"Permisi,"
Sapaan dari pintu instalasi yang dibuka dari luar, mengejutkan kedua perempuan yang sibuk berbincang.
"Iya? Ada apa ya Pak?" Respon Rahayu dengan gesit.
Pria berusia sekitar empat puluhan itu berkata, "Saya dapat pesan dari Pak Frans untuk Mbak Alessa agar menemui beliau di ruangannya."
"Pak Frans?" Tanya Rahayu memastikan.
"Iya Mbak, Pak Frans."
"Oke. Makasih Pak, informasinya."
"Sama-sama Mbak, saya permisi dulu." Kemudian pria yang bekerja sebagai OB rumah sakit itu pergi.
Setelah kepergian OB tersebut, Rahayu menoleh pada Alessa. "Mbak, sampean ada masalah?"
Alessa menggeleng dengan pandangan bingung. "Rasanya gak ada deh, Mbak. Masalah soal aku yang ceroboh kemaren juga udah clear kan?"
Rahayu mengangguk, "Iya Mbak. Sudah clear. Bahkan oknum penyebar hoax juga udah dikasih tindakan sama pihak rumah sakit. Biar gak ada yang oknum-oknum lain yang serupa."
"Terus ada masalah apa ya, Mbak?" Kedua tangan Alessa bertautan karena gugup.
Rahayu menggenggam tangan Alessa, "Kalo semuanya sudah clear, berarti tidak ada yang di permasalahan. Tenang saja Mbak, mungkin Pak Frans ingin menyampaikan sesuatu secara pribadi sama Mbak Alessa. Dan semoga sesuatu itu adalah hal yang positif juga kabar baik untuk Mbak Alessa."
"Iya Mbak, makasih doanya."
Rahayu mengangguk dengan senyum tenang di bibirnya, "Sekalian pulang Mbak? Lagian anak-anak pasti dateng kok sebentar lagi."
Alessa melihat jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi kurang sepuluh menit. Shift jaganya tersisa sepuluh menit, dan Alessa harus menunggu hingga shift jaganya selesai.
"Nanti saja Mbak, tanggung banget tinggal sebentar lagi shift-ku abis." Ucap Alessa.
"Iya udah kalo gitu, Mbak. Senyamannya Mbak Alessa saja."
"Makasih Mbak, udah kasih sarannya."
"Kembali lagi sama Mbak Alessa, Rahayu cuma menyarankan saja Mbak."
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikummussalam."
"Wa'alaikummussalam."
Jawab Alessa dan Rahayu berbarengan. Gani, Refa dan beberapa apoteker yang berjaga pagi ini telah tiba di instalasi rawat inap. Entah bagaimana mereka bisa datang secara bersamaan.
"Ale! Ntar malem kita keluar yuk, bosen gue. Butuh hiburan." Gani mendekati Alessa yang duduk nyaman di kursi.
"Sama Refa?"
"Yoi."
"Re! Lo mau gak?"
Refa yang berjalan ke loker, terhenti. "Boleh deh. Gan! Bayarin ya!"
"Heh! Kebiasaan Lo minta traktir mulu sama gue." Dumel Gani mendengar celutukan Refa.
Alessa tertawa, "Kayak gak kenal Refa aja sih Lo, Gan!"
"Refa mah parah kalo minta traktiran Le. Mana jajannya banyak lagi, sekali gak cukup."
"Lo ngeluh gue mintain traktiran terus?" Refa bertanya dengan nada datar.
Gani menggeleng, mengibaskan tangannya ke depan. "Mana ada gue ngeluh. Lo salah denger kali!"
Refa melengos acuh melewati Gani, melangkah mendekati Alessa. "Le, nih kunci gerbangnya. Anak-anak pada keluar tadi sama ibu kost. Takutnya Lo gak bisa masuk karena anak-anak belum pulang."
"Oh, okay." Alessa menerima kunci dari tangan Refa.
"Setelah ini, Lo pulang kan?"
"Iya pul--, enggak deh."
"Hah?"
"Pulang atau enggak? Kepastiannya dong, Alessa." Goda Gani pada rekan sekaligus sahabat instalasinya.
"Jadi?" Refa bertanya penasaran.
"Mbak Alessa disuruh ke ruangan Pak Frans." Jawab Rahayu yang baru saja datang dan berkumpul dengan mereka.
"Ha? Pak Presdir?" Gani memastikan.
"Iya! Emang Pak Frans ada berapa orang sih yang namanya sama di rumah sakit ini." Gani mengendikkan bahu acuh mendengar kalimat Rahayu.
Sementara Refa menatap lekat Alessa, entah apa yang akan terjadi setelah ini. Refa tidak akan merasa tenang melihat sahabatnya harus kembali berhadapan dengan pria bernama Fransciso tersebut.
"Lo ada masalah apalagi sih, Le? Bukannya udah selesai ya soal masalah kemarin? Pelakunya udah ditangkap, dan Lo juga bisa balik kerja di sini dengan tenang." Tanya Refa menuntut.
Untuk masalah orang yang menyebarkan gosip tidak benar mengenai Alessa sudah ditangkap. Semuanya berkat Pak Presdir dan Andre, selaku kepala divisi mereka.
Alessa menepuk bahu Refa, menyakinkan bahwa tidak ada masalah apapun sekarang. "Udah selese kok Re, masalahnya udah kelar. Mungkin Pak Frans mau ngomong sesuatu hal yang sekiranya kemarin lupa mau bilang."
"Harus banget Lo temuin Pak Frans?"
Alessa mengangguk yakin, "Harus."
"Tapi gue yang gak yakin, Ale." Refa panik sendiri, "Jangan ya?"
"Refa, kita harus profesional." Kalimat Alessa mewakili keresahan Refa pada sahabatnya.
Gani dan Rahayu yang melihat interaksi kedua sahabat itu menatap tak mengerti. Entah apa yang membuat Refa begitu resah mendengar Pak Presdir meminta Alessa ke ruangannya.
"Kalian kenapa sih?" Rahayu bertanya dengan kalimat penasaran.
"Bener kata Mbak Rahayu, kalian itu kenapa?" Gani menatap Refa, "Lo juga Re! Lo kenapa sih? Sebegitu parnonya tau Ale mau ke ruangan Pak Frans. Jangan berpikiran negatif gitu, Re. Kasihan Alessanya, ikutan kepikiran."
Rahayu mengangguk setuju dengan pernyataan Gani. "Mungkin perasaan Mbak Refa masih takut, Mbak Alessa terkena masalah seperti kemarin. Sudah Mbak, tidak ada masalah apa-apa antara Pak Frans dan Mbak Alessa,"
Refa menatap Alessa yang masih tersenyum. Dalam hati ia ingin mengungkapkan alasan ia bersikap berlebihan seperti ini. Refa hanya berusaha melindungi hati yabg retak sebelum hancur.
Dengan senyum terpatri Rahayu tujukan untuk Alessa, "Lebih baik, Mbak Alessa segera menemui Pak Frans. Sudah sejak tadi, beliau memanggil Mbak Alessa. Pasti ada urusan penting yang harus di bicarakan."
Alessa mengangguk mengiyakan, kemudian gadis itu bersiap-siap mengakhiri shift kerjanya. Sebelum pulang, Alessa akan menyempatkan waktu mampir di ruangan Pak Frans. Sesuai apa yang pria itu perintahkan untuknya.
Baru saja Alessa akan melangkah keluar dari ruang loker. Ia melihat Refa berdiri menghadang jalannya.
"Refa?"
Si empu pemilik nama mendekati Alessa, "Jika pun Lo harus ketemu sama Pak Frans, meskipun dalam urusan pekerjaan. Gue berdoa, semoga Pak Frans enggak inget apapun soal Lo."
Bibirnya penuh senyuman, Alessa memeluk singkat sahabatnya. "Aamiin... Makasih doanya, Refa. Makasih Lo selalu support gue di tengah keadaan gue yang sekarang."
"Husstt! Gak boleh ngomong ngaco! Udah sana, Lo temuin Pak Presdir. Setelah itu pulang ke kost, istirahat. Inget, harus jaga kesehatan."
"Iya Re, bawel banget sih."
"Ya udah, hati-hati ya, Le."
"Sip deh."
Refa memperhatikan Alessa yang berjalan keluar dari instalasi sembari berpamitan dengan anak-anak yang lain. Hingga punggung kecil Alessa menghilang di balik pintu, Refa memulai bekerja mengerjakan resep yang kini mulai bejibun.
***
"Mbak Lani," bisik pada seseorang yang berkutat pada komputernya.
Gadis itu mendongak, ia melihat Alessa datang sepagi ini. "Mbak Alessa?"
Menampilkan senyum renyah, Alessa membenarkan. "Hehe, iya Mbak. Ini saya, Alessa."
"Nyari siapa Mbak? Pak Frans?"
Alessa mengangguk mendapat pertanyaan dari Lani, "Iya Mbak. Nyari Pak Frans, ada kan?"
"Masuk aja, Mbak. Pak Frans di dalem." Lani menunjukkan ruangan Presdir padanya.
"Makasih ya, Mba. Saya duluan."
"Silahkan Mbak."
Menguatkan hati dan menfokuskan pikiran. Alessa menarik napas dalam sebelum mengetuk pintu. Begitu di persilahkan masuk oleh si empu, baru Alessa membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.
"Selamat pagi, Pak. Bapak memanggil saya?"
Frans yang masih berkutat di laptopnya meminta Alessa duduk dengan gerakan tangan. Alessa yang paham arti dari bahasa tangan Frans, duduk di sofa yang tersedia.
Sepasang matanya memindai sekeliling ruangan, tak banyak furniture yang tersedia seperti dalam drama Korea yang sering ia tonton. Dekorasi ruangan tampak simpel tanpa adanya banyak barang hiasan maupun sekedar pajangan.
Suasana hening menyelimuti di dalam ruangan Presdir. Frans yang sibuk berkutat pada laptopnya, dan Alessa terdiam bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Hanya suara detikan jam yang berjalan berputar di tempat, dan suara keyboard pada laptop milik Frans.
Dengan penuh kesabaran Alessa menunggu Presdir-nya selesai dengan pekerjaan yang ia kerjakan. Alessa melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, lima belas menit terlewati sia-sia tanpa pembicaraan.
Ingin bermain ponsel, namun Alessa merasa itu adalah perbuatan yang tidak sopan. Tapi, siapa yang betah berlama-lama menunggu seseorang tanpa adanya percakapan? Setidaknya katakan apa yang ingin di sampaikan agar Alessa bisa keluar dari ruangan dan segera pulang. Tubuhnya terasa letih setelah mendapat giliran shift malam.
Memberanikan diri, Alessa mengumpulkan kekuatan untuk membuka suara. "Maaf, Pak, apakah ada yang ingin Bapak sampaikan?"
Frans diam tak membuka suara, Alessa yakin pria di seberangnya itu mendengar apa yang ia katakan. Tapi mengapa pria itu seakan tuli, dan ucapan Alessa sebagai angin lalu.
"Pak..." Panggil Alessa yang merasa letih, "Saya,--"
"Duduklah dengan tenang." Frans berdiri dan memotong ucapan Alessa.
Pria itu berjalan mendekati Alessa yang kini duduk dalam diam memperhatikannya. Tatapan matanya tampak gugup dan jemarinya saling bertautan begitu Frans mengambil duduk di sebelahnya.
Frans memberikan berkas di dalam map berwarna biru, Alessa melihatnya dengan tatapan bingung. Frans mengendikkan dagunya ke arah map tersebut, Alessa mengambilnya perlahan. Ia membuka map dan membaca isinya.
"Ini,--" Alessa mengernyit tak mengerti membaca data-data yang berada di dalam berkas.
"--Maksudnya apa, ya Pak?" Tanya Alessa bingung.
Frans menunjuk berkas dengan jari telunjuknya, "Ini adalah laporan mengenai pengeluaran dan pemasukan mengenai obat-obatan dan alat kesehatan. Meliputi, obat paten, generik, injeksi, suppositoria, infus, spuit, needle, dan sebagainya."
Alessa merespon dengan tatapan tak paham, apa hubungan Alessa dan data yang ia pegang. Alessa menunggu kelanjutan dari penjelasan Frans.
"Saya ingin kamu, yang menjadi perwakilan dari instalasi untuk memberikan laporan setiap bulannya."
Alessa syok mendengarnya, "Kok, saya Pak?"
"Bukannya laporan ini selalu di berikan oleh Pak Andre sebagai kepala divisi instalasi kepada Bapak? Kenapa jadi saya?" Protes Alessa.
Frans menyenderkan punggungnya ke bahu sofa, "Tidak ada alasan khusus. Saya membutuhkan satu orang perwakilan dari setiap instalasi. Dan untuk Andre, saya memberikan tugas kepadanya. Jadi dia memerlukan asisten untuk membantu pekerjaannya, bukan?" Tanya Frans bernada santai. Mengacuhkan raut wajah Alessa yang masih syok.
"Tapi, Pak, saya,--"
"Jika kamu menolak, kamu bisa memberikan tugas yang saya berikan ini, kepada Andre, sebagai kepala divisi kalian atau melimpahkan kepada anggota yang lain. Itu terserah kamu saja, saya hanya menerima hasil laporan dan memeriksanya setiap akhir bulan."
Paparan Frans membuat Alessa tak dapat memilih. Jika ia memberikan tugas ini pada orang lain, sama saja Alessa lari dari tanggung jawab. Alessa tidak bekerja secara profesional, dan mengutamakan perasaannya yang entah Frans menyadari atau tidak.
Lagi pula, perasaan cinta masa SMA nya pada pentolan sekolah itu terbilang cinta lama. Hanya sesekali getaran aneh itu kembali hadir dan membuat Alessa gugup berada satu ruangan bersama Frans seperti sekarang.
"Nona Alessa?"
"Ah, ya, Pak?"
"Saya berbicara dengan kamu."
"Maaf Pak," Alessa menunduk meminta maaf, "Saya akan berusaha sebisa saya."
"Bukan sebisa kamu, Nona Alessa. Tapi karena saya percaya kamu mampu melakukan tugas yang saya berikan pada mu."
Alessa berusaha tersenyum meski terlihat kaku. Ia merasa jantungnya kian berdetak cepat, padahal Alessa menarik napas perlahan guna menstabilkan jantungnya yang bermarathon ria.
Tak ingin berlama-lama, dan jantungnya yang kian menggila, Alessa berdir dari duduknya. "Baik Pak, kalau begitu saya pamit undur diri."
Alessa berlalu melewati Frans yang diam mengawasinya, sebelum Alessa berhasil membuka pintu, Frans menahannya.
"Nona Alessa,"
Alessa berhenti tepat di depan pintu, kakinya terpaku mendengar suara Frans yang memanggil namanya. Tak ingin berbalik, karena Alessa sendiri tak mampu membalikkan tubuhnya untuk sekedar menghadap Frans.
"Kau bisa bertanya pada Lani mengenai tugas yang saya berikan."
"Ba-baik Pak! Saya permisi!"
Buru-buru Alessa membuka pintu dan keluar dari ruangan Presdir. Sampai di luar ruangan Alessa menetralkan detak jantungnya yang mulai tak sehat. Ia mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Berbanding terbalik dengan sosok yang masih duduk di dalam ruangan. Frans menyunggingkan senyum miring, "Selamat datang, Alessa."
"Atau aku bisa memanggil mu dengan Diva? Si pengirim surat rahasia." Gumam Frans menatap bayangan Alessa yang berada di balik pintu.
***