Aland sedang berada diluar memegang ponselnya, beberapa orang sedang memperhatikan nya apalagi para gadis yang berstatus pengusaha muda dan masih menjomblo ataupun anak para orangtuanya yang ikut datang. Tampilan Aland dengan jas hitam mahalnya ditambah perawakan dan wajah dinginnya membuat orang akan langsung melihat tanpa ragu kesana.
"Hai Aland, gue kira Lo gak dateng.... Tante sama om datang gak?" Sapa Sondia yang memilih mendekati Aland ketimbang masuk kedalam gedung bersamaan dengan orang tuanya
"Gue sendiri mewakili orang tua gue. Lagian sekarang gue yang ngurus perusahaan"
"Kalo gitu ayo masuk bareng" senyum Sondia mengalungkan tangannya pada lengan Aland
"Gue nunggu Zuke"
"Kita tunggu didalam aja.... Yuk"
Aland pun mengikuti Sondia yang membawa nya masuk kedalam, semua orang yang melihat mereka langsung terkagum sambil berbisik-bisik. Mereka berfikir Aland dan sondia memiliki hubungan khusus, seperti yang direncanakan Sondia. Ia ingin orang melihat bahwa dirinya dekat dengan seorang Aland Delbert.
"Itu Zuke, gue harus kesana"
"Gue ikut" ucap Sondia yang masih ingin terlihat seperti sepasang kekasih yang luar biasa
"Tapi lepas tangan gue, gua ngerasa gak bebas"
Dengan gagap senyuman Sondia pudar, ia segera menarik tangannya dan tersenyum kembali. Aland yang sudah merasa nyaman kembali berjalan mendekati Zuke yang tadi melambai padanya.
"Meski sebatang kara orang kaya dan tampan tetap lah orang kaya" Sindir Zuke melihat Aland yang selalu berhasil mengalihkan para undangan ada setiap acara.
"Bacot Lo"
"Eh Sondia, Lo datang sama siapa?"
"Sama orang tua gue lah, mereka lagi jumpa sama tuan rumah"
"Oh..."
Dilain tempat Heyla duduk bersama kedua orangtuanya sambil memakan kue coklat yang ada di sana, dengan konsisten dia memasukkan sesendok potongan kue kecil kedalam mulutnya terus menerus.
"Ela... Kamu gak mau cari teman gitu? Banyak anak teman papa disini"
"Dan diantara anak teman papa itu ada sahabat Ela di sekolah. Sama aja dengan Ela bongkar indentitas disini pa. Oh iya papa jangan keceplosan dong nama Ela sekarang itu Zea... Nama belakang papa. Jangan pakai nama asli dong, pakai nama kedua pa" gerutunya
"Iya Zea sayang...." Ucap sang papa
Heyla tersenyum dan memperhatikan sekitar, sang mama yang tadinya pergi untuk bercengkrama kini datang membawa segerombolan orang.
"Aish ma! Kenapa karya mereka astagaaa!" Panik Heyla melihat orang tua Zuke sedang mendekat. Orang tua Zuke memang belum pernah bertemu dengan Heyla, tapi masalahnya dibelakang sana Heyla melihat Zuke, Aland dan Sondia sedang bersama.
"Wah.... Sudah lama tidak berjumpa Timo" ucap ayah Zuke pada ayahnya Heyla. Mereka berjabat tangan sambil berpelukan sebentar.
"Oh iya ini anakku yang kedua" ucap Timo. Dan mau tidak mau Heyla tersenyum ramah dan menyalam kedua orang tua Zuke
"Malam Om, Tante, saya Zea" ucap Heyla berusaha memperkenalkan diri, jika ayahnya mengenalkan dirinya ia takut ayahnya khilaf dan malah memanggil nama 'Heyla'.
"Meski dia pakai kacamata aku sudah tahu Putri mu ini Cantik" ucap ayah Zuke pada ayahnya Heyla.
Dua pasang pasangan itu berbincang kembali dan Heyla memilih kembali duduk sambil menikmati cemilan diatas meja. Kuenya sudah habis jadi kini Heyla menyambar anggur.
Zuke yang sejak awal memperhatikan Heyla kini merasa ada kesempatan untuk mengobati rasa penasaran nya, orang tua nya berada disana jadi ia ada alasan untuk mendekat.
"Eh gue pergi dulu, mau nyamperin orang tua gue" ucap Zuke
"Oh yaudah" ucap Sondia
"Kita ke tempat orang tua gue yah?" Ajak Sondia pada Aland setelah Zuke pergi
"Gue ada urusan lain dan kayaknya Lo gak bisa ikut gue terus. Orang tua Lo pasti nyariin jadi lebih baik Lo kesana"
"Aland....gue bukan anak kecil yang bakalan hilang di keramaian" halus Sondia
"Dan gue bukan induk Lo. Gue ada urusan pribadi, gue cabut dulu"
Kalimat pendek itu berhasil membuat Sondia terdiam, ia tidak bisa menjawab ataupun mempertahankan Aland agar terus-terusan bersamanya. Sebelum ia terlihat kesepian karena sendiri sondia segera pergi mencari keluarga Zico yang pasti sedang bersama orangtuanya.
"Nah.... Ini anakku" ucap ayah Zuke melihat anaknya mendekati nya. Dengan ramah Zuke menyapa kedua orang tua Heyla yang memang ia kenal.
"s**t!! Bahaya kalo gue disini terus" batin Heyla yang memalingkan wajahnya kearah lain. Ia membuka ponsel nya yang sudah ia ganti case, penyamaran nya memang totalitas agar tidak ada celah sekecil apapun. Seperti kemungkinan Aland dan Zuke akan mengenali casing hp nya.
"E...." Ucap Timo yang membuat Heyla membelalakkan matanya mengira ayahnya akan salah bicara
"Zea... Sini kenalan sama anak teman papa" lanjut ayahnya
Dengan jantung yang hampir mau copot Heyla berdiri dan berdehem menyiapkan suara yang dibuat buatnya.
"Nah ini anak kedua Tante, namanya Zea" ucap Miana mama Heyla.
"Halo, saya Zea" ucap Heyla sambil menyodorkan tangan kanannya
"Saya Zuke" ucap Zuke yang menerima jabat tangan Heyla.
"Wah... Tante baru tahu kalian masih seumuran" ucap Miana
"Zea sekolah Dimana?" Tanya mama Zuke
"Dia sekolah di London, bareng Abang nya. Kebetulan abangnya sibuk jadi cuman dia yang kesini" jelas Miana
"Wah... Mama ahli bangettt beginian, pasti Oma sering dibohongi dulu sama mama" batin Heyla sambil tersenyum sendiri menahan tawanya. Hingga akhirnya Heyla menyadari Zuke memperhatikan gerak geriknya dan juga senyumnya tadi.
"Kok gue ngerasa pernah lihat dia yah" batin Zuke
Karena merasa dirinya sudah mulai dalam bahaya dan pertahanan dirinya akan segera roboh Heyla membisikkan pada mamanya untuk pamit ke kamar mandi, ia segera permisi pada mereka untuk pergi sebentar. Dengan cepat Heyla melangkah untuk mencari kamar mandi agar Zuke tidak bisa mengikuti dirinya. Tepat sebelum ia masuk kedalam Heyla bisa mendengar suara mic yang menandakan tuan rumah akan bicara sebagai ucapan terimakasih pada para undangan dan dimulainya acara.
"Huft.... Bahaya... bahaya" ucap Heyla dan berjalan mendekati cermin, ia melihat semua bilik toilet terbuka otomatis tidak akan ada orang disana.
Karena merasa risih dengan kacamata yang membuat semua penglihatannya coklat ia membukanya didepan cermin besar.
"Apa malam ini gue aman?"
"Pasti dong..... Gue gitu loh" sombong Heyla sendiri seolah sedang mengobrol dengan bayangannya
Ia membasuh tangannya dan segera keluar dari sana sebelum orang lain sadar ia mengunci pintu. Kacamata coklat nya sudah kembali bertengger di hidung nya yang tak terlalu mancung. Ia berjalan dari sisi pinggirnya alias mengikuti dinding karena orang sedang mengamati dan mendengarkan tuan rumah berbicara, sesekali mereka tepuk tangan seolah mengapresiasi sesuatu.
Dari kejauhan Zuke yang duduk disebuah meja bundar bersama orangtuanya dan juga Aland yang menang sejak awal bersama mereka memperhatikan Heyla yang sudah keluar dari kamar mandi dan sedang berjalan menuju meja orangtuanya berada.
"Lo lihat apa sih? Dari tadi Lo melamun" ucap Aland sambil menepuk bahu Zuke
"Oh bukan apa-apa, itu anak dari keluarga Zione, Lo pasti tahu"
"Ooh.... Emang kenapa?"
"Mungkin Zuke suka sama dia, soalnya dari tadi mama perhatikan kamu lirik dia terus" sambung sang mama yang mendengar percakapan anaknya Zuke
"Eh bukan ma.... Zuke ngerasa pernah lihat dia doang"
Aland yang penasaran langsung melihat kearah Heyla yang berada jarak dua meja dengan tempat mereka. Karena kacamata Heyla yang besar wajah bagian atasnya tidak dapat ia kenali, hanya wajah bagian bawah yang terlihat jelas. Aland tidak merasa aneh dengan perempuan itu sama sekali. Ia hanya tertarik untuk mengajak orang tua gadis itu ikut bekerja sama dengannya.
"Mama dengar dia gadis pintar dan periang loh waktu kecil. Dia juga punya bisnis desainer gitu cuman lgi vakum karena dia sekolah" jelas sang mama
"Yakin gak mau deketin dia....?" Goda sang papa
Zuke hanya tertawa mendengar keusilan kedua orangtuanya.
"Oh iya Aland, kenapa orang tua mu gak datang juga? Sekalian jumpa kamu" tiba-tiba mama Aland teringat akan orang tua Aland
"Lagi sibuk ma, lain kali bakalan datang kok"
Acarapun berlangsung dengan non formal, beberapa pasangan yang percaya diri berdansa mengikuti tuan rumah yang berdansa ditengah sebagai mengenang ulang tahun pernikahan. Tak jarang juga anak muda ikut berdansa didalam. Bahkan orang tua Heyla sudah pergi ikut dan meninggalkan Heyla dimeja mereka.
"Mesra sekali.... Padahal aku yakin setengah dari pasangan yang menari ini hanya sebagai formalitas agar terlihat memiliki rumah tangga yang harmonis. Padahal aslinya ow.... Sangat berantakan. Semua ini demi uang" batin Heyla dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah seolah ia benar-benar sedang berbicara langsung dari mulut nya.
"Kemudian anak mereka akan merasakan dunia milik mereka.... Semua orang mengejar mereka karena harta tahta dan wanita. Kenapa para orang kaya kebanyakan good looking? Karena semua orang mengincar mereka termasuk orang cantik yang mata duitan, ujung ujungnya keturunan mereka juga cantik. Tapi sayangnya tidak ada akhlak. Kecuali gue" ucap nya lagi
"Kalo nanti gue nikah....."
"Eh gue nikah? Yakin? Ujung-ujungnya gue dimanfaatin lagi. Tapi gue tetap berharap bakalan bertemu orang yang nerima gue apa adanya dan tidak akan menjauh saat gue udah butuh dia"
Raut wajah Heyla berubah kembali, ia teringat akan pengalaman pahitnya seketika sehingga yang tadinya ia ketawa sendiri karena membicarakan orang kini seolah sedang mengenang kesedihan.
"Permisi, apa saya boleh duduk disini?" Ucap seorang laki-laki
"Duduklah di manapun kau mau... Ini bukan mejaku " ucap Heyla yang masih menatap kedua orang tuanya yang tertawa bahagia disana, kepalanya ia topang dengan tangan di dagunya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Aku seperti pernah melihat mu"
"Aku tidak pernah bertemu dengan mu" ucap Heyla datar, dan Heyla bisa mendengar laki-laki itu tertawa
"Ku dengar kau membuka bisnis sendiri. Jadi aku penasaran"
Karena laki-laki itu terus mengoceh Heyla yang awalnya asik melamun mulai tersadar dengan suara yang ia kenal. Ia melihat kesamping kiri nya, karena meja mereka bundar Zuke sedikit lebih jauh dan tidak sejejer dengannya.
Heyla terkejut dan berusaha tenang melihat laki-laki itu ada didepannya sekarang, bukan hanya Zuke melainkan Aland juga disana.
"Emm...kau baik-baik saja?" Ucap Zuke melihat mulut Heyla menganga
"Hah? Oh aku baik-baik saja. Oh iya aku ada urusan dan harus pergi sekarang. Senang berjumpa dengan kalian" ucap Heyla yang tak lua mengubah suaranya. Ia pergi dari sana sambil mengeluarkan ponselnya dari tas untuk mengabarkan pada ayahnya ia pulang lebih dulu
Dukkkkk
Brakkkk
"Sorry, saya tidak sengaja" ucap laki-laki yang tak sengaja bertabrakan dengan Heyla sambil mengambil ponsel Heyla yang terjatuh
"Tidak apa apa" balas Heyla menerima handphone nya kembali, senyum Heyla pudar ketika melihat Zico berada dihadapannya.
"Ehmm..... Gue Zico, karena kita seumuran kayaknya kita bisa temanan" ucap Zico sambil mengulurkan tangannya
"Temanan palak Lo! Kita udah musuhan lahir batin" ucap Heyla dalam hati.
"Gue Zea"
"Zea?"
"Iya, gue putri satu-satunya dari keluarga Zeona"
"Wow, jadi Lo anak pak Timo?"
"Iya, ehmm gue cabut dulu ada urusan"
"Wait!" Cegat Zico menahan tangan Heyla saat hendak pergi
"Maaf, apa gue bisa minta nomor Lo?"
"Ehmm.... Gue aja deh yang minta nomor Lo soalnya gue lagi buru-buru dan gue gak hafal nomor baru gue" ucap Heyla sambil mengeluarkan ponselnya. Zico menyebutkan angka nomor ponsel nya sampai selesai.
"Hubungi gue yah"
Heyla yang tersenyum dan segera beranjak dari sana. Tentunya dia tidak akan menghubungi Zico , ini hanya alasan agar Zico tidak memintanya nomornya terus dan tidak mencegatnya.
Heyla berjalan jauh dari pintu keluar berkarpet merah menuju tempat ia parkir tadi. Karena takut ada yang mengikutinya Heyla terus mengawasi sekeliling nya dengan teliti hingga ia sampai didepan mobil.
Dukkk
Heyla menutup pintu mobil dan diam sebentar mengamati sekeliling. Karena tidak akan semudah itu untuk anak dari orang tua terkenal bisa pulang dengan mudah tanpa ada informasi bagi para pemburu berita gosip terkini.
.
.
.
.
.
.
.
~Jangan lupa beri komentar dan Follow Author nya yah ❤️~