"Mas somay nya dua yah"
Selang memesan beberapa lama somay yang mereka pesanpun datang. Mereka langsung menyantapnya tapi tidak dengan Aland
"Lo gak pernah makan somay? Lo bilang sering ke indo dan pernah sekolah di indo juga kan?"
"Iya tapi... gue memang gak pernah makan ini" ucapnya sambil mengaduk aduk somay itu
"Makan aja, enak kok"
Dengan ragu aland pun memasukkan sesendok somay kedalam mulutnya dan mencecapi rasa baru itu.
"Gimana? Enakkan?" Antusias heyla
"Emm lumayan"
"Ahaha ekspresi lo sama dengan ekspresi gue pertama kali waktu makan somay, pas SMA....."
"SMA?" Potong aland yang berhasil menyadarkan heyla dari keceplosannya
"Maksud gue semenjak SMA baru gue suka makan somay, sebelumnya enggak"
Aland mengangguk-angguk sambil terus memakan somay nya
TLINGGG
Nada tanda pesan dari hp heyla berbunyi dan membuat gadis itu mengambil handphonenya. Selang beberapa lama dia membaca pesan itu tiba-tiba dia tersedak
"Uhuk! Uhuk.... ahuk"
Aland yang melihat itu langsung mengambil kan minum dan memberikannya pada heyla.
"Lo baca apasih sampe tersedak"
"Gue harus pulang" ucap heyla terburu-buru beranjak dari tempatnya. Ia langsung membayar siomay mereka
"Ayo cepat, kita harus nunggu bus kan"
Tanpa basa basi aland segera beranjak dan mengikuti heyla yang kembali berjalan kearah sekolah mereka yang mempunyai halte bus.
"Kok buru-buru?"
"Ada urusan"
Dari kejauhan bus sudah datang dan mereka segera naik, karena lumayan sepi aland dan heyla mendapatkan bangku kosong.
"Oh iya lo ada atm kan? Gue mau bayar bantuan lo selama ini"
"Selama ini?"
"Dari kemaren lo bantuin gue kan"
"Anggap aja gue lagi sedekah"
"Emang gue miskin?" Protes aland
"Lah? Yang bilang lo miskin siapa?"
"Yah lo aja yang bersedekah ke gue"
Heyla menghebuskan nafasnya karena memang ia sedang terburu-buru belum lagi mood bicara aland sedang meningkat.
"Aland.... bersedekah itu gak harus sama orang miskin, berbagi bersama teman itu gak papa lagian gue kan ngebantu lo. Suatu saat gue pasti butuh bantuan lo. Dunia ini ada timbal balik, ada selatan dan ada utara yang bersebrangan. Okeh?"
Tangan heyla sudah bembentuk bulat dengan dua jari saat mengatakan 'oke' pada aland.
"Yaudah kalo lo butuh bantuan bilang gue aja, apapun pasti bisa gue kabulin"
"Dasar maniak" batin heyla
Mereka saling diam sampai akhirnya bus menepi di pemberhentian aland.
"Bye" Ucap heyla pada aland yang beranjak dari sana. Bus pun melaju menuju halte heyla selanjutnya dan menurunkan heyla disana.
Dengan langkah yang tergesa-gesa heyla berlari kerumah yang berada di dalam g**g sebuah komplek
"Assalamu'alaikum!! " Teriaknya sambil mendobrak pintu depan
"Ela! Pelan-pelan bisa gak sih!" Protes abangnya Leri yang sedang duduk disofa
"Maaf bang keburu! Mama mau datang udah take off dari Yogyakarta!"
Setelah menjelaskan alasan terburu nya heyla berlari ke arah kamarnya, ia harus bersiap siap menjemput ibunya yang pasti akan dikenali beberapa orang pemburu berita. Otomatis heyla harus menyamarkan wajahnya saat menjemput nanti.
jeans hitam, kemeja oversize dengan warna dan motif seperti langit biru dengan awan menjadi pakaian heyla sekarang. Ia menggerai rambutnya, memakai topi berpad dan membawa masker. Di leher bajunya sudah digantung satu buah kacamata hitam untuk memperlengkap penyamarannya nanti.
"Aku pergi yah bang!"
"Nanti malam nginap gak??"
"Gak deh kayaknya bang, bilang sama bibi kalo Ela pigi yah"
Setelah selesai memasang sepatunya heyla pergi ke simpang biasanya dan berjalan sedikit lebih jauh. Dia takut jika nanti ada yang menyadari pakaian nya jika ada paparazzi yang kebetulan lewat.
Setelah merasa lumayan jauh dan sepi heyla segera memberhentikan taksi yang lewat. Ia menuju bandara, maskernya sudah ia pasang semenjak menaiki taksi.
"Halo pa? Kenapa mama kesini? ih kan ela bisa pulang bentar. Yaudah pa ini ela ke bandara"
Heyla menutup telfonnya yang tadi tersambung dengan ayahnya. Bukan karena tidak rindu dengan keluarganya tapi lebih baik dirinya yang cuti sekolah untuk pulang kerumah, itu lebih aman daripada ibunya yang datang ke markas Persembunyian nya.
Heyla pun sampai di bandara, jika menghitung waktu sejak ia menerima pesan sampai sekarang seharusnya ibunya akan segera sampai, ia pun menunggu di sebuah kursi sambil melihat sekitarannya. Kacamatanya sudah ia pasang dan tidak akan ada orang yang bisa mengenalinya.
"Mama mana yah? Bukannya udah landing" Batinnya sambil melihat orang yang berkeluaran.
Seorang perempuan yang sudah lumayan berumur terlihat berjalan keluar sambil mencari-cari seseorang. Heyla yang mengetahui ibunya tidak bisa mengenalinya langsung melambaikan tangan hingga menimbulkan senyum diwajah wanita tua itu.
"Hai ma" Sapa heyla sambil memeluk mamanya yang baru saja tiba dihadapanya dan langsung dibalas sang mama
"Gimana? Lancar semunya? "
"Lancar ma, kok mama tiba tiba aja sih datangnya seharusnya ela aja yang pulang"
"Mama mau Jalan-jalan dong sambil lihat lingkungan pergaulan mu"
"Ma... Mama gak boleh nginap"
"Ish mama mau nginap"
"Gak ma pliss... Jangan sampe ada celah yang membuat ela ketahuan, bentar lagi kok ela tamat"
"Ih gak akan ada yang tahu... Kita kan gak se terkenal itu la. Papa mu yang terkenal"
"Ma..... "
Sedang asik ela membujuk mamanya sudah ada sebuah kamera yang terang terangan memotret mereka dari kejauhan, jika dilihat mereka hanya orang yang kebetulan mengenal mamanya.
"Tuh kan ma. Belum sempat tumbuh udah kena babat"
Akhirnya mama heyla menghela nafas dan menyiyakan keinginan heyla, mereka memesan tiket untuk kembali ke yogya nanti malam. Mereka juga hanya pergi berjalan jalan ke tempat yang tidak terlalu jauh.
"Ayo kita belanja dulu"
"Ma... Ngapain ke tempat gini juga belanjanya"
"Yah kemana lagi? "
"Yang murah aja"
"Kalo mama ke tempat yang murah justru nanti bakalan trending. Kalo di tempat kayak gini mereka juga bisa menjaga privasi dan udah dikenai undang-undang kalo bocorkan privasi kita"
Mereka berdua berada di sebuah mall besar dan disana menjual baju serba mahal.
"Yaudah ma, oh iya sekalian aja ela mau ke pesta ultah teman. Tapi ela gak ada baju yang cocok"
"Beneran? Okeh ayo kita cari baju yang akan membuat orang pangling"
"Yang sederhana aja ma, sekedar layak dipake pesta aja"
Sang mama menyeret heyla ke salah satu cabang butik langganannya. Disana ia diberi berbagai macam gaun mewah yang sangat elegan.
"Coba yang putih"
"Emm..... Yang hitam aja mah"
"Emang kamu melayat?"
"Emang aku nikah ma? "
"Ini sederhana la"
"Ih ela aja yang milih" Protesnya
Salah satu yang mengesalkan hati heyla adalah ketika ibunya memulihkan baju untuk nya, apalagi baju acara pesta bisa-bisa pakaian nya lebih nyentrik dari orang yang menyelenggarakan pesta itu sendiri.
"Permisi, kami ingin membeli baju kemeja" Ucap seorang laki-laki,
Heyla pun melihat orang yang berada dibelakang nya
"Anjir!" Ucap heyla sambil rekfleks berbalik menghindari tatapan wajah.
Otomatis u*****n itu membuat lekaki yang baru datang itu menatap keheranan pada heyla. Karena takut ketahuan heyla membawa baju yang ia pegang dan segera berlari ke ruang ganti.
"Huft.... Kenapa Zuke kesini?, oh iya yang miskin disekolah kan aku wajar aja orka kayak Zuke belanja disini"
Heyla membawa sebuah gaun berwarna dongker dengan manik-manik kecil yang berkilauan dibagian atas dan rok yang jatuh kebawah. Ia memang sedang memilih saat Zuke datang tadi.
Gaun biru dongker tanpa lengan melekat sempurna dibadan heyla. Ia memakai maskernya kembali dan juga kacamatanya untuk jaga-jaga jika Zuke masih disekitar
"Wah!! Kau cantik! Lepas masker dan kacamatanya"
"Gak ma belum aman"
Karena sudah setuju dengan pakaian yang heyla pilih mereka langsung membayar baju mahal itu beserta sebuah sepatu hak tinggi yang senada dengan bajunya. Mereka segera pergi dari sana menuju tempat lain.
Dilain tempat Zuke merasa mengenali suara yang tadi mengumpat saat ia membeli baju namun ia tidak melihat wajah si pemilik suara. Akhirnya ia melihat gadis itu keluar dengan gaun dongker tapi dengan masker dan kacamata hitam besar yang menempel diwajahnya. Padahal Zuke sudah berusaha sembunyi di salah satu tiang.
Bahkan saat perempuan itu sudah membayarkan gaun itu dan berganti dengan baju biasa perempuan itu tidak kunjung melepas maskernya. Tapi ia mengenali ibu-ibu yang digandeng itu.
"Pasti dia anak dari keluarga Zeona" Batin Zuke
Tentu saja dia kenal dengan partner ayahnya.