang benar. Dari sekian banyak rekan bisnis yang dimiliki atasannya, Soomin tak menyangka, Park Yeonchan akan menjadi salah satu dari rekan bisnis Byun Baekki.
“Benar-benar sebuah lelucon,” gumam Soomin seraya tertawa pahit.
Merasa tubuhnya sudah lebih segar, Soomin beranjak dari bathtub, meraih jubah mandi, memakainya dengan cepat dan melangkah menuju walk in closet apartemennya.
Seperti sudah menjadi kebiasaannya setelah mandi, Soomin berdiri di depan kaca setinggi badan yang sengaja di letakkan walk in closetnya. Perlahan, Soomin melepas tali jubah dan menyingkapnya hingga menampilkan kulit pucat polos di depan cermin. Manik cokelatnya menatap tepat pada satu titik yang selalu menjadi perhatiannya.
Segaris luka memanjang berada tepat di bawah perutnya. Bekas luka yang selalu menimbulkan perasaan sakit di hatinya setiap kali melihatnya. Yoon Soomin memejamkan mata tatkala tangannya mengusap lembut bekas luka tersebut, membuat kedua sudut mata Soomin berair mengingat bagaimana bekas luka itu bisa muncul pada tubuhnya.
“ Maafkan ibu. Maaf karena ibu tak bisa menjagamu,” ucap Soomin lirih.
~FORGIVENESS~
Soomin mengganti channel televisi tanpa minat. Sudah setengah jam perempuan itu melakukannya karena tak ada kegiatan yang bisa dilakukannya sehabis mandi. Sebenarnya Soomin bisa saja membaca buku atau mendengarkan musik, seperti yang biasa ia lakukan. Tapi, melakukan kedua kegiatan itu membuat otaknya terus memikirkan Park Yeonchan, memutar kenangan mereka di masa lalu dan mengingat pertemuan mereka siang tadi.
Soomin menghela napas kasar, tangannya meletakkan remote control sedikit kasar di atas meja kopi di depannya. Soomin mendongak menatap langit-langit ruang duduk apartemennya. Ucapan Yeonchan siang tadi terngiang di kepalanya.
Ya Tuhan, kenapa melupakan pria itu susah sekali?
Park Yeonchan, pria dari masa lalu muncul kembali tanpa pernah Soomin duga. Sebenarnya, Soomin tak ingin lagi bertemu dengan pria b******k tersebut apalagi mengingat masa lalu mereka. Selama ini, Soomin berusaha menyembunyikan diri dari Yeonchan. Soomin tahu, Yeonchan telah kembali dan berada di bawah naungan langit yang sama dengannya, sejak sembilan tahun yang lalu. Soomin mengetahuinya dari majalah ekonomi yang menjadi langganan kantor tempat ia bekerja.
Siapa yang tidak mengenal Park Yeonchan?
Pemimpin tertinggi sekaligus pewaris perusahaan raksasa Park Land Corp. Pria yang terus mendapatkan pujian atas prestasi mengagumkannya dalam mengambil alih tampuk kepemimpinan Grup Park Land Corp dari sang Ayah, Park Yeon. Terlebih, dalam beberapa tahun belakangan ini, perusahaan keluarga Park gencar melebarkan sayap ke berbagai industri. Hal tersebut membuat Yeonchan sering muncul dalam kolom berita.
Soomin mengutuk kebodohannya karena beberapa bulan ini, ia tak melakukan update mengenai pria bernama Park Yeonchan tersebut. itu sebabnya, Soomin tak menyangka akan bertemu Park Yeonchan dalam sebuah pertemuan bisnis seperti tadi siang, menggantikan atasannya—Tuan Byun—yang berhalangan hadir.
Soomin mengerang gelisah. Soomin berharap Tuan Byun tak terlalu sering absen dan menyerahkan urusan pertemuan penting pada dirinya, terutama pertemuan yang berhubungan dengan Park Yeonchan. Soomin tak akan sanggup jika harus bertemu lagi dengan Yeonchan kelak. Soomin tak sanggup menangani debaran jantungnya tiap kali berada satu ruangan Yeonchan seperti siang tadi.
Park Yeonchan adalah mimpi buruk sekaligus mimpi indahnya. Soomin tak menampik jika sebagian dirinya merasa senang bisa bertemu dengan pria yang sudah lama menghuni hatinya. Ya, pertemuan tadi menyadarkan Soomin, jika hatinya masih menyimpan perasaan untuk Yeonchan, meskipun Soomin berusaha keras menekan perasaan itu. Soomin tak mau jatuh ke dalam pesona Yeonchan untuk kedua kalinya. Terlebih setelah ucapan Yeonchan saat permohonan maaf tadi.
Di saat kepalanya sibuk menerka-nerka apa yang kelak terjadi pada hidupnya kelak, suara bel pintu apartemennya menyapa gendang telinganya. Sontak, lamunan Soomin pun buyar. Alis Soomin terangkat tinggi saat melihat jam yang terpasang di salah satu dinding, pukul 20.18 malam. Di dalam hati, Soomin bertanya-tanya, siapa yang datang ke apartemennya malam-malam seperti sekarang?
Soomin beranjak dari duduknya. Perempuan itu melihat siapa tamunya lewat kamera pengaman. Soomin menghembuskan napas lega melihat siapa yang datang mengunjunginya, tanpa menunggu lagi, Soomin membuka pintu apartemen.
“Kenapa kau lama sekali membuka pintunya, sih?”
Seorang pria menatap kesal Soomin seraya melangkah masuk ke dalam apartemen. Salah satu tangan pria itu membawa sebuah paper bag. Soomin menutup pintu, sebelum akhirnya mengekor di belakang pria tersebut.
“Oppa, tumben sekali datang kemari. Bukankah seharusnya oppa ada jadwal jaga di rumah sakit?” tanya Soomin sambil memperhatikan pria yang kini tengah mengeluarkan beberapa kotak persegi dari paper bag yang ia bawa.
Do Hyunso terkekeh mendengar pertanyaan Soomin. Hyunso mengangkat sedikit wajahnya untuk memperhatikan wajah Soomin, sebelum kembali melanjutkan kegiatannya mengeluarkan kotak-kotak berisi banchan yang ia bawa dari rumah.
“Ya~ aku ini juga seorang manusia, butuh waktu beristirahat. Aku mengambil cuti selama tiga hari. Lagi pula Eomma akan mengomel jika aku tak mengantarkan banchan—lauk pendamping makanan— pada anak kesayangannya.”
Soomin mencomot kimchi dari salah satu kotak banchan yang di bawa Hyunso. Soomin tertawa geli mendengar nada kesal pada jawaban yang diberikan Hyunso. “Wah Jung eoma memang yang terbaik!”
“Kau sudah makan atau belum?”
“Kebetulan aku belum makan. Apa Oppa mau memasakkan sesuatu untukku?” Soomin bertanya pada Hyunso dengan tatapan penuh permohonan.
Melihat Soomin yang menatapnya penuh permohonan membuat Hyunso menghela napas panjang. Pria itu tak bisa menolak permintaan Soomin. Hyunso begitu menyayangi Soomin. Tanpa banyak berkata, Hyunso meraih celemek dan mulai mengeluarkan beberapa bahan makanan yang terdapat pada kulkas Soomin.
“Kau ingin makan apa, Soomin-a?”
Soomin terdiam sejenak sebelum sebuah senyuman terbit di wajah cantiknya. “Apa pun yang oppa buatkan, pasti akan kumakan,” balas Soomin dengan nada ceria.
Hyunso tak banyak berbicara. Kepala pria itu hanya menggeleng pelan. Meskipun usianya telah menginjak kepala tiga, Yoon Soomin, selalu bersikap seperti anak kecil di depannya. Hyunso bisa mengerti dan memaklumi tingkah Soomin yang begitu manja pada orang-orang terdekatnya, salah satunya adalah dirinya.
~FORGIVENESS~
Uap panas mengepul dari panci yang baru saja diletakkan Hyunso tepat di tengah meja. Aroma kuah pedas menggelitik hidung Soomin yang mampu menerbitkan air liurnya. Soomin menjulurkan lehernya untuk melihat jenis makanan yang di buatkan Hyunso untuknya. Hyunso memasak sup kimchi untuk makan malam Soomin.
“Wah oppa bagaimana bisa kau tahu aku ingin makan sup kimchi?”tanya Soomin yang kini sibuk menyendok kuah sup dengan sendok miliknya.
“Kau ini selalu suka makanan berkuah dan pedas, apa lagi di malam hari seperti sekarang. Bagiku, kau terlalu mudah di tebak, Soomin~a,” jelas Hyunso dengan nada suaranya cuek.
Soomin terkekeh mendengar jawaban sepupunya. Do Hyunso adalah anak sulung dari kakak laki-laki ibu Soomin. Setelah kematian ibunya, Yoon Soomin tinggal bersama paman dan bibinya. Istri pamannya—Jung Seonri—sangat menyayangi Soomin. Itu sebabnya, bibinya selalu meminta Hyunso atau adiknya, Do Hyunjo, mengantarkan makanan untuk Soomin seperti sekarang. Bibinya itu memang sangat menyayangi Soomin seperti anak perempuannya sendiri. Dan Soomin bersyukur bisa memiliki bibi sebaik Bibi Jung.
Hyunso tersenyum melihat Soomin yang begitu menikmati sup kimchi buatannya. Pria yang berprofesi sebagai dokter bedah itu merasa lega jika Soomin dalam keadaan baik-baik saja. Hyunso mengangkat sendok dan sumpitnya, untuk menyantap makan malam buatannya.
Terjadi keheningan yang cukup lama diantara Hyunso dan Soomin. Keduanya sibuk dengan makanan di depan mereka. Hingga tiba-tiba saja, Soomin teringat dengan pertemuannya tadi siang dengan Park Yeonchan. Ya, Do Hyunso mengenal Yeonchan, mereka berada dalam satu angkatan saat bersekolah di SMA Daekyung. Sejak Soomin memutuskan berpacaran dengan Yeonchan, Hyunso orang yang begitu vokal menentang hubungan tersebut. Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa Do Hyunso, adalah sepupu dari Yoon Soomin, si cantik dari kelas akselerasi, saat bersekolah di SMA Daekyung.
“Hyunso oppa, apa kau percaya dengan takdir?”
Hyunso berhenti mengunyah dan mengangkat wajahnya. Mata hitam Hyunso menatap penuh tanda tanya pada Soomin. “Apa maksudmu?”
“Yah, apa oppa pernah mendengar jika sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita sebenarnya sudah di gariskan langit sebagai takdir?”
Hyunso meletakkan sumpitnya. Perhatian pria itu kini sepenuhnya terfokus pada Soomin yang membuka pembicaraan dengan topik yang sangat tak terduga. Mata Hyunso menyipit memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah Soomin. Hingga entah bagaimana, Hyunso memiliki firasat bahwa topik pembicaraan Soomin ini menyangkut sesuatu di masa lalu sepupunya. Mungkinkah?
“Kenapa kau bertanya hal yang tidak biasa, Soomin-a? Apa kau baru saja mengalami sesuatu? Seperti bertemu seseorang yang tak terduga, misalnya?” tanya Hyunso.
Soomin menghela napas lelah. Nafsu makannya menguap begitu saja saat kepalanya kembali mengingat pertemuan tak terduganya siang tadi. Soomin mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Hyunso. Tidak ada pilihan bagi Soomin selain mengatakan kejujuran. Karena seperti yang tadi dikatakan Hyunso, dirinya terlalu mudah di tebak.
“Ne, oppa. Dia kembali. Siang tadi aku bertemu dengannya, karena ia adalah rekan bisnis atasanku,” balas Soomin dengan nada suara lesu.
Hyunso tak bisa mencegah tangannya yang mengepal kuat di atas meja. Perasaan marah naik ke permukaan hatinya. Hyunso tak suka dengan Yeonchan yang kembali hadir dalam kehidupan sepupunya, mengingat betapa brengseknya pemuda itu pada Soomin di masa lalu, itu sebabnya, Hyunso selalu menghindari Yeonchan yang terus menghubungi dirinya.
“Itu hanya pertemuan tak sengaja. Tidak ada hubungannya pertemuan kalian itu sebagai sebuah takdir. Aku percaya, perempuan sepertimu tak akan terikat takdir dengan pria b******k seperti Park Yeonchan,” tegas Hyunso dengan tatapan tajam.
~FORGIVENESS~