"Pasti dia anak dari keluarga Zeona" Batin Zuke
Tentu saja dia kenal dengan partner ayahnya.
Setelah selesai berbelanja baju Heyla dan sang mama pergi makan kesebuah restoran untuk makan malam, mereka memesan ruangan VIP.
"Emang siapa temanmu yang Ultah?" Tanya sang mama disela makan malam mereka
"Sahabat yang udah pernah Ela ceritain ma, Ika"
"Oh... Terus kamu gak ada rencana ngasih hadiah?"
"Itu dia yang Ela bingung, seharusnya Ela kasih dia apa ma?"
"Kasih aja yang menurut mu sederhana tapi sangat berharga"
"Maksudnya ma?"
"Gak perlu mahal untuk berkesan, kau pasti bisa mikir itu apa"
Ucapan sang mama membuat Heyla berfikir keras, ia mengerti maksud sang mama tapi tidak tahu kado yang dimaksud itu seperti apa.
"Aku suka kado buatan tangan, apa aku buat hadiah buatan tangan ku aja kali yah" batin Heyla
Ia melanjutkan makannya dan sudah menemukan ide kado yang tepat untuk Ika. Setelah berbicara banyak dengan sang mama mereka harus kembali ke bandara.
"Sehat-sehat yah ma, salam sama papa. Libur Ela balik kok, lagian kalo mama kangen VC aja atau Ela yang kesana"
"Gak usah... Nanti kamu capek, yaudah mama pergi dulu"
Mereka saling berpelukan melepas rindu. Setelah instruksi pesawat yang akan mamanya pakai berbunyi kembali, mereka berpisah dengan tangan yang saling melambai. Tidak ada anak yang tidak sedih berjauhan dari orang tuanya, termasuk Heyla yang juga menahan mata basahnya menatap ibunya yang semakin tak terlihat.
Heyla tidak langsung beranjak pulang ke rumah, dia duduk di kursi tunggu sambil memainkan Ponselnya. Selama satu jam dia hanya duduk menatap sekitar dengan wajah yang serba tertutup.
Akhirnya Heyla beranjak dari sana dan memesan taksi online untuk menjemputnya ke bandara. Ia langsung menuju arah pulang dan memilih turun di Simpang perumahan.
"s**l, tas belanjaan ku"
Heyla lupa untuk mengganti tas belanjaan nya hari ini. Merek yang tertulis disitu sangat membahayakan jika di lihat tetangga. Dengan cepat Heyla menggulung tas itu agar mereknya tidak terlihat dan ia berlari ke arah rumah.
"Ela pulang!"
"Lah mamanya mana?"
"Langsung pulang Bi"
"Lagi? Kenapa gak di bawa ke rumah dulu sih bibi mau jumpa"
"Hehehe...lain kali yah bi" cengirnya
Dilain tempat ada segerombolan perempuan yang sedang nongkrong di Cafe, mereka semua berasal dari sekolah yang sama.
"Eh Sondia, sekarang target Lo Aland yah?" Tanya Inka
"Target? Hmm.... Kalo laki-laki kayak Aland itu memang harus dikejar, lagian orang tua kami kan dekat. Mudah buat dapetin dia"
"Azzek.... Tapi kata Lily Aland udah dekat sama Heyla" Sambung Inka
Lily yang memang ikut disana hanya diam, dia sudah memberitahu Sondia terlebih dahulu sebelum Inka. Karena ucapan Inka sondiapun terdiam juga seolah tak terima dengan penuturan Inka.
"Dasar cabe, kemaren dia rebut Zuke dari gue dan sekarang dia mau ambil Aland juga? Kalo dia dekatin Aland siap-siap aja sama perlakuan gue nanti. Orang miskin aja belagu" Umpat Sondia
Lily dan Inka hanya tertawa kecil sambil sibuk minum minuman pesanan mereka.
"Gue heran kenapa perempuan yang gak ada urat malu kayak dia bisa dekat sama cowok. Coba deh perhatiin Heyla itu gak ada Sisi ceweknya, dia lebih mirip sama cacing kepanasan tahu gak" sambung Lily
"Orang kampung peletnya kuat, banyak dukun. Gak usah heran"
"Hahahaha" tawa mereka
Besoknya mereka kembali sekolah seperti biasanya, belum ada hal spesial di kelas 12 pengunjung sekolah mereka ini.
"Ika!" Teriak Heyla melihat Ika yang baru saja diantar
Dia langsung merangkul bahu Ika didepan supir keluarga temannya itu.
"Hai om" sapanya, Heyla memang sudah lumayan dekat degan supir temannya itu.
Mereka berduapun berjalan menuju kelas bersama, para siswa banyak berlalu lalang yang sama-sama baru datang ke sekolah.
"Eh acara gue besok malam loh, Lo udah kado buat gue?" Tanya Ika
"a***y, lo nunggu kado dari gue? Lo ngarep kehadiran gue apa kado doang?"
"Kado doang sih"
"Punya teman gak ada otak...." Keluh Heyla sambil meninggal kan Ika
"Eli becanda kali, kalo Lo mah gak ngasih kado gak masalah asal hadir" Ucap Ika sambil mengejar Heyla, merekapun melakukan tontonan gratis lagi yaitu kejar-kejaran gak jelas sampai dikelas
Dikelas mereka sudah ada Rico yang duduk dimeja guru sambil memegang sapu.
"Hellow...! Masih pagi woi udah olaraga aja Lo pada" Omel nya
"Hellow... Lo bilang kami olahraga? Ini masih pemanasan" ucap Ika meniru gaya bicara Rico
"Seorang Rachel gak akan pernah bau badan pagi-pagi" balas Rico
"Siang nya Lo bau kemenyan"
"AHAHHAHAH"
Meski yang bercanda hanya mereka bertiga tapi yang tertawa malah satu kelas. Mereka semua melakukan aktifitasnya masing-masing, dan hari ini Heyla membantu Ika menyebarkan undangan acara ulang tahunnya. Sebenarnya undangan ini hanya sebuah formalitas karena siapapun bisa datang ke pestanya selama satu sekolah dan satu angkatan dengan Ika.
Pelajaran pertama mereka lewati dengan mulus tanpa ada sesi hormat bendera untuk Heyla. Saat bel istirahat berbunyi geng mereka langsung mulai heboh.
"Udy ! Rico sini cepetan" teriak Ika
Mereka berempat sudah berkumpul dimeja Heyla.
"Kalian bantuin nyebarin undangannya" ucap Ika sambil mengeluarkan satu tas tambahan yang baru saja diantar supirnya dan dititipkan dimeja piket tadi.
"Ngapain pake undangan sih Ka? Kan Lo undang satu angkatan ngapain Lo bagiin sayang banget kertasnya" Omel Rico
"Ih aku mau ultahku S P E C I A L, okeh? Dan lagian tinggal bagiin orang namanya gak ditulisi juga"
Mereka pun berpencar untuk membagikan undagan itu, wajar saja acara ultah Ika ini terkesan heboh diawal, Ika juga salah satu orang kaya sekolah meski gak sekaya Geng Sondia yang mendapatkan julukan konglomerat besar.
Heyla dan Ika pergi ke kelas Zuke untuk memberi undangan.
"Hai Zuke!" Teriak Ika antusias
"Hai ka, ada apa?" Tanya Zuke datar, dia juga akrab dengan Ika, tapi yang lebih ia sukai adalah Heyla. Bahkan laki-laki itu sudah lama memendam sebuah perasaan pada Gadis barbar bertopeng itu.
"Gue ngerayain Ultah besok malam jadi gue ngundang Lo dan yang lain. Ini undangannya"
"Oh ya? Semuanya datang?"
"Gue harap sih gitu. Lagian angkatan kita belum pernah pesta bareng" Setelah mengatakan itu Ika memberikan isyarat agar Zuke mendekat.
"Kalo Sondia and the geng kan buat pesta untuk mereka doang, milih-milih" bisiknya
Zuke tertawa karena setuju dengan penuturan Ika. Pesta Ultah Ika kali ini akan menjadi pesta besar pertama mereka selama 2 tahun lebih. Sondia dan Lily sering mengadakan pesta tapi hanya mengundang kalangan atas saja.
"Dah selesai kan?" Ucap Heyla tiba-tiba, saat Ika berbicara dengan Zuke tadi Heyla yang asik membagikan undangan dikelas mereka. Termasuk untuk Sondia dkk.
"Oh udah kok" ucap Ika
"Lo datang kan? Awas aja Lo gak datang yah" ancam Heyla pada Zuke
"Tenang aja, gue bakalan datang"
Mereka berdua pun pergi meninggalkan kelas Zuke. Sekepergian mereka Sondia mendekat
"Lo datang besok?"
"Pasti lah, teman gue ultah"
"Hemm.... Gue juga bakalan datang, penasaran kalo gabung pesta beginian gimana rasanya"
"Beginian?" Beo Zuke
Sondia malah menatap Zuke kebingungan, ia mengira Zuke tidak mengerti maksud perkataannya. Padahal Zuke hanya tidak terima Sondia meremehkan pesta ini.
Dilain tempat Rudy dan Rico heboh dikelas lain. Mereka membagikan undangan sambil berteriak.
"Hayo hayo undangan ultah Teman Gue Ika! Dijamin seru ada makanan gratis kenapa gak di habisin yah kan!!" Ucap Rico yang sedang dalam mode 'Rachel' nya. Dia tidak perlu berjalan membagikan undangan melainkan siswa lain yang datang mengambil undangan itu.
"We ibu Ama datang!" Teriak salah satu murid, otomatis Rico yang memang berteriak diatas meja melompat turun dan membersihkan meja. Ia dan Rudy berlari keluar bersamaan dengan guru yang datang. Memang bel masuk sudah berbunyi, sesi pembagian undangan sudah harus berakhir.
Sesampainya dikelas syukurnya guru meeka belum datang.
"Gimana?" Tanya Ika
"Aman kalo kami mah, everything ia easy" ucap Rico
"Eh besok kalo Lo butuh bantuan bilang aja. Kami bisa datang lebih cepat dari yang lain" Ucap Rudy
"Kami?" Beo Rico
"Emang Lo gak mau bantu-bantu apa?"
"Yah... Kalo orangnya Ika mah, mau atau enggak tetap dibantu" ucap Rico sambil ngeles dan pergi ke mejanya.
Mereka bubar kebangku masing-masing. Menunggu guru mata pelajaran selanjutnya masuk. Rudy sudah duduk di kursinya yang sebangku dengan Aland.
"Jadi semua siswa datang besok?' ucap Aland yang memang sudah tahu pesta besok malam
"Iya, Lo datang yah"
"Kalo sempat"
Aland memang jarang pergi ke pesta, tapi ini pesta masa SMA nya jadi dia tidak ingin melewatkannya. Ia akan mencoba membaur semampunya. Beberapa saat kemudian Ponsel Aland bergetar, ia memeriksa pesan dari Zuke.
"Eh nanti Lo sibuk gak?" Isi pesan dari Zuke
"Ngapain lagi nih bocah" batin Aland. Sejak hari ini dia tidak menebeng Zuke lagi karena Hondanya sudah sampai. Tentunya dia juga tidak naik bus dengan Heyla lagi.