Gerald yang sedang berusaha mengejar Amosa, seketika merasa jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat mobil Amosa memaksa untuk tetap melintasi perempatan jalan raya yang sebenarnya mengharuskan dia untuk berhenti karena traffic light sedang berwarna merah.
Gerald tidak sanggup membiarkan matanya tetap terbuka jika pemandangan yang harus dilihatnya adalah mobil Amosa yang sedang terhantam oleh mobil-mobil lain yang melintas.
Maka dengan sigap Gerald memilih untuk menutup matanya rapat-rapat.
Namun sekalipun kedua indra penglihatannya tidak bisa menangkap apapun karena sedang terpejam, lain halnya dengan kedua indra pendengaran yang ia miliki.
Sepasang telinganya itu tetap berfungsi dengan baik karena tidak tertutup apapun.
Masih dengan kedua mata yang terpejam dan masih dengan pergerakan d**a yang menderu, Gerald semakin mempertajam kemampuan mendengarnya.
Sejak awal dia memutuskan untuk menutup mata, Gerald sama sekali tidak mendengar suara hantaman antara mobil dengan mobil seperti yang sudah ia perkirakan sebelumnya.
Sejauh ini Gerald hanya mendengar bunyi-bunyi klakson mobil yang saling bersahutan begitu nyaring.
Ingin melihat apa yang terjadi saat ini, Gerald segera membuka matanya lebar-lebar. Tatapannya segera ia tujukan ke arah depan, yaitu ke arah di mana terakhir kali ia masih bisa melihat mobil Amosa.
"Hahh?! Sial!! Ke mana Amosa?!"
Gerald kembali membelalakkan kedua matanya saat tidak mendapati mobil Amosa.
Yang bisa ia lihat saat ini hanya mobil-mobil yang tadi berdatangan dari arah kiri kini sedang berhenti seraya membunyikan klakson dengan nyaring.
Sesaat kemudian, traffic light sudah berubah warna menjadi hijau.
Cepat-cepat Gerald bersiap untuk kembali bermanuver dalam mengejar mobil Amosa.
Mobil-mobil yang satu arah dengan Gerald juga terdengar membunyikan klakson begitu nyaring, membuat mobil-mobil yang sempat berhenti mendadak di tengah jalan karena menghindari mobil Amosa seketika melanjutkan perjalanan mereka kembali.
Bisa sedikit bernapas lega, Gerald mulai melajukan mobilnya untuk kembali membelah atmosfer jalanan.
"Di mana kamu, Mo?!" desis Gerald sedikit geram. Rahangnya mengeras menahan adrenalin yang sudah memuncak.
***
Sementara itu Amosa yang terus melesatkan mobilnya dengan cepat justru sempat mendengus kesal karena ia pikir dengan membawa mobil melintasi jalan raya semaunya akan bisa membuatnya celaka, syukur-syukur bisa melayangkan nyawanya.
"Sial!!" umpat Amosa seraya memukul stir mobil.
Gadis ini memang sudah hampir gila. Nyawanya yang masih selamat dari maut justru dianggapnya sebagai suatu kesialan.
Sedemikian hancur masa depannya hingga membuatnya merasa bahwa nyawa itu sudah benar-benar tidak ada artinya.
Pelupuk mata kembali memunculkan buliran-buliran bening tanda kepedihan hati. Kini wajah polos tanpa sapuan make up itu kembali memerah akibat gejolak emosi yang semakin berkuasa.
"Sekarang aku harus bagaimana? Aku harus ke mana? Tidak ada lagi yang percaya padaku! Tidak ada lagi yang menginginkanku! Untuk apa aku pulang?! Untuk apa aku masih ada di sini?!"
Tangis Amosa semakin pecah sembari terus meracau tidak jelas.
Ia gigit bibirnya kuat-kuat seolah dengan begitu ia bisa menahan rasa sakit yang terus mencengkram kuat dinding-dinding hatinya.
Dalam kekalutannya, Amosa mengarahkan mobilnya memasuki gerbang tol. Ia sama sekali tidak tahu harus menuju ke mana. Yang Amosa tahu, ia harus menghilang dari kehidupannya saat ini. Entah ke manapun, yang jelas Amosa tidak sanggup lagi jika harus melanjutkan kehidupannya di sini dalam kondisi sehancur ini.
***
Dengan daya akselerasi yang sangat cepat, mobil Gerald telah berhasil menyusul kecepatan mobil Amosa.
"Itu dia!!"
Gumam Gerald begitu berhasil mendapatkan mobil Amosa kembali.
Maka Gerald pun segera meningkatkan lagi kecepatan mobil yang sedang ia kendarai.
"Masuk tol?! Kamu mau ke mana, Mo?!" tanya Gerald dalam gumamnya.
Pria ini sampai mengernyit kuat memandang ke arah mobil Amosa yang kini hanya berjarak kurang dari lima meter dari posisinya.
Tanpa berpikir ulang Gerald bergegas mengikuti ke manapun Amosa pergi.
Tidak kurang akal, Gerald terus berusaha menghubungi nomor pribadi Amosa sembari ia tetap mengikuti mobilnya.
Gerald berdecak kesal saat mendengar nada tunggu dalam panggilannya, "Ck! Angkat telponnya, Mo!"
Sayang percuma, rupanya Amosa tetap tidak mau mengangkat telepon dari Gerald.
"Astaga… Mo, please berhenti!" desis Gerald yang semakin gusar.
"Ini mau ke mana sih? Kenapa arahnya ke luar kota?!" Gerald sampai menggelengkan kepala karena tidak sanggup lagi mengikuti cara berpikir Amosa.
***
Ternyata benar, Amosa melajukan mobilnya hingga keluar dari Ibu Kota. Gadis ini sama sekali tidak berniat untuk ke kota A ataupun kota B.
Yang sedang ia lakukan saat ini hanyalah berusaha menjauh dari siapapun yang ada dalam circlenya selama ini.
Kini yang ada di pikiran Amosa hanyalah menjauh ke suatu tempat di mana tidak ada orang lain yang mengenalnya.
Villa!
Ya, Amosa akan mencari sebuah Villa yang bisa ia sewa sebagai tempat tinggal sementara untuknya.
Keluar dari pintu tol, Amosa kian menambah kecepatan mobilnya. Hal ini tentunya membuat Gerald juga semakin menambah kecepatan laju mobil yang ia kendarai.
Baru sekitar dua kilometer keluar dari tol, mobil Amosa tiba-tiba terpaksa berhenti saat sampai di depan pembatas perlintasan kereta api yang mulai bergerak untuk menutup akses pengendara lain.
Mobil Gerald yang kini berada tepat di belakang mobil Amosa bisa memantau dengan sangat jelas apa saja yang sedang dilakukan oleh Amosa. Setidaknya Gerald bisa bernapas lega untuk sesaat ketika mobil Amosa sedang berhenti di belakang pembatas perlintasan kereta api.
Tapi kondisi ini tidak bertahan lama, karena setelah menunggu sekitar satu menit di batas perlintasan kereta api, Amosa yang tidak juga melihat kereta api menunjukkan eksistensinya justru kembali merancangkan sebuah ide gila dalam kepalanya.
"Kalau bisa pergi untuk selamanya? Kenapa hanya pergi untuk sementara?" Amosa bertanya getir pada dirinya sendiri.
Tatapannya masih terus menatap kosong ke depan. Buliran air mata juga masih terus berlinang sedari tadi.
Tapi sebuah senyuman getir mulai terbit sampai mengangkat salah satu sudut bibirnya.
Dengan tenang dan yakin Amosa mulai menekan telapak kaki yang berada di atas pedal gas, dalam kondisi netral ini suara gas yang ditekan terdengar mengerang kuat.
Mendengar mobil Amosa bersuara begitu keras, Gerald seketika kembali memberikan atensi sepenuhnya pada mobil yang berada tepat di depannya itu.
Sebuah firasat buruk kembali hadir seketika. Ia takut Amosa kembali melakukan hal gila yang akan membahayakan nyawa gadis itu.
Gerald baru hendak membuka seat beltnya untuk keluar menghampiri Amosa, tapi rupanya gadis itu sudah lebih dulu bertindak sesuai dengan maunya.
"Hahh?! Ya Tuhan, Amosa!!" teriakan Gerald semakin tak tertahan lagi begitu ia melihat mobil Amosa dengan sengaja menabrak pembatas perlintasan rel kereta api, hingga pembatas berbahan kayu itu patah seketika oleh hantaman mobil Amosa.
Tidak hanya Gerald, semua orang yang ada di sekitar perlintasan rel kereta api pun tanpa sadar membiarkan bibir mereka menganga lebar seperti mata mereka yang membulat sempurna saat melihat tingkah Amosa saat ini.
Benar-benar tidak masuk akal apa yang sedang dilakukan Amosa saat ini.
Gadis putus asa itu justru dengan sengaja menghentikan mobilnya tepat di tengah-tengah rel perlintasan kereta api.
Petugas keamanan yang melihat kejadian ini segera membunyikan peluit berkali-kali dan memberikan kode kepada Amosa, berharap dengan begitu Amosa bisa melihatnya dan segera menyingkirkan mobilnya dari perlintasan kereta api.
Tapi sia-sia. Amosa sama sekali tidak mempedulikan peringatan dari petugas keamanan yang bertugas. Teriakan orang-orang yang merasa ngeri pun ia abaikan.
Tanpa orang lain tahu, Amosa dikejutkan oleh mesin mobilnya yang tiba-tiba saja mati saat sudah berada di tengah perlintasan rel kereta api.
"Kenapa? Kamu kenapa mati?!" tanya Amosa bermonolog. Ia terus mencoba menyalakan mesin mobil kembali, tapi mesinnya masih tidak mau menyala.
Perang batin mulai terjadi dalam diri Amosa. Sebagian dari dirinya seolah bisa bersikap tenang karena kejadian ini malah akan memperlancar tujuannya untuk melenyapkan nyawanya sendiri. Tapi sebagian dari diri Amosa juga mulai merasa panik, kejadian ini rasanya terjadi terlalu cepat. Benarkah dia sudah siap untuk meninggalkan semuanya?
***
BERSAMBUNG…