Amosa yang tiba-tiba memiliki ide gila untuk menghilangkan nyawanya dengan sengaja menghentikan mobilnya tepat di tengah-tengah perlintasan kereta api kini justru mulai merasa panik. Tiba-tiba mesin mobil miliknya mati mendadak di tengah rel kereta.
Tanpa Amosa ketahui, adanya medan magnet yang dihantarkan oleh medan lokomotif ke rel kereta ternyata memang bisa membuat mesin mobil tiba-tiba mati bahkan dalam radius satu kilometer di mana kereta belum muncul sama sekali.
Amosa yang tadinya merasa sudah sangat siap untuk mengakhiri hidupnya malah kini merasa panik.
Keraguan seketika muncul di tengah usahanya untuk kembali menyalakan mesin mobil.
"s**t!! Kenapa tidak bisa menyala?! Kalaupun harus mati, aku ingin mati karena kemauanku sendiri, bukan karena kesalahan teknis seperti ini!! Ini konyol!! Ergh!!"
Amosa terus berusaha menghidupkan mesin mobil, tapi gagal.
Detik-detik waktu kian berlalu, semua orang yang menyaksikan kejadian ini berupaya meneriaki Amosa agar segera keluar dari mobil demi keselamatannya.
Tapi Amosa justru terlihat merasa terusik oleh teriakan orang-orang.
"Ck! Kenapa pada berisik sih?! Bukan urusan kalian!!" teriak Amosa dari dalam mobilnya.
Gadis ini sempat menghela napas kasar, lalu membuangnya dengan cepat.
"Aku tidak mau ditemukan mati dalam kondisi kesalahan teknis begini! Mereka harus tahu kalau aku memang sengaja mengakhiri hidupku karena aku sudah tidak mau hidup lagi! Mesinnya harus segera menyala agar mereka tahu ini adalah pilihanku untuk sengaja berada di tengah perlintasan seperti ini!!"
Amosa kembali meracau di tengah usahanya untuk menyalakan mesin mobil.
Dug! Dug!
Tapi sementara Amosa sedang terfokus pada usahanya menyalakan mesin mobil, tiba-tiba ia mendengar pintu mobil diketuk dengan begitu kuat.
Sontak Amosa mendongakkan kepala ke arah luar mobil.
"Gerald?!" tanya Amosa tercekat.
Dug! Dug!
"Mo?! Buka pintunya!!" teriak Gerald setelah memukul pintu kembali.
Bukannya membuka pintu, Amosa justru membuka jendela mobil.
"Buat apa ka-,"
"Minggir!!"
Belum sempat Amosa menanyakan sesuatu kepada Gerald, pria itu sudah lebih dulu mengulurkan tangan kirinya untuk membuka kunci melalui kaca mobil yang sudah terbuka.
Pintu mobil berhasil dibuka oleh Gerald.
"Geser!! Cepat pindah!!" instruksi segera diberikan Gerald kepada Amosa.
Tentu saja tidak semudah itu bisa memerintah Amosa.
Gadis itu tetap bergeming. Ia tidak memberikan ruang kepada Gerald untuk memasuki mobilnya.
"Aku bilang geser!! Cepat!!" teriakan Gerald kian melengking. Amarah yang sedari tadi sudah meradang kini telah membuncah.
Belum pernah Amosa melihat Gerald dalam kondisi semarah ini.
Dengan wajah tertegun Amosa sedikit menggeser tubuhnya sehingga Gerald bisa melongokkan tubuhnya ke dalam mobil.
"Ahh, s**t!! Ayo nyala!!" Gerald geram karena mesin masih belum mau menyala.
Sementara itu suara pip-pip-pip dari kereta api sudah mulai terdengar.
Ditambah lagi suara peluit dari petugas keamanan dan suara teriakan orang-orang yang merasa takut, gusar, dan was-was juga kian membuat batin Gerald bertambah kalut dan takut.
"Ergh!! Ayo nyala!! God, help!!"
Gerald terus memaksa mesin itu menyala tapi tetap saja gagal.
Ia menoleh ke arah belakang di mana kereta sudah mulai tampak dari kejauhan.
"Sial!! Tidak akan cukup waktunya!! Mo, ayo keluar! Sekarang!!" hanya ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan Amosa.
"Tidak mau!! Tinggalkan aku sendiri!!" bantah Amosa dengan tegas.
"Mo!! Jangan gila!! Ini tidak akan menyelesaikan masalah!! Cepat keluar!!"
Dengan lebih kasar Gerald menarik paksa tubuh Amosa agar mau keluar dari mobil.
"Lepaskan aku, Ge!! Biarkan aku mati sekarang!! Sudah tidak ada artinya lagi aku hidup!!" sergah Amosa yang berusaha melepaskan cengkraman tangan Gerald dari pergelangan tangannya.
Gerald semakin panik mendengar suara pip-pip-pip dari kereta dan suara teriakan siapapun yang ada di sini.
"Ayo!!"
Kini Gerald berhasil menarik paksa tubuh Amosa hingga keluar dari mobil.
Seketika Gerald membawa tubuh Amosa untuk berlari menjauhi mobil dan area perlintasan kereta.
Dengan napas yang tersengal keduanya berhasil berlari menjauh dari perlintasan kereta tepat sekian detik sebelum kereta itu sampai dan menyambar mobil Amosa yang masih melintang di tengah perlintasan kereta.
Mereka berlari begitu kencang hingga Gerald mendaratkan tubuhnya untuk bersandar pada badan mobil miliknya.
Ia juga menarik tubuh Amosa ke dalam dekapannya, berharap dengan begini Amosa tidak bisa kabur lagi.
Semua orang menatap nyalang ke arah Amosa dan bangkai mobil itu secara bergantian.
Sementara itu Amosa dan Gerald juga masih terlihat shock setelah melihat kereta menyambar mobil Amosa hingga mobil itu terseret sampai kurang lebih sekitar lima ratus meter.
Napas Amosa juga sama menderunya dengan napas Gerald. Sepasang matanya sampai tidak berkedip menatap nanar pada ekor kereta yang kian lama kian terlihat pergi meninggalkan mereka semua.
Seketika Amosa yang masih tercengang merasakan Gerald mengurai pelukannya. Kini di antara keduanya telah tercipta sedikit ruang dan jarak.
Gerald mencengkram kuat kedua lengan Amosa dan menatap tajam ke arah gadis itu.
"Mo! Bisakah kamu tidak segila ini?! Bisakah kamu tidak membuatku gila karena mengkhawatirkanmu?! Bisakah kita hadapi masalah ini bersama-sama dengan kepala dingin?! Jangan seperti ini!! Biarkan cukup Amanda saja yang membuatku menyesal sudah menikahi wanita licik sepertinya!! Jangan membuatku menyesal dengan melihat kematianmu!! Bisa kah?!!" Gerald sengaja memberikan penekanan lebih pada kata 'bisakah'.
Pada detik berikutnya isak tangis mulai terdengar dari Amosa setelah gadis itu mendengar barisan pertanyaan dari Gerald.
Pergerakan d**a keduanya bergerak tidak teratur akibat napas yang menderu.
Amosa tidak bisa menjawab pertanyaan Gerald. Ia hanya bisa memanfaatkan kedua telapak tangannya untuk menangkup wajahnya sendiri.
Perasaan iba kembali menyeruak ke dalam batin Gerald saat melihat Amosa semakin tenggelam dalam isak tangisnya.
"Jangan hadapi ini sendiri… ada aku," ucap Gerald tulus. Suaranya terdengar mulai parau. Ia ulurkan kedua tangannya untuk kembali menarik tubuh Amosa ke dalam dekapannya.
Tidak ada tempat bersandar bagi Amosa saat ini selain d**a bidang milik Gerald yang saat ini ada di hadapannya.
"Semua sudah tidak ada artinya lagi, Ge… semua harapan dan cita-cita yang kubangun dalam hidup sudah hancur terurai… tidak ada lagi yang bisa ku pungut, tidak ada!"
Kata demi kata yang sarat akan penyesalan kembali terucap dari bibir lembut Amosa Abigail.
Di antara sepasang mata yang berlinang itu, Gerald menemukan kehancuran.
"Apa salahku, Ge?! Kenapa istrimu tega menghancurkanku sedemikian hancur?! Apa salahku?!"
Pertanyaan lain yang berhasil mengiris perasaan Gerald pun terucap oleh Amosa.
Gerald sampai mengeraskan rahangnya tanda menahan amarah yang kembali menyala.
Tapi sayang, rasanya semua perbendaharaan kata yang ada dalam kepalanya lenyap seketika sehingga satu pun tidak ada kata yang mampu ia ucapkan pada Amosa.
Sekian waktu berlalu…
Gerald sengaja mengunci Amosa di dalam mobilnya ketika ia sedang sibuk mengurus ini itu terkait dengan kejadian saat ini.
Pria itu membiarkan polisi mengurus segala sesuatunya. Gerald juga meninggalkan pesan kepada para aparat yang bertugas bahwa dia akan bertanggung jawab pada pihak-pihak yang merasa dirugikan.
***
"Bertahanlah, Mo," hanya ini yang mampu terucap oleh Gerald.
Menuruti permintaan Amosa, Gerald membawa gadis itu ke suatu villa yang bisa dipakai sebagai tempat tinggal sementara untuk Mosa.
Kini, di tengah perjalanan menuju ke villa yang dituju, Gerald memberanikan diri untuk kembali membahas tentang sesuatu yang memang sangat sensitif.
Mendengar ucapan Gerald, Amosa kembali tertawa getir seolah sedang menertawakan nasibnya yang begitu malang.
"Bertahan?" tanyanya lirih tanpa menatap ke arah Gerald. Ia hanya bisa menatap kosong ke arah jauh di depan.
"Apa alasannya, Ge? Apa alasan aku harus bertahan?" kini sepasang manik gelap Amosa menatap lurus ke arah netra Gerald.
"Aku sudah gagal menikah! Hans sudah meninggalkanku! Orang tuanya Hans sudah memandangku sebagai wanita hina yang tidak layak bersanding dengan putranya! Sementara orang tuaku sendiri justru memandangku sebagai aib keluarga! Lalu adikku?...," Amosa menjeda ucapannya. Ia selalu merasa sesak setiap kali membicarakan tentang permasalahan ini.
"Adikku sendiri sudah hilang respect padaku! Tidak ada yang menganggapku berharga, Ge! Siapa lagi?! Siapa yang masih menganggapku sebagai sesuatu yang layak untuk dijaga dan dipeluk? Tidak ada!! Bahkan publik juga memandangku sebagai sampah yang harus segera dimusnahkan!!" lanjut Amosa dengan nada getir.
Tidak bisa menjawab… Gerald benar-benar merasa sedang terjebak dalam pusaran ombak di tengah lautan.
***
Memasuki sebuah villa yang sangat teduh dan sunyi, Gerald membimbing Amosa untuk memasuki ruangan demi ruangan yang sengaja disediakan oleh pihak pengelola.
"Kamu pulanglah! Aku tidak apa di sini sendiri," ucap Amosa ketika berada di balkon kamar utama.
Tatapannya memandang jauh ke depan, melihat pemandangan gunung yang begitu kokoh berhiaskan awan-awan yang cantiknya begitu menakjubkan.
Menempatkan diri untuk berdiri sejajar dengan Amosa, Gerald mengarahkan sepasang bola matanya ke satu-satunya obyek tercantik di sini, wajah Amosa.
"Mo… atas kelakuan Amanda, aku hanya bisa memohonkan maaf darimu. Tapi kamu juga harus ingat, bukan hanya kamu yang hancur. Karier yang sudah kubangun selama ini juga ikut hancur karena semua pemberitaan hoax ini!"
Gerald menjeda ucapannya. Dia merasa butuh untuk menambah pasokan oksigen ke dalam paru-parunya saat ini.
"Untuk itu aku sampaikan kalau kamu tidak sendiri. Ada aku. Aku juga sedang berjuang menghadapi kehancuran itu, Mo!"
Tanpa ragu Gerald menyampaikan isi kepalanya, berharap Amosa bisa lebih kuat setelah mendengar apa yang ia sampaikan.
"Hahah!! Tidak sendiri? Siapa bilang?!... siapa bilang aku tidak sendiri?!... aku sendiri, Ge!! Sendiri!!... semua orang meninggalkanku, bahkan mereka yang terdekat sekalipun sudah tidak ingin melihatku!! Hidupku lebih hancur darimu!! Kehancuran kita tidak sebanding, Gerald!! Tidak sebanding!!"
Amosa sampai meremas kancing pakaian yang ia kenakan di bagian d**a. Kedua tangan yang meremas kuat itu seolah sedang berusaha menahan setiap kepingan hatinya yang telah hancur.
Kini, perlahan badan lemah itu tidak mampu lagi berdiri tegak. Amosa membiarkan tubuhnya meluruh lunglai dengan kepala yang menunduk terlalu dalam.
Suara isak tangis yang tercipta juga mampu mengoyak batin siapapun yang mendengarnya, termasuk Gerald.
Sedikit ragu, tapi Gerald tetap memaksa tangan kanannya untuk terulur guna menyentuh pundak kiri Amosa yang masih terlihat naik turun akibat guncangan batin yang melanda.
"Ti-tidak, Mo… kamu… kamu tidak sendiri," suara Gerald sedikit bergetar mengucapkan ini. Siratan keraguan juga terpancar dari sepasang netranya.
Sementara Amosa tetap bergeming. Ia masih menikmati momen kehancuran ini dengan melepaskan deraian air mata.
"Aku sudah terlanjur merasa terbuang, Ge! Tidak ada lagi yang bisa menerimaku… tidak ada!" di sela-sela isak tangisnya, Amosa berusaha menyampaikan apa yang dirasakan oleh perasaannya.
Gerald kembali terdiam. Tidak satu kata pun bisa terucap oleh bibirnya. Atmosfer kehancuran terasa begitu kental menguasai suasana saat ini.
Di tengah pembicaraan yang sengit ini, ponsel milik Gerald berdering.
Dengan cepat pria itu merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel dari sana.
Ada nama Amanda pada layar ponsel Gerald. Sedikit ragu, tapi dengan cepat Gerald menyentuh icon berwarna merah.
Sesaat kemudian Gerald melihat Amosa yang dengan cepat menyeka air matanya sendiri dan berusaha menghela napas panjang.
"Pergi, Ge! Tinggalkan aku sendiri!" ucap Amosa tegas. Tatapan yang getir itu menatap tajam ke manik mata Gerald.
"Tapi janji padaku kalau kamu tidak akan berbuat nekat?" tanya Gerald memastikan.
Amosa kembali tersenyum getir. Senyum itu memang terukir pada bibir, tapi pancaran matanya tetap memancarkan kehancuran.
"Ya… setidaknya untuk saat ini."
Amosa melangkah pergi meninggalkan balkon. Sepasang kaki jenjangnya beranjak memasuki kamar.
"Oke, kita menikah!... Lalu pulang bersamaku!" teriak Gerald lantang, membuat langkah Amosa terhenti seketika.
***
BERSAMBUNG…