Dikarenakan Ika yang datang sambil berteriak membuat Aland, Rico dan Rudy tersadar dari mimpi indahnya.
"Mana Ela?" Tanya Zuke
"Dia dikamar itu, belum keluar deh perasaan kami ketiduran" ucap Aland sambil menunjuk ruangan tempat Heyla mandi tadi
"Yaudah gue kesana, ngasih ni baju" ucap Ika
Didalam kamar Heyla sudah memakai handuk kimono duduk di ranjang yang tersedia, setelah mendengar ketukan pintu dan suara Ika Heyla langsung beranjak membukakan pintu kamar.
"Dah mandi Lo?"
"Udah lah, Lo lihat sendiri gue udah bersih"
"Yaudah ni bajunya, sampe Daleman udah gue beliin"
"MMM, cinta deh" senyum Heyla dan segera membawa tas baju itu kekamar mandi.
"La, Lo kok bisa kayak gini sih? Lo tahu siapa yang ngerjain Lo?"
"Enggak, gue lagi bersihin WC sesuai hukuman yang dikasih sama Bu Sima, pas asik bersihin bilik toilet eh ada yang ngunci pintu pake sapu di engsel luar" jelas Heyla yang masih dikamar mandi
Setelah beberapa saat Heyla sudah memakai Hoodie dan rok selutut keluar dari sana. Ika yang memperhatikan dari atas sampai bawah sadar luka Heyla belum diobati.
"Lo keringkan dulu rambut Lo terus susul gue keluar, gue bakalan obatin luka Lo"
Ika pun berlalu dari sana meninggalkan Heyla yang mengeringkan rambut dengan hairdryer.
"Mana dia?" Tanya Rico
"Ngeringin rambut, oh iya Zuke Lo ada P3K?"
"Ada bentar gue ambil" jawab Zuke pergi ketempat lain
Ika duduk di sofa bersama dengan yang lain menunggu Heyla dan Zuke datang.
"Gimana nih proses nya sama sekolah? Pertama kita udah cabut, ber enam lagi cabutnya. Kedua kita harus memproses nih kasus gak bisa dibiarin orang yang ngerjain Heyla dilepas gitu aja" ucap Rudy
"Sekolah kita ada cctv gak sih?" Tanya Aland
"Ada sih ada, yang namanya toilet gak pernah di pasang CCTV Bambang" balas Rico
"Cctv sekolah itu cuman diletakin di tempat tertentu, kaya gerbang sekolah, kantor guru, laboratorium, ruang IT, ruang kepala sekolah, yang jelas yang penting-penting doang" jelas Ika
"Dan jalan ke toilet gak ada yang melewati tempat-tempat itu. Gak ada harapan" jelas Rudy lagi
Suara pintu yang terbuka membuat mereka saling mengalihkan tatapannya kearah sumber suara. Disana sudah ada Heyla dengan rambut lurus panjangnya dan tanpa kacamata. Mengenai kacamata dia harus membeli yang baru jika tetap ingin dengan penyamaran, kacamata yang ia punya hanya dua dan sekarang keduanya sudah pecah, saat terjatuh tadi Heyla menduduki kacamatanya yang berada di rok sekolah yang ia pakai.
"Sini La" ucap Ika menepuk sofa sebelahnya
Heyla berjalan kesana dengan sedikit ngilu, bayangkan saja sudah lecet juga terhempas kelantai. Kakinya sangat ngilu diajak kompromi.
"Nih obatnya" ucap Zuke yang sudah datang dengan kotak obat, ia melirik Heyla yang sudah berada disana. Ia memberikan kotak tersebut pada Ika
"Mana siku Lo? Gue sempet lihat kok siku lo lecet"
"Ck, iya iya nih" Heyla menarik kenagn hoodienya dan memperlihatkan luka lecet sedikit disana. Ika mengoleskan obat merah disana kemudian lanjut pada luka kaki, agar tidak tergesek dengan rok nanti Ika membalutnya dengan perban.
"Gue bakalan memproses ini disekolah, Lo tenang aja La. Gue bakalan nemuin pelakunya" ucap Zuke yang tak tega melihat luka di badan Heyla.
"Gak usah Zuke, kalo kalian ikut campur bisa-bisa mereka makin senang ngerjain gue. Biarin gue yang bakalan ngurus mereka"
"Emang Lo tahu mereka siapa?" Ucap mereka semua bersamaan
"Er... hehehe gak sih"
"Ck" decih mereka lagi
"Gue bilang kayak gini karena gue tahu alasan mereka benci gue kenapa. Meski gak logis tapi faktanya memang itu. Bukannya gue Nerima doang diperlukan kayak gini. Asal kalian tahu otak gue membara banget pengen bales. Tapi kalo gue balas dengan sama jahatnya apa bedanya gue sama merek. Kalo mau balas itu harus elegan....."
"Elegannya gimana?" Tanya Rico
"Yah.... Gak tahu" cengir Heyla lagi
Dilain tempat yang sedang menikmati jam istirahat segerombolan siswa siswi sedang berkumpul di taman belakang sekolah.
"Hahaha, terus mereka langsung bawa dia pergi pulang gitu?"
"Iya, soalnya kakinya luka dan bau bangettt....bayangin aja air bekas pel kamar mandi disirim ke Lo"
"Hahah mau muntah gue bayangin nya"
Mereka tidak lain adalah kelompok Sondia, Lily, Inka, dan Zico. Mereka sudah mendengar tentang kejadian yang Heyla alami.
"Terus anak-anak yang ngerjain nya aman gak?" Tanya Sondia
"Aman.... Pihak sekolah gak bisa buat apa-apa lagian ccytv gak ada disekitar sana"
"Wah... Keren-keren. Jadi penonton lebih seru ketimbang jadi aktor nya" ucap Zico sambil menyeringai puas
Mereka benar-benar senang mendengar keadaan Heyla hari ini, seolah mereka bisa melukai tanpa menyentuh.
Di apartemen Zuke, mereka asik bermain game online bersama untuk menunggu waktu sekolah usai, sedangkan Ika asik menonton drama Korea, Heyla asik membaca novel.
"Nih minum, Lo lesu banget" ucap Aland memberikan s**u kotak pada Heyla
"Lo dari mana?"
"Keluar bentar" ucap Aland dan duduk disamping Heyla, mereka menduduki sofa panjang
Karena memang merasa lapar dan haus Heyla langsung menyambar s**u pemberian Aland dan menghabiskannya langsung.
"Ternyata dunia sekolah umum itu seperti ini yah"
"Maksudnya?"
"Kalo ada yang gak suka sama Lo alan ada sesuatu yang terjadi, kalau yang membenci Lo itu orangnya bodo amat dan masih ada akal yah aman-aman aja. Giliran kalau mereka orangnya nekat dan brandal korbannya ngalamin kasus seperti Lo ini"
"Lo homeschooling yah? Gak heran sih gue. Lo gak pernah sekolah di sekolah umum gitu?"
"Gue sekolah umum waktu SD doang, di Indonesia. Dan selanjutnya gue homeschooling terus sebenarnya gue udah ada ijazah luar yang setara dengan ijazah SMA. Gue ambil waktu usia gue masih 17 tahun"
"Wahh" ucap Heyla yang terkagum-kagum
"Jadi ngapain Lo sekolah SMA lagi?"
"Hah? Ehmmm nyari pengalaman, sebelum usia gue gak bisa ngerasain masa remaja dengan orang seusia gue"
"Oooohhh..... " Ucap Heyla yang kembali menyibukkan diri dengan novelnya
"Kalo ada kawan itu jangan asik sendiri" tegur Aland lagi
"Lah kalian aja asik main game"
"Gue enggak tuh, gue lagi kerja"
"Kerja?"
Aland mengangguk dan menunjukkan ponselnya, tampilan grafik yang terus bergerak beserta angka-angka yang terus berubah terlihat dissana.
"Itu apaan sih?"
"Lo gak akan paham" ejek Aland dan menjauhkan ponselnya dari Heyla.
"Kalau mau ngejek gak usah buat orang penasaran" ketus Heyla dan beranjak dari sana dengan cepat
"Awww" ringis Heyla yang baru ingat kakinya masih ngilu, dengan spontan Aland juga langsung beranjak untuk memeriksa keadaan Heyla
"Ck, Lo bodoh yah? Udah tahu kaki sakit main gerak aja"
Mata Heyla langsung menyiratkan pandangan tak suka dengan ucapan Aland yang mengatakan dirinya bodoh.
"Iya! Baru tahu Lo kalo gue bodoh?" Sinisnya, tangan Aland sudah bertengger dilengan Heyla sejak ia mengatai Heyla tadi, Heyla menepis tangan Aland dan segera melanjutkan langkahnya mendekati Zuke yang sedang bermain.
"Zuke antar gue pulang, gue mau tidur"
"Ehmmm okeh"
"Gue juga deh, gak ada kerjaan disini" lanjut Ika. Ia mengambil tas ransel Heyla dan tas berisi baju kotor Heyla tadi. Mereka menyusul Zuke yang sudah keluar.
"Rasain Lo, eh kok dia kesal sama Lo?" Tanya Rico pada Aland, karena tidak tahu apa-apa Aland mengangkat bahu saja. Mungkin itu karena dia mengatakan Heyla bodoh makanya perempuan itu marah.
Srukkk
"Lah kok dibuang?" Teriak Heyla melihat Ika melemparkan bajunya pada tempat sampah yang sedang berapi, apartemen Zuke diurus oleh laki-laki tua sebagai satpam dan istri satpam itu biasanya yang membersihkan apartemennya.
"Emang Lo masih mau pake baju itu?"
"Eeeemmm kan bisa dicuci?"
"Euh La! Itu udah parah banget.... Bau dirambut Lo aja belum ilang. Apalagi dibaju. Nanti malam Lo pergi ke salon untuk keramas pake wewangian. Eh gak usah deh ayok ikut gue. Mulai sekarang gue bakalan ubah penampilan Lo"
"Eh no,no,no,no.... Lo tahu gue gak mau ikutan adu fashion disekolah, oke gue bakalan ke salon, mengenai baju gue masih ada yang lain dirumah"
Karena Heyla masih bersikeras tidak ingin memperlihatkan keahliannya dalam dunia model dan pandainya dalam memilih style Ika hanya diam menurut. Zuke mengantarkan Heyla terlebih dahulu kerumahnya, tidak hanya sampai gerbang melainkan sampai masuk kedalam rumah.
"YA AMPUNN ELA! LO KENAPA?"" heboh Atrus yang baru pulang kuliah
"Jatuh ke selokan bang...."
Dukkkk
"Aww! Sakit woi!" Ringis Heyla ketika jidatnya dijitak
"Biar otak Lo jalan sesekali, bisa-bisanya Lo jatuh ke selokan, pasti Lo keasikan baca novel kan?"
Heyla menyengir supaya dia tidak perlu mencari alasan lain.
"Yah walaupun gitu dimana-mana kalo adeknya jatuh itu dikasihani bang"
"Tunggu aja bang Leri datang biar Lo tahu dia lebih parah dari gue, apalagi bibi sama Om"
"Iya deh..." Heyla mengalah
Ika dan Zuke hanya diam menatap mereka berdua berdebat, ketika perdebatan berakhir Atrus langsung mengapa mereka.
"Eh Zuke, Ika, makasih udah anterin dia yah"
"Aman bang, sesama teman masa gak membantu"
"Yaudah kalian masuk aja dulu, yang lain mana?"
"Emm... Di apartemen gue bang, soalnya kita cuman ngantar Ela"
"Yaelah ajak mereka kesini.... Rumah sepi nih. Sekalian kita Mabar bareng udah lama gak bareng"
Karena sudah terbiasa bermain dirumah Heyla dan dekat dengan Atrus maupun Leri Zuke dan Ika menurut dan duduk diruang tengah, mereka memberi kabar agar Aland dan yang lain menyusul.
"Ika" panggil Heyla dari pintu kamarnya
"Apa?"
"Sini... Biarin mereka main game"
Tanpa basa basi Ika mengikuti Heyla masuk kedalam kamar meninggalkan Zuke diruang tengah. Atrus datang membawa tiga buah toples berisi makanan.
"Dari dulu adek gue itu repotin Lo dan yang lain terus yah"
"Gak kok bang, gue senang bantu dia. Lagian Heyla itu orangnya asik diajak berteman" ucap Zuke sambil mengambil se toples makanan untuk dipangku nya
Atrus yang mendengar itu senyum sendiri seolah tersirat sesuatu disan, syukur saja Zuke tidak melihat senyuman itu. Bel rumah pun berbunyi diiringi Rico, Rudy dan Aland yang segera masuk. Mereka tidak pernah menunggu orang membukakan pintu ketika sudah disuruh "kalau sudah sampai langsung masuk aja".
"Bang!" Ucap Rudy menyapa Atrus, hanya Aland yang sedikit canggung karena kejadian terakhir yang seolah sedang musuhan dengan Atrus saat menjemput Heyla
"Hoi, jadi Lo anggota baru mereka" ramah Atrus
"Yoi bang" mereka berdua ber TOS sebagai tanda pengenal
"Gue pulang!!!" Lanjut suara lain lagi, orang itu adalah Leri.
"Eh lagi rame.... Mau main yah?"
"Mabar..." Ucap Atrus menunjukkan Handphone nya
"Ooh.... Heyla mana?"
"Dikamar, dia luka-luka tuh jatuh ke selokan gara-gara asik baca novel"
"Hah? Elaaa!" Teriak Leri
Tidak perlu menunggu lama yang dipanggil langsung keluar kamar.
"Ya bang?"
"Lo jatuh ke selokan lagi?"
"Lagi?" Beo Aland
"Ahh.... Teman baru yang dibilang Ela yah? Dia sering jatuh gara-gara baca novel sambil jalan, kadang terkilir" jelas Leri
"Sini gue lihat luka Lo" ucap Leri sambil mendekati Heyla.
"Ck, yaudah nanti gue beliin eskrim"
Heyla menahan tawanya dan memberikan tatapan geli pada Atrus, bukannya memarahi Heyla Leri malah memanjakan nya.
"Dah lah" malas Atrus, mereka yang berada diruangan itu langsung tertawa.
Hari itupun berlalu begitu saja, malamnya sang bibi dan Om sempat heboh karena kondisi Heyla. Mengenai perintah Ika untuk ke salon diabaikan nya karena Heyla punya perawatan rambutnya sendiri yang lebih bagus daripada salon, meski tidak memakai makeup ke sekolah Heyla selalu rutin menggunakan skincare.
"Kacamata gue rusak semua, sekarang gue pakai apa coba" ucap Heyla yang kini sedang duduk dimeja riasnya untuk pergi sekolah pagi ini, ia menatap semua pernak-pernik yang ia punya, jika kebanyakan perempuan memiliki perhiasan seperti kalung, cincin, gelang, jeoit rambut dan lainnya. Maka aksesoris yang Heyla koleksi adalah topi dengan berbagai macam gaya dan warna.
"s**t, udahlah hari ini gak usah pake kacamata"
Dirinya beranjak dengan pakaian rapi dan rambut diikat setengah, seolah sedang bosan dengan gaya yang biasa. Setiap perempuan pasti ingin bergaya hanya saja Heyla selalu menahan hasratnya untuk berdandan.
"Kali ini biar Abang kamu yang antar ke sekolah yah" ucap sang bibi yang melihat Heyla keluar kamar
"Gak usah bi, Ela udah baikan kok"
"Kalo baikan coba lompatin sofa kayak biasa" ucap Atrus, Heyla hanya menatap tajam seolah kesal dengan Abang sepupu nya itu
"Gak bisa kan? Ayok gue anter...."
Dengan terpaksa Heyla menurut dan mengikuti Atrus keluar rumah, mereka berdua pergi dengan mobil.
"Eh Zuke itu baik banget yah" ucap Atrus tiba-tiba
"Hah? Kesambet Lo bang? Hahah jarang cowok mau muji cewek. Udah belok Lo?"
"Heh gue serius..."
"Yah gue serius juga bang...."
"Ck, gue lihat dia milih teman, care sama semua orang juga. Humble"
"Iya emang Zuke itu orangnya baik, menurut gue diantara para konglomerat sekolah dia yang bisa diandalkan" ceplos Heyla sambil asik melihat pemandangan.
Merekapun tiba digerbang sekolah, Heyla segera turun dan Atrus melaju menuju kampusnya. Beberapa orang yang tidak biasa melihat wajah tanpa kacamata Heyla terkadang melihat dua kali seolah keheranan dan baru melihat wajah itu.
"Ck, emang muka gue beda amat apa pake kacamata sama enggak, yahh memang beda sih orang kacamata gue gede" ucap Heyla sendiri sambil berjalan pelan-pelan.
Sesampainya dikelas Heyla melihat Ika sudah berada disana.
"Cie tumben Lo cepat, mana yang lain? Tumben jam segini belum di kelas" heran Heyla yang tak melihat Rico dan Rudy, kalau Aland memang sering lebih lambat dari Heyla.
"Jumpa Zuke"
"Ohhh"
Dilain tempat Sondia sedang menyusun siasat baru dengan yang lain, rencana pertamanya berhasil dengan mudah. Bukan hanya dengan membuat Heyla terluka melainkan membuat perspektif siswa lain sudah berubah tentang Heyla, meski masih banyak yang tak percaya dengan hasil razia itu beberapa orang yang mudah terhasut sudah menganggap Heyla perempuan tak baik.
"Lo lihat gak dia langsung datang ke sekolah hari ini, kalo gue jadi dia sih pasti diam dirumah dulu" ucap Lily
"Mental dia kuat, tapi itu karena dia masih punya teman. Lo lihat sendiri teman-teman dia siapa. Aneh gue ngeliat b***h yang satu itu bisa dekat sama Zuke dan Aland"
"Jadi rencana selanjutnya apa?"
"Hmm....." Sondia membisik kan rencana selanjutnya yang tak kalah licik, mengenai rencana seperti ini Sondia sudah sangat ahli, keahlian itu datang dari latihan dan kegiatan licik nya yang membuat banyak siswa pindah Sekolah.
Dikelas yang berbeda tempat para murid pintar Zico menghampiri Zuke yang sedang mengerjakan soal, sekarang sedang memasuki jam istirahat.
"Zuke nanti malam Lo datang?"
"Kemana?"
"Ke acara ulangtahun pernikahan pebisnis batu bara terbesar, semua pebisnis terkenal datang emang Lo gak mau nyari partner kerja sama gitu?"
"Ohh....gue dateng gantiin orang tua gue"
"Okeh... Btw Lo tahu gak pebisnis yang tinggal di London? Aduh gue lupa namanya... Nanti gue cari tahu. Blasteran Indonesia-Belanda" setelah mengatakan itu Zico pergi dari sana.
Seketika yang awalnya Zuke tidak peduli mengenai pebisnis terkenal diLondon itu kini ia mengingat istrinya yang ia lihat di mall dengan perempuan bergaun Dongker.
"Apa perempuan itu datang?" Batin Zuke, ia sangat penasaran dengan perempuan yang melarikan diri seolah menghindari dirinya.
"Mari kita lihat nanti malam"
Drettttt
Drettttt
Drettttt
Ponsel Heyla bergetar dan menunjukkan nama kontak "Ma mom" Heyla yang sedang dalam proses belajar dikelas dengan guru didepan langsung bersyukur nad dering ponsel nya tidak aktif. Ia segera berdiri dan permisi untuk pergi ke toilet.
"Halo ma?" Bisik Heyla setelah mengangkat telfon sang mama di lorong menuju kamar mandi yang lumayan sepi
"Hai sayang, mama mau ngasih tahu nanti malam mama sama papa mau datang ke Indonesia, gak nginap kok tapi kamu datang yah di pertemuan nanti malam. Mas semua orang bawa anak, mama malah kelihatan seperti perempuan mandul"
"Hah? Gak mungkin Ela ikut ma... Kan ada abang"
"Abang kamu kelaman untuk sampe ke Indonesia, lagian kalo ada kamu disana kenapa manggil Abang"
"Mah... Aish mama kan tahu teman-teman Ela banyak yang anak pebisnis juga. Bahkan yang kenal sama papa malah"
"Jadi gimana dong..... Masa mama kelihatan sebatang kara gak ada anak" keluh sang mama dengan nada sedih, mendengar itu Heyla menjadi iba, tentu saja mamanya akan jadi bahan gosip jika tidak membawa anaknya yang akan mewarisi usaha mereka nanti. Meski bukan Heyla yang akan mengambil dunia bisnis itu melainkan Abangnya.
"Yaudah deh ma, nanti Ela datang tapi Ela bakalan bikin sedikit penyamaran. Jaga-jaga kalau jumpa orang tua teman atau teman disana"
"Ooowww makasih gadis mama, nanti mama kirim alamatnya. Dandan yang cantik yah... Kami pasti rindu pakai baju simpanan mu kan"
"Hmm"
Telefon mereka pun berhenti, Heyla ragu apakah akan datang nanti malam namun ia sudah berjanji. Lagian kasihan orang tuanya jika dijadikan bahan gosipan.
"Ehe, ehemmeme" tawa Heyla sambil menutup mulutnya, ia sedang berfikir aneh-aneh untuk nanti malam. Dengan menahan senyumnya Heyla pergi untuk kembali ke kelas.
"Lo darimana?" Tanya Ika
"Angkat telfon mama gue"
"Ooohhh"
Mereka melanjutkan pelajaran mereka sambil memperhatikan bapak kimia yang kali ini berbaik hati dan malas memanggil muridnya maju kedepan.
Jadwal pulang sekolah pun berbunyi, baru saja guru keluar Heyla melihat Zuke sudah ada didepan kelas menunggu bisa masuk.
"Guys!" Sapa Zuke, ia langsung mendekati Aland
"Eh Lo nanti malam Dateng?"
"Oh... Acara itu, gue Dateng gantiin ayah gue"
"Great! Gue juga Dateng tapi sama orang tua" ucap Zuke
"Bocil Lo? Kalo orang tua Lo datang ngapain Lo pergi?" Ejek Aland
"Yaelah, Lo tahu sendiri mulut emak-emak gimana, giliran anaknya gak datang dibilang gak guna punya anak, kalo mereka gak tahu orang tua Lo punya anak bakalan ditanyain apa udah punya anak"
"Hahah, oke-oke jumpa disana"
"Sippp, Heyla!" Panggil Zuke setelah memberikan jempol pada Aland, mendengar Heyla dipanggil Aland langsung melihat ke perempuan itu.
"Hmm? Apa?" Ucap Heyla
"Gue bawa mobil, ayo gue anterin"
"Ish belagu loh gara-gara bawa mobil? Awas aja nanti gue bakalan beli mobil tanpa izin orang tua gue, duit duit gue". Batin Aland sambil menatap Zuke kesal
"Gue udah janji sama Ika"
"Oh... Oke deh" lesu Zuke yang tidak terlalu jelas
"Pftt.... Rasain Lo" batin Aland sambil tersenyum simpul, ia tidak sadar Heyla sempat melihat senyuman aneh itu.
Heyla pulang bersama Ika, Aland pulang sendiri sedangkan Rudy dan Rico pulang dengan caranya masing-masing. Yah mereka pulang bareng seperti biasa.
Sesampainya dirumah Aland langsung menemui ibunya yang berada dirumah, ibunya berstatus ibu rumah tangga hanya ayahnya yang mencari nafkah untuk mereka.
"Ma? Nanti malam Adek gak ikut?" Tanya Aland pada mamanya
"Adik mu nanti dirumah sama bibi, nanti dia rusuh disana lagian belum saatnya dia ikutan"
Aland mengangguk setuju, adiknya yang masih kelas satu SMP itu menang lebih bagus tidak ikut dulu dalam dunia yang menjurus ke dunia kerja seperti ini.
"Mama ada beliin sepatu baru udah di letakkan di kamar kamu yah. Pakai nanti malam"
Zuke mengangguk dan segera menuju ke kamarnya, ia melihat sebuah kotak sepatu diatas tempat tidur. Kamarnya luas dan mewah, dia punya banyak sepatu dan jika sudah tidak muat dilemari dia sering melelang kan nya kembali dan uangnya di donasikan. Semua barang-barang mereka yang masih bagus sering didonasikan meski baru sekali hingga tiga kali pakai. Mengenai setelan untuk nanti malam tentu saja Zuke tak oerku berfikir panjang karena ia mempunyai banyak koleksi.
Berbeda dengan Zuke yang tinggal dirumahnya, Aland yang sedang diasingkan itu bingung semua bajunya tidak bisa ia bawa ke Indonesia. Otomatis dia merasa tidak ada baju yang cocok untuk dipakai nanti malam.
"Aaa.... Syukur gue bawa baju andalan gue" ucap Aland yang teringat akan baju mehong yang ia bawa. Tidak ada pilihan lain selain baju itu.
"Aish, gini amat hidup gue. Ada uang ...uang sendiri malahan. Tapi kenak tahan. Iyasih gue masih ada rekening ini. Tapi tetap aja beda sama black card" gerutu Aland
Waktu yang dimaksud pun sudah dekat, kalangan pebisnis besar yang memiliki cabang atau berpusat di Indonesia akan datang karena salah satu tetua dikalangan mereka sedang mengadakan pesta. Bukan pestanya yang sebenarnya menjadi hal utama melainkan agar sesama pengusaha bertemu baik itu untuk menjalin kerjasama dan lainnya.
"Mama sudah sampai dan istirahat di hotel, nanti kamu datang langsung ke lokasi aja mama tunggu disana ucap sang mama pada Heyla melalui telepon
Kini Heyla sedang berdiri didepan lemarinya, ia mengeluarkan beberapa baju yang jarang di letakkan disana melainkan didalam koper.
"Jadi... Malam ini kita akan bergaya..... Ala-ala Yunani nyentrik yang klasik, haahahha" ucap Heyla puas
"Tapi... Kalau nyentrik banget nanti orang malah nyelidikin gue" bimbang nya.
"Ck, kalo gitu.... Baju ini.... Ah topi ini..... Dan kacamata ini"
Heyla memilih baju dengan asal, sebuah gaun hijau tua dengan tali tipis dibahu, pernak-pernik berlian kecil yang berserak di bagian baju depan dan rok panjang kembang kebawah menjadi pakaian Heyla. Jika diperhatikan baju ini seperti baju seorang model.
"Argh.... Terlalu nyentrik"
Meski bajunya bagus Heyla nengganti dengan baju yang lain. Ia mengambil gaun putih lengan panjang devang belahan runcing dibagian d**a, tapi belahannya tidak sampai memperlihatkan bagian berbahaya. Gaunnya sedikit kembang dengan juntaian halus. Terdapat sulaman bunga- kecil yang menghiasi baju itu.
"Ini lebih cocok. Ditambah..... kacamata coklat ini..." Senandung Heyla memasang kacamata besarnya, jika memakai kacamata hitam akan terlihat lucu karena hari sedang malam, jadi ia memakai warna coklat yang tidak pekat.
"Rambutnya.... Gelombang aja deh"
Heyla mengambil pengeriting rambut untuk membuat rambutnya gak sepunggung bergelombang kemudian ia ikat setengah, dihiasi dengan hiasan rambut berwarna putih berbentuk bunga dirambut nya. Poni panjangnya ikut di buat bergelombang dan diletakkan disisi kanan dan kiri wajahnya.
"Okeh, selanjutnya makeup.... Gimana yah?" Bingung nya lagi
Ia mengambil eyeliner dan memasang diujung matanya agar jaga-jaga dari kacamata yang sedikit menerawang bentuk matanya aslinya tidak nampak, ia memasa bulu mata yang membuat matanya seperti memakai tanam bulu mata. Menyisir alis tebalnya dan memasang blus on dan lipcream berwarna coral.
"Oke udah, waktunya pergi" ucap Heyla
Heyla mengambil tas coklat mudanya dan segera keluar dari kamar.
"Udah mau pergi?"
"Udah bi"
"Plat mobilnya udah om ganti"
"Makasih ommm" senyum Heyla, ia sengaja mengganti plat mobil dengan nomor palsu, jaga-jaga jika ada yang menguntit dan mencari nama pemilik plat. Ia membawa mobil om nya menuju tempat yang dimaksud oleh sang mama. Sekitar beberapa belas menit ia sudah sampai ditempat tujuan.
"Argh.... Rame banget. Pasti Sondia dan yang lain ada disini. Penyamaran gue aman gak yah?"
Heyla berkaca pada kaca di dalam mobil, wajahnya yang full make-up apalagi dibagian mata, bibirnya yang ia buat sedikit lebih tebal. Heyla memasang kacamatanya untuk melihat sekali lagi.
"Udah beda sih soalnya disekolahkan gue gak pernah dandan. Beda dong. Semoga aman"
Dengan langkah yang yakin Heyla segera keluar dari mobilnya yang ia parkir jauh sekali, ia berjalan ke gedung yang pintunya beralaskan karpet merah.
"Ih lebay ya Allah" batin Heyla, ia bisa melihat orang yang berhenti tepat dihalaman depan sehingga tak perlu menginjak aspal.
"Owww.... Artis Indonesia juga beberapa ikut yah. Wajar aja sekarang mereka juga lomba buka bisnis" batin Heyla lagi.
Heyla berusaha masuk menginjak karpet merah sebelum seorang bodyguard berjas hitam besar menghadangnya, mungkin karena Heyla tak muncul dari mobil.
"Anda siapa?"
"Owh, aku anak dari keluarga Zeona"
"Hahaha kalau keluarga Zeona berjalan kaki maka aku pangeran Inggris" ucap laki-laki itu
"Apakah pasangan Zeona sudah datang?" Datar Heyla yang tidak emosi sama sekali
"Tentu saja, jika kau anaknya pasti kau datang bersama mereka"
"Oke terimakasih" Heyla mundur kebelakang dan terkejut melihat orang yang berada dibelakangnya, disana ada Zuke yang mendengarkan pengakuan Heyla tadi.
"Kau anak keluarga Zeona?"
"Aaa.... Iya" gagap Heyla setengah mati, mata Zuke sedang menusuk lensa kacamata miliknya
"Sebentar aku akan memanggil kedalam"
"Ehmmm tidak perlu, masuklah aku akan menelfon mereka" ucap Heyla dengan nada suara yang ia lembutkan, meski ia ragu Zuke mendengar suara aslinya saat berbicara dengan bodyguard tadi.
"Baiklah" ucap Zuke masuk kedalam gedung
"Mati aku" batin Heyla. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menelfon sang mama. Selang beberapa lama perempuan yang sudah ditunggu pun datang.
"Yaampun nak.... Kenapa gak langsung masuk?" Ucap sang mama menjemput Heyla di ujung pangkalnya tempat mobil berhenti.
"Gak papa ma, aku tadi gak dibolehkan masuk" senyum Heyla, tanpa sindiran langsung bodyguard yang tadinya menganga terkejut dan malu kini menunduk mempersilahkan mereka masuk.
"Mah, nanti kalo ngenalin aku jangan bilang namaku Heyla yah"
"Kenapa? Panggilan mu kan memang Heyla"
"Aku ada teman disini... Jangan sampai ada celah ma"
"Oke, kita panggil nama kedua mu aja" mereka masuk kedalam ruangan mewah dari hotel berbintang itu, tempat pertemuan diadakan. Heyla yang sudah lama tak berjumpa dengan ayahnya langsung memeluk dan menggandeng tangan ayahnya.
Dari kejauhan Zuke sesekali mengamatinya, karena dia kenal dengan ibu Heyla saat di mall kemaren tapi tak bisa melihat wajah anaknya itu. Bahkan sekarang perempuan itu memakai kacamata.
"Why she is so weird?" Batin Zuke
"Suara dia saat ngomong sama laki-laki didepan kedengaran berbeda saat ngomong sama gue" batinnya lagi, ia sedang bersama teman-teman ayahnya dan ia malah fokus melihat Heyla yang sedang tak ia kenali.
"Zuke?" Panggil sang ayah
"Iya pa?"
"Mana Aland?"
"Owh, dia bilang baru berangkat. Aku pergi sebentar pa"
~Jangan lupa beri komentar dan follow Author nya yah ❤️~