"Sekarang cerita ke gue, Lo ada masalah apa?" Andre memberikan tatapan menyelidik pada Frans.
"Sampek hang over kayak semalem. Untung ada gue sama Pak Yadi yang gotong badan Lo ke mobil gue!"
Frans duduk diam dengan laptop menyala di hadapannya, matanya fokus pada layar yang menampilkan grafik pemasukan dan pengeluaran obat-obatan. Semenjak datang, sahabatnya belum usai menggerutu. Andre mendumel karena tingkah Frans yang mabuk semalam hingga pingsan di ruang kerjanya.
"Coba kalo sampek pagi Lo ada di sana? Kasihan Pak Yadi, nungguin Lo semaleman!"
"Gak mikirin gimana anak istrinya yang nungguin Pak Yadi?"
"Dan semua karena ulah Lo yang mabuk berat!"
"Udah tau gak bisa minum alkohol banyak! Itu lima botol Lo abisin sendiri!"
"Mau jadi jagoan Lo?!"
Menghela napas, Frans sepenuhnya memusatkan perhatian pada Andre. "Kalo Lo masih ngomel terus, keluar Lo! Pusing gue dengernya."
Andre mendengus kesal, "Gue butuh makanan! Camilan kek seenggaknya."
Pria itu bangkit dari sofa, berjalan menuju dapur layaknya apartemen miliknya sendiri. Mengobrak-abrik isi lemari atas dapur, membuka tudung saji dan juga kulkas. Andre berdecak begitu melihat apartemen Frans dalam kondisi yang sama sejak terakhir kali ia datang.
"Lo makan gak sih? Manusia bukan?!"
"Itu dapur!" Tunjuk Andre ke arah dapur, "Sama sekali gak ada makanan! Camilan kek! Minuman kaleng kek!"
"Gue curiga jangan-jangan Lo miskin yang lagi nyamar jadi orang kaya!"
Begitu Andre selesai bicara, secepat itu pula bantal sofa melayang menimpuk wajahnya. Andre tak sadar, jika sadar Frans menghantamnya dengan bantal sofa. Jelas ia akan menghindar.
"Berisik Lo!"
Menghentak kakinya kesal, Andre duduk secara kasar di sofa. Layaknya anak kecil yang tak dituruti keinginannya, Andre memukul bantal yang dilempar Frans padanya ke lengan sofa.
"Gue laper! Pengen makan! Tapi bos gue miskin!"
"Pengen morotin tapi ternyata sama-sama miskin! Pantes suka ngajak lembur!"
Frans melirik tajam Andre karena perkataan sahabatnya, sejak kapan sahabatnya berubah menjadi pria dengan tingkah menjijikkan seperti ini.
Umpatan kekesalan Andre membuat Frans risih mendengarnya, "Berisik banget sih Lo! Kek cewek!"
"Gue laper!" Sewot Andre.
"Makan."
"Di apart Lo gak ada makanan! Gimana gue mau makan?!"
"Beli. Gak usah kayak cewek PMS deh!" Frans mengeluarkan dompetnya, memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu pada Andre.
"Nih! Buat beli permen!"
"Lo kira gue bocah?" Kata Andre kesal, namun juga menerima uang dari Frans.
Dirasa cukup, Frans melanjutkan pekerjaannya. Membuka kembali laptopnya yang ia biarkan begitu saja. Tapi berbeda dengan Andre, pria itu tetap berdiri di samping Frans. Kini, tangannya menengadah ke arah Frans.
Frans mendongak, "Ngapain?"
"Kurang,"
"Apa?"
"Duitnya kurang! Minta lagi,"
"Gak ada! Itu juga udah banyak, Ndre!"
"Ya kurang, masa cuma tiga ratus ribu." Andre protes seraya mengibaskan uang lembar ratusan.
"Lo lupa? Kan bos Lo pura-pura kaya." Ujar Frans telak.
"Nyesel gue ngomong begitu."
Andre melangkah keluar dengan wajah pasrah, sementara Frans menyunggingkan senyum tipis. Sedikit rasa kesal karena Andre yang mengatainya, namun itu semua sebanding dengan pembalasan yang ia lakukan pada Andre.
"Buruan balik!"
Teriak Frans ketika Andre menekan gagang pintu, Andre berbalik dan berkata, "Durasi perjalanan tergantung dengan uang yang diterima!"
"Terserah!"
***
"Pak Andre cuma bilang itu aja?"
Alessa mengangguk di tengah kegiatan makannya, Refa masih nampak penasaran. Jika pembicaraan sesingkat itu kenapa Alessa lama sekali di ruangan Pak Andre. Kan Refa ingin ada bahan gosip yang menarik, ternyata tidak ada yang menarik sama sekali.
"Lo yakin, Pak Andre cuma bilang gitu doang?"
Mendengar pertanyaan Refa yang dikatakan berulang kali, Alessa mendesah pelan. "Iya Refa, Pak Andre bilang kalo masalahnya udah selese. Pak Andre juga udah konfirmasi soal masalah ini, dan si pelaku masih di usut."
"Gue juga udah denger sih soal itu," Refa menyeruput es jeruknya.
"Si pelaku jahat banget sumpah, dia punya masalah apa sih sampek bikin rusuh kayak gini. Bahkan masalah sepele aja bisa sampek satu rumah sakit tau!"
"Udah lah, Re. Jangan di pikirin, intinya semua udah balik normal dan baik-baik aja." Alessa berkata setelah menyelesaikan makannya.
"Ya gak bisa gitu dong, Le. Dia udah ngerugiin Lo, dan rekan-rekan divisi kita!"
"Bahkan semua orang nuduh Lo, staf instalasi rawat inap dengan tuduhan gak jelas. Diterima kerja karena nyogok lah, staf memalukan lah, apalah! Inilah! Itulah!"
"Risih gue dengernya. Apalagi anak-anak divisi lain mulai kepo sama Lo!"
"Seneng banget gosipin Lo dengan berita murahan!" Cerocos Refa tak henti.
Refa merasa tidak terima, meski bukan dirinya yang berada di posisi Alessa, tapi dirinya ikut merasakan imbas dari semua tuduhan si pelaku.
"Terus Lo mau ngapain?" Tanya Alessa lelah, sejak tadi sahabatnya itu membahas masalah mengenai seseorang yang dengan sengaja menyebar rumor berkaitan dengan Alessa yang tak sengaja menabrak Presdir hingga masuk kolam.
Refa menatap Alessa lurus, tanpa berkedip sekalipun. "Untuk sekarang gue mau bantuin Pak Andre nangkep si pelaku!"
Alessa mengernyitkan kening, "Caranya?"
Refa mendekatkan wajahnya ke telinga Alessa, dengan berbisik Refa berkata, "Gue mau bantuin Pak Andre dengan doa. Siapa tau doa gue di kabulin sama Tuhan. Dan pelaku cepet ketangkep."
Baru setelah selesai, Refa memundurkan wajahnya. Tampak raut kesal Alessa adalah pemandangan untuk Refa sekarang. "Kenapa muka Lo?"
"Gapapa, lagi pengen makan orang aja."
Refa melirik piring Alessa yang kosong, "Itu nasi goreng sepiring udah abis. Belum kenyang?"
"Orangnya itu lo, Refa!" Alessa melempar gumpalan tisu bekasnya ke arah Refa. Refa menghindar dengan raut wajah jijik.
"Iyuhhh! Ale! Lo jorok!"
"Lo yang ngeselin!"
Mendengar nada kekesalan Alessa, Refa tertawa kencang. Senang sekali rasanya menggoda Alessa. Meski pada awalnya ia memang kesal karena ada seseorang di balik masalah yang menimpa Alessa. Pada akhirnya, Refa bersyukur, sahabatnya kembali ceria seperti dulu.
"Ketawa aja terus! Kesambet baru tau rasa!" Omel Alessa.
"Doanya, Le. Jahat banget sama bestie,"
"Lo sih bikin kesel aja! Udah fokus, pake bisik-bisik eh, ternyata dibantu dengan doa!" Alessa berkata dengan nada kesal.
"Lah? Emang ada yang salah?"
"Gak ada, gak ada yang salah."
Refa mencubit pipi Alessa gemas, "Uluh-uluh, bestie-nya aku lagi kesel nih!"
Alessa menolak, "Ih! Apaan sih Re! Gak usah pegang-pegang!"
Refa melepaskan cubitannya dengan tertawa. Keceriaan dua sahabat yang sedang asyik makan di warung tenda itu membuat mereka menjadi pusat perhatian. Namun keduanya acuh, inilah dunia kebahagiaan mereka.
"Seru sekali ya? Boleh saya bergabung?"
Suara seseorang menginterupsi tawa keduanya, sontak Refa dan Alessa berbalik. Melihat siapa pemilik suara seseorang yang menyela candaan mereka.
"Pak Andre?!"
"Bapak?"
***
"Lama."
Andre melirik Frans yang berkomentar setelah ia meletakkan kantong kresek berisi nasi goreng di atas meja. "Ya sorry, kan gue udah bilang, tergantung uang. Lo ngasih duitnya dikit ya lama lah."
Menatap bosan pada Andre, Frans lebih memilih untuk membuka kantong kresek yang Andre bawa. Frans pikir Andre akan datang dengan barang belanjaan dari supermarket seperti kemarin. Tapi ternyata pria itu memilih untuk membeli nasi goreng.
"Nasi goreng?" Tanya Frans yang di angguki oleh Andre.
"Kok satu?" Frans mengangkat bungkusan cokelat itu ke hadapan Andre.
Andre menatap sejenak kemudian bermain ponsel dengan menyender santai, "Tadi gue makan disana,"
"Terus gue bawain Lo sebungkus." Lanjutnya.
"Cuma beli nasi goreng? Tiga jam?" Mendengar kalimat Frans, Andre menatap jam dinding digital di apartemen Frans.
"Ya gimana, tadi ngobrol dulu. Eh malah keterusan." Andre berkata dengan meringis tak enak.
"Ngobrol apaan sampek malem begini? Gak inget gue juga laper?" Frans mendumel kesal, "Untung nasi gorengnya masih anget!"
Frans membuka bungkusan nasi goreng di kertas makanan, kemudian memindahkan nasi goreng yang dihiasi telor, sayur, mentimun dan cabai itu ke dalam piring. Ia mulai memakannya, cacing-cacing di perut Frans sudah tak bisa diajak negosiasi.
"Oh, iya emang masih anget. Orang gue belinya di depan apartemen."
"Uhuk! Uhuk!" Frans tersedak begitu mendengar ucapan Andre.
"Lo beli di depan apart tapi sampek tiga jam? Gila Lo!" Semprot Frans.
"Cuma nasi goreng Lo doang kok! Nasi goreng gue belinya di daerah jalan Pahlawan."
"Ngapain sampek sana?!"
"Ya beli nasi goreng lah." Jawab Andre enteng.
Frans menarik napas pelan, berhadapan dengan Andre memerlukan kekuatan dalam begitu besar. " Maksud gue, ngapain Lo jauh-jauh beli nasi goreng disana? Depan apartemen kan bisa."
"Pengen aja sih, lagian sekalian jalan-jalan. Cari angin."
Melanjutkan makan, Frans mengacuhkan Andre, "Serah Lo deh. Yang penting gue makan, laper."
"Tapi serius deh, Frans. Nasi goreng disana tuh, rasanya enak banget! Besok-besok gue bakal kesana lagi. Rasanya lidah gue udah candu sama tuh nasi goreng." Andre masih berceloteh ria mengenai nasi goreng.
Andai, andai saja staf instalasi rawat inap melihat kelakukan kepala divisi mereka. Frans jamin, mereka pasti serangan jantung di tempat.
"Sayangnya keasyikan ngobrol, gue lupa beliin Lo makanan. Akhirnya pas sampek di depan lift, gue balik keluar lagi cari makanan yang deket."
Lama-lama Frans merasa kesal mendengar celotehan Andre, "Lo ngobrol sama siapa sampek lupa waktu?"
"Sama anak-anak instalasi. Biasalah,"
"Sampek lupa waktu? Segitu asyiknya ya..."
Andre memberikan senyum manis, "Ya gimana, Alessa kalo diajak ngobrol orangnya asyik."
Seketika Frans terdiam mendengar ucapan Andre. Sahabatnya ini bertemu dengan Alessa dan makan bersama? Begitu kah?
Seketika nasi goreng yang beraroma menggoda tak menarik lagi. Perutnya sudah kenyang, meski ia baru makan beberapa sendok. Hanya mendengar, dan Frans tak melihat dengan kedua matanya.
Mengapa hatinya terasa sesakit ini? Ada rasa tidak rela membayangkan Andre makan bersama dengan gadis yang ia cari selama ini. Tak ingin membuat Andre curiga, Frans bangkit dari sofa.
Andre yang melihat Frans pergi menjauh dengan nasi goreng yang tersisa banyak mengerutkan kening, "Lo mau kemana?"
"Gue ngantuk. Mau istirahat."
"Hah?"
"Kalo mau pulang, pulang aja. Sekalian kunci pintu dari luar." Adalah kalimat Frans sebelum menutup pintu kamarnya. Meninggalkan Andre sendiri di sofa ruang tamu.
"Emang bener ya kata orang, kalo nasi goreng itu bikin ngantuk. Buktinya aja, Frans bilang mau tidur."
"Ternyata rumor soal nasi goreng emang beneran ada."
***