"Emang dia gak mau kuliah? Masa sih? Mereka kan kaya dan ayahnya juga sehat kan?" Batin heyla
Meski merasakan ada sedikit keganjalan heyla memilih tak acuh dan menutup laptopnya. Ada satu hal yang tidak diketahui Aland tentang heyla, jarak tempat tinggal mereka hanya berbeda satu halte pemberhentian bus. Heyla memang sengaja tidak mengatakannya toh laki-laki itu tidak perlu tahu.
Selang berada dikamarnya entah berapa lama haripun mulai gelap dan sudah melewati magrib, ia pun keluar kamar dan bertemu salah satu abang sepupunya itu
"Hai bang!" Sapa heyla pada Leri anak pertama bibinya itu.
"Hmmmm"
"Cuek amat, bilang ke bibi gue mau keluar bentar"
"Kemana?"
"Kepo...."
Dengan hanya memakai celana trening dan jaket yang menutup kaos rumahannya heya keluar dengan berjalan kaki menuju indomaret terdekat. Sekarang ia sedang ingin memakan mie pedas sebanyak-banyaknya.
Untuk sampai kesana heyla memang harus berjalan ke persimpangan agar keluar dari perumahan dan berjalan kekanan sedikit lagi. Tetapi sesampainya disana dia melihat orang yang ia ajarkan naik bus tadi siang.
"Hayyolo!! Jomblo yahh!" Teriak heyla dari belakang aland
Dengan otomatis aland beranjak dari tempat duduknya karena terkejut, setelah makan diwarung makan yang lain tadi aland memilih membeli minuman bersoda dan duduk diluar toko sebentar, ia sedang merenung saat itu sebelum heyla datang mengejutkannya.
"Ngapain lo disini?" Tanya aland yang keheranan
"Lah mau beli lah ngapain lagi gue kesini, mau tidur?"
"Kenapa harus beli disini?"
"Ooohh... gue lupa bilang, setelah halte pemberhentian lo itu ada halte gue. Jadi yah rumah kita gak jauhan dan ini toko terdekat dari rumah gue. Rumah gue kan perumahan jadi gak ada yang jualan didalam"
Aland kembali duduk tidak mengubris heyla.
"Heh lo mau mie gak?"
"Gak!"
Heyla mengangkat bahunya kemudian masuk kedalam toko, ia mengambil mie pedas korea favoritnya yang akan membuat hingusnya meler. Ia bahkan sampai membeli tisu kecil untuk mengatasi hingusnya itu.
"Ini bang"
Heyla menyerahkan belanjaannya yang terdiri dari dua buah samyang pedas, dua aqua botol, dan sebuah tisu. Sebelum keluar ia mengambil air panas yang sudah tersedia disana untuk merendam mie nya agar kembang.
Dengan satu kantong plastik yang mengangkut di pergelanganya dan kedua tangan membawa samyang masih direbus Heyla datang ke meja aland berada.
"Nih buat lo"
"Kan gue bilang gak mau" ketus aland
"Yaudah gue numpang disini yah sekalian menemani malam lo yang sepi"
Heyla meniriskan dua buah mie yang sudah bisa dimasukkan bumbu pedas itu. Aland memperhatikan setiap gerak gerik heyla yang memasukkan cairan merah yang bahkan terasa pedasnya dalam sekali lihat.
"Apa lambung lo bakalan aman makan itu?"
"Aman sih, paling sering ke WC doang" ucap heyla dengan mudah
Setelah asik mengaduk aduk kedua mie itu dengan rata heyla segera memakannya dengan lahap
"Mm... enak nya...." ucap heyla sambil memakan samyang itu didepan aland
"Lo gak kepedasan?"
"lo pikir untuk apa gue membeli tisu kecil ini"
Aland sama sekali tidak mengerti maksud heyla dan mengangkat bahunya.
"Cobalah... gue ada dua. Lo harus merasakannya"
"Gak"
"Ish coba aja! Gue gak ngeracunin lo" paksanya
Heyla memberikan sumpit yang baru pada aland.
"Lo gak suka pedas? Owh! Jangan-jangan laki-laki sepertimu tidak tahan pedas?"
Pancingan itu berhasil membuat aland merasa diremehkan, ia mengambil sumpit dari tangan heyla dan segera menarik mie merah itu kehadapannya.
Slruppp
Saat mengunyah mie itu ekspresi aland memang kelihatan kepedasan tapi ia tak memungkiri rasanya enak juga meski pedas.
Heyla memperhatikan wajah putih aland itu memerah menahan ekspresi kepedasannya.
"Ahaha... lo gak perlu malu dengan ekspresi kepedasan lo itu" ucap heyla sambil menyodorkan minuman
Dengan cepat aland menerimanya dan langsung meminum habis sampai setengah botol. Ia pun merasa lega.
Hehyla yang memang sejak awal terus memasukkan mie itu kedalam mulutnya dalam porsi banyak sudah menjadi hingusan, ia segera mengambil tisu dan mengeluarkan hingusnya tanpa ragu yang menimbulkan suara menjijikkan itu.
"Euhhhh" ucap aland
"Kenapa? Baru ini nengok cewek buang ingus?"
"Gak dihadapan orang lain juga kali"
"Yah lagian kan yang lihat cuman lo doang, its okay" balas heyla sambil memasukkan suapan terakhir kemulutnya.
"Hah... pedasnya enak" lanjut heyla sambil membersihkan mulutnya dengan tisu. Keringat bahkan membajiri keningnya
"Semangat banget lo makannya" ucap aland yang belum menghabiskan mienya. Sebenarnya ia menikmati mie pedas ini meski harus pelan pelan untuk mengatasi rasa pedasnya. Ia juga sudah kepedasan dengan bibirnya yang bengkak itu.
"Ahahhaha.... muka lo merah banget, kondisi lo lebih parah dari gue" ucap heyla
Aland tidak mengubrisnya dan asik mengatasi kepedasannya sendiri sambil terus lanjut memakan mie pedas itu. Entah kesambet apa heyla jadi merasa porsinya tadi kurang dan segera mengabil sumpitnya kembali. Dengan tiba-tiba ia menyerang mie aland dan langsung berperang sumpit dengan laki-laki itu.
"Eh itu uang gue"
"Tapi lo ngasih ke gue kan, jangan serakah"
"Ih bagi gak"
"Gak!"
Aland terus mengingkirkan sumpit heyla dengan tangan kirinya sedangkan mulut dan tangan kanannya asik menyesap dengan cepat.
"Habis...." ucap aland dengan mulutnya yang masih penuh sambil tersenyum.
Heyla terkejut dengan senyum yang aland buat tiba-tiba, itu pertama kalinya heyla melihat laki-laki sombong itu tersenyum. Aland yang memang merasa seru saat rebutan mie tadi masih menahan tawanya sambil mengunyah makanan dimulutnya, ia pun minum untuk menetralkan rasa pedasnya.
"Gue mau tisu" ucapnya sambil mengambil tisu heyla. Dan tanpa ragu ia melakukan hal menjijikkan yang sudah heyla lakukan lebih dahulu tadi.
"Woi, lo membuang hingus di depan gue?" Protes heyla
"Gue ngebales doang" ucap aland dan membuat heyla menggelengkan kepala.
Selang beberapa lama mereka saling diam menikmati rasa kenyangnya masing-masing, tiba-tiba aland heboh sendiri.
"Awww.... ah... perihhh"
Heyla melihat aland yang memegangi matanya.
"LO g****k?!! Ngapain lo ngucek mata pake tangan lo yang kena bumbu pedas PAOK!" maki heyla
Karena sibuk menahan rasa perih dimatanya aland tidak bisa menanggapi hinaan heyla barusan. Gadis itu juga langsung berdiri dan menarik aland masuk kedalam toko.
"Bang! Ada toilet gak!" Ucap heyla yang masih menuntun aland seperti orang buta. Ia juga bertanya dengan nada ngegas pada abang staf indomaret.
Tanpa mengucapkan kata apapun karena terkejut di gas oleh heyla laki-laki itu langsung menunjuk tempat toilet berada. Dia bahkan keheranan melihat laki-laki yang diseret heyla.
"Buka mata lo! Jangan sentuh!" Ucap heyla pada aland yang sudah menunduk agar wajahnya sejajar dengan heyla.
Dengan perlahan heyla menyiram mata aland dan menguceknya dengan tangannya yang sudah ia bersihakan dengan sabun terlebih dahulu. Aland mengedipkan matanya untuk menyesuaikan penglihatannya kembali.
"Udah?"
"Masih perih" keluhnya
Heyla kembali mengalirkan air dari atas mata aland agar menghilangkan bumbu cabai yang ada disana. Selang beberapa lama mata aland sudah mendingan meskipun merah.
"Gimana?" Tanya heyla pada aland yang masih menunduk
"Sudah"
Heyla mengambil sabun cuci tangan yang ada disana dan memberikannya pada aland.
"Pftt.... ahhha" heyla tertawa tiba-tiba padahal beberapa saat sebelumnya dia masih kesal dengan kebodohan Aland
"Kenapa lo ketawa?
"Habisnya lo b**o ternyata" ucap heyla sambil membantu aland menyiram tangannya yang sudah bersabun itu.
"Gue gak ingat tadi megang sumpit lo yang mau nyuri mie gue"
"Hadeh... aneh-aneh aja"
Mereka pun keluar dari kamar mandi kecil itu, abang indomaret itu memperhatikan mereka dari awal karena pintu juga tidak ditutup dan kelihatan dari tempat dia berdiri.
"Makasih yah bang, teman gue megang mata habis makan samyang tadi. Maaf nge gas juga"
"Gak papa" ucap laki-laki bernama Ari itu. Terlihat di seragam yang ia pakai.
Aland dan heyla pun berjalan keluar menuju meja mereka kembali, heyla membereskan sampah mereka dari sana.
"Yaudah gue mau pulang, pfffttt.... anjir gue masih ngakak ngeliat lo, ahahha"
Aland hanya menatap heyla denga malu. Tentu saja kejadian tadi sangat memalukan baginya.
"Jangan bilang ke orang lain"
"Sipp... kalo gitu gue cabut yah, dahh"
Heyla pergi kearah kiri dari toko sedangkan Aland berjalan ke kanan. Toko itu bisa dikatakan titik tengah dari tempat tinggal mereka berdua.
Aland yang sambil berjalan kearah apartemennya mengeluarkan handphone dari sakunya. Ia mengetik nama Zuke dan membuat panggilan
"Woi Land, ada apa?"
"Besok jemput gue berangkat ke sekolah"
"Ogah gue, pagi-pagi dateng ngeboceng cowok. Ganjal tahu gak"
"Eh b*****t gue gak ada kartu bus. Gue malas pake taksi, pulangnya gue gak nebeng deh"
"Yaudah iye iye, dah yah besok kalo lo kelamaan keluar gue tinggal"
"Okeh"
Mereka mengakhiri panggilan, Zuke dan Aland memang sudah lama berteman dari kecil, meski tidak terlalu kelihatan oleh orang lain mereka selalu saling membantu. Itu sebabnya saat heyla menaggil zuke dengan akrab bahkan dengan panggilan 'nicki minaj' ia terheran-heran karena setahunya temannya itu sangat introvet dan susah dekat dengan orang lain.
Di emperan jalan yang lain heyla sedang berjalan menuju rumahnya, ia bersenandung pelan dengan langkah yang pelan juga. Kepalanya ia dongakkan keatas untuk melihat langit.
"Gak cantik" gumamnya
Diperkotaan langit berbintang itu jarang terlihat karena ditutupi polusi kendaraan yang tebal. Heyla pun sampai kerumah sebelum pamannya mengunci pagar.
"Assalamualakum" ucap heyla memasuki rumah
"Dari mana La?" Kali ini yang berada disana adalah abang sepupu keduanya, Atrus.
"Biasa bang, jajan"
"Untuk gue?"
"Lah abang gak nitip kan? Dah masuk perut semua yaelah"
"Hmm.... punya adek kok akhlakless yah" ucap Atrus yang dijawab kekehan oleh Heyla.
Ia segera menuju kamar untuk istirahat, sebelum terlelap ia membuka w******p nya yang menerima pesan masuk dari abangnya di london. Dikeluarga mereka memang susah untuk mendapatkan anak perempuan, itu sebabnya sepupunya kebanyakan laki-laki.
"Eh abang ngirimin baju buat lo" (ucap Fadly abang heyla dari pesan)
"Yaelah bang... lo setiap ngirim baju sama gue mah yang gak aman di pake" batin heyla
Setiap abangnya mengirim barang maka yang datang adalah baju mahal. Ia tidak bisa memakainya sering-sering jika tidak ingin ada yang menyadari siapa dirinya.