Pagi dari sebuah hari yang monoton kembali datang untuk ke sekian kalinya, remaja seumuran heyla tentu saja akan mengalami kesibukan yang sama seperti gadis itu. Heyla sedang bersiap-siap untuk pergi kesekolahnya, ia memakai seragamnya tanpa hiasan yang akan mencolok.
"Hai paman, bibi" ucap heyla menyapa orang didapur
"Abang gak lo sapa?" Tanya leri yang mengunyah sarapannya
"Oh, hai bang"
"Gue?" Tanya abang keduanya
"Hai kedua abang ganteng...." sapa heyla dengan senyum terpaksanya.
Inilah yang menjadikan anak perempuan di keluarga mereka langka dan sangat di sayang, mereka semua pingin punya adek perempuan tapi keluarga mereka memang jarang dan susah dalam mempunyai anak perempuan.
Jika para abangnya memakan nasi maka heyla akan memakan roti selai, bukan karena dirinya yang diet tapi nafsu makannya memang tidak ada saat pagi.
"Aku diluan" ucap heyla yang sudah berlari ke pintu rumah. Ia memang akan pergi sendiri ketimbang nebeng dengan abang atau pamannya.
Heyla menyebrang dan berjalan sedikit untuk mendapatkan halte bus langganannya. Ia sudah duduk disana sambil memainkan kakinya.
Dilain tempat karena pertama kali tidur di apartemennya sendiri dan tak ada orang lain Aland harus terburu-buru berkemas dan mandi untuk menuju sekolah, belum lagi Zuke yang pasti marah karena membuat mereka berdua terlambat. Tentu saja itu semua karena Aland bangun kesiangan hari ini, tabiat anak yang biasa dibangun kan baru beranjak belum bisa ia ubah.
"Ish lama banget lo!" Maki zuke yang sudah melihat Aland keluar dari sarangnya
"Makanya telfon gue buat bangunin"
"Njir! Emang gue pacar lo harus apelin subuh"
Aland langsung naik ke honda milik Zuke dan mereka melesat kejalanan dengan cepat, karena zuke selalu menjadi anak yang cepat datang kesekolah jam segini saja dia sudah mengira sekolah sudah masuk jam istirahat.
Sesampainya disekolah mereka bernafas lega gerbang belum ditutup, mereka masih bisa melesat dengan balap menuju parkiran.
CITTTTTT
"g****k! Lo sengaja ngerem biar gue peluk yah?" Omel aland yang memang kesusahan menyesuaikan diri dengan rem mendadak ala zuke
"Ah bacot banget dah lo orang udah apel"
Mereka berdua meninggalkan tas di koridor dan segera ikut apel di lapangan.
"Woi ! Lo ngapain apel pake helm?" Ucap heyla yang berada dilapangan dan menyadari keterlambatan Zuke
Memang mereka sangat terburu-buru juga menuju lapangan sampai zuke lupa melepas helm. Alhasil ia menjadi bahan tertawaan heyla dan beberapa murid lain
"Rusak image gue" batinnya
Selang beberapa saat mereka apel dilapangan semua siswapun kembali bubar dan menuju kelas masing-masing, heyla pergi ke kelas bersama rudy, dan ika. Sedangkan Aland dan zuke harus mengambil tas mereka yang di telantarkan tadi terlebih dahulu.
"Hai Aland, lo ingat gue kan? Kita pernah jumpa di london waktu orang tua kita bertemu"
Seorang gadis sekarang duduk dikursi depan Aland sambil menghadap kebelakang. Ada infotmasi guru sedang rapat sekarang jadi para siswa bebas berkeliaran bahkan ke kelas lain.
"Hmm... terus?"
"Lo ingat?! Nanti pulang bareng yah soalnya gue gak bawa mobil hari ini"
Sondia memang mengira Aland membawa mobil untuk pulang pergi sekolah. Tidak mungkin orang kaya sepertinya tidak ada kendaraan sendiri.
"Gak" ucap aland yang sebenarnya sedikit gengsi mengakui kendaraan yang tidak ada
"Loh.... terus aku pulang gimana?" Ucap sondia yang mengeluh terang-terangan
Heyla sedang asik menjahili teman-temannya, kali ini dia sedang berbincang dengan Rico atau laki-laki yang sering menyebut namanya 'Rachel'. Bukannya heyla tidak punya banyak teman perempuan tapi teman sekelasnya itu yang sering mengatai dari belakang atau bermuka dua didepanya. Meski tidak semua tapi heyla juga tidak mengerti apa yang salah pada dirinya sampai ada yang tidak menyukainya.
"Tapi lagi-lagi itu lebih baik daripada semua orang pura pura menyukaiku" itulah pikiran Heyla
"Lihat tuh kasihan si Vivah" ucap rico yang memang sedang duduk dilantai belakang kelas dengan rudy dan Heyla. Otomatis heyla melihat keberadaan gadis bernama Viva itu.
Vivah merupakan gadis pendiam dikelas meski tidak terlalu pendiam banget, ia hanya bicara apa adanya dan salah satu hidden student dikelas karena bicara seperlunya saja. Sekarang vivah sedang berdiri menatap keluar jendela entah sudah berapa lama. Kursinya sudah diambil sondia sejak masuk kelas tadi padahal vivah sangat betah di bangkunya sambil melukis sketsa.
"Emang dia gak capek? Ajak gih" ucap Rudy
"Vivah!" Teriak heyla yang menggema dikelas layaknya suara Toa. Bahkan seisi kelas sempat hening dan melihat asal suara itu termasuk aland dan sondia.
"Sini" ucap heyla menepuk lantai sebelahnya. Namun gadis itu menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Jika heyla mudah dekat dengan orang lain maka Vivah kebalikannya. Jika Heyla cenderung bar-bar dan urat malunya sudah putus maka Vivah cewek kalem dan sangat pemalu.
Karena heyla paham vivah tidak akan mau ikut ngerumpi di pojokan belakang kelas sambil duduk dilantai kramik itu heyla beranjak untuk melakukan sesuatu.
"Guru datang!" Ucap heyla tiba-tiba sambil pura pura berlari ke kursinya, otomatis beberapa orang yang sama rusuhnya terkejut dan berlari juga termasuk sondia yang langsung beranjak dari kursi Vivah.
Tidak perlu waktu lama heyla duduk dibangku vivah yang kosong itu padahal sondia masih berada di depannya.
"Maaf guys! Becanda, hahha" cengir heyla
Beberapa orang ikut tertawa namun beberapa orang lagi kesal dengan tingkah heyla itu.
"Awas" ucap sondia yang ingin duduk kembali
"Ehmm.... permisi beb tapi seharusnya lo balek ke kelas lo deh"
"Guru kan masih rapat gue masih punya pembicaraan yang penting sama Aland"
"Oke tapi lo gak bisa duduk dibangku ini"
"Emang lo siapa hah? Ini kan bukan bangku lo"
"Emang bukan, tapi gue ada janji dengan vivah dia akan menggambarkan sesuatu ntuk gue tapi karena lo duduk di kursi kerjanya gambaran itu harus terlambat siapnya, so... meaneo"
Heyla kembali memanggil vivah untuk mendekat dengannya. Gadis itu segera mendekat dan duduk dikursinya itu kembali.
"Okeh... maaf sondia tapi ini beneran sebuah meja kerja" ucap heyla sambil kembali le tempatnya
Tidaj butuh waktu lama sondia itu pergi keluar untuk kembali ke kelasnya, dan kerusuhan kelas kembali terjadi. Tapi percayalah meski kelas itu sangat rusuh perempuan yang dengan percaya drinya kejar-kejaran, bahkan membawa sapu sambil mengejar temannya hanya heyla dan Ika. Dua perempuam itu sangat setipe.
Sekepergian sondia heyla berjalan ke arah bangku vivah.
"Lain kali jangan mau vah bangku lo diambil, hak lo ini mah"
"Iya la, thanks yah" ucap vivah pada heyla
"Dan lo!" Tunjuk heyla pada Aland yang memasang wajah tak bersalah
"Seharusnya lo yang bertindak"
"Gue? Gue kan gak ngapa-ngapain" ucap Aland tak terima
"Yah karena lo di incar cewek akhirnya kelas ini lebih rame dari kelas Zuke tahu gak. Setiap jam kosong Zombie modus lewat dan ngintip kelas, setidaknya lo atasin yang tindakanya sampe nge rugiin orang lain kayak tadi"
Aland menatap kearah luar kelas dan membenarkan perkataan heyla. Memang banyak yang berlalu lalang tak jelas dengan wajah yang sama.
"Oke, eh btw gue nanti nebeng yah"
"Nebeng?" Beo Heyla
"Iya, nebeng se bus sekalian bayarin ongkos gue, nanti gue transfer soalnya gue gak ada kartu bus"
"Lo kan tinggal buat sendiri doang"
"Gak perlu soalnya ini sementara doang sampe honda gue datang"
Heyla mengangkat bahunya malas dan kembali duduk kebangkunya. Rudy dan rico juga sudah tidak menongkrong di belakang lagi.
Waktu istirahat kembali datang tanpa adanya pelajaran pada jam pertama. Akhirnya kantin sekolah sangat cepat berisi dengan manusia yang kelaparan.
"Ka, lo kantin?" Tanya heyla dan di jawab anggukan oleh ika
"Gue mau kamar mandi, diluan yah"
Heyla melesat meninggalkan ika yang biasanya mereka akan ke kantin bersama. Ia segera menuju toilet untuk melaksanakan panggilan alam. Setelah selesai ia segera menuju kaca besar disana dan mengamati dirinya. Kaca matanya ia buka dan menggerai rambut panjangnya.
Heyla sangat menyukai penampilannya sekarang, ia suka rambut panjangnya di gerai dan dirinya yang tanpa kacamata. Bahkan ketika siswa lain memakai sedikit riasan dan pewarna bibir seperti liptint heyla tidak memakai apapun. Meski ia ingin ikut seperti itu tapi bukan itu yang ia rencanakan selama ini.
Dengam berat hati ia mengikat rambutnya kembali dan memasang kacamatanya.
"Lo udah pesan untuk gue?" Tanya heyla pada Ika yang sudah duduk menunggu pesanannya sendirian. Karena para teman laki-laki mereka tidak mungkin bersama mereka terus.
"Lo makan apa?" Tanya Zuke pada aland yang sudah berjalan ke arah kantin
"Gue... gak tahu lah pesan aja. Gue aja gak tahu makanan apa aja yang ada disini"
Zuke segera ikut pergi memesan makanan dengan siswa yang lain. Dan tak perlu diragukan good looking akan membuat orang menyiut dan memberikan jalan.
Setelah mengatakan pesanannya zuke dan aland segera mencari tempat kosong, sayangnya semua meja sudah ada pemiliknya
"Zuke ! Aland! Sini" ucap seorang perempuan.
Ditempat perempuan itu sudah terdiri tiga orang kalangan konglomerat sekoah. Sondia yang tadi memanggil mereka, Zico dan juga Lily. Sepertinya mereka juga sedang menunggu makanan.
Zuke dan aland mendekati mereka dan ikut duduk disana. Karena zuke juga sekelas dengan ketiga orang itu.
"Kaliah beli dikantin?" Tanya Zico
"Iya dong, dimana lagi?" Tanya zuke
"Kita udah mesan pizza bentar lagi bakalan sampai, lo biarin aja pesanan lo itu walau udah bayar" ucap zico
"Emang murid boleh belanja keluar?" Tanya Aland keheranan.
"Lo kayak gak tahu aja land, kita anak emas sekolah jadi bisa aja dong" ucap Sondia yang suka melihat aland. Sebelul aland tiba biasanya dia akan mengejar zuke
Mereka semua duduk disana dan pesanan zuke aland datang bersamaan dengan kurir pizza yang masuk kedalam sekolah. Bagi siswa yang lain itu hal biasa untuk ketiga orang itu, satpam akan mempersilahkan kurir apapun yang datang atas nama mereka.
Mereka pun segera memakan pizza itu sedangkan aland dan zuke memakan dua jenis makanan, ia juga harus memakan pizaa dari zico dkk.
"La, gue minta satu bakso dong" ucap rico yang memang sudah datang bersama rudy
"Gak, lo kan ada indomie"
"Iya bagi satu aja... pliss...lo ada lima bakso"
"Lo kan ada telor ceplok" protes heyla
Rico pasrah dan kembali menyantap makanannya, setelah beberapa saat rico sudah selesai menghabiskan makanannya dan merasa masih lapar sedangkah heyla yang duduk didepannya beranjak untuk membeli snack tambahan yang akan ditambahnya dengan bakso itu.
Dengan sigap rico menghabiskan bakso heyla dengan cepat.
"Ric! Lo gila? Nyari mati?" Tanya rudi
"Aahaha.... " ika hanya ketawa melihat rico yang mengkandaskan bakso heyla yang tinggal kuah itu
Setelah melihat heyla datang kembali rico langsung minum dengan cepat tapi saat melihat ekspresi terkejut heyla ia langsung menyemburkan minumnya
"Rico!!!" Teriak heyla
Laki-laki itu langsung berlari entah kemana, heyla yang memang biasa kejar-kejaran di depan umum mengikuti permainan rico tanpa ragu
"b*****g k*****t!! Gue masih laperr!!!" Maki heyla sambil berlari
Rico tidak pernah tersindir dengan ucapan 'b*****g' jika yang menyebutkan itu adalah rudy, ika atau heyla. Dia tahu kawan kawannya itu menyayanginya. Bukan seperti orang lain yang mengatakan 'b*****g' karena membencinya dan mengoloknya.
"Lihat lah... gak etis sama sekali cewek lari-lari seperti itu. GAK ADA MALU" ucap Sondia
"Rakyat jelata memang gitu, kurang pendidikan" lanjut lily
"Rakyat jelata?" Beo Aland
"Dia itu gadis kampung yang pindah ke kota, maklum aja sama sifatnya yang kaya tarzan. Oh iya penampilannya juga" susul Zico
Aland memperhatikan heyla dan rico yang masih kejar-kejaran di lapangan sambil tertawa. Gadis itu bahkan melepas sepatunya untuk melempar rico. Entah mengapa aland justru ingin bermain seperti itu