Aland memperhatikan heyla dan rico yang masih kejar-kejaran di lapangan sambil tertawa. Gadis itu bahkan melepas sepatunya untuk melempar rico. Entah mengapa aland justru ingin bermain seperti itu
Bukan hanya aland yang memperhatikan tingkah kedua orang itu, Zuke juga ikut memperhatikan heyla
"Itu tidak ada hubungannya dengan rakyat jelata atau tidak. Itulah sifat dirinya yang ceria dan apa adanya" ucap zuke
Mereka semua terdiam saat laki-laki itu membela heyla, mereka lupa mereka dua juga terkenal sangat dekat.
"Gue lupa, ada sahabatnya disini" ucap zico malas
"Lo sahabatan sama heyla?" Tanya aland
"Kami berteman"
"Iya teman, tapi aneh aja gitu kan kalo kami ngeliat lo yang memang susah akrab sama kami tapi akrab banget sama heyla. Kok bisa sih zuke?" Tanya sondia yang memang tidak berhasil mendekat dengan zuke. Jangankan mengambil hatinya, berteman saja susah.
Zuke tidak menjawab apa-apa ia hanya sibuk dengan makanannya sampai habis.
"Cabut yok land" ucap zuke, mereka pun meninggalkan meja dengan diam
Dilain tempat kedua orang yang tadinya kejar-kejaran sudah kelelahan dan menyerah. Rasanya makanan yang sudah masuk ke perut juga sudah di proses menjadi energi yang sudah mereka keluarkan.
"Dah ! Gue capek!" Ucap rico
"Heh lo pikir gue gak capek? Macaroni gue jadi nganggur gara gara ngejar lo"
"Siapa suruh lo ngejar gue?"
"Siapa suruh lo nyolong bakso gue?!"
"Ah... dah lah udah mau masuk kelas nih"
Mereka sudaj berdamai dan segera kembali ke kempat ika dan rudy, mereka hanya menonton dua orang gila itu tadi. Setelah itu mereka bersama-sama menuju kelas.
Pelajaran selanjutnya adalah pelajaran matematika, trending satu sebagai pelajaran yang paling dihindari oleh siswa termasuk heyla.
"Baik, siapa yang bisa maju kedepan?" Ucap bu Aisyah yang sudah menuliskan sebuah soal
Tentu saja tidak ada yang mau dengan suka rela menyerahkan nyawanya. Yah itu juga karena kelas mereka bukan kah kelas yang di isi siswa pintar seperti zuke yang akan dengan senang hati mengerjakannya.
"Kalau gitu....." ucap bu asiyah yang mengambil absen di mejanya. Otomatis semua siswa berkomat kamit dengan doa nya masing masing.
"Salsa" lanjutnya
Nafas dan ketakutan mereka belum usai karena akan ada satu nomor lagi.
"Kewa" ucap bu aisyah sekali lagi
Mereka semua sudah bersantai-santai, karena yang maju ke depan termasuk yang otaknya lumayan. Jadi kemungkinan besar mereka akan berhasil melalui ujian hidup itu tanpa hukuman.
"Bagus...., selanjutnya.... kita tambah dua soal lagi"
Para siswa kembali panik bahkan sudah ribut berbisik-bisik tak terima. Salsa dan Kewa sudah menjawab dua soal dengan benar tapi sepertinya wanita gendut itu belum puas.
"Percaya gak ka, bentar lagi antara kita berdua yang kena panggil pasti Rico atau Ahmad" Ucap Heyla yang sudah yakin namanya akan dianggil. Memang dia langganan dipanggil guru untuk kedepan karena akan menjadi langganan berdiri
Heyla dikenal sebagai murid yang lumaya bodoh disekolahnya, sebenarnya itu ada sedikit unsur kesengajaan. Kecuali untuk matematikan yang memang sangat sulit untuknya. Jika pelajaran lain mau itu fisika dan kimia nilainya masih bagus jika ujian di tempat les, tapi jika dia sekolah dia memang sengaja pura-pura bodoh.
"Aland" panggil bu aisyah yang memang baru melihat nama lain di kelas mereka , sehingga ingin men tes otak anak orang kaya itu. Apakah se cerdas zico, sondia dan Lily yang sama sama kaya dan pintar di kelas sebelah.
"Selanjutnya.... Heyla"
"Apa gue bilang ka!" Ucap heyla yang seolah-olah senang dengan tebakannya.
Murid laki-laki yang lain tertawa saat heyla dipanggil, mereka tahu akan kemana ujung masa depan perempuan itu nanti.
Dengan langkah percaya dirinya heyla maju kedepan, disana sudah ada aland yang sibuk mencoret papan tulis dengan spidol.
"Kayak biasa buk" ucap heyla
Wajahnya santai menuju pintu dan segera menghormat kelapangan. Otomatis sekelas menertawakannya seperti biasa. Bu aisyah hanya menggeleng kepala karena heyla bahkan tak mencoba menjawab sama sekali.
Aland yang sudah selesai menjawab soalpun kembali ke tempat duduknya. Ibu aisyah memanggil nama murid yang lain untuk menjawab soal yang heyla lewatkan.
"Heyla memang bodoh yah?" Tanya Aland pada rudy sambil menatap heyla yang kembali dengan tingkahnya menyapa orang lewat.
"Yah gitulah.... dia rangking tiga terakhir" ucap rudy
Aland mengangguk angguk sambil sibuk memperhatikan kedepan, yah Aland memang pintar dan sangat ahli matematika. Wajar saja dia kan anak pemilik perusahaan besar.
Pelajaran pun sudah berlangsung sampai jam terakhir sekolah. Akhirnya bel pulang sekolah pun berbunyi dan menghamburkan mereka semua.
Seperti biasa para siswa pulang dengan jalannya masing-masing. Dan hari ini Aland sudah merencanakan pulang dengan heyla. Gadis itu tidak mengingat aland akan ikut pulang dengannya dan lagi pula aland tidak secara terang-terangan mengajak Heyla pulang. Ia mengikuti heyla yang sedang berjalan dengan Ika.
"La, besok kan Ultah gue nih... kali ini mama papa mau ngerayain lo datang yah?"
"Gue?, pasti gue dateng lah.. gak di undang gue bakalan tetap datang nge labrak"
Mereka tertawa sambil berjalan ke gerbang, kebiasaan mereka saat berjalan bersama adalah Ika akan menggandeng tangan Heyla.
"Yaudah om Biro udah dateng tuh gue diluan yah"
"Oke bye....."
Kedua sahabat itu pun berpisah seperti biasanya. Ika adalah salah satu teman tertulus yang heyla miliki. Saat itu heyla pernah bertanya kenapa ika mau berteman akrab dengannya dan perempuan itu menjawab 'lo orangnya asik, gak peduli sama komentar orang kecuali komentar yang baik untuk lo'.
Bukannya pergi ke halte yang biasanya heyla malah pergi berbelok ke lain arah sambil berjalan kaki. Otomatis Aland kaget dan mengejar heyla.
"Ela! Lo mau kemana?" Ucap aland yang sudah mengejarnya
"Oh iya gue lupa lo mau nebeng kartu, gue mau ke gramedia nyari buku"
"Jadi?"
"Hmm.... lo ikut aja deh, tokonya dekat banget sama SD jadi banyak jajanan loh, Yuk"
Tanpa menuggu persetujuan Aland, Heyla sudah menarik lengan baju aland agar ia tidak perlu menyentuh laki-laki itu langsung.
Disebuah mobil mahal Lily melihat kedekatan Aland dengan Heyla yang baru kenal itu.
"Kok bisa sih heyla dekat sama semua cowok idola sekolah? Gatel banget. Cantik aja enggak" gumam Lily yang akhirnya pergi pulang. Tentu saja kejadian yang ia lihat akan segera ia kabarkan pada teman-temannya
"Lihat? Banyak jajanan yang enak disana" Tunjuk heyla ke arah jajanan kaki lima didepan SD
"Gue mau nyari buku, lo bisa jajan disana nunggu gue"
"Gak, gue ikut aja"
Heyla menahan tawanya, ia tahu Aland tidak pernah makan jajanan seperti itu. Akhirnya mereka masuk ke Toko buku dan mencari buku yang hendak heyla beli di bagian rak novel.
"Lo suka baca?"
"Gak gue suka masak, udah jelas lo ngelihat gue beli novel malah pake nanya"
"Biasanya orang suka baca itu pintar apa lagi kalo sampe mata empat kaya lo, lah ternyata lo gak ada pintarnya karena bacaan lo itu khayalan semua bukan pelajaran. Mata rusak otak lo juga ikutan rusak"
Heyla menatap aland dengan matanya yang terkejut.
"Lo baru omelin gue? Ternyata lo bisa banyak omong juga yah gue kira kalimat terpanjang lo cuman 5 Kata doang" sindirnya sambil meggelengkan kepala
"Lagipula... semua orang itu gak harus pintar matematika. Sukses itu gak cuman tentang berapa nilai rapor lo atau sejago apa lo dalam pelajaran sekolah. Tanpa sekolah pun kita bisa sukses. Tapi gue gak heran sih karena kita hidup dimana kecerdasan ditentukan dengan angka di rapor dan nilai matematika. Kecantikan diukur oleh kelangsingan, mancung, dll. Terus kesuksesan di tentukan dengan jabatan" Oceh heyla sambil menngambil buku novelnya
"Dari mana lo belajar bijak seperti itu" balas aland dengan tawa kecilnya
"Dari.... Pengalaman"
Heyla memberikan tiga buah novel yang sudah ia pilih pada Aland agar laki-laki itu ada kerjaan. Kemudian mereka beranjak ke rak yang lain.
"Loh emang lo nyari berapa novel sih?" Protes aland
Heyla tetap asik dengan matanya yang menyusuri rak dan memberikan tangannya yang menunjukkan 5.
Akhirnya heyla sudah menemukan kelima novelnya. Dua buah di tangannya dan tiga buah lagi dipegang Aland, mereka segera menuju kasir untuk membayar buku kegemarannya itu.
"Wah.... punya hobi yang sama yah sama pacarnya" ucap kakak kasir yang menjaga
Mata Heyla melotot dan melihat aland yang dibelakangnya mungkin karena heyla mengambil tiga buku dari tangan aland staf toko buku mengira itu buku bacaan Aland.
"Ehmm... itu semua buku ku kak dan dia juga teman doang" heyla berusaha memperbaiki kesalah pahaman
"Oo... soalnya kaliam cocok, jadi kakak kira pacara"
"Cocok mata kau!" Batin heyla
Setelah bukunya dibayar mereka langsung beranjak keluar tanpa membahas kejadian di kasir.
"Lo pengen sesuatu gak?"
"Gak" kamus pendek aland sudah kembali
"Lo gak mau nyoba telor gulung anak SD? Ada cilok, batagor, somay, Ice cream juga ada kalo lo suka" jelas heyla yang menunjukkan barisan jajanan yang tak jauh darisana
"Lo keras kepala yah? Kan gue udah bilang enggak"
"Oh ye? Kalo gue mau gimana? Lo ngikut kan?" Ejek heyla sambil membuat ekspresi jelek dengan memonyongkan mulutnya
Dugaan heyla memang benar saat ia berjalan menuju penjual Somay aland dengan terpaksa mengikutinya. Toh udah terlanjur mau nebeng masa pura-pura ngambek terus pulang sendiri kan gak gentle banget.
"Mas somaynya dua yah makan disini"