"Hai bang Leri" sapa Heyla setiba dirumahnya, ia menirukan logat dan gaya bicara tokoh cutie di animasi nopal.
"Eh! Stop!" Cegah Leri saat melihat Heyla yang menuju kamar dengan sebuah plastik kresek ditangan
"Dari mana Lo?"
"Yang dari luar kah dari mana lagi coba? Masa dari akhirat?"
"Iya Lo kemana aja diluar tadi hah? Udah pande becowok kau yah"
"Ish apaan sih bang, tadi itu namanya Aland, teman se geng gue yang baru loh. Anak pindahan luar negeri. Pasti bang Atrus yang ngadu kan?" Selidik Heyla sambil menunjuk Leri
"Yaiyalah! Siapa lagi coba" nyolot Leri
"Ck, yaudah sekarang Lo pada tahu kan itu teman se geng gue. Kebetulan aja yang lain tadi gak bisa ikut main jadi dia doang yang kesini. Lagian ih kepo amat dah!" Acuh Heyla dan meninggalkan Leri
"Eh eh eh! Tunggu Ela!"
"Apalageee?!"
"Itu kantong plastik Lo isinya apaan? Makanan?"
Heyla langsung memukul jidatnya sendiri dan kembali mendekati Leri.
"Seblak! Dah yah awas lo manggil gue lagi bang"
Heyla sudah kembali berjalan menuju kamarnya dan Leri kembali memanggil
"Elaaa!!"
"Apalagi....."
"Makasih!"
"Ck yaudah sama-sama"
"Yaudah!"
"Yaudah!"
"Brakkkk"
Heyla menutup pintunya dengan kesal seolah sedang menantang Leri. Ia segera menghempaskan tasnya ke tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk bersihkan diri.
Diluar ruangan Leri sudah memindahkan makanannya kedalam mangkuk dan dibawa kedepan TV. Selang beberapa lama suara kunci pintu yang dibuka terdegar.
"Dah pulang lo?" Ucap Leri
"Belum, Gak pergi main Lo?"
"Pergi, ini mau pulang" datar Leri sambil makan seblaknya
Sambil asik melepas sepatunya Atrus tergoda akan makanan yang kini disantap abangnya itu
"Wesss... Lo beli seblak satu doang hah?" Protes nya sambil menarik mangkuk berisi seblak itu
"Anjirt, pelan-pelan taik! Tumpahh"
Atrus tak peduli dan memakan beberapa suap sebelum mengembalikan mangkuk itu pada Leri.
"Si Ela mana?" tanya Atrus dengan mulut yang masing mengunyah
"Dikamar, belum lama sampe sih. Ini Seblak dari dia"
"Gue gak dibawain gitu?"
"Gue kan kesayangan" sombong Leri sambil menaikkan alisnya sebelah. Atrus menatap jijik dan memilih pergi dari sama untuk segera mandi.
Dilain tempat Aland sudah berada di apartemen nya, perut nya sudah kenyang jadi ia tak perlu keluar malam lagi seperti biasa. Kini ia sedang membuka MacBook nya untuk melihat data perusahaan keluarga mereka. Sebenarnya sang ayah sudah melarang keras agar Aland tidak menyentuh hak apapun mengenai perusahaan selama ia berada di Indonesia sambil bersekolah. Tapi Aland bersikeras akan tetap memantau perkembangan perusahaan mereka dari jauh, bahkan pekerjaan nya ini tidak akan menggangu sekolahnya sama sekali, dia sudah pintar bahkan kecerdasannya diatas lulusan sarjana. Itu semua karena home schooling dan pengalaman nya.
"Kenapa diagram nya turun lagi sih? Siapa sih yang ngerjain ini hah?" Kesal Aland melihat diagram grafik perusahaan nya turun. Selama ia memegang penuh perusahaan diagram grafik nya tidak pernah turun secara berkala.
Dengan cepat Aland mencari email salah satu orang kepercayaannya untuk mengatasi permasalahan-permasalahan disana.
Pagi kembali menjelang dan seperti biasa mereka para pemuda yang masih bersekolah akan pergi menuntut ilmunya.
Heyla sudah berada disekolah dan sedang menuju kelas dengan headset yang menempel ditelinganya, ia memainkan handphone tanpa melihat jalannya terus menerus karena membaca novel yang sedang seru-serunya akan membuat siapapun lupa dunia. Bahkan jika hari ini hari Minggu ayu tanggal merah Heyla pasti sudah begadang.
"Hoh!" Kejut Ika pada Heyla Yang hampir menjatuhkan ponselnya
"Ish Ika! Kalo hp gue jatuh gimana coba?"
"Yah bagus dong, Lo gak lupa dunia gara-gara novel halu"
"Kalo gue gak bisa baca novel itu berarti gue kehilangan dunia gue, paham?"
"Ish iyadeh iya. Serah Lo aja, kali baca apaan sih perasaan novel kemaren udah Lo tammat kan deh bacanya"
Ika berusaha mengintip novel yang Heyla baca dari ponselnya, tapi Heyla terus menjauhkan ponsel itu bahkan menghindarinya.
"Wah... Gadis cupu kita ini udah baca novel dewasa yah" ucap Ika tanpa mengecilkan nada bicaranya. Heyla yang berada didepannya langsung berhenti ditempat.
Heyla membelalakkan matanya dan menatap Ika
"What?"
"Wat wet what whet. Bapak kau pemain novel dewasa!"
"Anjirtttt" umpat Ika terkejut
"Ahahhaha" dengan terbahak-bahak Heyla segera berlari meninggalkan Ika yang sudah pasti sebentar lagi akan menyerang. Mereka terus berlarian sampai menuju kelas.
"Ela! Awas lo yah!" Teriak Ika sambil mengejar Heyla.
Sesampainya dikelas dengan nada ngos-ngosan Heyla langsung berjalan gontai menuju mejanya.
"Pagi-pagi udah bakar lemak gue" ucapnya
"Huft, dah lah capek gue temanan sama Lo. Olahraga nya rutin" ucap Ika dan pergi ketempat duduknya disamping Heyla
Rico dan Rudy yang sudah berada dikelas hanya menggeleng kepala melihat tingkah kedua perempuan itu. Rico kembali dengan kegiatannya yang bisa berbaur dengan cepat diberbagai kalangan, terutama kaum hawa yang memiliki hobi sama dengannya. Sedangkan Rudy asik bermain game dipojokan kelas.
"Eh Aland dimana?" Sadar Heyla yang sedang asik menjadikan buku paket mata pelajaran sebagai kipas
"Heyla....." Panggil seseorang yang mempunyai suara lembut dengan pelan
"Ehh Vivi, gimana lomba Lo?"
"Gue mau minta..."
"MMM kita ngomong diluar aja bentar sebelum bel bunyi. Sekalian kita ke lapangan bareng buat apel. Yuk" ajak Heyla memegang lengan Vivi
"Eh Ika, gue kelapangan duluan yah sama Vivi"
"Lah gue Lo tinggalin gitu?"
"Gue ada urusan, jumpa dilapangan aja kitanya"
Akhirnya Vivi dan Heyla pergi keluar kelas bersama. Mereka berjalan beriringan di koridor kelas sambil berbicara.
"Gimana lomba Lo?"
"Syukurnya lancar La. Oh iya gue mau minta maaf karena gue dengar Lo sempat berkelahi Sam Sondia dan Lily"
"Alah biasa kok Vi, Lo kayak gak tahu gue aja"
Vivi tersenyum kaku seolah ada rahasia yang sedang ia tahan keluar dari mulutnya.
Dilain tempat Ika sudah dan Rudy sudah berada di ruang guru untuk mengambil buku latihan yang kemaren dikumpulkan untuk dinilai.
"Eh ini udah jam berapa kok Aland belum datang?" Ucap Ika sambil membawa dua buah buku ditangannya. Jangan tanya dimana semua buku yang lain. Karena Rudy lah yang membawa setumpuk buku tulis yang lumayan berat dan menjulang itu. Bukan karena Ika tidak ingin membantu melainkan Rudy yang tak mau dibantu
"Mana gue tahu, mungkin sekarang udah di kelas"
Sedikit lagi Ika dan Rudy sampai dikelas dan bel pun berbunyi, mereka harus terlebih dahulu masuk ke kelas untuk meletakkan buku kemudian berlari menuju lapangan untuk mengikuti apel. Sesampainya dilapangan Rudy dan Ika melihat Aland ternyata sudah datang.
"Kapan Lo sampai?"
"Tadi? Tuh tas gue" ucap Aland datar menunjuk kearah tasnya yang berada di koridor. Rudy langsung menatap malas seolah tahu Aland hampir terlambat. Gara-gara sibuk mengurus perusahaan nya semalam Aland memang terlambat tidur dan menghasilkan terlambat bangun.
Selang beberapa puluh menit apel pun bubar dilanjutkan dengan masuk kelas untuk memulai pembelajaran dikelas masing-masing.
"Kok Lo sama Vivi aja sih dari tadi? Sampai selesai apel lagi" ucap Ika yang heran dengan kelakuan Heyla pagi ini.
"Ooh.... Dia mau bilang makasih doang kemaren gue ada bantuin dia" dari awal Heyla memang tidak menceritakan kejadian dikamar mandi, alasannya karena pasti Vivi malu jika orang lain tahu dia bisa ditindas seperti itu. Lagian Heyla sudah menekankan pada Sondia dan teman-teman untuk menjauhi Vivi.
Dilapangan tadi sebelum bel berbunyi mereka sempat berpapasan, Sondia dan Lily menatap Vivi yang berada disamping Heyla seolah menakuti perempuan itu. Heyla yang tahu maksud tatapan itu langsung merangkul bahu Vivi dan memberikan tatapan mengejek.
"Guys!! Ada raziaaa!!" Teriak Rico dari luar kelas.
"s**t! Gue lagi pake kalung emas lagi" ucap Ika yang langsung melepaskan kalungnya dan memasukkan nya kepakaian dalam. Meski sekolah mereka diizinkan memakai handphone, perhiasan yang boleh mereka pakai ada peraturannya, salah satunya tidak berbahan emas.
"Lo gak ada bawa barang haram?" Tanya Ika melihat Heyla tenang-tenang saja
"Enggak, pembalut doang yang ganjal di tas gue. Normal aja cewek bawa pembalut" santai Heyla
"Kenapa razia pas jam Biologi sih. Kenapa gak pas pelajaran matematika" ucap Heyla
Guru BK sudah mulai mendekat kearah kelas mereka dan sejak Rico mengumumkan razia tadi semua murid yang membawa barang haram sekolah langsung menyembunyikannya. Kemampuan menyembunyikan barang ini sudah sangat ahli dilakukan oleh mereka. Barang seperti apapun bisa disembunyikan dengan aman. Barusan para laki-laki dikelas mereka menyembunyikan rokok di dalam buku tulis yang sudah dibolongi seukuran kotak rokok. Mancis yang disembunyikan dibalik papan tulis. Vape yang disembunyikan didalam kotak pembalut yang besar seolah baru dibeli dikantin, tentu saja diletakkan di tas perempuan. Sedangkan yang perempuan menyembunyikan barang kecil dibagian yang tak akan tersentuh seperti kaos dalam. Menempelkan dibawah meja. Bahkan nekat menempel kan dilangit-langit laci meja guru dengan lakban.
Beberapa anggota OSIS termasuk Zuke, Malia dan yang lain masuk kedalam kelas bersama guru BK.
"Pagi ini kita mengadakan Razia, semua tas taroh diatas meja dan jangan ada yang keluar kelas" instruksi Bu Sima
Para anggota OSIS pun mulai menggeledah tas kelas mereka satu persatu. Para siswa dihadapkan dengan Bu Sima untuk memeriksa perhiasan yang dipakai. Sebenarnya para siswa OSIS ini tahu cara anak kelas menyembunyikan barang, tapi siapapun yang membongkar rahasia biasanya akan diserang dan dikucilkan jadi mereka hanya mengikuti instruksi Bu Sima saja.
Heyla masih merasa santai meski tasnya sedang diperiksa oleh siswa perempuan dari kelas lain. Sampai tangan perempuan itu melambat seolah menemukan sesuatu.
"Tas siapa itu?!" Ucap Bu Sima dengan suara mengerikannya yang keras dan membuat Heyla terkejut. Semua siswa juga melihat benda yang digenggam anggota OSIS itu.
"S...saya buk" gagap Heyla, bukan karena merasa ketahuan melainkan heran mengapa ada sebungkus rokok didalam tasnya.
Tidak sampai disitu perempuan itu melanjutkan geledah nya dan menemukan satu barang lagi.
"Lem....?" Ucap Heyla terkejut dengan barang yang mampir didalam tasnya.
"Hah, yang benar aja.... Ada yang ngerjain kau" ucap Heyla sambil mengusap kepalanya
"Cukup! Heyla! Pergi kekantor. Kalian salah satu pergi ikuti dia jangan sampai dia kabur" ucap Bu Sima menginstruksikan agar salah satu anggota OSIS mengikuti Heyla. Karena ibu Sima harus terlebih dahulu merazia kelas lain.
"Kalian pergi aja gue yang jagain ruang BK" bisik Zuke pada teman OSIS yang lain. Heyla salah satu orang yang akan diproses hari ini.
"Ini ternyata anak polos itu" ucap Bu Sima sebelum keluar dari kelasnya bersama tim OSIS yang lain.
"Siapa yang ngerjain gue?!" Tegas Heyla sambil melihat ke sekelilingnya seolah mencari jawaban dari tiap tatapan mata teman sekelasnya.
"Gak mungkin itu barang masuk ke tas gue kalo gak ada yang masukin. Lo juga pasti tahu kalo gue yang bawa itu barang pasti udah gue sembunyiin" jelas Heyla namun semua murid disana hanya diam saling menatap satu sama lain
Heyla mendekati tasnya dan memasukkan kembali barang-barang nya kedalam tas. Ika yang melihat itu sama sekali tak berkutik karena ia tahu Heyla sedang dalam mood yang tidak baik. Ika sangat mengenal Heyla jadi dia juga tahu pasti ada orang iseng yang mengerjai Temannya itu. Apalagi setelah apel dan sebelum razia Heyla tidak ada membuka tas dan tak sadar ada yang bertambah didalam tasnya.
"La, Lo tenang dulu kan bisa di proses" ucap Zuke sambil mengikuti Heyla. tugasnya sekarang adalah membawa Heyla ke ruang BK.
Aland, Rudy dan Rico mendekati mereka
"Zuke, Lo percaya itu barang punya Heyla?" Ucap Aland seolah marah pada Zuke yang tetap hendak membawa Heyla pergi
"Guys, gue tahu kok pasti ada yang ngerjain Heyla. Tapi kalo dia gak keruang BK pasti orang malah mikir dia menghindar karena memang salah. Kalo Heyla memang ngisap Lem pasti terdeteksi kok"
Heyla mencoba menjernihkan otaknya kembali, meskipun ia terbukti tak menghisap lem pasti tetap akan ada hukuman. Jadi yang ia putuskan ialah melewati hukuman dan mencari tahu pelaku.
"Udah deh, kalian gak usah pusing. Gue bisa lewatin ini dan nyari tahu siapa dalangnya" ucap Heyla yang mulai tenang. Semua teman-teman nya menatap matanya
Heyla pun pergi dan diikuti oleh Zuke. Ia tak tahu didalam kelas mereka ada yang sedang ini melihat Heyla. Karena memiliki banyak teman yang sangat perhatian bahkan orang-orang pintar disekolah mereka.
"Kira-kira siapa yang masukin itu ke tas Lo?" Tanya Zuke
"Kalo gue tahu gue bakalan langsung labrak Zuke"
"Yah gue bilangkan kira-kira"
"Lo mau gue nebak orang yang gak bersalah gitu?"
"Bukan gitu, Lo pasti ngerasain siapa yang belakangan jni bermasalah sama Lo. Atau Lo punya masalah sama orang. Pasti pelakunya hanya sekitar mereka"
Heyla berfikir sejenak untuk mencari kriteria orang yang dimaksud. Dan ia hanya terfikir mengenai Sondia dkk yang baru saja berkelahi dengannya.
Setelah beberapa lama akhirnya mereka berdua sampai diruang BK, Heyla langsung duduk disalah satu kursi diikuti Zuke disampingnya.
"Lo tenang aja gak usah takut kalo bukan Lo yang salah" ucap Zuke
"Gue tahu kok, tenang aja gue gak kepikiran cuman karena ini doang kok. Nanti pelakunya kena karma sendiri" ucap Heyla
Dikelas mereka pembelajaran sudah dimulai karena guru yang mengajar sudah masuk.
"Gimana? Siapa yang kenak pas razia?" Tanya guru biologi pada mereka sekelas
"Heyla buk" ucap beberapa murid
"Heyla? Dia kedapatan apa?"
"Rokok sama Lem kambing"
"Hah?" Ucap guru biologi dengan mata terbelalak sangkin terkejutnya.
"Astaga ternyata dia rusak yah, ckckck . Kita memang gak bisa melihat orang dari cover doang. Diluar polos tapi kita gak tahu didalam gimana"
"Maksud ibu apa?" Ucap Aland dengan suaranya yang lumayan berat untuk seusianya
"Hmm yah kalian kan tahu gimana sifat Heyla, gak terkontrol tapi kelihatannya polos. Ternyata dia Makai lem. Jangan-jangan sudah pakai obat obatan ? Kita gak tahu"
"Ibu gak tahu, tapi juga berlagak sok tahu secara bersamaan" sedang Aland. Siswa lain hanya asik mengalihkan mata mereka antara ibu biologi dan Aland
"Ibu gak tahu apa dia Makai obat-obatan. Tapi mengenai dia Makai lem udah jelas kan? Dia ternyata merokok juga. Seorang perempuan merokok?!" Ucap Bu biologi dengan nada dramatis
"Buk, bisa sajakan Heyla dijebak?" Ucap Ika menimpali
"Kalian ini kenapa malah nyolot sih? Melawan sama ibu? Sudah lanjutkan saja soal halaman 56 sampai essay. Soalnya ditulis dan gambarnya wajib digambar" kesal Bu biologi sehingga memberikan banyak soal untuk dikerjakan. Bukanya memperhatikan dikelas ibu itu memilih keluar setelah memberikan tugas itu.
"Guru macam apa itu, gak layak jadi guru" ucap Ika menarik kursinya mendekati meja Aland dan Rudy, Rico juga melakukan hal yang sama untuk mendapatkan jawaban dengan mudah.
"Eh Vivi, tadi Lo sama Heyla kemana?" Tanya Ika yang berada disamping meja Aland otomatis berdekatan dengan meja Vivi
"Kita ngobrol dilapangan doang" senyum Vivi.
Ika hanya mengangguk dan kembali menyalin soal sebelum menyalin jawaban milik Aland dan Rudy. Vivi merasa tidak tenang dalam hatinya, seolah ia ingin bicara tapi mulutnya sudah lama terbungkam.
"Zuke kamu kembali aja ke kelas biar ibu yang proses dia" ucap Bu Sima yang sudah masuk ruang BK. Razia sudah selesai
Zuke kelihatan ragu untuk meninggalkan Heyla, terlihat dari pergerakan nya yang sama sekali tidak ingin keluar.
"Ibu tahu dia teman mu, tapi ternyata selain bodoh dia juga berandal. Ibu sarankan kamu jangan berteman dengannya lagi. Kembali ke kelas sebelum kau tertinggal pelajaran"
Dengan terpaksa Zuke pun keluar dari ruangan BK tempat Heyla berada, tapi ia tidak sepenuhnya pergi dari sana melainkan menunggu didepan pintu sambil menguping pembicaraan dari luar.
"Heyla, jelasin kenapa dua benda ini ada di tas mu" datar Bu Sima
"Pertama, Heyla tidak tahu kenapa barang ini ada ditas saya, kedua saya tidak pernah merokok apalagi hisap lem kalau ibu mau kita bisa tes di BNN. Ketiga, jangan mengatur siklus pertemanan saya buk"
"Apa kamu bilang? Ibu tidak mau siswa pintar sekolah ini malah jadi hancur karena berteman dengan orang yang gak benar, dan kalo ini benda bukan punya kamu kenapa ada di tas mu?"
"Saya sudah bilang saya gak tahu buk. Kalau ibu gak percaya ayok ke BNN. Saya tidak pernah hisap lem kambing seperti ini"
"Lalu bagaimana dengan rokok"
"Ibu bisa bawa saya kerumah sakit untuk tes paru-paru"
Karena melihat keras kepala Heyla Bu Sima jadi malas untuk membawa Heyla ke BNN ataupun rumah sakit. Karena dari perawakan dan sifat Heyla perempuan itu memang tidak terlihat seperti pengguna. Tanda-tanda merokok saja tidak ada. Meski dalam hatinya yakin seperti itu entah kenapa Bu Sima masih merasa sedikit kesal dengan perlawanan Heyla tadi.
"Yasudah, hukuman kamu hari ini hingga dua hari kedepan kamu membersihkan kamar mandi perempuan"
"Baik Bu, saya pamit dan terimakasih" ucap Heyla yang beranjak pergi dari sana
Zuke yang mendengar percakapan mereka usai langsung berlari agar tidak ketahuan menguping.
Heyla yang sudah keluar dari ruangan langsung menghela nafasnya, sebentar lagi jam istirahat jadi Heyla memilih pergi kearah toilet untuk melaksanakan hukumannya hari ini.
"Argh! Siapa sih yang usil ke gue?" Kesal Heyla sambil menunjukan tangannya ke udara
Heyla menggulung rambutnya tinggi dan memasukkan kacamata nya kedalam kantong Rok. Kain pel dan sikat lantai ia ambil dari slaah satu bilik toilet untuk menggosok semua kamar mandi. Kamar mandi merek yang memang biasanya dibersihkan setiap hari oleh pekerja sekolah tidak terlalu kotor, hanya bekas sepatu dan sampah siswa hari ini yang sedang berserakan. Heyla sedang asik membersihkan salah satu bilik toilet ambil mendengarkan musik dengan headset nya.
"Dia udah masuk" bisik seorang murid perempuan dan segera masuk kedalam dengan dua temannya yang lain mereka menarik pintu tempat Heyla berada dan menguncinya dengan mengaitkan gagang sapu di engselnya.
Heyla yang sadar pintunya tertutup panik dan segera mengedit
"Woi buka! Siapa Lo?"
"Hahahha" rawa kecil ketiga perempuan itu. Mereka mengambil air pel yang Heyla pakai tadi dan masuk kedalam bilik sebelah. Salah satunya naik keatas kloset
"Byurrr" air dari ember disiramkan dari atas kedalam bilik Heyla berada
"k*****t!! Monyet Lo semua!!" Teriak Heyla yang basah dan bau air pel
"Hahahha" tawa ketiga perempuan itu bersamaan sehingga Heyla tak bisa mengenal pemilik suara itu. Mereka langsung keluar membiarkan Heyla yang masih terkunci.
Heyla yang sudah basah hingga rambutnya mencium bajunya yang basah dan bau itu.
"Bau banget, huekkk" mual Heyla yang tidak tahan akan bau nya sendiri.
"Bukaa!!! Siapa yang diluar!!! Tolong bukainnnn!" Teriak Heyla sambil menggedor-gedor pintu. Ia semkain merasa bau dengan badannya dan terus-menerus ingin muntah.
Dilain tempat Zuke sudah masuk ke kelas setelah ia menguping Heyla diruangan BK. Ia sempat belajar beberapa menit terakhir sebelum jam istirahat.
Dilain tempat Aland dan yang lain juga fokus belajar hingga jam istirahat, mereka mengira Heyla masih diruang BK sampai jam istirahat.
"Kantin yuk, sekalian lihat Heyla lama banget di ruang BK nya" ajak Ika ke bangku Aland dan Rudy
"Yaudah ayok" jawab Rudy, mereka berempat yaitu Ika, Rico, Rudy dan Aland segera keluar kelas bersama. Tapi belum sempat mereka keluar dari batas pintu mereka bertemu dengan Zuke.
"Loh Heyla mana?" Tanya Zuke setelah memperhatikan mereka semua.
"Lah Lo kan sama dia diruang BK?" Ucap Ika, spontan Zuke langsung merasakan keganjalan
"Dia udah lama keluar, dia gak ada masuk kelas?"
Mereka semua pun langsung saking tatap.
Dikamar mandi perempuan Heyla sudah merasa kehabisan tenaga karena berkali-kali muntah, bayangkan saja air pel kamar mandi ditumpahkan mulai dari ujung rambut.
"Gue gak bisa disini terus" ucap Heyla yang sudah mulai frustasi mendobrak pintu kamar mandi. Engsel pintu bekuk juga rusak, tapi kayu pintunya sudha terlihat mulai rusak.
"Okeh... Dikit lagi" ucap Heyla dengan kondisinya yang sudah berantakan, seolah ia tak peduli lagi dengan bau yang sudah membuat hidungnya terbiasa.
Brakkk
Brakkk
Brakkkk
Heyla terus memendang gagang pintu agar sapu diluar patah dan pintu terbuka. Ia tak bisa mendobraknya enegan badan karena akan sangat sakit. Kakinya yang bersepatu menjadi andalannya.
Brakk
Brakkk
Brakkk
"Awwwww" ringis Heyla yang ikut terjerembab kedepan karena pintu sudah ambruk di tendangan terakhirnya, ia terlutut dilantai dan kakinya luka tergesek dengan serpihan kayu yang tajam dari pintu.
"Heyla?!" Panik beberapa orang yang kini berdiri didepan pintu. Disana ada teman-teman dekatnya yang berhasil menemukan keberadaannya.
"Stop! Jangan mendekat!" Ucap Heyla mengacungkan tangannya melarang mereka semua mendekat, langkah mereka terhenti.
Baik Aland, Zuke, Rico, Rudy dan Ika sangat terkejut dengan keadaan Heyla, badannya terlihat basah kuyup dan bajunya kering dibadan, kakinya sudah luka dan wajahnya berantakan. Biasanya jika tanpa kacamata Heyla sangat cantik kini tidak, sangat kacau.
"La! Lo kenapa?" Ucap Ika berusaha mendekat
"Ika stop, gue bau! Sangat bau nanti Lo muntah" ucap Heyla berusaha mengingatkan
"Apa hubungan sama Lo bau apa enggak hah?"
"Lo gak tahan aroma bau! Gue tahu jadi jangan dekatin gue. Lebih baik cariin gue baju ganti dan sabun mandi biar gue besihij diri disini" ucap Heyla. Sebenarnya suara Heyla lumayan lemah bahkan saat ia membentak Ika untuk berhenti. Perutnya kosong karena sudah muntah berkali-kali
"Badan Lo lemah gitu dan Lo luka-luka masih banyak bicara" kesal Aland dan segera mendekati Heyla
"Land stop! Please" ucap Heyla yang malu akan keadaannya
"Diam!" Bentak Aland kesal yang sudah berada dihadapan Heyla. Ia menarik kaki Heyla yang sudah terluka di lutut juga lecet disiku karena terjerembab. Aland bisa merasakan bau yang dimaksud Heyla tapi ia masih bisa menahannya.
"Ayo gue bawa Lo pulang"
"Gak" ucap Heyla karena tidak mau membuat paman dan bibinya panik melihat keadaannya
"Kali gitu ke apartemen gue aja" ucap Zuke
"Gue ikut" ucap Ika
"Gue ikut" ucap Rico
"Gue ikutan" ucap Rudy
Aland langsung menggendong Heyla dan membuat perempuan itu terkejut.
"Land turunin! Lo mau lihat anak satu sekolah lihat Lo gendong gue kayak gini"
"Ela, diam.... Gue tahu Lo kehabisan tenaga dobrak tuh pintu" halus Aland
Mereka semua keluar dari kamar mandi mengikuti Aland yang melangkah keluar
"Eh gue pinjam jaket Lo nanti gue beliin yang baru" ucap Zuke mengambil jaket siswa yang lewat. Ia memberikan jaket itu untuk menutupi wajah Heyla yang merasa malu. Semua siswa siswa keheranan dan heboh melihat aksi mereka bahkan merekamnya. Tapi beberapa kamera itu berhasil ditangani Ika, Rudy dan Zico.
"Kalian mau kemana?" Tanya pak satpam melihat mereka hendak keluar, sesuai permintaan Heyla ia tak ingin berada didalam mobil Zuke karena akan membuat mereka semua terganggu selama perjalanan jadi ia bersama Aland.
"Kami mau pulang, bapak tenang aja nanti saya yang urus ke pihak sekolah" ucap Zuke
Karena satpam itu mengerti dan mengenal Zuke ia membukakan pagar untuk mereka.
Mereka semua melesat dari sana menuju apartement pribadi milik Zuke.
"Eh emang Lo punya baju cewek?" Tanya Ika
"Er.... Enggak" cengir Zuke
"Yaudah nanti setelah ngantarin mereka temanin gue beli baju buat Heyla"
"Gue gak habis pikir siapa yang tega ngerjain Heyla sampe seperti itu" ucap Rudy yang sejak tadi menggelengkan kepala
"Gue bakalan cari tahu dari koneksi gue. Minta dikasih pelajaran. Iya gue suka juga bully orang dari mulut gue. But yang tadi tuh lebih parah dari gue. Gue mah nyinyir doang" ucap Rico
"Ck, pokoknya ini harus di proses" ucap Ika
Sedangkan Heyla yang berada di boncengan Aland hanya diam seribu bahasa, setidaknya ia merasakan udara segar ketimbang udara di toilet tadi.
Mereka pun sampai di apartemen Zuke, mereka segera masuk kedalam terkecuali Ika dan Zuke.
"Kamar mandi ada di setiap kamar, usah lengkap sama handuk, sabun atau samphonya. Gue sama Ika beli ganti baju Lo dulu bentar" ucap Zuke
Setelah berada didalam rumah, Rudy dan Rico yang sudah biasa kesana langsung mengambil posisi enak mereka masing-masing.
"Lo kekamar sana aja biar gak jauh amat. Kami jagain disini. Kalo Lo takut sama kita bertiga kunci aja dari dalam" ucap Aland
Heyla segera pergi masuk ke kamar yang dimaksud untuk segera mandi, mengenai lukanya ia akan mengobati setelah selesai membersihkan diri nanti.
Aland mengacak rambutnya dan membaringkan diri di sofa, jujur saja dia tak tahan melihat kondisi Heyla tadi, rahangnya seakan mengeras otomatis jika mengingat keadaan saat pertama kali ia melihat Heyla tadi.
"Kalian mau main-main? Awas aja kalo pelaku nya cowok. Cewek aja kalau kelewatan gue habisin" batin Aland dengan tangan lengan menutup wajahnya.
Dilain tempat Zuke dan Ika berhenti disebuah butik terdekat yang menjual baju perempuan dengan lengkap.
"Ah pakaian dalam" ucap Ika yang otomatis membuat Zuke membalikkan badannya karena merasa malu. Saat belanja bersama mama dan adiknya ia merasa biasa saja. Mengingat yang akan memakai ini Heyla otomatis dia malu sendiri.
"Hahahha" tawa Ika melihat tingkah Zuke
Ika mengambil pakaian yang Heyla butuhkan, juga sebuah Hoodie dan rok kembag hitam selutut lembut untuk Heyla. Ia memikirkan luka kaki Heyla yang akan lebih nyaman jika ia memakai rok ketimbang tergesek dengan celana.
"Udah semua?" Ucap Zuke melihat Ika menuju kasir
"Udah"
"Uang gue aja"
"Uang gue aja" ucap Ika
"Eits, uang gue.... Harga diri ini" ucap Zuke menarik kartu Ika dan memberikan kartunya.
"Kalian romantis yah, masih muda udah saling ngerti" ucap penjaga kasir
Zuke yang mendengar itu menggaruk tengkuknya, dugaannya benar pasti mereka dikira berpacaran jadi ia menyelamatkan imagenya dengan membayar belanjaan. Sedangkan Ika sudah senyum kegirangan sendiri seolah semesta merestui mereka.
"Kami pulang!" Teriak Ika masuk kedalam apartemen dan membangunkan tiga insan yang baru saja memasuki dimensi yang berbeda
-Jangan lupa beri komentar dan follow Author nya yah ❤️~