Pita magnetik yang lama disimpan lembap mengidap penyakit yang punya nama: sindrom pengikat lengket. Lapisan oksida menyerap uap air, lemnya melunak, dan pita itu menempel pada dirinya sendiri seperti perban yang mengering di luka. Putar paksa, dan lapisan suaranya terkelupas, hilang selamanya. Maritsa tahu ini lebih baik dari kebanyakan orang yang masih bisa mendengar, karena baginya pita bukan suara melainkan benda fisik yang harus diselamatkan dengan tangan, bukan telinga.
Ia mulai paginya bukan dengan kaleng berlabel JANGAN PUTAR, melainkan dengan disiplin. Ia memanggang pita-pita lengket itu dalam oven konveksi kecil yang ia bawa sendiri, suhu rendah, berjam-jam, mengusir kelembapan agar lemnya stabil sementara cukup untuk satu kali putar penyelamatan. Ia mengerjakan kotak-kotak biasa lebih dulu. Siaran lagu lawas, iklan toko bangunan, sandiwara radio. Ia mendigitalkan masing-masing, melihat gelombangnya muncul di layar sebagai garis pegunungan, dan memberi nama file. Pekerjaan yang sabar. Pekerjaan yang jujur.
Tapi sepanjang pagi, kaleng kecil itu menunggu di sudut meja seperti orang yang berdiri terlalu dekat.
Menjelang siang ia menyerah pada rasa penasaran yang sudah jadi profesinya. Ia membawa kaleng berlabel itu ke oven, lalu ke meja kerjanya. Saat ia membuka label baru dengan pisau cutter, label lama di bawahnya muncul, pudar tapi terbaca: tanggal sepuluh tahun lalu, dan satu kata, SIARAN LANGSUNG, lalu inisial yang setengah terhapus air. R.
Ia memasang gulungan itu di pemutarnya dengan tangan yang sengaja ia buat tenang. Pita itu melengkung, ada bintik karat di sekujur permukaannya, dan di satu titik tampak bekas air yang menggelembungkan oksida. Bagian itu mungkin hilang. Tapi sebagian besar selamat, dan Maritsa tahu kenapa pita seperti ini tidak dihancurkan: bagi mata yang melihatnya tanpa alat, gulungan ini tampak mati total. Rusak. Tak terbaca. Siapa pun yang memberi label JANGAN PUTAR mungkin yakin tak ada mesin yang bisa membangunkannya lagi. Mereka mengubur, bukan membakar, karena mengira yang mereka kubur sudah jadi bangkai.
Mereka salah. Mereka tidak memperhitungkan oven, kesabaran, dan seorang perempuan yang tak punya pilihan selain melihat.
Maritsa menjalankan pita itu pelan ke dalam laptop, mengubahnya menjadi data. Ia tidak mencoba mendengarkannya. Ia membuka spektrogram, peta suara yang ia baca seperti orang lain membaca wajah. Di layar, waktu mengalir dari kiri ke kanan, frekuensi menumpuk dari bawah ke atas, dan kekerasan suara muncul sebagai terang dan gelap. Lagu tampak sebagai pita-pita harmonik yang rapi, garis-garis sejajar. Suara orang bicara tampak sebagai gumpalan formant yang naik turun. Desis pita tampak sebagai kabut merata di seluruh layar.
Gulungan ini berisi sebuah siaran malam. Maritsa membacanya bagian demi bagian. Seorang penyiar muda bicara di antara lagu, suaranya, yang tak bisa ia dengar, tampak sebagai pola formant yang hidup, naik di akhir kalimat seperti orang yang suka tertawa. Ada selingan musik. Ada jeda iklan. Pola yang biasa, jam demi jam siaran kota kecil di malam hari.
Lalu, kira-kira di pertengahan, sesuatu di peta itu salah.
Maritsa berhenti dan mendekatkan wajahnya ke layar. Di sebuah segmen lagu, di mana seharusnya hanya ada pita-pita harmonik rapi seperti pagar, ia melihat ada lapisan kedua di belakangnya. Kabut yang lebih padat. Garis-garis yang tak sejajar dengan lagunya, seolah dua gambar dicetak di atas kertas yang sama. Telinga akan mendengar lagu. Tapi mata yang sabar melihat dua hal ditumpuk: lagu di permukaan, dan sesuatu yang lain dijejalkan di bawahnya.
Ia duduk diam sangat lama. Bukan kabut alami pita tua. Kabut alami merata. Yang ini punya tepi. Punya bentuk. Sesuatu telah direkam di atas sesuatu, dan dilakukan oleh tangan yang tahu cara menyembunyikan.
Pintu ruang arsip terbuka. Maritsa merasakan getarannya di kaki sebelum melihat. Pak Darus masuk membawa dua gelas teh, ramah seperti kemarin. Ia meletakkan satu di dekat Maritsa, lalu matanya jatuh ke layar, ke peta warna-warni yang tak ia mengerti. Bibirnya bergerak. Maritsa membacanya: itu yang rusak itu? sudah saya bilang, jangan—
Ia berhenti sendiri. Lalu, dengan nada yang Maritsa baca dari bibir yang menegang, manajer itu bertanya apa yang ia lihat di layar.
"Cuma desis," kata Maritsa. Ia berbohong dengan mudah, karena orang menganggap perempuan tuli tidak licik. "Pita ini parah. Saya cuma mendata kerusakannya untuk laporan."
Pak Darus tampak lega, lega yang terlalu cepat. Ia bertanya, hati-hati, penyiar di pita itu, apakah suaranya terdengar. Maritsa hampir tertawa. Seseorang bertanya pada perempuan tuli apakah ia mendengar suara, dan dari kegugupan pertanyaan itu ia tahu suara siapa yang sedang ditakuti.
"Saya tidak mendengar apa-apa, Pak," jawabnya, dan itu sepenuhnya benar, dan sepenuhnya tidak menenangkan bagi keduanya.
Manajer itu pamit. Saat pintu menutup dan getarannya padam di lantai, Maritsa kembali ke layar. Ia memperbesar lapisan ganda itu, area di mana lagu menutupi sesuatu. Ia menandai titik awal dan akhirnya dengan dua garis kuning. Tiga detik. Hanya tiga detik dari berjam-jam siaran, dan di tiga detik itu seseorang telah menumpuk lagu seperti orang menumpuk tanah di atas sesuatu yang tak ingin ditemukan.
Ia menatap inisial R yang setengah terhapus di label, dan tanda air yang menggelembungkan oksida pita tepat di sekitar tiga detik itu, seolah bahkan pita ini menangis di tempat yang sama. Lalu ia menyimpan file itu, menamainya dengan kode netral yang tak berarti bagi siapa pun, dan untuk pertama kalinya sejak tiba di Tanjung Beruk, ia mengunci pintu ruang arsip dari dalam.